Pagi itu begitu semangatnya hati untuk berangkat menuntut ilmu seperti biasanya, namun karena merupakan pertemuan awal, rasa semangat untuk pergi ke kampus begitu tinggi. Suasana pagi begitu segar dan langit pun seakan begitu bersih tanpa ada segumpal awanpun yang berani mengotorinya. Matahari mulai berkuasa keluar dari peraduannya, hendak membakar tiap-tiap apa yang biasa disinarinya. Debu-debu dari jalanan belum benar-benar merajalela, masih melekat pada semua benda yang ada di dekatnya, pada pintu, jendela dan apapun yang berada di dekatnya.
Saat ini mungkin mereka sedang asyik berada di dalam ruang kerja. Meminum segelas air segar atau secangkir kopi, bercanda bersama teman-temannya disela kesibukan masing-masing, melantunkan dendang meski hanya satu dua bait saja dengan volume suara yang lemah sambil menggerakan jari-jarinya pada keyboard. Sebenarnya pagi itu tidak biasanya pergi ke kampus, tetapi berhubung yang punya ilmu mau memberikan ilmunya hanya bisa dipagi hari itu, ya dengan sedikit keterpaksaan meninggalkan sejenak dunia pekerjaan yang dijalani untuk mencari sesuap nasi demi sebuah ilmu yang diinginkan.
Berkutat dengan berbagai cobaan
Membuat kita harus tegar dan bersabar
Ketika ada yang mengusik kesabaran itu
Dengan lantang kita berkata
“Masih kurangkah kesabaran ini?”
“Bukankah itu membuktikan kita belum sesabar ayub?”
Bukan hanya itu, tetapi…, Bukan hanya ini, melainkan…, Bukan hanya apa lagi ya?
Bukan hanya sekedar pelepas rindumu oh.. sayang. Itu sih hanya sebaris syair lagu lawas kayaknya.
Yang jelas ini “bukan hanya” sekedar cerita he…. Selama waktu bergulir, selam ini nafas berhembus, dan selama ini jantung berdetak, senantiasa selalu saja ada orang lain disekitarku, mungkin sampai menghembuskan nafas terakhirku.
Dikala merindukan keramaian merekalah yang jelas dibutuhkan, dikala menjadi kesunyian mereka pulalah yang lagi pada menghilang (kayak mahkluk halus ya menghilang he…), dan seringkali kala hati ingin menyendiri tiada lain dan tiada bukan mereka lah yang dapat disuruh pergi.