Mohon Maaf, Diantara Sesal dan Kesal

Maaf

Ada seorang pemuda yang telah dikenal brandalan oleh tetangga dan juga warga sekitarnya. Sebut saja namanya Jabrig. Seakan menerima hidayah, dengan wajah kusut semerawut dan terlihat sedih Jabrig mendatangi kediaman seorang tokoh masyarakat setempat yang bernama Pak Alim. Niat Jabrig mendatangi Pak Alim untuk berkonsultasi. Ia ingin taubat dan mohon maaf kepada semuanya atas segala tingkah-laku yang telah diperbuatnya selama ini. Sesampainya dirumah Pak Alim, lantas dipersilahkannya Jabrig masuk keruang tamu. Dan, dimulailah perbincangan diantara keduanya.

Persahabatan Mendatangkan Keindahan

Persahabatan Mendatangkan Keindahan

Suatu hari seseorang berkata, “Buat apa menjalin persahabatan didunia maya? Toh banyak yang gak benar, lebih jelas punya sahabat didunia nyata”. Dengan jawaban sederhana,”segala sesuatu itu datangnya dari luar, bersahabat bisa dimana saja, kita tidak perlu membedakan dari mana berasal, dan baik tidaknya seseorang itu tergantung pribadinya masing-masing dan seberapa mampu kita menyikapinya”.

Ibaratnya, kita dalam sadar tidak perlu membedakan antara pikiran dan tindakan karena keduanya akan jalan beriringan. Semua pikiran dan tindakan menawarkan kesempatan yang sama untuk bisa mendewasakan dan dipelajari. Begitupun antara dunia maya dan dunia nyata.

Dimensi hidup! Kita adalah bagian dari yang lain, dan kita sadar tidak ada patokan yang bisa dipakai sebagai pembanding. Di alam semesta yang penuh dengan misteri, tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada pula yang lebih buruk.

Memupuk Keberanian Sejak Dini

Memupuk Keberanian

Telah lama keberanian tertanam pada nenek moyang kita, keberanian mengarungi lautan luas “samudra”, dan para pelaku sejarah dengan gigih dan berani maju ke medan juang yang tak gentar menghadapi marabahaya untuk mendapatkan sebuah kemerdekaan. Kini, setelah bahaya perang berlalu, bukan berarti sifat berani itu turut tiada karena akan lebih terasa lagi perlunya memupuk keberanian meskipun keberadaanya diperlukan untuk menghadapi situasi yang berbeda.

Tidak bisa dipungkiri, sering kali manusia takut dari suatu yang belum diketahui atau belum dikenal serta karena belum terbiasa, terlebih pada seorang anak kecil. Maka, diperlukannya memupuk keberanian dengan menggali pengetahuan tentang perkara yang bersangkutan. Jadi, salah-satu penyebab timbulnya ketakutan itu bisa jadi karena belum terbiasa. Contoh kecil, saat berjalan malam hari didepan rumah melihat bayang-bayang kehitaman melambai, setelah diselidiki ternyata hanyalah daun yang tertiup angin. Ketika mendengar benda jatuh secara tiba-tiba, setelah dilihat hanyalah barang yang tersenggol seekor kucing. Ada juga orang takut kepada orang lain “kepada seorang tokoh besar umpamanya”, hanya karena belum kenal.

Mencari Bahagia Dalam Hidup

Mencari Bahagia

Semua orang ingin bahagia, dan mencari bahagia telah menjadi bagian dari kehidupan setiap insan dalam setiap saat. Dengan demikian perlunya memahami keberadaan kebahagiaan didunia, tiada lain kebahagiaan lahir dan kebahagian batin. Untuk mencapai kebahagian lahir memerlukan kemakmuran atau kebendaan, dan wujudnya lebih mudah dimengerti. Nmaun, lain halnya dengan kebahagiaan batin yang masih perlu kejelasan lebih mendalam.

Kemakmuran atau kekayaan harta benda tidak mutlak dapat menjamin kebahagiaan yang sebenarnya. Ada kalanya orang yang kaya materi tidak merasa aman dan tenteram, sering merasa terbebani seakan dikejar-kejar musuh. Terkadang malang menimpa, dekat dengan penyakit fisik atau penyakit rohani yang seolah melekat, dan sebagainya. Hingga lahir sebuah cerita: Dahulu ada seorang saudagar yang sangat kaya raya, kemudian sakit “tidak bisa kencing”. Karena rasa sakitnya yang teramat sangat, dan tidak sabar menahannya hingga akhirnya dia rela mengeluarkan harta bendanya seberapa saja untuk menyembuhkan sakitnya. Lantas seorang pembantunya berkata, “Segala kekayaan harta benda milik tuanku ini, hanya seharga kencing satu gelas“.

Penderita Gangguan Jiwa

Penderita Gangguan Jiwa

Suatu ketika, seorang dokter di rumah sakit jiwa hendak mengetes kesembuhan beberapa pasien penderita gangguan jiwa, tiada lain ingin menguji kondisi pasiennya apakah sudah membaik atau masih tetap menderita gangguan jiwa. Dalam waktu dan kesempatan yang sama, saat menghadapi tiga orang penderita gangguan jiwa, sang dokter pun memberikan pertanyaan yang sama pula pada ketiganya. Pasien pertama bernama Bambang.

Dokter : “Bambang, berapa satu ditambah satu?”
Bambang : “Sepuluh, dokter!”

Ternyata Bambang masih belum sembuh menderita gangguan jiwa alias gila, perlu dirawat lanjut dalam benak sang dokter. Lalu, pertanyaan yang sama disampaikan pada pasien kedua yang bernama Adrian.

Page 1 of 8212345Next...End