Detik demi detik waktu bergulir, dan ditemani angin malam yang dingin masih setia mengisi waktu beberapa menit bahkan detik sisa-sisa waktu diakhir tahun ini. Dengan riuhnya suara petasan pula seakan membantu menguatkan keyakinan untuk menantang masa yang segera datang.
Bicara soal perubahan atau pergeseran waktu, kita semua biasanya mempunyai harapan-harapan baru terkait pergantian waktu tersebut. Secara pribadi dan dalam ruang lingkup khusus disini harapannya tidak muluk-muluk tiada lain berharap masih adanya kerabat yang sudi silaturahmi ke gubug butut ini. Selebihnya, kata maaf tersampaikan jikalau sampai malam ini saja masih terselip kata dan prilaku yang kurang bijak.
Semoga bahagia dan tanpa semakin gelisah saat membaca lagi apa yang tersaji dalam postingan-postingan blog ini. Bagaimanapun, semua tulisan yang tergoreskan hanyalah bentuk cerminan dari pembelajaran pribadi semata. Hal tersebut dapat terlihat dari isi postingan yang kurang mengikuti trend atau kurang uptodate dengan tema yang sedang banyak diperbincangkan, serta masih banyaknya hal-hal yang mungkin kurang penting termuat selain hal-hal klasik yang baru dipelajari dan tidak dimuat disini tentunya. Sudah jelas banyak muatan gak penting, tapi tetep ngarep ada yang mampir
Tepatnya hari ini, tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Untuk itu selaku anak yang terlahir dari seorang ibu turut mengucapkan “Selamat Hari Ibu” kepada semua ibu-ibu dimanapun berada. Terima kasih atas jasanya yang tak terhingga. Terbersit salah-satu perjuangan terkecilnya yang tetap bernilai besar, ketika kecil senantiasa ibu memayungi diri biar terhindar dari sengatan teriknya mentari ataupun siraman air hujan. Dari kejelian itulah yang mungkin menjadikan mayoritas perempuan atau ibu-ibu selalu dekat dengan keberadaan payung. Nah, bicara soal payung berlanjut pada postingan yang masih berkaitan dengan sang hujan!
Intensitas hujan yang turun tiap harinya memang tidak bisa diprediksi. Namun, sekalinya hujan turun dengan deras, bisa dipastikan dibeberapa kawasan akan mengalami banjir cileuncang (genangan/aliran air hujan yang tidak terserap tanah). Banjir cileuncang adalah istilah bahasa Sunda untuk menggambarkan terjadinya genangan air disuatu tempat akibat tidak lancarnya pembuangan atau aliran air tersebut. Disisi lain, bisa kita bayangkan betapa saluran air di perkotaan masih banyak yang kurang berfungsi mengatasi air dari curah hujan. Terbukti dengan masih banyaknya kawasan yang selalu mengalami keadaan banjir.
Sebelum menghampiri, Kau titahkan sang angin untuk memberi kabar, Kau geraikan tirai penghadang cahaya hingga tidak terlalu terang jika bertandang dikala siang, dan sesekali terkirimkan iringan riuhnya gemuruh yang kadang menakutkan, dan sesekali pula menghantarkan bentangan-bentangan guratan pelangi yang sungguh mengagumkan.
Gemercik hujan kerap menjadi teman sejati dalam keheningan. Dengan setianya tetesan-tetesan beningnya terkadang mampu menghantarkan kedalam resapan kenangan. Dan, dalam derasnya hujan terselip pesan cinta yang merona. Saat terdiam sendirian, suara indahnya mampu melupakan rasa gundah dan mampu menumbuhkan kerinduan, memikirkan dan mengenang apa saja yang terlintas dibenak terdalam. Keluarga tercinta atau sahabat yang disuka! Yap, itu terserah saja maunya hati, tentang apa, siapa dan bagaimana, yang pasti tidak akan pernah lupa pada hujan yang mampu menghidupkan nuansa dan mampu membentangkan ketenangannya. Seperti halnya pernyataan Christine Panjaitan dalam sebait liriknya “Kalau tak mungkin lagi hujan, menyejukkan hati kita, untuk apa aku disini “.
Hujan! Hujan adalah inspirasi tak bertepi yang bisa digali dengan jernihnya pikiran dan tenangnya suasana hati. Hujan mengajarkan kita tentang kepatuhan. Meski tidak semua orang senang, hujan tetap curahkan setiap tetesan karena mengikuti hukum alam dan mematuhi kehendak Tuhan.
Minggu pagi dikawasan jalan Dago Bandung seperti biasanya dimanfaatkan sebagai area kegiatan car free day, salah satu bentuk kegiatan yang mendukung perwujudan hidup sehat. Olah raga (meski hanya sebatas olah raga ringan) dijadikan sebagai pendukung membentuk fisik yang sehat, bebasnya polusi dan kerapihan sekitar area berlangsungnya acara dijadikan sebagai perwujudan lingkungan yang sehat pula.
Dan tepat satu hari sebelumnya, tanggal 12 November juga bertepatan dengan “Hari Kesehatan Nasional” yang maknanya adalah semua masyarakat Indonesia harus menikmati kata “sehat”. Dimana kesehatan itu sendiri dapat diartikan secara harfiah yaitu berhubungan dengan kondisi fisik seseorang, orang yang secara fisiknya terbebas dari suatu serangan penyakit akan dikatakan sehat, dan begitu juga sebaliknya.
Berkaitan dengan kesehatan tentu saja tidak terlepas dari peran pemerintah yang mengurus negeri ini. Seperti halnya salah-satu kegiatan yang disebutkan diatas. Bagaimanapun, kebijakan kesehatan mempunyai implikasi penting terhadap tercapainya pembangunan nasional karena merupakan bagian terintegrasi. Jika terdahulu pembangunan kesehatan dilakukan lebih ke cara atau cukup dengan berpikir bila sakit tinggal berobat saja ke tempat pelayanan kesehatan, sekarang ini memang pantas pemerintah memberi pengarahan berpikir bagaimana caranya supaya tidak sakit dan juga adanya sikap kemandirian masyarakat berupaya promotif dan preventif yang ditumbuh-kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Masih hangat terasa seruan takbir berkumandang, “Allahu Akbar” Allah Maha Besar. Hari ini bertepatan dengan salah satu hari besar ummat muslim, tiada lain Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1432 Hijriah (Hari Raya Qurban) yang bertepatan pula dengan hari Minggu, 6 November 2011.
Hari Raya Idul Adha memang tidak seperti hiruk-pikuknya saat merayakan hari raya Idul Fitri, namun makna yang terkadung didalamnya sudah barang tentu tidak kalah berharganya. Berbagi kasih dengan sesama diharapkan dapat terwujud meski hanya dalam bentuk makanan (daging qurban), begitu juga penerapan sifat ikhlas semakin ditumbuh-kembangkan. Dengan demikian, diharapkan menciptakan banyak senyuman.
Semoga kita tidak kalah oleh makhluk yang dalam gambar postingan ini, meski sudah mendekati ajalnya senyuman manis masih tersampaikan.
Dan kali ini, saya turut menyampaikan selamat Idul Adha 1432 Hijriah. Semoga apa yang diupayakan selama ini senantiasa mendapat berkah-Nya, amin!
Yuk, nyate yukk…
Tak kuat menahan lelah
Terpejamkan mata tanpa terasa
Namun lipatan ingatan senantiasa mengerayangi
Yang sesekali bak cahaya
Melesat dari busur waktu
Dengan menyisakan sesak didada
Hingga tak mampu
Merapatkan kelopak mata dengan semestinya
Terperanjat dan terjaga
Lalu bergegas sebelum tumbang
Seakan tak ingin didahului sang waktu
Bersandar diteras depan
Memandang samarnya suasana
Ditemani ingatan kala memungut kenangan
Yang telah lama tertimbun suasana
Lagi dan lagi terbongkar