Sebelum mengarah pada inti permasalahan, sedikit menyinggung contoh perjuangan prilaku diri yang menuntut sebuah kesabaran dan kesadaran hati; tentang sebuah kemenangan dibalik kekalahan.
Mengalah untuk sebuah kemenangan! Namanya juga kalah, kok untuk kemenangan?
Kemenangan disini saya siratkan untuk kemenangan-kemenangan lainnya selain dari satu hal yang dibuat menjadi kalah. Dalam menjalin suatu hubungan, ada baiknya kita mengingat bahwa tidak ada dua manusia yang 100 % cocok satu dengan lainnya. Alangkah baiknya kedua belah pihak bersikap terbuka dan saling menerima. Orang dewasa sudah terlambat bila harus mengubah karakter dirinya 180 derajat. Misalnya saja, seorang pemarah barangkali hanya bisa berubah menjadi “tidak begitu pemarah” lagi, tetapi tidak dapat disuruh berubah menjadi orang yang sama-sekali penyabar. Dalam hal ini menuntut kita untuk dapat mengatasi sifat egoisme kita seperti halnya disebutkan pada tulisan sebelumnya untuk memberi sedikit ruang kepada orang lain.
Tulisan ini merupakan pencarian makna dari sebuah kisah paku dan palunya yang disebutkan terdahulu, dimana terdapat cerita dari sang pemalu ketika hendak menancapkan paku pada sebuah tembok tempat tinggalnya. “Hanya satu paku saja” yang ditancapkannya, tetapi ada yang merasakan ibarat “the sky is falling” disekitarnya, secara kebetulan tetangganya mempunyai sifat yang tak mau terusik sedikitpun dengan mendengar suara ketokkan tersebut, keluarlah caci-maki kepada sang pemalu yang sebenarnya tidak layak terjadi. Kalau saja sang pemalu tidak dapat mengatasi emosi dan menguasai rasa kesadaran dalam kesabarannya, niscaya akan terjadi sesuatu yang akan merugikannya pula, yakni hubungan yang kurang sehat.
Hal yang tidak kalah penting dalam menjalin suatu hubungan atau persahabatan adalah dapat menerima pasangan atau sahabat kita apa adanya, sehingga siap untuk menerima beberapa sifat pasangan kita yang akan diketahui setelah kita menjalin hubungan dengannya lebih dekat lagi. Paling tidak, hal tersebut untuk mempersiakan akan sebuah pertanyaan yang kerap kali muncul; “kok dia begitu ya?”
Bersabar dan mengalah adalah kunci satu-satunya menuju suatu hubungan yang harmonis, tenteram dan langgeng. Kedua belah pihak harus senantiasa tak lepas dari “istigfar”, sabar dalam kesadaran dan sadar dalam kesabaran. Mengalah memang tidak berarti kalah, tetapi menyambut kemenangan-kemenangan lainnya. Wallahu’alam bisshowab.