Hari Valentine yang jatuh setiap 14 Februari, oleh sebagian orang dianggap tepat untuk menyampaikan perasaan kasih sayang pada siapa saja. Kendati bagi anak muda yang meramaikan Valentine, perasaan itu lebih mengarah pada pasangan. Sebenamya, menyampaikan kasih sayang tidak harus menunggu momen Valentine.
Valentine’s Day, terlepas dari rasa suka atau tidaknya dijadikan sebagai hari kasih sayang, sekarang telah menjadi hari yang ditunggu oleh banyak orang. Memasuki bulan Februari suasana Valentine terasa di mana-mana.
Ketidakpedean untuk melakukan sesuatu terkadang muncul akibat dari adanya kurang optimis. Padahal rasa optimis itu harus jelas ada sehingga akan memunculkan rasa percaya diri untuk melakukan hal-hal yang diinginkan.
Agar kita bisa lebih pede, kita harus optimisme. Apa itu optimisme? Optimisme memiliki beberapa pengetian, diantaranya :
Optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk menyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Orang optimis adalah orang yang yakin (dengan alasan-alasan yang dimilikinya) bahwa ada kehidupan yang lebih bagus di hari esok.
Pengetian lain dari optimisme berarti kecenderangan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Optimisme berarti menjalankan apa yang kita yakini atau apa yang dibutuhkan oleh harapan kita. Kalau dipendekkan, optimisme berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus pula.
Sebuah komentar di blog tentunya akan memberi apresiasi pada penulis karena itu mendorong penulis bisa lebih kreatif dan lebih produktif menulis. Terus terang saya masih banyak belajar tentang menulis yang baik sehingga senantiasa mendapatkan respon yang positif bagi semua yang berkenan meluangkan waktu untuk mebacanya.
Jujur saja, kalau mau cepat, banyak sekali bahan atau pun permasalahan yang berada didepan mata sehingga bisa dituangkan. Tidak menginginkan dengan hanya sekedar menjiplak pemikiran orang lain, tapi saya ingin belajar menuangkan bahasan yang di kupas tentunya sesuai dengan kadar evaluasi pribadi, dimana mempunyai kesempatan berpikir dan menganalisa untuk selanjutnya dapat dipertanggungjawabkan apa adanya.
Memang saat ini hampir semua bahasan tidak lain dan tidak bukan masih banyak mengupas tentang semua yang ada disekitar diri sendiri yang terkadang beberapa diantaranya diri pribadi pun tidaklah paham terhadap bahasan tersebut. Namun, semua ini saya jadikan motivasi diri sendiri untuk dapat berpikir positif dan mencoba fokus menghasilkan suatu karya yang mudah-mudahan mengandung makna.
Seseorang yang suka berpikiran positif akan memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Jika kita mengambarkan dampak pola berpikir yang positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya mungkin betul-betul menjadi positif.
Misalnya :