Dua hari terkapar sudah, alhamdulillah mendapat anugrah merasakan nikmatnya hidup sedari itu. Memang tidak dapat dipungkiri ketika itu terjadi, bingung, kikuk dan terasa tak menentu memikirkan apa gerangan yang jadi penyebabnya. Akal sehatlah yang mendukung kekuatan karunia-Nya itu sehingga menyadari semua itu apa adanya. It’s a strange emotion this but there’s still hope in this as long as there’s a breath.
Dari satu kejadian itu mengungkap sebuah hikmah tersendiri. Andai saja salah-satu hal yang harus dilakukan dalam hidup ini adalah senantiasa siap menghadapi semua yang terjadi sekaligus mampu mengapresiasikannya. Kata siap itu tentu saja bukan hanya siap untuk tertawa tetapi juga harus siap menangis. Nasihat bijak bilang, teruskanlah perjuangan hidup dengan mengemban setumpuk asa dan seakan-akan langit adalah batas menggantungkannya.
Teduh sapamu, tulus asamu serta bijak titahmu, bunda. Bibir seorang bunda menasihati sang ananda tercinta, sepahit apapun kenyataan itu, kita boleh saja menangisi apa yang terjadi, tapi itu tidak berarti harus terus menangis selamanya, tetap harus bisa mengontrol diri. Jangan pernah dikuasai oleh perasaan, tapi kuasailah perasaan itu. Belajarlah menghadapi kenyataan, teruskanlah.
Kenyataan yang dihadapi pada dasarnya penuh dengan pelajaran berharga yang dapat menjadi sebuah investasi pada diri kalau kita dapat menghadapinya dengan bijaksana. Ada sebuah pepatah lagi, Every cloud has a silver lining, dibalik awan gelap sebenarnya tersembunyi seberkas sinar terang.
Kalau akhirnya menghadapi sebuah kenyataan buruk menyangkut kehidupan, terimalah itu dengan lapang dada. Berpikir positif dan yakinlah, dibalik kenyataan buruk itu sesungguhnya selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Satu hal yang tampaknya harus dijadikan pegangan; God knows better. Ya, Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat kita. Tapi, kadang kita tidak langsung dapat mengetahuinya.
