Berawal Tari Ketuk Tilu Pergaulan yang ditolak oleh masyarakat tari dengandasar-dasar tari rakyat dan pencak silat merupakan inti geraknya, tarian tersebut dikembangkan lagi dan diberi nama Tari Jaipongan. Seni tari yang dikreasi oleh maestro Tari Jaipong Gugum Gumbira Tirasondjaya adalah karya seni baru dalam dunia tari Sunda, yang dasar-dasarnya tidak hanya diambil dari pencak-silat, tetapi dari berbagai seni tari rakyat yang tumbuh di berbagai wilayah di Jawa Barat.
Puluhan tahun sudah seni tari jaipongan tumbuh dan mengakar di Tatar Sunda. Seni tersebut bahkan sudah merambah keluar negeri. Pada awal pertumbuhannya di akhir 1970-1980-an dianggap sebagai seni tari yang berkonotasi “teu puguh” alias gak jelas dan negatif karena mengeksplorasi bagian-bagian sensitif tubuh perempuan. Pada kenyataanya, tari jaipongan itu tidaklah demikian, sehingga tarian semacam itu tumbuh subur terutama pada rakyat pesisiran.
Tari Jaipong Daun Pulus Keser Bojong dengan tabuhan musik karawitan atau lagu Serat Salira dan Bulan Sapasi bagi masyarakat Jawa Barat mungkin tidak asing lagi atau paling tidak sempat mendengarnya seperti halnya saya.
Memang bukan tema yang hangat karena cerita ini sudah berjalan dari beberapa waktu kebelakang. Kebetulan dalam dua pekan berturut-turut (setiap minggu pagi) menjambangi daerah yang mengais cap “Car free day“.
Dalam hiruk-pikuk sebuah kota sudah barang tentu menjadi impian setiap penghuninya dapat menghirup udara segar dipagi hari, terlebih di Kota Bandung dimana sudah dikenal lama memiliki udara yang sejuk, segar dan lingkungan yang nyaman. Dari itulah mendengar kabar adanya event tersebut merasa senang dan menjadi jawaban atas harapan yang ada, dapat berolah-raga dengan jalan kaki meskipun hanya 30 menit saja dan sekaligus menghirup udara segar yang selama ini rasanya kurang ternikmati. (doh) Ini mah akibat ulah sendirinya saja yang hampir gak pernah olah-raga pagi dalam waktu yang cukup lama, tapi beberapa bulan terakhir rajin kok.
Seperti nampak digambar, sejumlah warga memenuhi ruas jalan Dago saat “Car Free Day“. Saya pun gak mau ketinggalan numpang berlalu-lalang disana. Sungguh menarik sekali menikmati program hari bebas kendaraan bermotor tersebut walaupun hanya berlaku beberapa jam saja setiap minggunya. Dengan bebasnya, warga berolah raga di Jalan Dago, tepatnya mulai persimpangan Dago-Cikapayang hingga Dago-Dipati Ukur. Dipenggalan Jalan Dago itu, rasanya haram bagi kendaraan bermotor untuk melintas. Dan PKL pun dijadikan rasa enggan untuk berjualan meskipun masih ada satu dua yang nampak karena memang bukan tempatnya. Membuat Jalan Dago saat event berlaku ibarat taman firdaus warga yang haus akan udara segar dan kebebasan beraktifitas sehat. Sungguh senang sekali karena sudah lama ingin merasakan udara kawasan Bandung yang segar seperti dulu.
Dengan perjuangan dan pengorbanan kita ditempa hingga lambat laun akar kemandirian hidup tertanam. Dan dengan cinta serta cita-cita yang menjulang tinggi berharap membuahkan karya yang senantiasa menebar manfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk dalam pengabdian pada-Nya. Untuk semua itulah pentingnya mengaktifkan potensi dan kekuatan dalam diri, dimana elemen-elemen yang memiliki relevansi cukup tinggi dengan kadar sebuah perjuangan diantaranya keputusan beraksi dan kadar tanggung-jawab atas sikap ingin “menjadi” (to be), “mengetahui” (to know), dan “melakukan” (to do). Dalam hal tersebut nampak jelas korelasi antara tinggi-rendahnya keinginan kita untuk menjadi (to be) dan tinggi-rendahnya daya juang kita mengalahkan tantangan, antara tingggi-rendahnya keinginan untuk mengetahui (to know) dan keputusan untuk bertindak (decision to do), juga antara keinginan untuk melakukan (to do) dan kemampuan kita menjawab (tanggung jawab). Aksi seseorang tidak lahir dari pemikiran semata, tetapi lahir dari kesediaan untuk menjawab tanggung jawab atas dirinya.
Terdapat point yang bisa dicermati dan digali berkaitan dengan potensi dan kekuatan dalam diri yang dapat dimaksimalkan hingga mendekatkan diri untuk dapat menjadi generasi yang memiliki prestasi dan senantiasa turut berperan dalam proses menuju sebuah perubahan/kemajuan, diantaranya:
Spiritual power (kekuatan spiritual). Sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan nilai, batin, dan kejiwaan. Kekuatan ini berkaitan dengan abstraksi pada suatu hal di luar kekuatan manusia yaitu kekuatan penggerak kehidupan dan semesta. Merupakan kemampuan potensial insan manusia yang menjadikan dirinya menyadari dan menentukan makna, nilai, moral, serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan cinta kepada sesama makhluk hidup, karena merasa sebagai bagian dari keseluruhan. Sehingga membuat manusia dapat menempatkan diri dan hidup lebih positif dengan penuh kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki.
Silahkan download disini.
Kabar dari minggu pagi, tergopoh-gopoh dan “hus-hos bari jeung hah heh hoh” nafas terengah-engah kecapaian. Itulah sebuah pertanda tidak mengindahkanya sebuah pepatah “penyesalan tanpa upaya memperbaiki diri adalah awal bagi penyesalan selanjutnya.” Maklum sudah cukup lama tidak menggerakan anggota badan dengan cap olah-raga.
Diawali keinginan jalan-jalan pagi sambil menghirup udara segar dan sekedar mencari makanan, seorang ibu dan seorang bapak paruh baya ditempat menumpang hidup mengajak seketika jalan dengan rute lumayan cukup jauh, rasanya menantang sekali dan bakal menyenangkan. Dalam hati yakin sekali bahwa rute yang akan ditempuh itu tidaklah akan sama dengan yang disebutkan diawal mengingat yang ngajak itu orang tua. Saya kan masih muda masa kalah sama orang tua dalam hati. Tapi ternyata rute yang ditempuh benar, jauh juga sampai kedua kaki terasa pegel dan panas.
Sedikit takjub sekaligus kaget dan malu melihat kedua-orang tua berjalan dengan cepatnya, istilah Bahasa Sundanya “norolong” jauh meninggalkan saya. Belum sampai ditujuan kebetulan melihat pedagang Surabi dan kue-kuenya yang masih hangat, langsung saja menyerbu kue serabi itu sekalian istirahat sekedar mencari alasan panasnya kedua telapak kaki.
Silahkan download disini.