Adakalanya membatasi dan membuka diri itu diperlukan. Membatasi diri memang mempunyai korelasi yang sangat jelas dengan membuka diri, dimana membatasi diri berarti memberikan ruang gerak kepada yang lain sementara membuka diri bersedia menerima gerak-gerik orang lain, bersedia mengalah akan prilaku tertentu yang diperbuat orang lain dimana sebelumnya tidak terbiasa menempel pada kehidupan secara pribadi.
Perlu membatasi diri? Tentu saja, karena kebiasaan atau tabiat kehidupan seseorang itu berbeda-beda. Setiap orang berharap bahwa kehidupannya saat ini dan selanjutnya akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya, hal itulah yang mungkin menjadi alasan kita semua membatasi dan membuka diri. Jika tidak demikian atau terjadi kebalikannya, “Buat apa bersusah-payah dilakukan?”
Bayangkan, kehidupan kita sebelumnya dengan tinggal dalam sebuah ruangan. Kemudian kita mengundang masuk orang lain. Berarti kita harus siap berbagi ruang dengannya, bukan? Kita tidak lagi berada dalam suasana sebelumnya di ruangan tersebut. Atau pula kita ambil contohnya dari yang berumah-tangga; Andaikata seorang suami keantengan melakukan sesuatu, misalnya saja membaca surat kabar. Seorang istri yang melihat suaminya membaca koran melulu, menyindir, “Enak benar jadi koran, ya. Setiap hari dipegang-pegang, …” Suaminya menjawab, “Uh, andaikata istri saya itu koran … , setiap hari ganti!” Contoh tersebut menuntut sang suami untuk mebatasi diri supaya tidak terlalu keantengan membaca surat kabar dan mau membuka diri untuk membantu pekerjaan sang istri yang mungkin lagi sibuk-sibuknya, meskipun tidak biasa dilakukan sebelumnya dan tanpa diminta secara langsung, misalnya saja, membantu menjemurkan pakaian, menggendong anak, dan lain-lain.