<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Social problem</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/tag/social-problem/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 16:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Gambaran Nyata &#8230;</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/gambaran-nyata.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/gambaran-nyata.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 00:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[problematika]]></category>
		<category><![CDATA[Social problem]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/gambaran-nyata.html</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#60;</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/02/Social-Problem.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2377" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Social Problem" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/02/Social-Problem.jpg" alt="" width="109" height="141" /></a>Pagi ini saya menuangkan sedikit kekhawatiran mengenai peradaban (etika) yang berkembang di kota besar selama ini. Teringat sorang teman yang mengalami perlakuan yang tidak sepatutnya terjadi.</p>
<p>Ceritanya dia berkunjung ketempat temannya dengan tujuan memberikan sesuatu (barang). Berhubung yang dituju tidak ada dan dia pun terburu-buru dengan keperluan yang lain, maka berinisiatif menitipkan barang tersebut kepada tetangga temannya yang dituju itu. Namun apa sambutan yang didapat? Hanyalah sebuah makian semata.</p>
<p><span id="more-348"></span></p>
<p>Alasan tetangga temannya itu katanya hal tersebut sangat mengganggu ketenangan dia karena hal tersebut merupakan keduakalinya dimintai tolong untuk titipan barang, alasan kedua dia bilang &#8221; saya tidak kenal anda&#8221;, alasan ketiganya &#8220;takut barang tersebut merupakan barang yang dapat menimbulkan masalah&#8221;, alasan keempat menyatakan bahwa dia (tetangga temannya) bukan siapa2nya temannya yang dituju itu, dan yang terakhir harus dibilangin kepada temannya yang dituju itu bahwa hal tersebut merupakan yang terakhir (jangan ada lagi yang menitipkan barang ke dia).</p>
<p>Evaluasi saya untuk alasan pertama mengenai mengganggu ketenangan sangatlah benar, begitupun alasan kedua karena pada dasarnya memang keduanya belum saling mengenal. Namun mengenai barang yang dititipkan saya rasa kurang tepat, kenapa tidak ditanya dulu mengenai barang apa yang akan dititipkan, walaupun dalam hal ini masih mengandung kebenaran untuk sebuah kecurigaan. Yang dimaksud kurang tepat dalam hal tersebut karena fisiknya memang nyata dan jelas bukan barang yang berbahaya (saya rasa tidak begitu penting disebutkan jenisnya).</p>
<p>Untuk alasan keempat bisa dipahami, dan memang pada dasarnya temannya itu bukan siapa2nya tetangganya, karena temannya itu hanya pengontrak rumah sebelahnya.</p>
<p>Nah, untuk pernyataan terakhirnya itu merupakan suatu pernyataan yang janggal. coba saja bayangkan, apakah setiap orang yang mau menitipkan barang kepada seseorang untuk tetangganya sudah barang tentu disuruh sama yang dituju? Saya rasa belum tentu. Bisa saja kan yang dituju tidak tahu kejadiaanya (akan ada yang memberikan barang tetapi karena tidak ketemu akhirnya dititipkan kepada tetangganya). Konon kejadian yang menimpa teman saya pun begitu, temannya yang dituju tidak mengetahui sebelumnya.</p>
<p>Dari cerita diatas, saya dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya tetangga temannya itu tidak mau repot untuk memberikan bantuan kepada yang lain. Pada initya interaksi seprti itu bukan merupakan interaksi yang baik, karena mengesampingkan etika dan cara berkomunikasi yang baik. Seandainya saja etika diterapkan, misalnya saja tidak mau direpotkan, apa salahnya mencari alasan untuk tidak memerikan bantuan, sebagai contoh sederhana saja &#8220;maaf, saya ga bisa Bantu, karena ada keperluan mau keluar&#8221;. Kalimat tersebut sangatlah enak, apalagi memuat kata &#8220;maaf&#8221; menjadikan tambah bijak maksud kalimatnya. Itulah salah satu gambaran problematika sosial yang ada di kota besar. Tapi saya yakin, ini hanya salah-satu saja dari sekiat banyak penghuni kota besar, yang lain belum tentu sama. Wallahualam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/gambaran-nyata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Problematika Sosial Kota Besar</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/problematika-sosial-kota-besar.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/problematika-sosial-kota-besar.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 00:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[problematika sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Social problem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/problematika-sosial-kota-besar.html</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#60;</p>
<p>&#60;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/02/Social-Problem...jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2379" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Social Problem.." src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/02/Social-Problem...jpg" alt="" width="112" height="118" /></a>Walaupun tak dapat digolongkan sebagai ancaman dan bahaya, keterlibatan kita dalam kehidupan di kota besar membawa beberapa konsekuensi yang layak diwaspadai. Apa yang yang kita lakukan terus menerus selalu membawa dampak yang meskipun pada awalnya kurang berarti, tetapi secara akumulatif pada akhirnya kadang-kadang bisa termasuk merugikan, jika tak dapat dikatakan berbahaya.</p>
<p>Angkatan kerja yang besar dan menumpuk di kota jelas menjadi masalah sosial tersendiri yang mesti ditangani dengan baik dan bijaksana. Urbanisasi lebih sering disebut-sebut sebagai dampak negatif daripada dipahami sebagai akibat wajar dari besarnya permintaan tenaga kerja kasar di kota besar. Emangnya kalau tak ada Udin dari Cilacap atau Ngatini dari Gunung Kidul, siapa yang bisa diminta ikut membangun gedung beringkat? Siapa yang mau mengangkut sampah-sampah yang beserakan?</p>
<p><span id="more-347"></span></p>
<p>Pekerja di segala sektor dan pada berbagai posisi itu semua manusia. Perlu makan, minum, tempat berteduh meskipun hanya berupa rumah kontrakan atau bahkan hanya sebatas numpang. Termasuk harus disebutkan bahwa tiap-tiap orang perlu berinteraksi sebab manusia makluk sosial dan supaya pekerjaan dapat diselesaikan secara integral. Positif atau negatif interaksi manusia dilahirkan akibat sosial.</p>
<p>Pertentangan atau kerja sama dengan pendatang baru yang meningkat akan timbulnya persaingan yang semakin tajam sebagai akibatnya, pelaksanaan kebiasaan dan adat istiadat dari berbagai golongan ada kalanya saling bertolak belakang, memang tak dapat dihindari terjadi di kota-kota besar.</p>
<p>Kota besar banyak menawarkan pekerjaan, memang benar. beberapa dari pekerjaan kota besar mengandung resiko yang tak kalah besarnya.</p>
<p>Menjadi tukang pada bangunan bertingkat atau memanjat dan<br />
membersihkan kaca gedung bertingkat juga pekerjaan berbahaya, <em>somebody has to do the job</em>. Mungin tak pernah terpikirkan pekerjaan ini oleh kita, namun inilah salah satu jenis pekrjaan di kota besar yang tak pernah tersedia di kota kecil. dan menjadi problema tersendiri. Kalau sarjana berdasi tak sudi melakukan pekerjaan ini, maka mang Miun harus didatangkan dari Cidaun dan akhirnya berbaur menjadi komunistas kota besar.</p>
<p>Kota besar pun menawarkan perkerjaan lain dengan bayaran cukup besar pula. Tapi berhati-hatilah, tak ada pekerjaan gampang yang dibayar mahal. Jika ada, pasti pekerjaan tersebut membawa konsekwensi &#8220;buruk&#8221;.</p>
<p>Pekerjaan dan pekerja di kota besar tumbuh menjadi problematika sosial. Penduduk atau penghuni kota besar yang bersangkutan harus dapat harus mengendalikannya, sehingga tidak timbul dampak sosial yang mengarah pada kekacauan. Dan akhirnya membuat mengecilnya makna moral.</p>
<p>Kesetiakawanan sosial di kota besar mungkin tak seerat di kota kecil (banyak <a href="http://kipsaint.com/isi/gambaran-nyata.html" target="_blank">gambaran nyata</a> ). Menginjak ke bawah untuk naik ke atas sudah merupakan perilaku biasa yang semakin dapat diberi toleransi atas dasar pemujaan semangat &#8220;<em>the winner takes all</em>&#8220;. Sikut kanan cubit kiri terjadi sehari-hari, Menurut teori Charles Darwin, ini disebut seleksi alamiah, meskipun manusia bukan burung atau kura-kura yang hidup di kepulauan Galapagos.</p>
<p>Kelompok penduduk mayoritas cenderung menindas kelompok lain yang minoritas, pantas diwaspadai. Jika berbicara tentang penduduk Indonesia yang terdiri atas banyak suku, ada kengerian bahwa rasialisme dapat terjadi sewaktu-waktu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/problematika-sosial-kota-besar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

