Diantara Dua Pilihan

Hidup hanya menyediakan dua pilihan, mencintai kehidupan yang sebenarnya dengan menjalani apa adanya atau tidak mencintainya. Jika tidak bisa mencintai kehidupan, maka kita hanya akan memperoleh rasa keluh kesah yang tentunya jauh dari rasa nikmatnya hidup ini.

Punya masalah dengan semangat hidup? Gundah gulana sering dibuatnya, dengan setumpuk masalah yang senantiasa tak henti-hentinya datang bertubi-tubi, serasa sesak nafas dibuatnya, kesunyian, kesepian dan kesendirian seringkali membuat hanyut dalam kepasrahan tanpa kobaran semangat hidup. Setiap dari kita yang pernah merasakan hal tersebut, seringkali ada kekeliruan dalam menerima semua yang telah digariskan Sang Maha Kuasa, dengan tidak adanya daya dan upaya untuk mengubah sesuatu yang menjadi kendala menjadi sesuatu yang sesuai dengan asa yang tersirat.

Seandainya saja diri kita dapat mencintai kehidupan ini, pastinya kita berpikir bahwa kita ini hidup tidak sendirian, dibalik semua kesusahan kita mungkin ada orang lain yang lebih susah, dibalik kesendirian kita pastinya masih ada orang lain yang merasakannya, dibalik kenestapaan diri kita tentunya masih ada orang lain yang malah merasa lebih nestapa dari kita. Kesimpulannya masih banyak orang lain yang punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya!

Hampir semua orang pernah mengalami turun naikknya gairah hidup akibat dari berbagai faktor, entah itu pekerjaan, masalah rumah tangga, ataupun masalah pribadi. “Itu lumrah saja terjadi,” karena merupakan hal yang manusiawi. Tetapi, meski lumrah, “impotensi” hidup harus diobati.

Mungkin cara terbaik untuk mengatasinya dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi hidup. Itulah akar yang membentuk gairah hidup. Secara sistematis, memetakan motivasi tersebut dalam konsep “syukur nikmat” yang tentunya menerima segala sesuatu yang telah digariskan Sang Pencipta, dengan berusaha merubahnya dalam bentuk usaha dengan didampingi do’a, Insya Allah dengan ijin-Nya akan meperoleh solusi terbaik yang sesuai dengan harapan kita semua.

Pada dasarnya ada bebarapa hal mungkin bisa membuat kita lebih mencintai hidup, diantaranya :

Memahami hidup sebagai rahmat. Bagaimanapun kondisi kita, atau apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.

Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah. Dengan bekerja, kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah yang patut disyukuri.

Memahami hidup sebagai amanah. Bagaimanapun kondisi kehidupan kita, dengan pekerjaan yang berbeda-beda, misalnya pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR sekalipun. semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Dari hal ini semestinya membuat kita bisa menjalankan yang seharusnya dengan sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela dalam bentuk apapun. Dalam hal ini tentunya setiap insan mempunya posisi dan aturannya untuk menjalani hidup, sehingga senantiasa tidak bertolak belakang dengan kodrat sebagai penciptaan dari Sang Pencipta.

Memahami hidup sebagai aktualisasi. Apa pun kondisinya, semuanya merupakan bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, misal berusaha terus yang merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun hal tersebut jauh lebih bermanfaat daripada duduk bengong tanpa alasan.

Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan psikososial manusia. Dengan berusaha, bekerja misalnya, seseorang bisa berjabat tangan memperkenlkan diri dengan sesama.

Memahami hidup sebagai ibadah. Dengan tak memperdulikan apa pun agama atau kepercayaan kita, semua insan di dunia ini harus menjalani kehidupannya dengan aturan tertentu yang telah digariskan. Berusaha menjalankan hidup dengan menyelaraskan akan titah-Nya dalam segala aspek tentunya merupakan suatu ibadah.

Memahami hidup sebagai bentuk pelayanan. Bagaimanapun kondisi kita atau pekerjaan kita, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama dan tentunya Sang Maha Pencipta. Yakinlah, bahwa setiap dari kita diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik.

Pada intinya kita memilih mencintai dengan mensyukuri atau mengkufuri dengan kekecewaan. Sebagai contoh dalam pekerjaan pun kita bukan hanya sekedar untuk mencari makan, tetapi juga mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30-40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan Tuhan. “Manusia itu makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja misalnya, yang merupakan waktu yang sangat lama.

Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias dalam menjalani hidup. Pertama, mencari kehidupan yang layak yang sesuai dengan keinginan dan harapan yang didukung dengan kondisi yang ada, dengan begitu hidup ini akan terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.

Andai saja aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan kedua, yakni kita harus belajar mencintai kehidupan yang telah digariskan pada diri kita. Karena bagaimanapun tentunya kita telah berusaha untuk mendapatkan yang kita harapkan, namun hal tersebut tidak kita dapatkan, entah itu karena hal yang tertunda ataupun sebagai ujian hidup.

Terkadang kita belum bisa mencintai kehidupan ini karena belum mendalaminya dengan benar. “Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala kekurangannya.” Bagaimanapun dalam hidup ini, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya saja. Misalnya saja, kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu duri.”

Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan dan memahami arti hidup yang sebenarnya. Wallahu A’lam Bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.