Berlandaskan tanah pijakan, dengan sekelebat pandangan dua bola mata yang tak dapat menutup begitu saja, terlebih hembusan angin membawa kabar tentang sebagian berita duka yang menghiasi perjalanan riangnya. Ya, itulah hidup namanya. dimana tidak melulu berada pada suasana yang nyaman, manakala tiba saatnya berkawan kesedihan akibat sesuatu yang tidak diharapkan tak dapat dielak lagi.Tidak hanya saya, kamu, dia atau mereka, melainkan semuanya. Hal tersebut mutlak adanya yang berbeda hanyalah kadar dan jenisnya saja.
Berkelit dalam Badai, ini hanya perumpamaan saja dimana tulisan ini sedikit menyinggung masalah tantangan-tantangan hidup dari kaitannya dengan kopleksitas kehidupan di kota besar, dimana banyak hal yang harus diperhitungkan untuk tinggal di kota besar, harus sudah paham betul akan probrlematika sosial kehidupan di kota besar. Kalau tidak, niscaya kata “gagal” akan mudah menghampiri. Tak banyak orang yang sanggup bertahan lama hidup di metropolitan tanpa pekerjaan. Paling tidak kita memerlukan biaya untuk membayar sewa tempat tinggal (yang di kota besar relatif sangat mahal), walaupun masih dapat memaksakan diri makan seadanya.
Kebanyakan orang pergi ke kota besar demi memperoleh realisasi akan impian-impiannya; pendidikan, karier atau pekerjaan, tak ketinggalan usaha. Dari realitas tersebut tak sedikit memunculkan studi yang berantakan, pekerjaan atau karir yang mandeg, ataupun bisnis menjadi gulung tikar, dimana semua hal tersebut pasti ada sebabnya.
Dalam studi misalnya, kegagalan yang tecermin dari hasil ujian yang jeblok, tidak naik kelas, berujung pada sikap uring-uringan. Sebenarnya, mungkin buat anak sekolah menengah kegagalan begini jarang terjadi. Senadainya saja yang kurang pandai dapat berbudi pekerti yang baik mungkin dapat dikatrol sampai lulus. Makanya kudu jadi anak yang baik jika tidak pintar
Jika saja hal tersebut menjadi kenyataan (diluluskan karena belas kasihan dari gurudan kepala sekolah), bersyukur sajalah, tak perlu sampai bertepuk dada, apalagi bangga. Barangkali bisa sedikit menghibur diri dengan kata-kata, “Sukses dalam hidup tidak bergantung pada hasil rapor!’ Dimana makna kalimat tersebut ada benarnya juga, tetapi bukan berarti tidak perlu belajar bersungguh-sungguh, terlebih saat kuliah, seorang mahasiswa yang tidak lulus-lulus setelah teman seangkatannya sudah lulus semua terpaksa mengakui bahwa dirinya gagal. Kemungkinan intelijensi yang jongkok, malas belajar, atau salah memilih jurusan bisa jadi sebagai penyebabnya. Jadi, tidak ada alasan untuk malas belajar jika memang tidak mau gagal
Berkaitan dengan masalah pekerjaan, keinginan bekerja dikota besar biasanya termotivasi oleh keinginan memperoleh gaji yang lebih tinggi, tetapi bila tanpa mempertimbangkan dengan teliti sisi pengeluaran yang juga akan lebih besar untuk hidup di kota besar serta faktor waktu, sama saja bohong. Seyogianya memperhitungkan terlebih dahulu, ketimbang memperoleh masalah kegagalan. Berinstrospeksi itu perlu, jangan-jangan kualitas keahlian kita memang tak memadai karena mencari kerja di kota besar sama sekali bukan perkara segampang membalikkan telapak tangan. Ketahuilah, orang bijak bilang, “Lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam besar!”
Sedikit mennyinggung usaha atau wiraswasta, jangan mengira berwiraswasta di kota besar itu mudah. Pernak-pernik peluang berusaha di metropolitan memang banyak, tetapi disyaratkan kejelian megenalinya dan keuletan menggalinya. Besar atau kecil, hambatan niscaya akan ditemui. Mulai dari pengamen yang datang tak henti-hentinya sepanjang hari, premanisme, dan lain-lainnya. Sebagai pengusaha, harus bersiap-siap karena boleh jadi mengalami yang dalam mimpi sekalipun tak pernah ada. Membiasakan diri pasrah, win some, lose some. Selain kita berusaha pasti ada saja piutang yang tak tertagih, barang yang hilang, atau karyawan yang tidak jujur. Kalau menyesali tiap-tiap kejadian buruk sampai terbatuk-batuk, rasanya akan kehilangan semangat dan energi melanjutkan usaha. Pada dasarnya harus siap menghadapi badai dan legowo bila merugi, terlebih jika mengahadapi adanya Force Majeure alias kuasa alam yang dalam dalam sekejap bisa memusnahkan seluruh asset usaha.
Pada kenyataanya, kota besar memang banyak menawarkan peluang, tetapi tidak semua orang kebagian mengenyamnya. Andaikata dapat dengan segera mengenali penyebab kegagalan studi, keterbatasan karir atau guncanganya bisnis tersebut, mungkin segera mencari jalan keluarnya. Umumnya kegagalan itu karena salah memilih langkah yang tepat. Jika masih ada waktu mungkin dapat segera mengambil keputusan untuk membelokannya demi mengimbangi waktu yang seakan berjalan lebih cepat daripada apa yang sdang dipikirkan. Nasib atau takdir hanyalah kata terakhir yang bisa kita jadikan pelarian atau penghiburan. Mungkin saja memang keberuntungan belum berpihak pada kita tetapi tidak ada orang yg boleh seratus persen mengalihkan semua kegagalan sebagai kehendak ilahi. Wallahualam.
Tweet