Kip's Bandung

29
Oct

Mengenang Permainan Anak Tempo Doeloe

Suatu ketika temen saya berkunjung kerumah, dia datang bersama anak dan istrinya. Setelah lama berbincang-bincang dia pamitan akan pulang. Tetapi seketika saja hujan turun, dan akhirnya melanjutkan percakapan kembali. Waktu itu anaknya minta ijin untuk hujam-hujanan, tentu dilarangnya karena kondisi tidak mendukung. Dari hal tersebut beralihlah tema obrolan yang ada, yakni masalah permainan disaat kecil tempo dulu.

“Dulu, saya waktu kecil kalau hujan-hujanan itu seneng banget ya, perasaan ada kepuasan tersendiri, mana gak pakai baju lagi” ujarnya. Lantas, saya sendiri pun meng-iyakan pernyataannya, karena hal tersebut dialami persis sewaktu saya kecil. Dengan sedikit imbuhan dari saya, “makanya kalau dia pengen hujan-hujanan ijinin aja kalau sesekali mah, biar punya cerita sewaktu besar nanti, asal awasi saja dan jangan keseringan” sambil menunjuk ke arah anaknya.

“Iya perasaan bangga banget kayaknya” imbuhnya lagi. Lalu saya menceritakan permainan-permainan yang ada waktu dulu khususnya yang ada di tatar pasundan karena teman saya itu berasal dari daerah yang berbeda, yang saya rasa sudah tidak ada lagi sekarang, kalau pun ada mungkin hanya dipelosok-pelosok desa saja. Permainan anak-anak tempo doeloe, yang sering juga disebut “kaulinan barudak urang lembur” (permainan anak orang desa), boleh dikata tidak dikenal lagi oleh anak-anak Bandung zaman sekarang.

Anak-anak sekarang hampir semuanya sudah terbius oleh permainan elektronik, yang pada umumnya dimainkan di dalam ruangan/rumah. Karena adanya kemajuan teknologi permainan anak-anak dan komputer serta berkurangnya lahan terbuka telah mengubah pola bermain anak-anak sekarang. Padahal permainan anak-anak tempo doeloe kaya akan unsur imajinasi, kerja sama, dan pertemanan berpotensi untuk membentuk kepedulian sosial, interaksi sosial, kepekaan sosial, dan kecerdasan bagi sang anakmenjelang usia dewasa. Di sisi lain, mainan atau permainan elektronik, termasuk yang dimainkan dengan komputer, cenderung hanya meningkatkan kemampuan motorik sang anak. Permainan semacam itu berpotensi untuk menumbuhkan sifat-sifat eksklusif, tertutup, dan individualistis ia anak-anak. Adapun yang termasuk permainan tempo dulu itu diantaranya :

Jajangkungan

Permainan Jajangkungan dimainkan dengan sepasang tongkat atau galah, yang terbuat dari kayu atau bambu. Tumpuan untuk pijakan kaki dibuat pada ketinggian 30 – 60 cm dari ujung bawah tongkat. Beberapa orang pemain dapat serentak memainkannya bersama-sama. Permainan ini biasa digabungkan dengan jenis permainan lain, seperti adu lari atau sepak bola. Ada kalanya, penilaian hanya pada adu ketahanan berjalan di atas jajangkungan sambil saling menendang kaki jajangkungan lawan bermain. Pemain yang terjatuh dinyatakan kalah.

Paciwit-ciwit Lutung

Permainan ini dilakukan oleh 3-4 orang anak, baik anak perempuan maupun lelaki. Setiap pemain berusaha saling mendahului mencubit (nyiwit) punggung tangan di urutan teratas sambil melantunkan kawih (nyanyian): Paciwit-ciwit lutung, Si Lutung pindah ka tungtung, Paciwit-ciwit lutung, Si Lutung pindah ka tungtung. Pada umumnya, tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah. Jadi, jenis permainan ini semata-mata dilakukan hanya untuk bersenang-senang dan mengisi waktu pada malam terang bulan.

Gatrik

Permainan dimainkan oleh dua orang atau dua regu yang beranggotakan beberapa orang. Alat yang dimainkan adalah tongkat pemukul terbuat dari kayu dan potongan kayu sepanjang seperempat tongkat pemukul, yang biasa disebut “anak gatrik”. Anak gatrik diletakkan di lubang miring dan sempit dengan setengah panjangnya menyembul di permukaan tanah. Ujung anak gatrik dipukul dengan tongkat pemukul. Anak gatrik kembali dipukul sejauh-jauhnya ketika terlontar ke udara. Bila anak gatrik tertangkap lawan, pemain dinyatakan kalah. Bila tidak tertangkap, jarak antara lubang dan tempat jatuhnya dihitung untukmenentukan pemenangnya.

Perepet Jengkol (gambar paling atas)

Permainan ini dilakukan oleh 3-4 anak perempuan atau lelaki. Pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan, dan salah satu kaki saling berkaitan di arah belakang. Dengan berdiri dengan sebelah kaki, pemain harus menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh, sambil bergerak berputar ke arah kiri atau kanan menuruti aba-aba si “dalang”, yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih.

Perepet jengkol jajahean.., Kadempet kohkol jejeretean…

Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini. Jadi, jenis permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang pada saat terang bulan.

Oray-orayan

Permainan ini dimainkan beberapa anak perempuan maupun lelaki di lapangan terbuka. Para pemain saling memegang ujung baju bagian belakang teman didepannya untuk membentuk barisan panjang. Pemain terdepan berusaha menangkap pemain yang paling belakang yang akan menghindar, sehingga barisan bergerak-meliuk-liuk seperti ular, tetapi barisan itu tidak boleh terputus. Sambil bermain, pemain melantunkan kawih. Oray-orayan luar leor ka sawah …, Tong ka sawah parena keur sedeng beukah Oray-orayan luar leor ka kebon …, Tong ka kebon aya barudak keur ngangon.

Sondah

Permainan ini pada umumnya dimainkan oleh anak perempuan. Pola gambar berbentuk kotak-kotak berpalang dibuat di tanah. Setiap pemain memegang sepotong pecahan genteng atau batu pipih, yang kemudian dilemparkan ke dalam kotak permainan. Pemain melompat-Iompat dari kotak ke kotak berikutnya. Kotak yang berisi pecahan genting tidak boleh diinjak. Pemain dinyatakan kalah jika menginjak garis kotak atau bagian luar kotak. Pemain pertama disebut mi-hiji, kedua mi-dua, ketiga mi-tilu, dan seterusnya. Itulah yang merupakan sebagian permainan dari sekian banyak permainan yang ada tempo dulu, yang sekarang tidak kelihatan.

Related Post :

    66 Responses to “Mengenang Permainan Anak Tempo Doeloe”
    maseko Said:

    lagu paciwit-ciwit lutung kayaknya enak, ada mp3 nya ga?

    [Reply]

    indra Reply:

    Enak dong, tar mau produksi lg cari donatur dan artis berbakatnya dulu (LOL)

    [Reply]

    dar Reply:

    oh gth

    [Reply]


    omagus Said:

    semenjak masuknya telivisi dan internet, permainan-permaianan itu mulai menghilang satu demi satu. Masih ada beberapa permainan yang di abadikan di pelajaran sekolah sekarang. (dance)

    [Reply]

    indra Reply:

    Hehe… iya kurang-lebihnya seperti itu :-D

    [Reply]


    a2i3s Said:

    waduh, asa warara’as kieu kang (goodluck)

    abdi mah sok nineung teh ku kokoleceran, hehehe… maklum di lembur angina sae, komo pas katiga mah (LOL)

    [Reply]

    kips Reply:

    Muhun upami angin nuju ngagelebug resep kokoleceran mah nya (LOL) Iraha atuh urang kalembur sareng.

    [Reply]

    a2i3s Reply:

    lebaran haji mudik teu kang? *urang kokoleceran sareng* (LOL)

    [Reply]

    indra Reply:

    Hayulah… bade kokoleceran mah tapi abdi mah teu tiasa ngadamel kolecerna oge (LOL)

    [Reply]


    iya neh pak, saya juga ingat waktu kecil. Permainan tempo doeloe sangat berbeda dengan anak-anak zaman sekarang. :)

    [Reply]


    (lmao) tes emoticon dulu pak (banana_cool) (idiot) (yahoo) (hungry)

    tengiyu pak…… :)

    [Reply]


    wah, asyikk juga emoticonnya :-)

    tengkiyu pak

    [Reply]

    indra Reply:

    (LOL) Silahkan, iseng aja pakai emoticon ini :-D

    [Reply]


    akhatam Said:

    permainannya unik juga yah… keep spirit…

    [Reply]

    indra Reply:

    Hehe… Terima kasih :-D

    [Reply]


    heru Said:

    whahaha klo anak2 sekarang gamenya serba aneh2. udah malu kali ya klo maen petok lele ato gundu

    [Reply]

    indra Reply:

    Kayaknya sih iya, sudah sangat langka bgt skrg yang main gundu (LOL)

    [Reply]


    andri Said:

    Dulu yang sering maen tuh : gobaksodor (katanya asal kaatanya dari go back to the dor (LOL) ) petak umpet, nangkepin capung, abur dara, slepetan, trus apa lagi yach (thinking)

    [Reply]

    kips Reply:

    (LOL) Keren amat ya namanya “go back to the dor” (rofl)

    [Reply]


    mainan Said:

    di tempatku anak-anak masih pada main gunungan, termasuk anakku. seneng banget deh ngeliatnya. Daripada main PS..
    Mainan

    [Reply]

    indra Reply:

    Hehe… mainan yg alami memang tidak kalah menyenangkan :-D

    [Reply]


    Andhika Said:

    iyah kang..
    semenjak masuknya era game (nintendo, sega, PS, X-box) permainan2 ini mulai di lupakan.

    [Reply]

    indra Reply:

    Yap, permainan modern yang didukung teknologi jg tidak sedikit memancing kecerdasan dan keberanian anak, tapi permainan tradisional tak kalah meninggalkan kenangan *maklum budak baheula* (rofl)

    [Reply]


    xitalho Said:

    Iya ya.. orang sekarang kayaknya terlalu protektif banget sama anak…
    Dulu flu dan pilek gak termasuk dalam daftar penyakit berbahaya… biasa mah kalo cuma ingusan hahahaha….

    Jadi terkenang… petak umpet di kampung dulu hehehe…

    [Reply]

    indra Reply:

    Kirain terkenang saat kecil ingusan (LOL)
    Ampun deh bercanda (worship)
    Makasih ya dah menyempatkan silaturahmi lagi :-D

    [Reply]


    wah kalo liat cerita diatas saya benar2 teringat masa kecil saya.. ko hampir sama ya mas permainannya cuma kadang beda nama.. yang paling favorite waktu kecil pulang sekolah sd sama tmen2 kumpul berenang main di sungai antirogo yang bersih… bening dan segar airnya..

    namun sekarang tinggal kenangan airnya kotor sungainya kumuh… sedih deh :(

    [Reply]

    indra Reply:

    Iya, rasanya berenang disungai pun pernah jg, kembali pada kondisi sungai yg tinggal kenangan kejernihan airnya mungkin merupakan salah-satu dampak kemajuan teknologi yang kurang terkendali :-D

    [Reply]


    hielmy Said:

    alhamdulillah saya masih ngalamin beberapa dari permainan itu, yang paling seru itu perepet jengkol, perepet jengkol jajahean, kacepet…*tiiit* jejeretean :P

    [Reply]

    indra Reply:

    Lanjutannya kurang jelas (LOL)

    [Reply]


    bri Said:

    salam persahabatan (cozy)
    jadii inget waktu maen kelereng, panggal, layangan kang..ahahay

    [Reply]

    indra Reply:

    (LOL) Sama atuh ya, ternyata ngalamin jg main Kelereng, Panggal dan Layang-layang :-D

    [Reply]

    bri Reply:

    salam pagii selamat pagii kang indra
    haturnuhun dah dilink…linknya kang indra jg udh di tempel
    ahahay alesan lagiih..bisa ajaa deh^^

    [Reply]

    indra Reply:

    Kekek… sami2 :-D

    [Reply]

    bri Reply:

    sami sami = samasama^^
    punteenn iaa kang…main lagii disinii
    salam pagii met pagiiii (:

    [Reply]


    kab ol Said:

    jadi ingat masa kecil (dance)

    [Reply]

    indra Reply:

    Masa kecil memang masa yang paling indah (LOL)

    [Reply]


    GeLZa Said:

    seharusnya permainan daerah masuk dalam kurikulum pendidikan di negri ini…. (funkydance)

    [Reply]

    indra Reply:

    Bisa aja, tetapi seru kayaknya tuh kl memang ada (LOL)

    [Reply]


    hanif Said:

    jejangkungan ituh, bagu kayaknya, dulu sempet mau maen tapi gak dibloehin karena takut jatuh, hehe… komment lagi disini,,,

    [Reply]

    indra Reply:

    Gpp, bebas kok malah seneng yang ada (LOL)

    [Reply]


    SAMS Said:

    duh sok pengen kembali ka jaman baheula…
    andai waktu bisa barputar :-)

    [Reply]

    indra Reply:

    Bisa aja, kadang2 berpikiran sama jg :-D

    [Reply]


    Aba Nina Said:

    Sumpah kang, nyeredet hate..sok nineung mangsa sim kuring keur bolon baheula…cik atuh kang, luluguan kanggo ngadamel komunitas anu merhatoskeun budaya urang khususna kaulinan urang lembur…sok ah didukung malihan abdi daftar janten anggota nomer hiji…h.h.h.h.h. :-)

    [Reply]

    indra Reply:

    Janten isin ah, langkung afdol na mah abdi ngiringan janten anggota panginten :-D

    [Reply]


    sutarma Said:

    Kang Indra… bade nyuhunkeun widi (minta ijin nih) manawi tiasa tulisannya saya kutip dan gambarnya dengan bahasa bebas dengan mencantumkan tulisan akang tentunya … waas eta ku kaulinan barudak… he..he.. nuhun…salam

    Tarma

    [Reply]

    indra Reply:

    Sumangga, hatur nuhun tos kersa rurumpaheun ka saung butut ieu (worship)

    [Reply]


    neng fey Said:

    selamat hari anak nasionaal..
    waah jadi inget jaman2 SD dulu

    [Reply]

    kips Reply:

    Yang mengalami seperti halnya saya, pasti jadi ingat :D

    [Reply]


    indra Said:

    yaa…sangat di sayangkan klo kenengan waktu kecil bener2 tnggal knangan…mudah2an aza situasi sprti ini jdi inspirasi bgi kita untuk membangkitkan kembali suasana ceria tempo doeloe…slam dech buat semua komunitas tradisi sunda…

    [Reply]

    kips Reply:

    Sayang memang kl punah, bagaimanapun kesederhanaan permainan anak tempo dulu mempunyai keunikan tersendiri hingga bisa menjadi kenangan bagi yang mengalaminya :-D

    [Reply]


    sindy Said:

    akhirnya permainan oray-orayan gimana?

    [Reply]

    kips Reply:

    Nah, kena deh. Karena mulai pikun jadi lupa nih ujungnya (LOL)
    Intinya kalau pemain paling belakang “buntut” ketangkep pemain terdepan “kepala” itu sama artinya kegigit, itu artinya permainan selesai. Untuk yang lebih tepat mungkin kerabat ada yang masih ingat dan mau menambahkan, silahkan! (blush)

    [Reply]


    RiezDiet Said:

    bagus ihhhh
    masih inget sama jadul ….
    seandainya masa ini pindah lagi ke jadull

    [Reply]

    kips Reply:

    Rasanya kalau untuk pindah lagi tidaklah mungkin, perkembangan teknologi sekarang pun lebih bisa dimanfaatkan hingga lebih berarti. Cuma ada baiknya permainan tempo dulu pun jangan sampai dilupakan :-D

    [Reply]


    mumuh Said:

    SAMPURASUN

    kang tolong kalau punya buku tentang permainan anak aku butuh info judul. kiriim ke e-mail ku. aku alagi ngumpulin buku tentang permainan tradisional. terutama kalau ada tentang ORAY-OYAN. MAKASIH
    MUMUH

    [Reply]

    kips Reply:

    Rampes!
    Akhir-akhir ini masih berkutat dengan kesibukan yang hampir menyita waktu, Insya Allah upami kagungan warta dikintunkeun. Punten pisan! (blush)

    [Reply]


    henda teguh Said:

    ass wr wb…aduh meni wara raas kitu,kang…sok emut jaman kapungkur…nuju caang bulan opat belas…di lembur,caang kamana mana,genteng,tatangkalan kebon,caang mencrang,…di campur sararedih emut ka sepuh nu tos tilar dunya…nuhun kang…wass

    [Reply]

    kips Reply:

    Waalaikumsalam Wr. Wb.
    Naon nu nuju kalakonan salira saleresna mah teu benten tebih sareng abdi. Waas tur ka nineung ka sagala rupina kaayaan kapungkur :-(

    [Reply]


    KMA Said:

    ternyara anak2 skrg lebih beruntung karena banyak sekali pilihan mainan ….

    [Reply]


    izin copy gambar ya.

    [Reply]


    iwan sidik Said:

    kerangka substansi permainan tempo dulu lebih kooperatif, sosial dan kerja sama serta saling tolong menolong…

    [Reply]


    Kangen ke masa anak-anak nih, banyak banget permainan yang sudah punah. Jaman sekarang anak-anak main hp / gadget melulu …

    [Reply]

    kips Reply:

    Yap, sekarang banyak yang lebih asyik sendiri tidak seperti dulu menuntut mencari teman untuk bermain jadi berinteraksi langsung hingga lebih mengasyikan :-D

    [Reply]


    Leave a Reply

    3+3=


    Free Translation Widget

    Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

    Mengenang Permainan Anak Tempo Doeloe
    [spoilergroup] [spoiler intro="A"] Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka ba...

    Ngaguar Basa tur Budaya Sunda

    Mengenang Permainan Anak Tempo Doeloe
    Lain pedah sugih ku elmu jembar ku pangabisa, lain pedah oge jegud pangaweruh tur jembar k...

    Berbalas Pantun

    Mengenang Permainan Anak Tempo Doeloe
    Ibarat makan sudah menjadi kebutuhan baku sehari-hari, beberapa jam disetiap harinya past...

    Links

    Subscribe Us