Sugesti, Pentingkah?

Diantara kita mungkin ada yang mempunyai kecenderungan menyugesti diri sendiri. Menakuti sesuatu yang tidak diharapkan datang tiba-tiba, terungkap pada sebuah kenyataan yang sebenarnya belum tentu akan terjadi.

Sebagai sebuah contoh kecil saja, misalnya ada dua orang yang bersahabat (Toto dan Tata). Mereka bersahabat kental, bahkan bisa dianggap bersaudara karena tinggalnya pun serumah, tidur, makan, main kerap kali dilakukan bersama-sama, bahkan soal urusan mencari pasangan hidup pun tak terkecuali dilakukannya bersama dengan saling bertukar pikiran. Kekerabatan hal semacam ini yang menumbuhkan sugesti pada diri keduanya, bahwasannya dialah (sahabatnya) orang yang bisa dipercaya. Semuanya terjadi dan tumbuh akibat adanya saling mengisi keseharian (saling tolong-menolong) diantara keduanya, dan berlangsung dalam kurun waktu yang lumayan lama (bertahun-tahun).

Suatu ketika, ada pembicaraan hangat mengenai seseorang yang sungguh menarik perhatian kepada dua orang yang bersahabat ini yaitu seorang gadis cantik (Titi). Dengan tidak membutukan waktu yang cukup lama, salah seorang dari keduanya (sebut saja Tata) dapat bekenalan dengan Titi. Toto (orang yang belum mempunyai keberuntungan mendekati Titi), akhirnya lambat laun jadi mengenal pasangan sahabatnya itu. Tentunya dengan menyimpan segala rasa (keinginan) untuk mendekati pasangan sahabatnya itu.

Suatu ketika, teman lama Tata memberitahukan kepada Tata bahwa Titi dan Toto jalan bersama dan kelihatan seperti sebagai pasangan. Pengaduan semacam ini sebernarnya pernah juga diterima Tata dari yang lainnya, tetapi tata yakin bahwa Toto, sahabatnya itu tak akan berbuat macam-macam. Tata yakin dan terus berusaha memelihara sugestinya bahwa Toto tidak akan melakukan hal-hal yang tidak diharapkan, karena hal ini pun telah dipertanyakannya kepada Titi. Tetapi ia tidak mengakuinya, padahal yang sebenarnya memang terjadi hubungan khusus diantara keduanya.

Suatu ketika, Tata berbicara kepada Titi, bahwasannya Tata akan menikahi Titi, tapi apa yang terjadi? ternyata bukannya sambutan yang menggembirakan yang didapat Tata melainkan jawaban Titi bak petir menyambarnya. Disaat itu Titi memberitahukan yang sejujurnya dan sekaligus minta maaf Tata, bahwa ia lebih memilih Toto sebagai pasangannya.

Dari contoh diatas, Tata mempercayai Toto, jika dipandang dari satu sisi sungguh positif, daripada memasang sikap curiga terhadap sahabatnya itu. Tetapi terlalu berserah diri pada sugesti, yang terkadang hal ini bisa bearti sikap dusta atau membohongi diri sendiri. Sementara di lingkungan Titi dan Toto dusta-dusta itu berpesta dalam posisi yang sangat mujur.

Tata, mempercayai Toto sebagai sahabat yang dapat dipercayainya merupakan suatu sikap yang terlalu memelihara sugesti yang ada, mungkin juga karena takut dimarahinya yang akan menjadikan permusuhan nantinya, tetapi disisi lain tidak dapat meluruskan persoalan yang sebenarnya. Sikap Tata yang tidak pernah berusaha mempertanyakan kepada Toto ataupun menyelidikinya, merupakan suatu pemaksaan diri untuk berpikir positif dengan mempercayai Toto daripada prasangka negatif sahabat-sahabat lama yang lainnya yang seharusnya dicari kebenarannya, yang pada akhirnya menjadikan suatu kerugian besar bagi dirinya sendiri.

Dari cerita diatas yang merupakan suatu gambaran permasalahan yang sudah sepatutnyalah diselesaikan. Hendaknya kita memikirkan sejauh mana kita memelihara sugesti itu, menganggap penting atau tidaknya pun harus memerhitungkan dampak yang akan ditimbulkannya. Semoga saja kita bisa memilah dan memilih mana sugesti yang patut dipelihara dan mana yang harus dihindari. Amin!

3 Responses to Sugesti, Pentingkah?

  1. chau says:

    yup satuju tapi knapa crtanya tata&toto ama titi khan jadi bingung.. he3x

  2. maseko says:

    Ini kayaknya dari pengalaman pribadi ya..
    Ati-ati juga tuh sama “teman serumah” yg sekarang..
    hahaha..

  3. kips says:

    #1 Biar mudah nulisnya saja
    #2 Dikit sih, beda kasusnya ko, siapa coba yg ngalamin he..

Leave a Reply

Your email address will not be published.