<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Diri</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/tag/diri/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 01:20:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Motivasi Diri dengan Afirmasi</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/motivasi-diri-dengan-afirmasi.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/motivasi-diri-dengan-afirmasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 17:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Afirmasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=3012</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari pikiran kita dipenuhi dengan beragam hal, mungkin itu merupakan pikiran positif dan mendorong kita pada sesuatu yang sifatnya konstruktif  tapi bisa juga sebaliknya. Karena itu jika yang muncul kemudian hal-hal yang negatif, segeralah hapus dengan pikiran-pikiran positif lalu fokuskan pada apa yang kita inginkan saja. Tegaskan hanya apa yang diinginkan! Bagaimana pun, seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/08/Affirm.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3027" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Affirm" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/08/Affirm.jpg" alt="" width="150" height="190" /></a>Setiap hari pikiran kita dipenuhi dengan beragam hal, mungkin itu merupakan pikiran positif dan mendorong kita pada sesuatu yang sifatnya konstruktif  tapi bisa juga sebaliknya. Karena itu jika yang muncul kemudian hal-hal yang negatif, segeralah hapus dengan pikiran-pikiran positif lalu fokuskan pada apa yang kita inginkan saja. Tegaskan hanya apa yang diinginkan! Bagaimana pun, seseorang termotivasi untuk melakukan kerja terbaiknya dapat terdorong oleh berbagai hal. Diantaranya, karena memiliki ambisi untuk mencapai target tertentu demi masa depan yang lebih baik sehingga memunculkan motivasi dengan sendirinya secara langsung, selain itu ada juga yang terdorong oleh rasa takut karena terancam sehingga secara tidak langsung memacu diri melakukan kinerja terbaiknya demi mengatasi rasa takut atas ancaman yang ada.</p>
<p>Motivasi-motivasi tersebut, selain dalam ruang lingkup personal juga banyak dijumpai dalam dunia kerja maupun atau dunia bisnis. Motivasi yang datang dari diri sendiri itu sangat penting, dimana dapat muncul karena ambisi atas keinginanya yang lebih baik. Sebagai contoh, seorang staf mengetahui bahwa jika ia melebihi target yang dibebankan padanya, gajinya atau posisinya akan segera naik. Atau jika seorang <em>supplier </em>merasa bahwa seandainya ia bisa memenuhi targetnya dengan tepat waktu dan kualitasnya terjaga maka mitranya akan menambah pesanan. Bahkan bukan mustahil akan mendapatkan proyek baru. Lalu ia terpacu bekerja sebaik-baiknya. Motivasi ini menurut motivator Steve Brunkhorst, merupakan motivasi yang lebih baik dan lebih kuat. Motivasi karena terdorong oleh ambisi diri sendiri cenderung memiliki energi lebih besar dan jauh lebih mendorong kreativitas dibanding motivasi karena terdorong rasa takut. Kehadiran motivasi karena ambisi biasanya terjadi  karena ingin mengejar penghargaan, imbalan besar, atau sukses tertentu. Motivasi tersebut dapat ditandakan dengan perasaan “Saya bisa …” atau “Saya mau …”.<br />
<span id="more-3012"></span></p>
<p>Sementara motivasi yang hadir karena rasa takut, misalnya seorang staf ditakut-takuti akan dipindahkan atau dipecat jika target yang dibebankan kepadanya tak tercapai, akhirnya karena takut tersebut ia bisa mencapai target itu. Atau juga seorang pebisnis kerap mengancam <em>supplier</em>-nya, jika gagal memenuhi target kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu maka ia akan diganti (akan mencari <em>supplier </em>baru). Ketakutan itu membuat <em>supplier </em>tersebut berusaha mati-matian memenuhi targetnya. Kehadiran motivasi karena rasa takut biasanya terjadi karena ingin menghindari denda, hukuman, atau kegagalan. Motivasi tersebut biasanya ditandakan dengan perasaan “Saya harus …”.</p>
<p>Menurut Brunkhorst, sebaiknya kita fokuskan diri pada ambisi kita setiap hari agar kesuksesan bisa diraih. Ia mengambil contoh Seorang kliennya mengeluhkan kalau ia mulai tak menyukai pekerjaannya setelah kurang mendapat apresiasi. Namun klien itu tak bisa berontak karena takut tak bisa mendapatkan pekerjaan baru. Akhirnya hidup berkecamuk anatara tak suka dengan pekerjaan itu dan desakan rasa takut yang mencoba meyakinkan bahwa sebenarnya dia bisa tahan dengan pekerjaan itu. Lalu si klien diminta menegaskan (afirmasi) apa sebenarnya yang menjadi keinginannya. Setelah itu ia diminta fokus pada keinginannya tersebut serta menelaah apa saja kemampuannya. Dalam jangka waktu beberapa bulan setelah itu, klien tersebut sudah pindah pada satu pekerjaan yang lebih baik di perusahaan lain yang lebih mengapresiasinya. Karena itu, kata Brunkhorst, jangan khawatir pada hasil yang akan didapat. Sepanjang kita fokus pada keinginan kita dan berpikiran positif terhadap bakat dan potensi yang dimiliki, maka keinginan itu akan tercapai. Akan selalu ada jalan menuju sukses bagi orang yang berpikiran positif. Nah, menurut dia, afirmasi itulah kuncinya.</p>
<p>Afirmasi atau “<em>affirmation</em>” berasal dari kata  “<em>affirm</em>” yang menurut kamus Merriam-Webster berarti “<em>to make firm</em>”, atau  membuat sesuatu menjadi kokoh atau kuat. Afirmasi adalah pernyataan yang diulang-ulang baik secara verbal atau  dalam hati, merupakan pernyataan emosional yang akan membawa seseorang  untuk berpikir dan beraksi. Afirmasi merupakan suatu teknik yang bisa memperkuat pikiran bawah sadar  kita. Jika kita terus melakukan afirmasi positif (menyampaikan  hal-hal positif) pada diri kita, maka pikiran bawah sadar kita akan  terbiasa oleh afirmasi positif tersebut. Setelah kita benar-benar  percaya dan yakin akan hal-hal positif tersebut, maka kemudian pikiran  sadar kita akan mengubahnya menjadi tindakan positif yang nyata. Dengan  melakukan afirmasi positif, maka kita dapat menjadi seseorang yang  percaya diri, dan kita juga akan dapat melakukan sesuatu dengan lebih  baik. Jadi afirmasi itu sangat efektif untuk mengembangkan dan memperkuat cara pikir dan bertindak efektif untuk mencapai tujuan atau kebutuhan.</p>
<p>Afirmasi akan efektif ketika dikombinasikan dengan emosi yang kuat dan bayangan yang menyenangkan mengenai penglihatan, suara, bau, rasa, atau sentuhan. Afirmasi yang efektif adalah yang menyebutkan apa yang kita inginkan. Lalu pada saat yang sama kita membayangkan bagaimana rasanya dan bagaimana puasnya jika itu didapat. Keyakinan akan sesuatu yang bisa dicapai, bayangan sesuatu yang menyenangkan, dan emosi yang menyertainya merupakan elemen penting afirmasi yang efektif. Dengan banyak latihan kita akan mudah menghadirkan ketiga elemen itu dengan cepat. Contoh latihannya, misalnya, bayangkan bagaimana rasanya saat kita berhasil melakukan sesuatu. Perasaan ini bisa terus dihidupkan dengan mengingat kesuksesan-kesuksesan lainnya. Bayangkan bagaimana rasanya saat kita merasa bebas, penuh percaya diri, dan kreatif dan sebagainya.</p>
<p>Wallahu a’lam bissawaab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/motivasi-diri-dengan-afirmasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengaktifkan Potensi dan Kekuatan dalam Diri</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/mengaktifkan-potensi-dan-kekuatan-dalam-diri.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/mengaktifkan-potensi-dan-kekuatan-dalam-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 03:14:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[Decision]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Emotional]]></category>
		<category><![CDATA[Financial]]></category>
		<category><![CDATA[Intellectual]]></category>
		<category><![CDATA[Kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[Potensi]]></category>
		<category><![CDATA[Power]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=2884</guid>
		<description><![CDATA[Dengan perjuangan dan pengorbanan kita ditempa hingga lambat laun akar kemandirian hidup tertanam. Dan dengan cinta serta cita-cita yang menjulang tinggi berharap membuahkan karya yang senantiasa menebar manfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk dalam pengabdian pada-Nya. Untuk semua itulah pentingnya mengaktifkan potensi dan kekuatan dalam diri, dimana elemen-elemen yang memiliki relevansi cukup tinggi dengan kadar sebuah perjuangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/Potensi-Pikiran.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-2902" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Potensi Pikiran" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/Potensi-Pikiran.jpeg" alt="" width="150" height="150" /></a>Dengan perjuangan dan pengorbanan kita ditempa hingga lambat laun akar kemandirian hidup tertanam. Dan dengan cinta serta cita-cita yang menjulang tinggi berharap membuahkan karya yang senantiasa menebar manfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk dalam pengabdian pada-Nya. Untuk semua itulah pentingnya mengaktifkan potensi dan kekuatan dalam diri, dimana elemen-elemen yang memiliki relevansi cukup tinggi dengan kadar sebuah perjuangan diantaranya keputusan beraksi dan kadar tanggung-jawab atas sikap ingin &#8220;menjadi&#8221; (<em>to be</em>), &#8220;mengetahui&#8221; (<em>to know</em>), dan &#8220;melakukan&#8221; (<em>to do</em>). Dalam hal tersebut nampak jelas korelasi antara tinggi-rendahnya keinginan  kita untuk menjadi (<em>to be</em>) dan tinggi-rendahnya daya juang  kita mengalahkan tantangan, antara tingggi-rendahnya keinginan untuk mengetahui (<em>to know</em>) dan keputusan untuk  bertindak (<em>decision to do</em>), juga antara keinginan untuk melakukan (to do) dan kemampuan kita menjawab  (tanggung jawab). Aksi seseorang tidak lahir dari pemikiran semata, tetapi  lahir dari kesediaan untuk menjawab tanggung jawab atas dirinya.</p>
<p>Terdapat point yang bisa dicermati dan digali berkaitan dengan potensi dan kekuatan dalam diri yang dapat dimaksimalkan hingga mendekatkan diri untuk dapat menjadi generasi yang memiliki prestasi dan senantiasa turut berperan dalam proses menuju sebuah perubahan/kemajuan, diantaranya:</p>
<p><em>Spiritual power</em> (kekuatan spiritual). Sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan nilai, batin, dan kejiwaan. Kekuatan ini berkaitan dengan abstraksi pada suatu hal di luar kekuatan manusia yaitu kekuatan penggerak kehidupan dan semesta. Merupakan kemampuan potensial insan manusia yang menjadikan dirinya menyadari dan menentukan makna, nilai, moral, serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan cinta kepada sesama makhluk hidup, karena merasa sebagai bagian dari keseluruhan. Sehingga membuat manusia dapat menempatkan diri dan hidup lebih positif dengan penuh kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki.<span id="more-2884"></span></p>
<p><em>Emotional power</em> (kekuatan emosional). Kekuatan emosi merupakan salah satu aspek berpengaruh besar terhadap sikap  manusia. Kata “Emosi” menunjukan bahwa kita harus menyadari bagaimana sistem saraf dan psikologis kita bekerja untuk dapat mengendalikan dan membimbingnya ke arah yang diinginkan. Kecerdasan emosi dianggap penting karena 85 persen potensi  sukses seseorang lebih disebabkan oleh kecerdasan emosi tersebut. Sebuah fakta dalam transaksi jual-beli, perbedaan hasil antara penjual yang kecerdasan emosinya tinggi dengan yang rendah sangatlah mencolok. Hal ini mudah dipahami karena seorang penjual yang tidak cerdas emosinya akan memikul gangguan emosional itu dalam interaksi dengan pembeli. Sementara konsumen ketika membeli dari penjual yang tenang, menentramkan, menimbulkan simpati, dan timbul rasa suka, tentunya akan membeli dari penjual tersebut. Bagaimanapun, seorang konsumen ketika akan membeli sesuatu ada tingkat penilaian, keinginan emosional (kapan saya menginginkannya), kecerdasan (bila mereka mengetahui apa yang mereka bicarakan), dan pendekatan emosional (bila mereka ramah-tamah atau tidak memaksa).</p>
<p><em>True financial power</em> (kekuatan keuangan). Uang bisa menjadi benteng pertahanan diri atau pun bisa menjadi lubang yang menciptakan ancaman buat keselamatan diri. Hal tersebut menuntut kita cerdas memahami fungsi dan peran uang agar uang itu mampu menjadi benteng yang kokoh buat pertahanan diri dalam setiap proses perjalanan hidup. Semua orang tahu bahwa uang yang banyak akan sangat membantu dalam memenuhi semua keinginan hidup, tetapi tidak sedikit orang gelap mata ketika melihat uang sehingga menjadikan sebuah lubang ancaman bagi keselamatan dirinya. Uang yang baik selalu berasal dari proses nilai tambah dengan integritas diri pada kejujuran dan kebenaran. Biasanya uang yang berasal dari jalan jujur dan benar ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan kepercayaan diri yang tinggi dalam sikap rendah hati.</p>
<p><em>Intellectual power</em> (kekuatan intelektual). Kedewasaan intelektual menjadi satu kekuatan pikiran yang menggambarkan potensi dan bakat manusia yang dapat digerakkan oleh kemampuan berpikir baik yang disadari maupun tidak disadari. Terkait dengan kekuatan intelektual seseorang dapat dilihat dari segi kemampuan berpikir yang logis, analisis, kreatif, dan inovatif sebagai perwujudan aktivitas otak manusia yang secara sadar melakukan proses berpikir dengan mengacu pada struktur pengkajian ilmiah.</p>
<p><em>Action power</em> (kekuatan bertindak ). Unsur mendasar dalam melakukan sesuatu adalah kecocokan. Perbuatan asal melakukan (beraktivitas sehari-hari) sudah dijalani oleh semua orang, jadi perlunya sebuah kecocokan dari apa yang diperbuat/dijalankan dengan faktor pengetahuan dan keinginan yang disesuaikan terhadap tujuannya untuk &#8216;menjadi&#8217;. Untuk tindakan tersebut jelas membutuhkan rumusan tujuan (<em>goal</em>), sasaran (<em>target</em>) dan perencanaan beraksi (<em>action plan</em>) sehingga tidak terjebak dalam praktek yang menjadikan aktivitas sebagai tujuan.</p>
<p>Berharap menjadi pribadi yang lebih baik, yang mampu mensinergikan segala potensi yang telah Tuhan titipkan dengan tidak semata-mata mengejar target materi belaka, namun mampu menjadikan hidup dalam keterkaitanya dengan sesama lebih bermakna. Wallahu a’lam bissawaab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/mengaktifkan-potensi-dan-kekuatan-dalam-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kematangan Diri Secara Emosional</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-emosional.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-emosional.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 00:03:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Emosi]]></category>
		<category><![CDATA[Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Kematangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kematangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-emosional.html</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit saja mengira-ngira mengenai kematangan secara emosional, mencoba mengaitkannya dengan kematangan secara sosial, mudah-mudahan bisa menunjang akan menjadikan pribadi kita yang tiada matinya Mendewasakan emosional sebelum memasuki dunia nyata sangatlah penting bagi kita semua terlebih-lebih yang hendak menjalin hubungan antar sesama, seperti halnya &#8220;Kematangan Diri Secara Sosial&#8221; secara emosional jg sangatlah penting. Jika kita sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/12/emosional.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-2519" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="emosional" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/12/emosional.gif" alt="" width="48" height="48" /></a>Sedikit saja mengira-ngira mengenai kematangan secara emosional, mencoba mengaitkannya dengan kematangan secara sosial, mudah-mudahan bisa menunjang akan menjadikan <a href="http://kipsaint.com/isi/never-die-forever-menjadi-pribadi-yang-tiada-matinya.html" target="_blank">pribadi</a> kita yang tiada matinya <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mendewasakan emosional sebelum memasuki dunia nyata sangatlah penting bagi kita semua terlebih-lebih yang hendak menjalin hubungan antar sesama, seperti halnya &#8220;<a href="http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-sosial.html" target="_blank">Kematangan Diri Secara Sosial</a>&#8221; secara emosional jg sangatlah penting.</p>
<p>Jika kita sudah bisa mandiri secara <a href="http://kipsaint.com/isi/emosi.html" target="_blank">emosional</a> yang berakan dari berbagai <a href="http://kipsaint.com/isi/mengatasi-emosi-yang-dapat-merugikan-bersama.html" target="_blank">emosi</a> , harus bisa melepaskan ketergantungan dan keterikatan secara emosional dengan orang tua dan kerabat dekat lainnya.</p>
<p>Maaf jika kurang tepat karena saya sendiri bukan pakarnya dan sama sekali belum mengalaminya, hal ini menyinggung masalah rumah tangga sebagai contohnya, dimana sebelumnya saya menangkap dua kejadian nyata dalam sebuah rumah tangga, pernah menjumpai (melihat dan mendengar) sebuah rumah tangga dimana antara suami dan istri belum terikat kuat secara emosional.</p>
<p><span id="more-1044"></span></p>
<p>Sang istri lebih kuat ikatan emosionalnya kepada orang tua daripada kepada suaminya. Setiap datang permasalahan ia langsung lari kepada kedua orang tuanya, tanpa berusaha terlebih dahulu menyelesaikannya bersama dengan suami. Dia lebih mengutamakan taat kepada orang tuanya daripada suaminya, tentu hal ini tidak baik bukan? Karena ketaatan yang lebih utama bagi seorang wanita yang punya suami setelah taat kepada Tuhannya adalah taat kepada suaminya.</p>
<p>&#8221;Aisyah Ra. berkata: &#8220;Saya bertanya kepada Rasulullah Saw &#8220;Siapakah orang yang paling besar haknya terhadap seorang perempuan? Sabdanya : Suaminya!&#8221; Lalu saya bertanya: &#8220;Siapakah orang yang paling besar haknya atas diri seorang laki-laki?&#8221; Sabdanya: &#8220;Ibunya!&#8221; (HR. al-Bazaar dan disahkan oleh al-Hakim).</p>
<p>Dan begitu pula tidak jarang sang suami justru yang masih kolokan (manja dan kekanak-kanakan). Dirinya sering meminta tolong orang tuanya untuk meminta tanggung jawab istrinya selama mendampinginya. Suami yang memiliki karakter seperti ini tentu kurang dapat bertanggung jawab terhadap istri dan keluarganya, padahal ia adalah seorang kepala keluarga. Rumah tangga yang seperti ini tentulah kurang baik dan kurang bisa mandiri, karena masih memerlukan penggembalaan orang tua. Oleh karena itu, seorang suami dituntut untuk bisa dewasa secara emosional selaku seorang kepala keluarga, sehingga bisa bersikap baik terhadap keluarga yang dibinanya. Itulah yang dianjurkan Rasulullah Saw.</p>
<p>Demikianlah kurang lebihnya akan perlunya memiliki kematangan emosional, yaitu melepaskan diri dari ketergantungan kepada orang yang selama ini dominan terhadap dirinya, seperti orang tua dan lain-lain. Tujuannya adalah agar lebih mesra menjalin hubungan dengan orang yang menjadi pasangan hidupnya, sehingga bisa melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dirinya.</p>
<p>Tulisan ini bukan semata-mata bermaksud menggurui, hanya sekedar untuk berusaha menambah <a href="http://kipsaint.com/isi/sepenggal-saja.html" target="_blank">sepenggal saja</a> dalam suasna menumbuhkan <a href="http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-semangat-hidup.html" target="_blank">semangat hidup</a>, mudah-mudahan terkandung makna walaupun sedikit saja, amin <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> Wallahualam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-emosional.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kematangan Diri Secara Sosial</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-sosial.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-sosial.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 23:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Kematangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kematangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-sosial.html</guid>
		<description><![CDATA[Kematangan sosial seseorang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kemampuan dirinya untuk beradaptasi dan menjalin hubungan yang sehat dan memuaskan dengan orang lain. Dan seseorang dikatakan matang secara sosialnya, apabila ia mampu memahami kondisi orang lain baik kekurangan maupun kelebihan yang dimilikinya. Selain itu dirinya juga harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/11/Friendship.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2521" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Friendship" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/11/Friendship-150x131.jpg" alt="" width="150" height="131" /></a>Kematangan sosial seseorang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kemampuan dirinya untuk beradaptasi dan menjalin hubungan yang sehat dan memuaskan dengan orang lain. Dan seseorang dikatakan matang secara sosialnya, apabila ia mampu memahami kondisi orang lain baik kekurangan maupun kelebihan yang dimilikinya. Selain itu dirinya juga harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Dan apabila seseorang memiliki kemampuan seperti itu, tentu akan memudahkan dirinya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak lain.</p>
<p>Dari sini nampak jelas bahwa kematangan sosial merupakan hal yang sangat penting apabila hendak membina hubungan persahabatan, kekerabatan dan tentu saja hubungan rumah tangga, karena sebelumnya satu dengan yang lainnya adalah orang asing yang berbeda karakter dan latar belakangnya serta masing-masing pihak pasti memiliki kekurangan maupun kelebihan.</p>
<p><span id="more-1020"></span></p>
<p>Dengan demikian seseorang yang memiliki kematangan sosial, Insya Allah akan lebih bisa memahami kekurangan serta menerima kelebihan orang lain dalam hubungannya tsb. Selain itu dengan kematangan sosial ini pula, diharapkan menjadi lebih sadar bahwa kekurangan orang lain adalah ladang beramal shaleh yang diberikan oleh Allah buat dirinya dengan menutupi kekurangan yang lainnya tersebut. Sementara kelebihan yang dimiliki pasangan hidupnya dapat mengingatkan dirinya kepada Allah karena telah diberi nikmat tersebut.</p>
<p>Hubungan yang baik hanya terjadi jika masing-masing pihak bisa menjaga hubungan tersebut diantara keduanya, dapat menepis sikap egois masing-masing pihak, demi kebaikan bersama. Apabila komunikasi memburuk, mungkin dalam hal ini menandakan hubungan tersebut belum memiliki kematangan sosial.</p>
<p>Dari hal itulah kita semua sangat dianjurkan untuk memperbanyak melakukan siturahim kepada sesama sebagai jalan untuk menguatkan tali ukuwah dan sebagai sarana untuk mendapatkan kematangan sosial. Dengan silaturahim akan menjadikan hati semakin dekat, sehingga ukuwah akan semakin kuat terjalin dan timbul rasa untuk saling memahami dan menerima kelebihan serta kekurangan masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/kematangan-diri-secara-sosial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cek Ketaatan Pribadi, Simulasi Diri</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/cek-ketaatan-pribadi-simulasi-diri.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/cek-ketaatan-pribadi-simulasi-diri.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 07:31:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Cek]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Ketaatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Simulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/cek-ketaatan-pribadi-simulasi-diri.html</guid>
		<description><![CDATA[Tekadang pertanyaan seperti &#8220;kurang apa lagi?&#8221; terlintas dipikiran kita. Misalnya disaat mendapatkan ujian hidup yang bertubi-tubi sehingga kerap kali hati berbisik dan dalam pikiran bertanya-tanya menjadikan kita termenung. Lantas membayangkan apalagi?, bagaimana lagi? yang harus dilakukan sehingga tidak mendapatkan ujian hidup yang seakan selalu berdatangan. Dalam hal ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai ikhtiar dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tekadang pertanyaan seperti &#8220;kurang apa lagi?&#8221; terlintas dipikiran kita. Misalnya disaat mendapatkan ujian hidup yang bertubi-tubi sehingga kerap kali hati berbisik dan dalam pikiran bertanya-tanya menjadikan kita termenung. Lantas membayangkan apalagi?, bagaimana lagi? yang harus dilakukan sehingga tidak mendapatkan ujian hidup yang seakan selalu berdatangan. Dalam hal ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai ikhtiar dengan mawas dan introspeksi diri.</p>
<p>Mengatasi waktu luang saya terbiasa membuka arsip-arsip lama yang terdapat dalam komputer butut satu-satunya ini, dan tanpa sengaja membuka file yang lama tersimpan di komputer tentang perhitungan atau simulasi ketaatan diri dalam hidup. Sebagian dari kita mungkin tidak dapat jujur mengakui tentang hal-hal yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, dengan perhitungan sederhana ini mungkin kita bisa berkata jujur apa adanya sehingga bisa menelaah apa yang telah terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan di waktu mendatang.</p>
<p>Kalau mau mencoba, silahkan download <a href="http://www.ziddu.com/download/1727992/simulasi_diri.xls.html" target="_blank">disini</a> .</p>
<p><span id="more-803"></span></p>
<p>Maksud dari pembuat simulasi ini pun hanyalah sebagai alat sederhana yang bisa dijadikan untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan hidupnya sendiri secara obyektif dan kejujuran sehingga berguna untuk perbaikan diri dimasa datang. Bukan hasilnya yang menjadi perhatian tetapi yang terpenting adalah kesadaran kita untuk perbaikan diri sehingga sesuai dengan ajaran yang diyakini.</p>
<p>Hasil apapun yang diperoleh hanya berhak diketahui oleh kita sendiri. Dengan memberikan satu jawaban untuk setiap pertanyaan yang menurut kita paling sesuai dan mengisi pertanyaan dengan obyektif dan jujur akan mendapatkan hasil yang bisa dijadikan acuan untuk sisa waktu yang dihadapi. Semoga bermanfaat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/cek-ketaatan-pribadi-simulasi-diri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

