Meski Biasa Tapi Berjasa, Muntinga Calabura

KersenSesaat duduk disebuah kursi warung pinggir jalan, sambil menunggu isi gelas berpindah kemulut yang terasa haus akan siraman air. Lalu, tepat dihadapan mata lewatlah dua orang wanita paruh baya. Lantas satu orang diantara mereka meloncat dengan maksud hendak memetik buah kecil mungil berwarna merah yang berada tepat diatas jalan yang dilewatinya, tiada lain buah kersen.

Melihat aksi mereka jadi teringat masa kecil dulu. Buah kersen biasanya memang disukai anak-anak termasuk saya disaat itu. Jika melihat buahnya yang matang meski hanya satu biji dan terletak jauh diujung dahan, selalu saja berupaya untuk meraihnya. “Mun can beunang rasa panasaran teu weleh nempel tur roronjatan bari ngahontal eta buah, sanggeus beunang mah asa kacida pisan bagjana hate”. (LOL)

Kersen 2 Bagi yang pernah tinggal dipedesaan pasti mengenal yang namanya Pohon Kersen. Tapi itu dulu, sekarang tidak saja adanya didaerah pedesaan melainkan disekitar pinggir-pinggir jalan beberapa komplek atau perumahan yang berada ditengah kota masih bisa dijumpai, biasanya dijadikan sebagai tanaman peneduh atau penghijauan. Tapi masih tetap saja berbeda dengan jaman dulu, anak-anak sekarang mungkin sudah banyak yang tidak mengenal secara fisik buah tersebut. Selain dari rasanya yang tidak terlalu istimewa (meskipun manis), buah tersebut memang hampir tidak pernah diperjual-belikan dipasar tradisional atau swalayan yang ada disekitar tempat tinggal. Entahlah kalau didaerah lainnya. Sebagai fakta, sempat memberikan buah tersebut kepada anak kecil untuk dimakan dan si anak menolaknya dengan alasan belum mengenal buah tersebut. Dilain waktu, dengan objek yang sama “anak kecil”, meskipun si anak sebelumnya tidak mengenal buah tersebut, ia sempat mencicipinya tapi langsung dibuang begitu saja dengan dalih rasanya tidak enak.

Kersen 1, Muntinga Calabura

Di beberapa daerah ada yang menyebutnya cery ada juga yang menyebutnya baleci, sementara nama ilmiahnya “Muntinga Calabura”. Kersen atau gersen atau juga dikenal dengan sebutan talok merupakan jenis tanaman perdu yang rata-rata tingginya 1-4 meter, dengan cabang-cabang dahannya yang khas mendatar, membentuk naungan rindang. Daun dan rantingnya berambut halus. Bentuk buahnya bulat kecil berwarna hijau pada saat muda dan berwarna merah jika buahnya sudah masak. Buah yang matang manis rasanya, dimana buah bagian dalamnya terdiri dari biji-biji kecil yang banyak seperti pasir.

Buah kersen ternyata bermanfaat untuk kesehatan atau dijadikan sebagai obat. Secara tradisional buah kersen telah digunakan untuk mengobati asam urat, berkhasiat mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan asam urat. Buah Kersen yang sudah matang dan telah dicuci dipisahkan daging buahnya dari kulitnya dengan cara ditumbuk lalu direbus dengan perbandingan 1 bagian air dengan 3 bagian kersen. Selebihnya bisa ditambah gula, vanilla, garam, dan kayu manis secukupnya sampai mendidih dan terus diaduk. Setelah mendidih lalu disaring untuk menghilangkan ampasnya. Dari produk olahan tersebutlah dimanfaatkan sebagai obat asam urat. Dan konon, dari kandungan buahnya (vitamin c, flavonoid) juga berkhasiat sebagai antidiabetes.

Untuk daunnya banyak dimanfaatkan sebagai obat sakit kepala dan anti radang. Dengan pengolahannya, 50–100 gr daun kersen yang telah dicuci bersih direbus dalam 1 liter air hingga mendidih sampai tersisa separuhnya. Hasil rebusan itu diminum 2 kali sehari. Jika menggunakan ekstrak daun kering, 2–5 gr diseduh dalam 200 ml air. Rebusan daun kersen tersebut berkhasiat dapat membunuh mikroba (sebagai antiseptik), dapat membunuh bakteri (diduga aktivitas anti bakteri dari daun kersen ini disebabkan oleh adanya kandungan senyawa seperti tanin, flavonoids dan saponin yang dimilikinya), berkhasiat untuk mengurangi radang (antiinflamasi) dan juga menurunkan panas.

Selain dari buah dan daunnya, pohon kersen sangat bermanfaat sebagai peneduh jalan karena daunnya yang lebat dan dahannya yang rindang. Kayu dari tanaman ini juga cukup kuat sehingga banyak yang dipakai untuk membuat perabotan dan manfaat lainya tentu saja sebagai kayu bakar.

Itulah keberadaan dan manfaat kersen, meski dipandang biasa tapi ternyata punya jasa. Bercermin dari tulisan diatas, saya yang notabene hanyalah seorang biasa memiliki segudang harapan dapat berbuat sesuatu yang sekiranya bermanfaat. Meski sampai detik ini mungkin masih sangat terbatas yang bisa diperbuat, tapi Insya Allah tidaklah putus asa dan tetap berupaya untuk mewujudkannya. Wallahu A’lam Bishawab. (worship)

20 Responses to Meski Biasa Tapi Berjasa, Muntinga Calabura

  1. monda says:

    saya juga pernah cerita tentang kersen ini,
    dan sampai sekarang dimanfaatkan sebagai peneduh di depan rumah, apalagi katanya berfungsi sebagai anti polutan ya

  2. aming says:

    Wah,ternyata bisa untuk asam urat ya, hatur nuhun info nya kang

  3. jasa seo says:

    Tips yang SUPERRRRRRRRRR

  4. asti says:

    Ada yang menyebutnya kersen, kersem, ceri, anggrung, heeemmm apalagi ya???
    Eh ternyata kecil2 membawa manfaat yang besar ya….
    Thanks infonya…

  5. Tas Murah says:

    wow, blog yang sangat informative! I love it…

  6. Rean says:

    wah, baru tau buah ini bisa mengobati asam urat 😮

  7. dulu sering banget metikin kalo udah merah. tapi udah jarang pohonnya ditemui…

    • kips says:

      Mayan banyak kok mas, cuma itu dia tingkat kepedulian atau ketertarikan anak-anak sekarang berbeda dengan dulu, mungkin karena sudah banyak sekali buah yang enak-enak 😀

  8. Rahmat says:

    Buah kersen banyak manfaatnya juga.

  9. Amin says:

    kalau melihat pohon karsen atau talok teringat pada anakku yang pernah terjatuh dari hono karsen ketika memanjatnya. Tapi pohon ini sangat disukai anak-anak, tepat untuk panjatan kok.

    • kips says:

      Kebetulan pas bareng cucu perempuan jadi pas inget buah kersen dia gak sampai manjat, cuma pas iseng ngasih buahnya dia gak mau (LOL)

  10. Baju Muslim says:

    ummm,,, makasih yah info-infonya, keep to share GAN

  11. berry says:

    Ilmu baru nieh, siipp mass, salam

Leave a Reply

Your email address will not be published.