Agustus merupakan bulan yang banyak menyisakan kenangan selama perjalanan yang telah terlewati, beberapa diantaranya berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Bukan hanya kenangan manis tetapi kenangan sebaliknya pun sering melintasi pikiran secara spontan. mungkin karena itu pula secara reflek beberapa postingan terakhir terkait dengan masalah pembelajaran meskipun jelas-jelas postingan tersebut hanyalah ceritra atau karangan belaka.
Dasarnya kehidupan memang menuntut sebuah pembelajaran dalam mengembangakan kehidupannya itu sendiri. Oleh karena itu, rasanya tidak ada salahnya mengenali teori pemrosesan informasi dalam pembelajaran.
Robert Gagne berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yakni; motivasi, pemahaman, pemerolehan, penyimpanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan dan umpan balik.
Asumsi yang mendasari teori tersebut adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Dimana perkembangan itu sendiri merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan (input) informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi ini terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Dimana kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sementara kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Dari interaksi kedua kondisi tersebut pada akhirnya mewujudkan suatu bentuk implementasi nyata dari pembelajaran secara real sebagai realisasinya.
Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah.
Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka bisa berbuat iseng. Melihat sebatang pohon huni, dimana buahnya berberntuk bulat kecil terangkai dalam gagangnya seperti buah anggur yang sedang berbuah lebat ditengah ladang. Warnanya yang sudah mulai matang yaitu merah hingga ada yang kehitaman membuat mereka tergiur untuk memetiknya. Buah huni yang berwarna merah itu, terlebih dengan terkenanya sorotan sinar matahari dapat menaklukan hati Nara dan kawan-kawan untuk meraihnya, berebutlah mereka memanjati pohon huni. Buah yang diambil tidaklah banyak, hanya sebatas untuk mengisi kedua saku celana mereka.
Dasarnya sifat anak-anak, kejadian seperti itu berulang di kemudian hari seakan yang dilakukannya sebuah permainan, padahal mereka tahu bahwa pohon huni tersebut ada yang punya. Orang yang punya adalah orang kampung sebelah. Akhirnya, suatu hari ketangkap basah juga anak-anak itu yang sedang memanjat pohon hendak mememtik buah huni tersebut. Dengan ditakuti sebuah parang spontan anak-anak berlarian. Berlari dengan tak perduli akan sendal jepitnya, hingga ada yang terjatuh dan luka. Tapi hal tersebut pun tidak menjadikan kehilangan tawa, seakan luka-luka kecil dikaki itu sudah tiada artinya saking merasa sudah tidak aneh, tetep saja saling tertawa dalam pelariannya.
Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; “aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.” Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang luas, mengenyam sekolah setinggi mungkin sehingga berguna bagi sesama. Bayangan untuk menjadi seorang dokter selalu menghantui pikirannya. Karena itulah, meski belum cukup umur untuk bersekolah Nara pun memaksa kepada ibunya. Karena kondisi yang belum mendukung, orang-tua Nara tidak mengijinkan sekolah, selain belum cukup umur keadaan orang tuanya pun belum memungkinkan untuk membeli peralatan sekolahnya.
Berhari-hari Nara terus meminta ijin untuk bersekolah, akhirnya orang-tuanya pun mengabulkannya. Pagi itu, Nara bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dengan berbekal sebuah tas sekolah bekas saudaranya, yang sudah kumel dan lusuh. Sebelum berangkat sekolah, sudah tersedia sarapan yang telah disediakan ibunya. Menu yang sangat sederhana sekali yakni hanya sepiring nasi goreng yang hanya dibumbui garam, cabe rawit, bawang merah dan sedikit kecap tanpa penyedap rasa. Tetapi menu itu dapat dikatakan cukup untuk ukuran keberadaan di desa kecil yang masih dikatakan jauh dari kemewahan dan masih berada dalam keterbelakangan pengetahuan yang memadai. Selesai sarapan, Nara langsung pamitan kepada ibunya, sementara ayahnya telah lebih dulu berangkat ke ladang.
Berlandaskan tanah pijakan, dengan sekelebat pandangan dua bola mata yang tak dapat menutup begitu saja, terlebih hembusan angin membawa kabar tentang sebagian berita duka yang menghiasi perjalanan riangnya. Ya, itulah hidup namanya. dimana tidak melulu berada pada suasana yang nyaman, manakala tiba saatnya berkawan kesedihan akibat sesuatu yang tidak diharapkan tak dapat dielak lagi.Tidak hanya saya, kamu, dia atau mereka, melainkan semuanya. Hal tersebut mutlak adanya yang berbeda hanyalah kadar dan jenisnya saja.
Berkelit dalam Badai, ini hanya perumpamaan saja dimana tulisan ini sedikit menyinggung masalah tantangan-tantangan hidup dari kaitannya dengan kopleksitas kehidupan di kota besar, dimana banyak hal yang harus diperhitungkan untuk tinggal di kota besar, harus sudah paham betul akan probrlematika sosial kehidupan di kota besar. Kalau tidak, niscaya kata “gagal” akan mudah menghampiri. Tak banyak orang yang sanggup bertahan lama hidup di metropolitan tanpa pekerjaan. Paling tidak kita memerlukan biaya untuk membayar sewa tempat tinggal (yang di kota besar relatif sangat mahal), walaupun masih dapat memaksakan diri makan seadanya.
Kebanyakan orang pergi ke kota besar demi memperoleh realisasi akan impian-impiannya; pendidikan, karier atau pekerjaan, tak ketinggalan usaha. Dari realitas tersebut tak sedikit memunculkan studi yang berantakan, pekerjaan atau karir yang mandeg, ataupun bisnis menjadi gulung tikar, dimana semua hal tersebut pasti ada sebabnya.
Perjalanan ini telah dimulai, semua yang ada hanyalah sisa. Sebuah kata “sisa” terkadang tidak enak didengar, tidak hanya itu saja, tidak sedikit dari kita terkadang mengasumsikan dengan sesuatu yang bernilai negatif atau tidak berguna. Sisa makanan, sisa kotoran dan sisa-sisa lainnya misalnya. Padahal dari sisa tersebut seharusnya kita mengakui mengandung makna yang sangat berarti buat sisa lainnya yakni waktu.
Dari sisa makanan misalnya, memberikan kita sebuah pemikiran harus adanya akan suatu ukuran untuk mengkonsumsi makanan tersebut dikemudian hari. Coba bayangkan diluar sana masih banyak yang membutuhkannya ketimbang dibuang, mungkin bisa menyisihkan kelebihan anggarannya untuk mereka yg membutuhkan. Sementara sisa kotoran atau noda memberikan sebuah pemikiran kepada kita untuk menghindari mendekatkan diri dengan kotoran tersebut kedepannya jika memang tidak menginginkan noda tersebut menempel selamanya, secara tidak langsung menyuruh kita lebih waspada.
Selain hal diatas, saya yakin masih banyak yang menghargai sisa sebagai anugrah sehingga mendapatkan kepuasan darinya. “Duh untung masih ada sisa” kalimat tersebut sering terlontar ketika kita memerlukan sesuatu dan ternyata masih tersedia walaupun dalam bentuk sisa (keberadaan/persediaan terakhir) karena saking senangnya.
Sangatlah tidak mudah untuk merintis sebuah usaha, selain lebih kompleks dengan berbagai kompetitor, juga memiliki risiko yang besar meskipun peluangnya itu sendiri masih besar. Diluar itu pun biasanya modal menjadi kendala utama.
Nah, belajar mengenal kemungkinan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran usaha tentunya tidak melulu harus dari yang sukses saja. Saya yakin, karena saya sendiri telah mengalami kegagalan di waktu lalu, ada sedikit pengalaman yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan jika ingin belajar mendirikan sebuah usaha. Tentunya disini saya tidak bermaksud menggurui, karena saya sendiri pun tidak termasuk kedalam orang yang berhasil, paling tidak sebagai gambaran mengenai yang pernah dialami saja.
Bagi rekan-rekan yang tertarik membuka usaha sendiri, sebaiknya perlu memperhatikan beberapa langkah awal untuk membuka usaha tersebut, diantaranya: