Saking semangatnya memicu langkah demi menuju suatu perubahan, menjadikan sesaat lupa akan keseimbangan hidup. Dalam kenyataanya sebagai manusia biasa terkadang melepaskan sedikit keluh kesah meskipun tidak seiring dengan janji hati dan pemahaman diri. Untung saja keluh kesah yang terlintas dapat terlindas dengan hasrat yang sesungguhnya, yakni bahagianya hati saat mencari rezeki demi mewujudkan keseimbangan tersebut.
Patut disadari betul memang, sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang tidak bisa luput dari khilaf dan salah. Bisa saja salah-satunya itu berkeluh-kesah dalam kejenuhan akibat dari memfokuskan diri dalam satu aktivitas sehingga melewatkan kesempatan untuk berbuat kebajikan lainnya. Kesalahan yang diperbuat oleh manusia ini bisa menumpuk menjadi dosa yang besar, jika dilakukan terus menerus.
“Sesungguhnya ada dosa yang tidak dapat dibayar kifaratnya dengan shalat, shaum atau haji. Namun hanya dapat dibayar dengan duka cita mencari bekal hidup.” (HR Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim, dari Abu Hurairah ra.)
Hal tersebutlah yang menjadi pemicu untuk mengambil seribu langkah kedepan. Mengingat untuk mencegah hal tersebut yakni harus menutupinya dengan kebaikan.
Seperti yang tertulis diatas, ada diantara dosa yang dilakukan oleh anak bani Adam itu, dosa yang hanya dapat terhapus dengan satu perbuatan tertentu. Adapun perbuatan tersebut adalah kesusahan saat mencari nafkah. Allah sengaja mengkhususkan perbuatan ini untuk menghapus salah satu dosa manusia. Adapun hikmahnya adalah agar manusia bertambah rajin dalam mencari nafkah untuk diri sendiri, keluarganya dan bagi yang belum menikah bertambah kuat keinginannya untuk segera menikah.
Salah-satu yang menjadikan hadirnya inspirasi untuk menuliskan hal ini adalah semangatnya memerangi kejenuhan dengan menfokuskan diri pada tindakan mencari rizki, dan mirisnya mendengar cerita seorang tetangga yang sedang terombang-ambing kelangsungan rumah-tangganya akibat dari egonya sang istri yang tidak mau memahami kesusahan suaminya dalam mencari nafkah. Wallahu a’lam.
Tulisan lain yang mungkin terkait dengan tulisan di atas:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Waduuuhh…. kira-kira, daku istri yang seperti apa ya??? (mikir….????) halaaaahh… kelamaan…
Di tiap tindakan dan perbuatan kita sehari-hari itu juga merupakan ibadah sebagai salah satu pengganti dalam ayat yang disebutkan di atas. Siapa tahu, ada bujang tak laku maka… (jaga diri maksudnya pak Indra….peacee) :mrgreen:
[Reply]
Bisa saja salah-satunya itu berkeluh-kesah dalam kejenuhan akibat dari memfokuskan diri dalam satu aktivitas sehingga melewatkan kesempatan untuk berbuat kebajikan lainnya
Yupz, kejenuhan pernah menghinggapi diriku hingga beberapa waktu, dan meninggalkan sebagian besar rutinitas saya. Mencoba bangkit dari semua itu tidaklah gampang semudah membalikkan telapak tangan, namun butuh semangat dan kekuatan dalam diri ini secara sungguh-sungguh serta bertahap dalam perubahannya.
[Reply]
makalah kita berbagi rezeki dengan membayar zakat dan bersedekah untuk kaum fakir dan miskin
[Reply]