Sekilas mendengar celotehan komedi di televisi bahwa UN seharusnya berganti CS-nya alias cobaan nasional. Tersebut juga bahwa disuatu daerah ada beberapa siswa atau siswi jika harus memilih antara menikah atau UN? Dan, jawabannya tidak sedikit yang memilih menikah. Lalu, terujarlah bahwasannya yang memilih lebih baik menikah itu pertanda mereka lebih percaya kepada pacarnya ketimbang pemerintah. Lumayan lucu
Dibalik kelucuan diatas, memang beralasan keterkaitannya antara ujian dan cobaan. Bagaimana tidak, perberitaan diberbagai media lagi gencarnya mengupas tentang UN. Keterkaitannya dengan cobaan tentu saja berlaku bagi para peserta didik yang akan atau sedang menghadapi UN selain memiliki kecemasan atas perjuangannya antara dapat lulus atau tidaknya, saat menghadapi prosesnya pun banyak kendala yang cukup dirasakan ganjil. Keganjilan tersebut terjadi dalam persiapan soal-soal UN yang tidak kelar tercetak sekaligus tersampaikan pada waktunya. Ada juga soal-soal untuk wilayah tertentu yang nyasar ke tempat yang tidak tepat. Meski disadari betul dengan dalih kinerja yang namanya manusia tidak luput dari kesalahan, namun tidak dapat sepenuhnya dimaklumi terkait helatan nasional tersebut sudah berlaku rutin. Hal tersebut rasanya kurang pantas dan patut dibenahi hingga tidak terlurang diwaktu mendatang.
Awalnya kurang tertarik dengan namanya buah manggu alias manggis. Seperti terjadi pada beberapa buah yang bergetah, ketidak tertarikan itu bukanlah terletak pada rasa buahnya melainkan malas mengupas buah tersebut karena selain dari kulitnya yang cukup tebal juga warna ungu dari kulitnya itu yang sering membuat belepotan. Namun, akibat seringnya melewati dan melirik beberapa penjual buah dalam beberapa mobil bak disekitar tempat tinggal akhirnya tertarik juga untuk meraihnya “membeli bukan mengambil atau meminta”.
Usut punya usut, beragam manfaat terkandung dalam buah manggis. Tidak mau kalah dengan buah-buahan lainnya yang memiliki manfaat selain dari buahnya, daunnya atau biji buahnya, buah manggis memiliki manfaat lain dari kulit buahnya yang berguna bagi kesehatan. Buah yang bernama latinnya Garcinia Mangostana memiliki kulit buah yang berwana ungu pekat dan rasa buahnya yang manis menyegarkan.
Jalan yang berlokasi dipusat kota senantiasa dijejali pengunjung yang hilir mudik dengan tujuannya masing-masing. Terlebih jalan tersebut mempunyai keistimewaan tersendiri sehingga bukan saja berfungsi sebagai sarana lalu-lintas melainkan dijadikan sebagai tongkrongan anak muda. Sebut saja salah-satunya sepanjang Jalan Dago yang telah memberlakukan car free day disetiap hari minggu pagi. Dibalik keseharian yang dipenuhi dengan macetnya kendaraan yang melintas dan kerap dibumbui polusi asap kendaraan, meski hanya beberapa jam saja ajang car free day memiliki nilai positif karena selain dijadikan arena jalan-jalan santai dengan menghirup udara segar juga dapat menikmati berbagai pertunjukan seni yang digelarnya.
Lain Dago, lain juga Braga. Jalan Braga yang terletak dipusat kota merupakan jalan yang paling istimewa di Kota Bandung. Jalan tersebut merupakan ikon Kota Bandung yang memiliki hari ulang tahun yang diperingati setiap tanggal 18 Juni. Jalan yang memiliki sejarah sebagai pusat perdagangan dan berderet beragam hiburan malam telah diakui sejak lama bahwasannya jalan tersebut merupakan sebuah jalan yang istimewa. Keistimewaan tersebut juga senada dengan senandungnya salah-satu penyanyi kawakan Indonesia, Hetty Koes Endang dengan judul kawihnya itu sendiri “Jalan Braga“. Keistimewaan itu pula yang menjadikan setiap pengunjung dari luar Kota Bandung memiliki rasa penasaran untuk dapat melintasi dan menjejakkan kaki disana.
Sempat melirik acara X Factor Indonesia beberapa malam lalu yang ternyata lumayan menghibur. Akhirnya penasaran membaca-baca artikel terkait sekedar iseng mencari tahu apakah acaranya akan semeriah dan sukses seperti dibeberapa Negara yang telah melahirkan atau menggelarnya terlebih dahulu. Harus diakui memang, berhasilnya sebuah program tak terlepas dari pemikiran orang-orang hebat dan sepak terjang orang-orang cerdas yang terkait. Seperti halnya acara X Factor ini yang berhasil mendunia dan melahirkan kesuksesan yang luar biasa bagi pesertanya.
Simon Cowell, sang penggagas acara yang memiliki kecerdasan dan insting yang hebat. Dengan pemikiran dan kepekaannya yang jitu memunculkan acara yang sedikit sama dengan acara serupa sebelumnya tetapi memiliki perberbedaan dalam segmen pesertanya hingga menjadi acara yang lebih menyegarkan. Bisa dijadikan alternatif dari munculnya kejenuhan penonton terhadap acara sebelumnya. Kelebihan lainnya dari acara ini adalah menerapkan aturan yang harus dipenuhi pihak produksi negara lain jika ingin membuat program tersebut dan menayangkannya. Salah-satunya mengharuskan ada juri yang benar-benar bertarap internasional yang terlibat untuk dijadikan mentor. Tentu saja sudah bisa dipastikan menjadi salah-satu selling point karena bayarannya mahal. Hal tersebut tidak bisa dielak pihak produksi karena sudah menjadi suatu keharusan. Di Indonesia sendiri, dimana menurut banyak pemberitaan sempat mengajukan beberapa nama untuk menjadi salah-satu juri utamanya tetapi ditolak mentah-mentah dengan dalih belum memenuhi kriteria atau bahkan seorang Simon belum mengenalnya sama sekali terhadap nama yang diajukan. Keren!
Lama tak terdengar kabar, seorang teman lama tiba-tiba menelpon dari seberang. Syukur Ahamdulillah kabarnya menggembirakan, dan juga sebaliknya. Sebait cerita tersampaikan ketika terjadi hujan badai diwaktu lalu. Setiap kali dia telpon tak pernah sekalipun terjawab. Lantas, dia bertanya penyebabnya itu karena marah? Dia menangkap sebuah ketakutan yang luar biasa celotehnya.
Yang mendasari semua itu hanyalah perasaan kalang-kabut dan memang menjadi suatu kebingungan yang luar biasa, bercampur-aduk kemarahan pada kenyataan pelik terkait masalah yang dirasakan sungguh sulit dipecahkan. Kemarahan pada kondisi, kemarahan pada diri sendiri dan juga pada beberapa sudut dari lingkungan terkait yang tidak mau mengerti. Sebatas berbekal cukup sabar dan tawakal namun kenyataannya tetap menipiskan upaya sehat dalam melangkah. Meski lamban, seiring waktu berjalan upaya sadar dalam kesabaran dapat membentuk kembali nalar yang sejalan hingga tidak sampai pada kehilangan arah.
Telah menjadi suatu pembelajaran bahwa transformasi emosi merupakan suatu proses dimana terjadi aliran energi psikis dari pola disfungsional yang bersifat negatif menjadi lebih terbuka, bebas, dan mengarah pada pembentukan pola pikir dan perasaan. Jika bukan pada tempat yang tepat dan tidak sesuai dengan perubahan makna yang hendak dan dapat terbangun itu sama sekali tak ada gunanya. Dari kejadian seperti itu, kali ini dapat dimengerti bahwasannya hidup bercampur amarah yang bukan pada kadar dan tempatnya itu sangat tidak baik. Teman menjauh, komunikasi terputus dan akhirnya rasa marah itu sendiri tidak ada arah dan ujung-pangkalnya “ambek kapegung”