<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Sekolah</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/tag/sekolah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 01:20:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Pemrosesan Informasi dalam Teori</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/pemrosesan-informasi-dalam-teori.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/pemrosesan-informasi-dalam-teori.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 21:03:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Proses belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Teori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/pemrosesan-informasi-dalam-teori.html</guid>
		<description><![CDATA[Agustus merupakan bulan yang banyak menyisakan kenangan selama perjalanan yang telah terlewati, beberapa diantaranya berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Bukan hanya kenangan manis tetapi kenangan sebaliknya pun sering melintasi pikiran secara spontan. mungkin karena itu pula secara reflek beberapa postingan terakhir terkait dengan masalah pembelajaran meskipun jelas-jelas postingan tersebut hanyalah ceritra atau karangan belaka. Dasarnya kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/08/Belajar.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1936" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Belajar" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/08/Belajar.jpg" alt="" width="125" height="122" /></a>Agustus merupakan bulan yang banyak menyisakan kenangan selama perjalanan yang telah terlewati, beberapa diantaranya berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Bukan hanya kenangan manis tetapi kenangan sebaliknya pun sering melintasi pikiran secara spontan. mungkin karena itu pula secara reflek beberapa postingan terakhir terkait dengan masalah pembelajaran meskipun jelas-jelas postingan <a href="http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html" target="_blank">tersebut</a> hanyalah ceritra atau karangan belaka.</p>
<p>Dasarnya kehidupan memang menuntut sebuah pembelajaran dalam mengembangakan kehidupannya itu sendiri. Oleh karena itu, rasanya tidak ada salahnya mengenali teori pemrosesan informasi dalam pembelajaran.</p>
<p><strong>Robert Gagne</strong> berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yakni; motivasi, pemahaman, pemerolehan, penyimpanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan dan umpan balik.</p>
<p>Asumsi yang mendasari teori tersebut adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Dimana perkembangan itu sendiri merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan (<em>input</em>) informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran (<em>output)</em> dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi ini terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Dimana kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sementara kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Dari interaksi kedua kondisi tersebut pada akhirnya mewujudkan suatu bentuk implementasi nyata dari pembelajaran secara real sebagai realisasinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/pemrosesan-informasi-dalam-teori.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sandal Jepit dan Buah Huni</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 00:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Huni]]></category>
		<category><![CDATA[Patuh]]></category>
		<category><![CDATA[Sandal Jepit]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat]]></category>
		<category><![CDATA[Tanggung-jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html</guid>
		<description><![CDATA[Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah. Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/08/Buah-Huni.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1938" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Buah Huni" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/08/Buah-Huni.jpg" alt="" width="125" height="106" /></a>Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka bisa berbuat iseng. Melihat sebatang pohon huni, dimana buahnya berberntuk bulat kecil terangkai dalam gagangnya seperti buah anggur yang sedang berbuah lebat ditengah ladang. Warnanya yang sudah mulai matang yaitu merah hingga ada yang kehitaman membuat mereka tergiur untuk memetiknya. Buah huni yang berwarna merah itu, terlebih dengan terkenanya sorotan sinar matahari dapat menaklukan hati Nara dan kawan-kawan untuk meraihnya, berebutlah mereka memanjati pohon huni. Buah yang diambil tidaklah banyak, hanya sebatas untuk mengisi kedua saku celana mereka.</p>
<p>Dasarnya sifat anak-anak, kejadian seperti itu berulang di kemudian hari seakan yang dilakukannya sebuah <a href="http://kipsaint.com/isi/mengenang-permainan-anak-tempo-doeloe.html" target="_blank">permainan</a>, padahal mereka tahu bahwa pohon huni tersebut ada yang punya. Orang yang punya adalah orang kampung sebelah. Akhirnya, suatu hari ketangkap basah juga anak-anak itu yang sedang memanjat pohon hendak mememtik buah huni tersebut. Dengan ditakuti sebuah parang spontan anak-anak berlarian. Berlari dengan tak perduli akan sendal jepitnya, hingga ada yang terjatuh dan luka. Tapi hal tersebut pun tidak menjadikan kehilangan tawa, seakan luka-luka kecil dikaki itu sudah tiada artinya saking merasa sudah tidak aneh, tetep saja saling tertawa dalam pelariannya.</p>
<p><span id="more-1451"></span></p>
<p>Orang tua adalah guru yang nyata, jelas memberikan petuah bagi anak-anaknya. Begitupun dengan orang tua Nara, melihat anaknya terluka lalu menanyakan apa yang telah terjadi hingga membuat Nara terluka. Meski niat Nara tidak mengutarakan yang sebenarnya, akhirnya menjelaskannya kejadian yang telah menimpa tersebut pada orang tuanya karena tidak mau menyakiti hatinya. Lalu orang tuanya pun menyarankan untuk tidak berbuat seperti itu lagi dan menyuruh Nara minta maaf kepda yang memiliki pohon huni itu.</p>
<p>Esok harinya, saat yang sama yaitu pulang sekolah kebetulan bertemu dengan orang yang memiliki pohon itu ditempat yang sama pula (tempat pohon huni itu berada). Dan sang bapak mpunya pohon pun menjelaskan, &#8220;<em>bukannya tidak boleh mengambil buah tersebut tetapi yang tidak boleh adalah mengambil barang orang lain tanpa ijin atau mencuri, kalau pun mau, memintalah terlebih dahulu karena buah huni pun tak seberapa harganya kalau pun dijual, pasti dikasih</em>&#8221; tutur si bapak. Nara dan teman-temannya pun mengerti dan berjanji tidak mengulangi lagi. Mereka menyadari akibat perbuatan yang kurang baik mengakibatkan kerugian lain seperti luka akibat terjatuh pada saat berlari menghindari amarah yang punya pohon tersebut, sampai-sampai ada yang kehilangan sandal jepitnya sehingga esok harinya kesekolah tanpa memakai sandal jepit akibat belum mampu untuk membeli lagi.</p>
<p><strong>NB:</strong><br />
Beberapa hal yang tercermin dalam cerita klasik ini; patuh terhadap orang-tua, menghargai milik orang lain, berani mengakui kesalahan dan bertanggung-jawab serta semangat yang tinggi (tetap sekolah meski tanpa sendal jepit). Mudah-mudahan hal-hal tersebut senantiasa tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bukan dengan atau tanpa sandal jepitnya tapi semangatnya <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Impian Kecil Nara</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 03:57:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[Impian Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Naratas]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/naratas-impian-kecil-nara.html</guid>
		<description><![CDATA[Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; &#8220;aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.&#8221; Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/isi/naratas-impian-kecil-nara.html" target="_blank"></a><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/07/kips-Impian.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1946" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="kips - Impian" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/07/kips-Impian.jpg" alt="" width="125" height="94" /></a>Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; &#8220;aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.&#8221; Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang luas, mengenyam sekolah setinggi mungkin sehingga berguna bagi sesama. Bayangan untuk menjadi seorang dokter selalu menghantui pikirannya. Karena itulah, meski belum cukup umur untuk bersekolah Nara pun memaksa kepada ibunya. Karena kondisi yang belum mendukung, orang-tua Nara tidak mengijinkan sekolah, selain belum cukup umur keadaan orang tuanya pun belum memungkinkan untuk membeli peralatan sekolahnya.</p>
<p>Berhari-hari Nara terus meminta ijin untuk bersekolah, akhirnya orang-tuanya pun mengabulkannya. Pagi itu, Nara bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dengan berbekal sebuah tas sekolah bekas saudaranya, yang sudah kumel dan lusuh. Sebelum berangkat sekolah, sudah tersedia sarapan yang telah disediakan ibunya. Menu yang sangat sederhana sekali yakni hanya sepiring nasi goreng yang hanya dibumbui garam, cabe rawit, bawang merah dan sedikit kecap tanpa penyedap rasa. Tetapi menu itu dapat dikatakan cukup untuk ukuran keberadaan di desa kecil yang masih dikatakan jauh dari kemewahan dan masih berada dalam keterbelakangan pengetahuan yang memadai. Selesai sarapan, Nara langsung pamitan kepada ibunya, sementara ayahnya telah lebih dulu berangkat ke ladang.</p>
<p><span id="more-1436"></span></p>
<p>Hari-hari pertama sekolah sungguh menyenangkan bagi Nara, selain mempelajari pelajaran-pelajaran yang diberikan guru yang sungguh diangan-angankan sebelumnya juga banyak teman bermain disekolah. Saat berangkat menuju sekolah ada suatu kebiasaan yang biasa Nara dan teman-temannya lakukan, yaitu berkumpul disebuah pos dimana dijadikan sebagai tempat saling menunggu teman-teman yang lainnya untuk berangkat sekolah rame-rame. Dengan suasana kebersamaan, sekolah yang jaraknya cukup jauh yaitu kurang lebih 3 km jadi tak terasa.</p>
<p>Setibanya disekolah satu-persatu pelajaran yang diberikan guru dipelajarinya dengan semangat hingga berakhir mendengar lonceng berbunyi yang menandakan mata pelajaran disekolah untuk hari itu telah cukup diberikan. Sungguh girang tentu terasa yang ada dibenak Nara dan kawan-kawan menghadapi perjalanan pulang sekolah. Menghadapi serunya bercanda dalam kebebasan dari memikirkan pelajaran disekolah dalam perjalanan pulang.</p>
<p>Singkat cerita Nara sudah menginjak kelas 6 SD. Suatu hari dalam perjalanan pulang sekolah bertemu dengan seorang bapak-bapak, lantas ia berkata kepada Nara; &#8220;<em>sebentar lagi kamu lulus sekolah, mau kerja ditempat bapak gak untuk Bantu-bantu jagain warung</em>?&#8221; Nara menjawab; &#8220;<em>maaf pak, rencananya saya akan melanjutkan sekolah</em>.&#8221; Lantas bapak itu bertanya lagi; &#8220;<em>buat apa kamu sekolah lagi? Yang pada sekolah pun banyak nganggur kan</em>&#8221; ujar si bapak. Nara pun menjawab lagi; &#8220;<em>saya sekolah bukan karena pekerjaan tetapi untuk menambah wawasan yang mungkin saja bisa membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan</em> &#8221; kilahnya. Lantas Nara pun berpikir tentang apa yang dikatakan seorang bapak tadi. Jika dikaitkan pada kondisi yang ada di kampung itu memang benar adanya. Kehidupan yang dijalani tanpa patokan terhadap pendidikan khusus atau formal tapi mereka bisa menjalani kehidupannya. Meski begitu, Nara tak sedikit pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan sekolah. Kondisi seadanya yang tidak mengenal pakaian bagus, uang jajan dan lain-lain baginya tidak menjadikannya malas untuk belajar. Bertahun-tahun Nara menjalani keriangan dan semangat bersekolah meski dengan kondisi seadanya, hingga manyandang kelulusan dengan nilai yang memuaskan.</p>
<p>*****</p>
<p>Cerita kecil diatas tergoreskan dari sekelebat mengingat suatu saat ketika masih senang-senangya berkelana mewujudkan mimpi-mimpi yang tersembunyi dilangit yang tinggi haha…. Ketika itu seringkali menorehkan cerita-cerita kecil meski hanya dibantu mesin tik biasa sehingga memunculkan irama &#8220;tik tok tik tok&#8221; seperti nuansa yang sering dijumpai dikelurahan <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> Mudah-mudahan mengandung makna sekecil apapun itu mengingat adanya fenomena saat ini setiap-kali musim kelulusan tiba terdengar adanya anak-anak sekolah yang nekad mengakhiri hidupnya karena tidak mendapatkan kelulusan. Tidak berniat sedikitpun mengajari (bagi adik-adik atau rekan-rekan yang mungkin tak sengaja mebaca tulisan ini), mungkin bisa kita renungkan dari cerita diatas, memang benar kehidupan ini tidaklah berpatokan terhadap pendidikan formal (seperti perkataan seorang bapak dalam cerita diatas) jadi tidak pantaslah untuk berputus asa menjelang hari esok. Tetapi betapa pentingnya pula pendidikan itu (senada pendirian Nara), jadi alangkah lebih baiknya belajar dengan sungguh-sungguh. Seandainya mendapatkan kegagalan dalam suatu masa berarti itu pertanda bahwa kita harus lebih rajin lagi belajarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

