Sedikit saja mengira-ngira mengenai kematangan secara emosional, mencoba mengaitkannya dengan kematangan secara sosial, mudah-mudahan bisa menunjang akan menjadikan pribadi kita yang tiada matinya
Mendewasakan emosional sebelum memasuki dunia nyata sangatlah penting bagi kita semua terlebih-lebih yang hendak menjalin hubungan antar sesama, seperti halnya “Kematangan Diri Secara Sosial” secara emosional jg sangatlah penting.
Jika kita sudah bisa mandiri secara emosional yang berakan dari berbagai emosi , harus bisa melepaskan ketergantungan dan keterikatan secara emosional dengan orang tua dan kerabat dekat lainnya.
Maaf jika kurang tepat karena saya sendiri bukan pakarnya dan sama sekali belum mengalaminya, hal ini menyinggung masalah rumah tangga sebagai contohnya, dimana sebelumnya saya menangkap dua kejadian nyata dalam sebuah rumah tangga, pernah menjumpai (melihat dan mendengar) sebuah rumah tangga dimana antara suami dan istri belum terikat kuat secara emosional.
Kematangan sosial seseorang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kemampuan dirinya untuk beradaptasi dan menjalin hubungan yang sehat dan memuaskan dengan orang lain. Dan seseorang dikatakan matang secara sosialnya, apabila ia mampu memahami kondisi orang lain baik kekurangan maupun kelebihan yang dimilikinya. Selain itu dirinya juga harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Dan apabila seseorang memiliki kemampuan seperti itu, tentu akan memudahkan dirinya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak lain.
Dari sini nampak jelas bahwa kematangan sosial merupakan hal yang sangat penting apabila hendak membina hubungan persahabatan, kekerabatan dan tentu saja hubungan rumah tangga, karena sebelumnya satu dengan yang lainnya adalah orang asing yang berbeda karakter dan latar belakangnya serta masing-masing pihak pasti memiliki kekurangan maupun kelebihan.
Tekadang pertanyaan seperti “kurang apa lagi?” terlintas dipikiran kita. Misalnya disaat mendapatkan ujian hidup yang bertubi-tubi sehingga kerap kali hati berbisik dan dalam pikiran bertanya-tanya menjadikan kita termenung. Lantas membayangkan apalagi?, bagaimana lagi? yang harus dilakukan sehingga tidak mendapatkan ujian hidup yang seakan selalu berdatangan. Dalam hal ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai ikhtiar dengan mawas dan introspeksi diri.
Mengatasi waktu luang saya terbiasa membuka arsip-arsip lama yang terdapat dalam komputer butut satu-satunya ini, dan tanpa sengaja membuka file yang lama tersimpan di komputer tentang perhitungan atau simulasi ketaatan diri dalam hidup. Sebagian dari kita mungkin tidak dapat jujur mengakui tentang hal-hal yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, dengan perhitungan sederhana ini mungkin kita bisa berkata jujur apa adanya sehingga bisa menelaah apa yang telah terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan di waktu mendatang.
Kalau mau mencoba, silahkan download disini .