Perjalanan ini telah dimulai, semua yang ada hanyalah sisa. Sebuah kata “sisa” terkadang tidak enak didengar, tidak hanya itu saja, tidak sedikit dari kita terkadang mengasumsikan dengan sesuatu yang bernilai negatif atau tidak berguna. Sisa makanan, sisa kotoran dan sisa-sisa lainnya misalnya. Padahal dari sisa tersebut seharusnya kita mengakui mengandung makna yang sangat berarti buat sisa lainnya yakni waktu.
Dari sisa makanan misalnya, memberikan kita sebuah pemikiran harus adanya akan suatu ukuran untuk mengkonsumsi makanan tersebut dikemudian hari. Coba bayangkan diluar sana masih banyak yang membutuhkannya ketimbang dibuang, mungkin bisa menyisihkan kelebihan anggarannya untuk mereka yg membutuhkan. Sementara sisa kotoran atau noda memberikan sebuah pemikiran kepada kita untuk menghindari mendekatkan diri dengan kotoran tersebut kedepannya jika memang tidak menginginkan noda tersebut menempel selamanya, secara tidak langsung menyuruh kita lebih waspada.
Selain hal diatas, saya yakin masih banyak yang menghargai sisa sebagai anugrah sehingga mendapatkan kepuasan darinya. “Duh untung masih ada sisa” kalimat tersebut sering terlontar ketika kita memerlukan sesuatu dan ternyata masih tersedia walaupun dalam bentuk sisa (keberadaan/persediaan terakhir) karena saking senangnya.
Dari keyakinan berkenaan dengan hal ini, masih banyaknya yang menghargai sebuah makna yang tersirat dari kata sisa, semoga lebih bisa memaknai kata sisa yang senantiasa bermakna bagi sesama. Sisa usia yang di berikan Sang Pencipta terutama. Semoga kita semua bisa menghargai sisa-sisa tersebut dengan ketulusan cinta. Amin.