Live it’s all about leverage, hidup adalah tentang pengendalian. Dalam kehidupan yang sangat komplek ini, mutlak adanya untuk dapat mengendalikan diri kalau tidak mau dikendalikan. Hal tersebut memiliki pengaruh yang sangat penting dalam memaknai beragam perbedaan, apakah layak untuk berprilaku serupa atau sebaliknya.
Terkait hal tersebut, akhir-akhir ini penulis sering banget membuat keputusan dengan bertindak jauh dari kesamaan pada umumnya. Meski dengan terlebih dahulu diimbangi berbagai pertimbangan tapi nyatanya efek yang tidak diharapkan selalu saja berdatangan. Sebagai contoh sekelumit cerita kecil saja, ketika menghadapi suatu masalah yang dirasa belum mampu atau dipandang tidak dapat dipecahkan dengan baik, biasanya melarikan diri kepada tantangan lain yang dirasakan tidak kalah penting manfaatnya. Seandainya saja membuat vote pada orang banyak sudah dipastikan mereka mengiyakan atau setuju dengan keputusan dan tindakan yang diambil. Namun, satu hal yang menjadi suatu kelemahannya yaitu kerap kali fokus 100% pada hal yang menjadi pelarian tersebut, alhasil banyak hal-hal lain yang tidak dilirik alias terlewati begitu saja.
“By attitude we understand a process of individual consciousness which determines real or possible activity of the individual in the social world”. Melalui sikap, kita memahami proses kesadaran yang menentukan tindakan nyata dan tindakan yang mungkin dilakukan individu dalam kehidupan sosialnya. Hal tersebut menandakan bahwa sikap menjadi bagian penting dalam kehidupan secara sadar. Karena pentingnya, semenjak awal abad 20 para sosiolog banyak menelaah kehidupan dan perubahan sosial yang terkait dengan kondisi mental yang kompleks.
“Oxford Advanced Learner Dictionary” (Hornby, 1974) mencantumkan bahwa sikap (attitude), berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu ” Manner of placing or holding the body, Way of feeling, thinking or behaving” . Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, cara merasakan, jalan pikiran dan perilaku. Sedangkan menurut Thomas & Znaniecki (1920), sikap adalah predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu, sehingga sikap bukan hanya kondisi internal psikologis yang murni dari individu, tetapi sikap lebih merupakan proses kesadaran yang sifatnya individual. Artinya proses ini terjadi secara subjektif dan unik pada diri setiap individu. Keunikan ini dapat terjadi oleh adanya perbedaan individual yang berasal dari nilai-nilai dan norma yang ingin dipertahankan dan dikelola oleh Individu.
Sikap merupakan hal yang berkaitan dengan emosi yang mendorong dilakukannya tindakan-tindakan tertentu dalam suatu situasi sosial, sebagai tendensi psikologis yang diekspresikan oleh evaluasi terhadap entitas tertentu dengan derajat suka atau tidak suka. Sedangkan objek sikap dapat berupa benda, situasi, dan orang.
Celoteh kali ini berkenaan dengan seberapa kuat bertahan dalam kesabaran dan seberapa sering menunjukan diri dengan mengeluh dalam kehidupan secara sadar . Satu nasihat bijak didapatkan dari seorang teman ketika saya menuliskan “Ingin tunjukan kepada dunia tak hanya ada karena masa lalu tapi masih ada harapan bagi yang baru.” Nasihatnya; “sabar ya.” Sungguh menarik kata bijak tersebut sehingga menjadi sumber inspiratif untuk ditorehkan
Kata atau kalimat yang mengandung kata sabar biasanya kita temukan disaat menghadapi kondisi atau situasi yang kurang menggembirakan. Tapi itu pun tidaklah mutlak adanya, seperti halnya saya tadi sebenarnya hanya menuliskan sebait lirik lagu yang sedang didengarkan
Memang sih kalau ditelaah lebih dalam lagi seberapa sering frekuensi munculnya sebagai timbal balik dari kondisi yang kurang enak (sebagai contoh; hadirnya musibah sehingga mengakibatkan kehilangan anggota keluarga, materi dan sebagainya) yang tiada lain sebagai rasa simpati antar sesama.
Rasa sabar dan keluhan terkadang sering terjadi pasa saat bersamaan. Lantas adakah perbedaan yang cukup significant antara kesabaran dan keluhan? Dan bagaimanakah kesabaran itu adanya?
Sebelum mengarah pada inti permasalahan, sedikit menyinggung contoh perjuangan prilaku diri yang menuntut sebuah kesabaran dan kesadaran hati; tentang sebuah kemenangan dibalik kekalahan.
Mengalah untuk sebuah kemenangan! Namanya juga kalah, kok untuk kemenangan?
Kemenangan disini saya siratkan untuk kemenangan-kemenangan lainnya selain dari satu hal yang dibuat menjadi kalah. Dalam menjalin suatu hubungan, ada baiknya kita mengingat bahwa tidak ada dua manusia yang 100 % cocok satu dengan lainnya. Alangkah baiknya kedua belah pihak bersikap terbuka dan saling menerima. Orang dewasa sudah terlambat bila harus mengubah karakter dirinya 180 derajat. Misalnya saja, seorang pemarah barangkali hanya bisa berubah menjadi “tidak begitu pemarah” lagi, tetapi tidak dapat disuruh berubah menjadi orang yang sama-sekali penyabar. Dalam hal ini menuntut kita untuk dapat mengatasi sifat egoisme kita seperti halnya disebutkan pada tulisan sebelumnya untuk memberi sedikit ruang kepada orang lain.
Tulisan ini merupakan pencarian makna dari sebuah kisah paku dan palunya yang disebutkan terdahulu, dimana terdapat cerita dari sang pemalu ketika hendak menancapkan paku pada sebuah tembok tempat tinggalnya. “Hanya satu paku saja” yang ditancapkannya, tetapi ada yang merasakan ibarat “the sky is falling” disekitarnya, secara kebetulan tetangganya mempunyai sifat yang tak mau terusik sedikitpun dengan mendengar suara ketokkan tersebut, keluarlah caci-maki kepada sang pemalu yang sebenarnya tidak layak terjadi. Kalau saja sang pemalu tidak dapat mengatasi emosi dan menguasai rasa kesadaran dalam kesabarannya, niscaya akan terjadi sesuatu yang akan merugikannya pula, yakni hubungan yang kurang sehat.
Tulisan ini hanya sekedar menuangkan sebagian apa yang terlintas dipikiran untuk mengawali lagi coretan blog diawal bulan Oktober 2008 kali ini, tepatnya setelah merayakan lebaran 1429 H. Setelah melakukan berbagai revisi prilaku diri dengan sebelumnya melakukan perenungan atas semua hal yg terkait, rasanya cukup tepat sekali kita lebih menajamkan lagi pemikiran-pemikiran kita saat ini. Dari itulah tulisan ini terlintas, berkaitan dengan masalah citra diri.
Berbicara soal citra diri, memungkinkan terlintasnya dipikiran kita masalah kekerenan diri yang sudah umum adanya. Benarkah? Cobalah bertanya pada hati nurani sendiri
“Wow keren” Posisi pekerjaan yang bagus atau usahanya yang maju/sukses atau juga pintar disekolah dan lain sebagainya. Siapa coba yang gak mau nerima kata tersebut? Pastinya semua orang pun menginginkannya.
Berkaitan dengan kekerenan diri tentunya mengandung proses pembangunan citra pribadi terhadap berbagai aspek kehidupan bahkan sampai mengalihkan bentuk kekayaan yang berupa materi ke kualitas diri, mungkin kurang lebihnya seperti itu. Sehingga timbul satu hal yang patut kita telaah secara objektif dalam kaitannya dengan komunikasi antar individu, karena disinilah citra diri itu terlihat jelas.
“When he gives his word to one of his boys, he keeps it. The followers look to him for advice and encouragement, and he receives more of their of confidences than any other man. Consequently, he knows more about what is going on in the group than anyone else….”
Bicara pola prilaku yang merupakan hasil dari pola pikir yang beraneka ragam, saat ini kita sering dihadapkan pada beragam informasi suatu perkumpulan atau kelompok dalam kehidupan nyata, baik itu kelompok yang memiliki tujuan positif sehingga memberikan makna positif pada sekitarnya maupun sebaliknya.
Sementara bicara sebagai individu jika menyadari adanya perbedaan yang sangat mempengaruhi suatu hasil yang diinginkan dari setiap individu itu sendiri, itu rasanya benar. Sekedar iseng mengamati proses kehidupan sehari-hari, alhasil tiap pola pikir ternyata menghasilkan pola prilaku yang berbeda pula. Dalam hal ini saya mencoba iseng2 bersosialisi lewat salah satu ajang komunikasi yaitu “chatting“, khusus Plurk. Untuk kata chatting itu sendiri telah saya utarakan lebih dari sekali bahwasannya kurang begitu suka, namun untuk yang satu ini saya sendiri pun heran, rasanya asyik saja, kalau gak percaya coba saja sendiri he… Nah, disitulah melihat sebagian kecil pola prilaku yang beranekaragam.