Ya Rabbi, Ya Ilahi

Syahdan, maestro-maestro sufi yang memahami kesusastraan dan tradisi mistisisme Arab-Islam klasik sangat bisa merasakan getaran dan aksentuasi makna filosofis yang berbeda dari kedua kata tersebut.
“Ya Rabbi…!”. Mereka ucapkan dengan bayangan diri mereka sedang lumpuh, lelah dan tak berkemampuan apa-apa.

Seakan diri mereka sirna dari cahaya kemahaan-Nya. Tak ada yang bernilai di depan altar persembahan-Nya. Manusia, jin, hewan-hewan, tetumbuhan dan seluruh alam semesta hanya bisa berkata “ya” dalam dekap kehendak-Nya. Lalu, mereka hanya mampu tertunduk dan bersimpuh menanti rahmat dibalik qadha’-qadar (ketentuan dan takdir) Sang Pencipta.

Memang, demikianlah kandungan makna terdalam dari kata rabb (bentuk pluralnya: arbab, para pemilik) yang berarti Tuhan sebagai pencipta dan penguasa segala yang ada. Tuhan sebagai subyek “tunggal” yang “bekerja” dan “berencana”. Selain diri-Nya, berarti tak lebih sekedar obyek tanpa daya. Dia adalah Pemilik segalanya. Dari-Nya, untuk-Nya, dengan-Nya dan kepada-Nya kita semua ini menjadi ada dan “bekerja”.

Dalam suasana batin yang sangat “mencekam” dan meremas kalbu itulah segera terucap kata “Ya Ilahi!”. Mereka ucapkan kata itu dengan semburat warna jiwa yang khas dan bening berseri. Gambaran cinta-kasih dan kelembutan-Nya segera membayang. Dari sanalah muncul harapan. Dan dari harapan itu muncul kehendak dan kemauan untuk terus “berdekatan” dengan-Nya.

Dialah muara akhir (shamadaniyyah) dari sebuah harapan dan kehidupan. Memang seperti itulah makna terdalam dibalik kata llah (kata asal bagi kata derivatifnya, yaitu Allah) yang berarti Tuhan sebagai Pembimbing Sejati yang Maha Kasih lagi Bijaksana. Tuhan yang layak menerima penghambaan diri para hamba-Nya.

Dia adalah Yang Memberi dan Dimintai. Manusia dan jin bagaikan anak binaan yang terus la bimbing dengan kelembutan, kasih sayang dan arahan berupa ajaran-ajaran ketuhanan dan nilai-nilai fitrah kemanusiaan yang hadir tawarkan rahmat-Nya.

Dia adalah Tuhan yang selalu “akrab” dan “mau berinteraksi” dengan hamba-hamba-Nya. Dia “berdimensi” kemanusiaan (insaniyah/humanity) yang karena itu terbuka peluang komunikasi (munajat) antara Dia dan hamba-hamba-Nya.

Dia itulah Tuhan yang dimaksudkan dalam kalimat syahadat “La ilaha illa Allah”, yang berarti “Tiada Tuhan selain Tuhan (Allah) itu sendiri”.

Mari sering-sering kita berdo’a dengan senantiasa memanggil-Nya “Ya Rabbi..!”, “Ya llahi..!”. Dengan begitu akan terajut dua kesadaran yang manunggal, yaitu kesadaran akan haqiqah kauniyyah (inti dasar penciptaan yang berimplikasi pada ketertundukan total) dan kesadaran akan haqiqah syar’iyyah (inti dasar ajaran yang berimplikasi pada kepatuhan etis-normatif).

Maka, tersibaklah rahasia “takdir” dan “proses” (tawakkal dan ikhtiar) ; sebuah titik pertemuan spiritual yang mampu menjalinkan “komunikasi suci” antara sentra ketuhanan (teo-sentris) dan sentra kemanusiaan (human-sentris). Di sanalah terletak sumber kebijaksanaan dan kebenaran (hikmah) yang selalu dicari para kekasih-Nya atau wali-wali Allah (auliya’-Allah). Wallahu a’lamu bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.