Kekayaan, ketampanan dan kepandaian
Memiliki potensi meningkatkan keimanan
Pada waktu bersamaan dapat pula memunculkan kekufuran
Kesabaran, kejujuran dan ketakwaan
Sudah seharusnya berlandaskan keikhlasan
Namun terkadang dapat pula menimbulkan kesombongan
Bukankah satu-satunya yang berhak menyombongkan diri dijagad raya ini hanyalah Allah semata?
Syahdan, maestro-maestro sufi yang memahami kesusastraan dan tradisi mistisisme Arab-Islam klasik sangat bisa merasakan getaran dan aksentuasi makna filosofis yang berbeda dari kedua kata tersebut.
“Ya Rabbi…!”. Mereka ucapkan dengan bayangan diri mereka sedang lumpuh, lelah dan tak berkemampuan apa-apa.
Seakan diri mereka sirna dari cahaya kemahaan-Nya. Tak ada yang bernilai di depan altar persembahan-Nya. Manusia, jin, hewan-hewan, tetumbuhan dan seluruh alam semesta hanya bisa berkata “ya” dalam dalam dekap kehendak-Nya. Lalu, mereka hanya mampu tertunduk dan bersimpuh menanti rahmat di balik oadha’-qadar(ketentuan dan takdir) Sang Pencipta.
Memang, demikianlah kandungan makna terdalam dari kata rabb (bentuk pluralnya: arbab, para pemilik) yang berarti Tuhan sebagai pencipta dan penguasa segala yang ada. Tuhan sebagai subyek “tunggal yang “bekerja” dan “berencana”. Selain diri-Nya, berarti tak lebih sekedar obyek tanpa daya. Dia adalah ?emilik segalanya. Dari-Nya, untuk-Nya, dengan-Nya dan kepada-Nya kita semua ini menjadi ada dan “bekerja”.
Dalam suasana batin yang sangat “mencekam” dan meremas kalbu itulah segera terucap kata “Ya Ilahi…!”. Mereka ucapkan kata itu dengan semburat warna jiwa yang Khas dan bening berseri. Gambaran cinta-kasih dan kelembutan-Nya segera membayang. Dari sanalah muncul harapan. Dan dari harapan itu muncul kehendak dan kemauan untuk terus “berdekatan” dengan-Nya.
Berkutat dengan berbagai cobaan
Membuat kita harus tegar dan bersabar
Ketika ada yang mengusik kesabaran itu
Dengan lantang kita berkata
“Masih kurangkah kesabaran ini?”
“Bukankah itu membuktikan kita belum sesabar ayub?”
“Buku adalah teman bicara yang tidak mendahuluimu. Teman bicara yang tidak memanggilmu ketika kamu bekerja. Teman bicara yang tidak memaksamu berdandan ketika menghadapinya. Teman kencan yang tidak menyanjungmu. Penasihat yang tidak mencari-cari kesalahan.”
Seorang trainer terkenal ditanya, “Apa kunci kesuksesan Anda?” Ia menjawab, “Saya selalu belajar pada yang terbaik.” Dilihat secara materi dan popularitasnya, trainer ini memang sangat luar biasa, bisnisnya berkembang pesat, penghasilannya wah, popularitasnya sedang naik, ilmunya luas, semangatnya pun se1alu mengge1ora, tak heran jika ia se1alu tampil enerjik.
Ternyata, salah satu kunci suksesnya adalah memiliki semangat belajar yang tinggi. Tidak tanggung-tanggung, ia selalu belajar pada yang terbaik di bidangnya. Tentu tidak mudah. Untuk mempraktikkannya, ia harus mengorbankan banyak hal : waktu, tenaga, biaya, pikiran, dan sebagainya. Ingin terampil bisnis, ia terbang ke luar negeri untuk belajar pada praktisi bisnis kaliber dunia. Konsekuensinya, ia harus merogoh ratusan hingga ribuan dolar Amerika. Demikian pula ketika ingin menjadi pembicara top dan menjadi pakar dalam bidang pengembangan diri, ia akan berusaha belajar pada yang terbaik dengan segala konsekuensinya. Katanya, “Kalau kita belajar pada yang terbaik di dunia, minimal kita bisa jadi yang terbaik di lingkungan sendiri.
Bukan hanya itu, tetapi…, Bukan hanya ini, melainkan…, Bukan hanya apa lagi ya?
Bukan hanya sekedar pelepas rindumu oh.. sayang. Itu sih hanya sebaris syair lagu lawas kayaknya.
Yang jelas ini “bukan hanya” sekedar cerita he…. Selama waktu bergulir, selam ini nafas berhembus, dan selama ini jantung berdetak, senantiasa selalu saja ada orang lain disekitarku, mungkin sampai menghembuskan nafas terakhirku.
Dikala merindukan keramaian merekalah yang jelas dibutuhkan, dikala menjadi kesunyian mereka pulalah yang lagi pada menghilang (kayak mahkluk halus ya menghilang he…), dan seringkali kala hati ingin menyendiri tiada lain dan tiada bukan mereka lah yang dapat disuruh pergi.
Lelah, lemah, lesu itu mah adanya gejala suatu penyakit… Kalau rasa penat akibat kecapaian menghadapi musuh keseharian dalam beraktivitas itu akan selalu ada pada setiap orang. Tentunya dengan klasifikasi musuh seperti apa? atau tingkat prosentasinya ada ditingkat mana? yang sudah pasti dalam keadaan yang berbeda.
Mampir sejenak di negara sebelah heu…Adanya musuh dalam beraktivitas atau mungkin lebih tepat lawan bukanlah musuh itu merupakan suatu kenyataan hidup, dimana hal ini dapat mengukur diri sampai dimana posisi diri kita berada, yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk dapat menjajaki langkah berikutnya.