<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Ramadhan</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/tag/ramadhan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 16:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bahagia Hati Menjelang Esok Hari</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/bahagia-hati-menjelang-esok-hari.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/bahagia-hati-menjelang-esok-hari.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 10:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=3579</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak bahagia jika akan menghadapi hari yang ditunggu, hari esok yang menyenangkan. Dalam menyambutnya selalu dengan penuh semangat, disertai hati senang, riang dan gembira. Bahagia dalam hidup dihiasi hangatnya cinta dan damai yang didambakan esok hari. Cinta yang dapat membuat terbang dengan penuh semangat meninggalkan banyak sekali beban, sakit, stress dan frustasi.
Jika esok hari tiba, bahagia itu tetaplah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2011/07/Jelang-Esok.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3581" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Jelang Esok" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2011/07/Jelang-Esok.jpg" alt="" width="150" height="124" /></a>Siapa yang tidak bahagia jika akan menghadapi hari yang ditunggu, hari esok yang menyenangkan. Dalam menyambutnya selalu dengan penuh semangat, disertai hati senang, riang dan gembira. Bahagia dalam hidup dihiasi hangatnya cinta dan damai yang didambakan esok hari. Cinta yang dapat membuat terbang dengan penuh semangat meninggalkan banyak sekali beban, sakit, stress dan frustasi.</p>
<p>Jika esok hari tiba, bahagia itu tetaplah nyata. Bersyukur memiliki waktu untuk dapat mengaji dan mengkaji diri sejauh mana prilaku yang diperbuat hingga dapat membenahinya dikemudian hari. Dengan itikad meraih berkah-Nya, rasanya tepat untuk menuangkan harapan nyata dan mencoba mengungkap hingga dapat mempelajari rahasia-rahasia yang masih tersembunyi. Untuk itu semua, berharap dilekatkan pada upaya membebaskan diri dari kebencian dan kecemasan, menjalani hidup sederhana hingga mampu memberi lebih banyak dan berharap lebih sedikit, mensyukuri nikmat serta senantiasa tersenyum. Senyum hangat menanti esok hari &#8220;ramadhan&#8221; tiba <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<ul>
<li>Membebaskan diri dari kebencian. Meyakini tidak ada kesalahan-kesalahan dan juga tidak ada kebetulan-kebetulan dalam hidup karena seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan Tuhan agar belajar darinya. Dapat meyakini pula ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, niscaya Tuhan telah menyiapkan hal lainnya.<span id="more-3579"></span></li>
<li>Melepaskan kecemasan. Membuat pikiran dapat bekerja laksana air, terjaga jernihnya dan terus mengalir. Tidak takut menghadapi kesulitan karena yakin dari kesulitan itu akan melahirkan potensi-potensi baru pada diri.</li>
<li>Menjalani hidup sederhana. Jika raga membutuhkan asupan gizi baik, jiwa pun tidaklah berbeda. Makanan bergizi untuk jiwa adalah tindakan-tindakan untuk membantu orang lain. Terkait sebuah pepatah sunda, &#8220;<em>teu kudu ngarangkul ku siku mun boga kahayang</em>&#8221; tidak harus meraih dengan sikut kalau punya keinginan. Dapat menjalani apa adanya, ibarat pepatah pula, &#8220;<em>jika ingin melihat lembah, naiklah kepuncak gunung. Dan, jika ingin melihat puncak gunung, terbanglah ke awan. Tapi jika ingin mengerti awan, pejamkan mata dan berpikirlah</em>&#8220;.</li>
<li>Mampu memberi lebih banyak dan berharap lebih sedikit. Meyakini bahwa orang-orang yang ditemani dalam hidup, siapapun dia, entah menyenangkan atau menyakitkan akan membantu menemukan siapa diri kita dan akan menjadi apa kelak.</li>
<li>Senantiasa syukur nikmat. salah-satunya bersyukur karena Tuhan memberikan dua tangan hingga dapat menggunakan tangan yang satu untuk menolong orang lain dan yang satu lagi untuk menolong diri sendiri. Jika dalam satu sisi &#8220;ketika sakit&#8221; sempat hati bertanya &#8220;Tuhan, aku tidak tahu, mana yang harus aku syukuri, rasa sakitku atau kesehatanku?&#8221; Senantiasa dapat mensyukuri keduanya, karena ketika sakit sekali pun tentu dapat dengan mudah menjauhi perbuatan maksiat, memiliki banyak waktu untuk berdzikir kepada-Nya, dan juga punya waktu untuk bertafakur merenungkan kehidupan yang dijalani.</li>
<li>Menebar senyuman. Dapat menjelmakan senyuman yang manis dan hangat semata. Meyakini dibelakang ada kekuatan yang tak terbatas dan didepan ada kemungkinan tak berakhir, sementara disekeliling ada kesempatan tak terhitung. Jadi tidak ada alasan untuk cemberut.</li>
</ul>
<p>Semoga bisa meraih serta dapat menjalani dengan semestinya sesuai dengan harapan-harapan yang tertuang diatas. Layaknya mengingat kegembiraan ketika kecil yang biasanya ditandai dengan berkumpul bersama teman-teman, tetangga dan kerabat. Menikmati hiasan lampu terbuat dari bambu dihalaman rumah, gaduhnya suara petasan dan tabuhan bedug bertalu-talu. Satu idaman pun melekat, suatu hari kelak baju baru pun akan diraihnya. Sungguh menyenangkan!</p>
<p>Atas segala khilaf yang diperbuat baik disengaja atau pun tidak, mohon dimaafkan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya! <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/bahagia-hati-menjelang-esok-hari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mobilitas Ummat Menjelang Lailatul Qadar</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/mobilitas-ummat-menjelang-lailatul-qadar.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/mobilitas-ummat-menjelang-lailatul-qadar.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 04:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[Lailatul Qadar]]></category>
		<category><![CDATA[Mobilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/mobilitas-ummat-menjelang-lailatul-qadar.html</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh tak terasa waktu bergulir begitu cepat, mungkin karena saking betahnya menjalani hidup dengan segala kuasa-Nya meskipun baru saja beberapa hari yang lalu kita diberi peringatan untuk besikap dan bertindak lebih bijak. Kita mesti bersyukur masih tetap diberi kenikmatan yang tiada tara, hal ini tentunya bukan mensyukuri atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita melainkan mensyukuri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/09/Laylatul-Qadar.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1927" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Laylatul Qadar" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/09/Laylatul-Qadar.jpg" alt="" width="125" height="123" /></a>Sungguh tak terasa waktu bergulir begitu cepat, mungkin karena saking betahnya menjalani hidup dengan segala kuasa-Nya meskipun baru saja beberapa hari yang lalu kita diberi peringatan untuk besikap dan bertindak lebih bijak. Kita mesti bersyukur masih tetap diberi kenikmatan yang tiada tara, hal ini tentunya bukan mensyukuri atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita melainkan mensyukuri atas kita semua yang diberi keselamatan dan segala nikmat-Nya. Diluar itu semua, bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah semoga diberi ketabahan atas apa yang telah menimpanya. Mudah-mudahan kita semua masih diberikan kesehatan pikiran sehingga dapat menempatkan segala sikap <a href="http://kipsaint.com/isi/sabar-atau-mengeluh.html">sabar atau mengeluh</a> pada posisi yang semestinya.</p>
<p>Jika diperkenankan oleh-Nya, sebentar lagi kita akan <a href="http://kipsaint.com/isi/menyambut-lebaran.html">menyambut lebaran</a>. Dan sudah menjadi tradisi setiap tahun, bila lebaran datang menjelang, perubahan mobilitas ummat Islam terjadi. Dimana-mana sibuk dengan &#8220;urusan dunia&#8221;, yakni persiapan lebaran hingga masjid yang pada permulaan puasa penuh sesak jama&#8217;ah shalat tarawih, biasanya pada akhir Ramadhan itu mulai terasa mengendor kendatipun Allah telah menjanjikan pahala besar bagi yang memanfaatkan peluang <em>Laylatul Qadar</em>. Yaitu yang biasa ditandai pada sepertiga akhir puasa.</p>
<p>Biasanya tidak sedikit diantara kita (kaum muda) yang kurang memanfaatkannya, hal ini dapat terlihat dengan berkurangnya shaf-shaf shalat tarawih di babak sepuluh terakhir itu dengan berbagai dalih kesibukan; berbelanja atau mempersiapkan acara mudik ke kampung halaman, sehingga di rumah-rumah Allah tersisa kalangan sepuh yang tetap kelihatan aktif bermunajat. Dan tempat ibadah pun menyusut ibarat terjadi seleksi alamiah: hanya mereka yang tekun mendambakan rahmat Allah semata yang tetap kelihatan rajin di masjid untuk i&#8217;tikaf.</p>
<p><span id="more-1550"></span></p>
<p>Keutamaan <em>Laylatul Qadar</em> yang penuh berkah dan lebih baik dari seribu bulan ini merupakan peluang emas bagi setiap hamba Allah yang mengharapnya. Jelaslah malam yang penuh rahmat itu tak bisa dispekulasikan hari H-nya tanpa upaya dan keuletan untuk meraihnya. Kesungguhan dan kesucian pribadi yang ikut &#8220;berlaga&#8221; pun jadi bagian yang menentukan untuk mendapatkan <em>Laylatul Qadar</em> . Menurut riwayat, <em>Laylatul Qadar</em> akan jatuh pada salah-satu malam ganjil; 21, 23, 25 atau 27.</p>
<p>Sesuai dengan janji-Nya, bahwa nilai ibadah yang dilakukan oleh hamba-Nya pada malam <em>Laylatul Qadar</em> itu berlipat ganda pahalanya seperti ia melaksanakannya selama seribu tahun (QS 97:1-5). Dengan kata lain, orang tak perlu bermimpi untuk mecapai umur sampai 1000 tahun buat mengabdi kepada Allah dan beramal saleh. Tapi cukup mengikuti &#8220;perlombaan&#8221; dalam bulan suci Ramadhan dan mengisi malam-malamnya dengan shalat malam (tarawih, witr, dan lain-lain). Dan pada malam &#8220;final&#8221; yang menentukan, mereka kian meningkatkan semangat dan niat untuk bermunajat kepada Rabbul &#8216;Alamin untuk meraih Piala &#8220;Laylatul Qadar&#8221; tersebut. Bagaimanapun <em>Laylatul Qadar</em> tidaklah mudah dengan begitu saja diraih seseorang. Nabi sendiri menjadi contoh yang paling ideal untuk diteladani. Beliau, ketika waktu menjelang l/3 akhir Ramadhan dengan optimal melakukan i&#8217;tikaf sepanjang malam. Hal itu rutin dilaksanakan sampai beliau wafat, dan kemudian diteladani hal itu oleh para isterinya (HR. Bukhari).</p>
<p>Begitupun dengan sahabat Nabi. Sahabat Nabi yang juga menonjol dalam mengisi bulan Ramadhan adalah Sayidina Umar bin Khattab r.a. perlu diteladani dalam menghidupkan malam-malam Ramadhannya. Syi&#8217;ar shalat tarawih bergema di zaman Nabi sampai di masa ia menjabat sebagai khalifah. Malam-malam Ramadhan itu suasana Masjid Nabawy riuh-rendah suara dzikir, shalat dan bacaan al-Qur&#8217;an tak henti-hentinya. Sampai-sampai sahabat Umar, yaitu Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berdecak kagum seraya memujinya: &#8220;Semoga Tuhan menerangi kubur Umar!&#8221;, katanya.</p>
<p>Dalam hal ini bukan saja <a href="http://kipsaint.com/isi/saat-puasa-perlukah-kaum-adam-mengetahui.html" target="_blank">kaum adam yang perlu mengetahui</a>, siapapun dengan melihat gambaran diatas tentunya semua mempunyai kehendak yang sama, dapat meraih pahala tersebut. Jadi, sejauh mana <a href="http://kipsaint.com/isi/renungan-tentang-puasa.html" target="_blank">renungan tentang puasa</a> kita dapat mengimplementasikannya sehingga benar-benar menunjukan momentum bulan puasa itu ibarat <a href="http://kipsaint.com/isi/four-in-one-ramadhan.html" target="_blank"><em>four in one</em></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/mobilitas-ummat-menjelang-lailatul-qadar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Tentang Puasa</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/renungan-tentang-puasa.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/renungan-tentang-puasa.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 20:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=983</guid>
		<description><![CDATA[Bila Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing berjumlah 10 hari berarti sekarang kita berada dalam bagian ketiga puasa kita. Ditahap awal Ramadhan, mungkin kita memasang target ibadah kita dalam 10 hari tsb, selanjutnya dimuhasabah untuk kemudian diperbaiki dan ditingkatkan di babak kedua dan ketiga. Mudah2an kita semua bisa meningkatkan bagian demi bagian sampai pada tingkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/09/Tentang-Puasa.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3041" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Tentang Puasa" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/09/Tentang-Puasa.jpg" alt="" width="150" height="199" /></a>Bila Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing berjumlah 10 hari berarti sekarang kita berada dalam bagian ketiga puasa kita. Ditahap awal Ramadhan, mungkin kita memasang target ibadah kita dalam 10 hari tsb, selanjutnya dimuhasabah untuk kemudian diperbaiki dan ditingkatkan di babak kedua dan ketiga. Mudah2an kita semua bisa meningkatkan bagian demi bagian sampai pada tingkat yang maksimal, serta diawal Syawal dapat melakukan recovery-nya. Semoga hasil yang diharapkan setelah itu adalah tercapainya kestabilan dan keseimbangan hidup yang dapat teraih sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan pasca Ramadhan.</p>
<p>Kembali merenungkan masalah sejauh mana kita berpuasa, biasanya hal ini tersirat pada saat kita benar2 nengingat Sang Pencipta. Jika puasa ditinjau dari kelanggengan hidup ijtima&#8217;i (sosial), sudah jelas terdapat suatu realita yang tidak bisa dibantah, kita tak dapat hidup sendirian di dunia ini, keberadaan kita pasti memerlukan bantuan orang lain, dan hajat akan bantuan orang lain ini menyebabkan kita harus membina hubungan atau relasi satu sama lainnya, karena kita ini sengaja diturunkan oleh Allah SWT. ke tengah2 umat manusia dengan membawa misi sosial, hanyalah untuk memperbaiki umat manusia. Karena itu Islam banyak memiliki ajaran di bidang sosial kemasyarakatan yang membawa kaum muslimin menjadi makhluk sosial yang baik. Namun untuk tujuan ini tidak semua manusia mampu menerapkan kehidupan sosial sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam. Kemudian atas ketidakmampuan itu kadang kala lahir sifat angkuh, sombomg serta sifat egois dan lain sebagainya.</p>
<p><span id="more-983"></span>Berpuasa sebagaimana telah ditetapkan oleh syari&#8217;at Islam, merupakan salah satu sitem yang jitu untuk dapat menghilangkan sifat2 tak terpuji seperti diatas. Sebab dengan diwajibkan ibadah puasa kepada setiap mukmin dan mukminah, maka dirinya menjadi tahu dan menyadari betapa lemahnya tatkala diri merasa lapar dan dahaga, sehingga dari pengalaman ini akan terbukalah mata hati serasa tertuju pada nasib si miskin, karena dalam kehidupan sehari-hari mereka senantiasa kekurangan. Dari pengalaman inilah timbulah sikap murah hati guna menolong mereka yang kekurangan dan lemah, yang pada akhirnya akan lahir pula sikap ruhama sesama umat beriman. Kalau sikap ini sudah dipunyai oleh setiap umat mukmin, maka jelaslah kehidupan masyarakat muslim akan semakin kokoh, karena Si Kaya sudah benar2 memperhatikan Si Miskin, sementara Si Miskin tidak ketinggalan juga menghormati Si Kaya.</p>
<p>Sudah barang tentu setiap orang menginginkan lebih baik dan sempurna, begitu pulalah dalam menjalankan ibadah puasa dan ibadah lainnya, sehingga ibadah yang dilakukan penuh dengan harapan dapat semakin baik dan sempurna.</p>
<p>Seandainya tingkatan puasa seperti dibawah ini, yaitu:</p>
<ul>
<li>Puasa lahir, hanya sekedar menahan lapar, minum dan syahwat, hal ini mungkin merupakan puasa dalam tingkatan yang serendah-rendahnya.</li>
<li>Puasa yang baik, selain dari menahan makan, minum dan syahwat juga menahan seluruh anggota badan lainnya dari semua hal yang terlarang dan dosa, baik yang bersangkutan dengan lidah, ataupun anggota tubuh lainnya.</li>
<li>Puasa yang istimewa, yaitu disamping puasa dari hal-hal yang tersebut diatas, juga memuaskan hati dan pikiran dari memikirkan dan merenungkan hal-hal yang tidak baik, dengan pengertian bahwa seluruh jiwa raga, jasmaniah dan rohaniah dipuaskan.</li>
</ul>
<p>Lantas, berada dilevel manakah puasa kita saat ini? Hanya diri kita sendirilah yang tahu sejauh mana kita berusaha dan penentuannya ada pada yang Maha mengetahui, Allah SWT. Wallahu a’lam bissawaab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/renungan-tentang-puasa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Four in One &#8211; Ramadhan</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/four-in-one-ramadhan.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/four-in-one-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 04:23:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/four-in-one.html</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hitungan hari saja Insya Allah kita akan menghadapi bulan ramadhan atau bulan puasa. Mudah-mudahan kita semua gembira menyambutnya, segembira ketika kita waktu kecil menghadapi datangnya hari lebaran. Mmm&#8230; asyiiikk!
Rasulullah SAW pernah bersabda, &#8220;Puasalah, engkau niscaya sehat! &#8220;. Sabda tersebut beliau ucapkan lebih 14 abad silam. Dunia kedokteran kemudian membuktikan bahwa puasa tidak saja secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/08/4in1-Ramadhan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3044" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="4in1 Ramadhan" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/08/4in1-Ramadhan.jpg" alt="" width="150" height="113" /></a>Dalam hitungan hari saja Insya Allah kita akan menghadapi bulan ramadhan atau bulan puasa. Mudah-mudahan kita semua gembira menyambutnya, segembira ketika kita waktu kecil menghadapi datangnya hari lebaran. Mmm&#8230; asyiiikk!</p>
<p>Rasulullah SAW pernah bersabda, &#8220;<em>Puasalah, engkau niscaya sehat!</em> &#8220;. Sabda tersebut beliau ucapkan lebih 14 abad silam. Dunia kedokteran kemudian membuktikan bahwa puasa tidak saja secara mental bisa menajamkan fungsi inderawi dan mengendorkan tekanan jiwa serta melatih orang menahan hawa nafsu dari segala angkara murka. Melainkan sekaligus juga secara fisik dapat menurunkan tekanan darah dan kadar lemak.</p>
<p>Dr. Allan Cotto dalam bukunya <em>&#8220;Why Fast&#8221;</em> mengakui manfaat puasa bagi seseorang. Bahkan rekannya dari Moskow, Dr. Yuri Nikolayev menulis bahwa puasa membuat seseorang tetap awet muda secara fisik dan mental. Tak heran bila seorang dokter di Mesir seperti dikutip Jurnal Kedokteran Bulanan <em>Tabibuka al-Khas</em> (Edisi Cairo) menyalin sebuah penelitian bahwa orang yang berpuasa lebih panjang usianya ketimbang orang yang tak berpuasa. Itu pula yang diingatkan Allah. &#8221; &#8230;. Dan melakukan puasa lebih baik bagimu, jika kamu tahu.&#8221; (QS: 2:184).</p>
<p><span id="more-933"></span></p>
<p>Puasa dalam perspektif sosial juga mendidik makhluk Allah memiliki rasa kepedulian kemasyarakatan. Dengan rasa lapar yang ditahannya, orang yang berpuasa dapat merasakan kelaparan dan kehausan yang diderita insan (kaum du&#8217;afa) hingga mendorongnya mau meringankan beban orang lain.</p>
<p>Kepedulian sosial orang yang ikhlas berpuasa biasanya terwujud dalam perilaku mereka sehari-hari. Solidaritas kemasyarakatannya tinggi, misalkan untuk berbagi pertolongan dan bantuan, baik berupa verbal (nasihat) maupun finansial (bantaun materi) untuk meringankan beban dhuafa tersebut. Etos itu tentu saja selaras anjuran Al-Qur&#8217;an, yakni firman-Nya yang memerintahkan manusia agar senantiasa mendermakan sebagian harta, menahan marah, suka memberi ma&#8217;af, dan segera bertobat bila berbuat dosa. Maka jelas dalam puasa orang tak cuma melatih diri berdisiplin jasmaniah, tetapi juga sekaligus disiplin rohaniah.</p>
<p>Walhasil, bulan Ramadhan pada hakikatnya merupakan pesantren periodik bagi kaum beriman untuk mendidik dan melatih diri menuju manusia sehat jasmaniah dan batiniah. Dalam konteks pembangunan bangsa, maka puasa adalah tolok ukur bagi setiap muslim untuk mencapai program manusia Indonesia seutuhnya.</p>
<p>Momentum bulan puasa itu ibarat four in one. Sebab dalam Ramadhan terakumulasi empat Rukun Islam: Syahadat, Shalat, Puasa dan Zakat. Keempatnya saling terkait serta terinteraksi dalam mengkristalisasi kesuksesan yang utuh yakni menjadi manusia takwa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/four-in-one-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

