Menyambut Lebaran

Kegembiraan, ketenangan batin, perasaan qanaah (merasa cukup) adalah buah dari ibadah yang berkualitas. Di antara kegembiraan yang akan diperoleh adalah bertemu dan berkumpul keluarga dan sahabat karib di kampung halaman.

Puasa telah kita jalani. Saat ini memasuki babak akhir. Ibarat orang mengikuti sebuah permainan, ini adalah babak yang menentukan. Rasulullah SAW pada sepertiga akhir ini, menghabiskan banyak waktu dengan memperbanyak ibadah dan beriktikaf di masjid. Tetapi mungkin sebagian besar dari kita malah memikirkan bagaimana cara menyambut lebaran dengan mempersiapkan pakaian, perabotan rumah tangga, makanan, bahkan kendaraan yang sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya.

Hari raya, khususnya lebaran menjadi momen spesial bagi seluruh umat Islam. Tak salah, dalam menyambutnya pun penuh suka cita. Agar momen tersebut berbeda dengan hari-hari lain, maka banyak persiapan yang dilakukan.

Tiap kali dalam mempersiapkan hari kemenangan, setelah satu bulan berpuasa, menyambut hari raya idul fitri selalu ada perbedaan yang dirasakan. Tentunya, hari H ini selalu ditunggu-tunggu dengan perasaan penuh haru.

Tetapi kita selalu saja memiliki kesulitan untuk memahami bahwa bergembira di hari lebaran, sebenarnya bukanlah dengan sesuatu yang bersifat lahiriah. Kegembiraan sejati tidak bergantung pada banyaknya keuangan dan kebutuhan fisik lain yang serba baru, melainkan kegembiraan yang muncul secara alami. Kegembiraan, ketenangan batin, perasaan qanaah (merasa cukup) adalah buah dari ibadah yang berkualitas.

Latihan yang lumayan panjang selama berpuasa, bukan saja menahan nafsu dari makan dan minum serta hubungan seks di siang hari tetapi juga menahan diri dari berbuat maksiat lahir dan batin. Di samping itu, puasanya orang itu dipenuhi ibadah sunnah dan diisi sesuatu yang bermanfaat serta menghindari sikap dan perbuatan sia-sia. Sehingga, kegembiraan sejati adalah rasa syukur yang dapat mengalahkan hawa nafsu dan merasakan adanya rahmat Allah. Dari hal tersebut, seorang miskin yang saleh pun tentunya dapat bergembira. Semua akan merasa dekat, dijaga dan dipelihara oleh Sang Pencipta alam semesta ini, sehingga bisa mengalahkan hawa nafsu yang bersarang dalam diri sendiri.

Kalau kita ibarat lagi belajar di perguruan tinggi, puncak kegembiraan tentunya saat wisuda sarjana. Segala kepayahan dan pahit getir selama bertahun-tahun menempuh pendidikan, mungkin akan terasa sirna. Maka, puasa sejati akan melahirkan insan yang bertakwa. “Sesungguhnya orang yang bertakwa mendapat kemenangan, (yaitu) kebun dan buah anggur, gadis-gadis remaja yang sebaya dan gelas yang penuh (berisi minuman). Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS An Naba: 31-36).

Dalam Alquran disebutkan: “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (QS Ath Thalaq: 2-3).

Mudah-mudahan kita semua dapat lebih arif dalam menyambut lebaran dengan damai. Memaksakan kehendak di luar batas kemapuan diri sendiri, bertentangan dengan nilai puasa. Kemampuan menahan diri dan sabar menunggu kondisi kehidupan yang lebih baik, merupakan pesan Ramadhan dalam mengatur strategi menuju kehidupan yang lebih baik. Amiin! Wallahu a’lamu bish-shawab.

One Response to Menyambut Lebaran

Leave a Reply

Your email address will not be published.