<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Story</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/kategori/story/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 16:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sandal Jepit dan Buah Huni</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 00:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Huni]]></category>
		<category><![CDATA[Patuh]]></category>
		<category><![CDATA[Sandal Jepit]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Semangat]]></category>
		<category><![CDATA[Tanggung-jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html</guid>
		<description><![CDATA[Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah.
Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/08/Buah-Huni.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1938" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Buah Huni" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/08/Buah-Huni.jpg" alt="" width="125" height="106" /></a>Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka bisa berbuat iseng. Melihat sebatang pohon huni, dimana buahnya berberntuk bulat kecil terangkai dalam gagangnya seperti buah anggur yang sedang berbuah lebat ditengah ladang. Warnanya yang sudah mulai matang yaitu merah hingga ada yang kehitaman membuat mereka tergiur untuk memetiknya. Buah huni yang berwarna merah itu, terlebih dengan terkenanya sorotan sinar matahari dapat menaklukan hati Nara dan kawan-kawan untuk meraihnya, berebutlah mereka memanjati pohon huni. Buah yang diambil tidaklah banyak, hanya sebatas untuk mengisi kedua saku celana mereka.</p>
<p>Dasarnya sifat anak-anak, kejadian seperti itu berulang di kemudian hari seakan yang dilakukannya sebuah <a href="http://kipsaint.com/isi/mengenang-permainan-anak-tempo-doeloe.html" target="_blank">permainan</a>, padahal mereka tahu bahwa pohon huni tersebut ada yang punya. Orang yang punya adalah orang kampung sebelah. Akhirnya, suatu hari ketangkap basah juga anak-anak itu yang sedang memanjat pohon hendak mememtik buah huni tersebut. Dengan ditakuti sebuah parang spontan anak-anak berlarian. Berlari dengan tak perduli akan sendal jepitnya, hingga ada yang terjatuh dan luka. Tapi hal tersebut pun tidak menjadikan kehilangan tawa, seakan luka-luka kecil dikaki itu sudah tiada artinya saking merasa sudah tidak aneh, tetep saja saling tertawa dalam pelariannya.</p>
<p><span id="more-1451"></span></p>
<p>Orang tua adalah guru yang nyata, jelas memberikan petuah bagi anak-anaknya. Begitupun dengan orang tua Nara, melihat anaknya terluka lalu menanyakan apa yang telah terjadi hingga membuat Nara terluka. Meski niat Nara tidak mengutarakan yang sebenarnya, akhirnya menjelaskannya kejadian yang telah menimpa tersebut pada orang tuanya karena tidak mau menyakiti hatinya. Lalu orang tuanya pun menyarankan untuk tidak berbuat seperti itu lagi dan menyuruh Nara minta maaf kepda yang memiliki pohon huni itu.</p>
<p>Esok harinya, saat yang sama yaitu pulang sekolah kebetulan bertemu dengan orang yang memiliki pohon itu ditempat yang sama pula (tempat pohon huni itu berada). Dan sang bapak mpunya pohon pun menjelaskan, &#8220;<em>bukannya tidak boleh mengambil buah tersebut tetapi yang tidak boleh adalah mengambil barang orang lain tanpa ijin atau mencuri, kalau pun mau, memintalah terlebih dahulu karena buah huni pun tak seberapa harganya kalau pun dijual, pasti dikasih</em>&#8221; tutur si bapak. Nara dan teman-temannya pun mengerti dan berjanji tidak mengulangi lagi. Mereka menyadari akibat perbuatan yang kurang baik mengakibatkan kerugian lain seperti luka akibat terjatuh pada saat berlari menghindari amarah yang punya pohon tersebut, sampai-sampai ada yang kehilangan sandal jepitnya sehingga esok harinya kesekolah tanpa memakai sandal jepit akibat belum mampu untuk membeli lagi.</p>
<p><strong>NB:</strong><br />
Beberapa hal yang tercermin dalam cerita klasik ini; patuh terhadap orang-tua, menghargai milik orang lain, berani mengakui kesalahan dan bertanggung-jawab serta semangat yang tinggi (tetap sekolah meski tanpa sendal jepit). Mudah-mudahan hal-hal tersebut senantiasa tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bukan dengan atau tanpa sandal jepitnya tapi semangatnya <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/sandal-jepit-dan-buah-huni.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Impian Kecil Nara</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 03:57:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Story]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[impian]]></category>
		<category><![CDATA[Impian Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Naratas]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/naratas-impian-kecil-nara.html</guid>
		<description><![CDATA[Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; &#8220;aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.&#8221; Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/isi/naratas-impian-kecil-nara.html" target="_blank"></a><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/07/kips-Impian.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1946" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="kips - Impian" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/07/kips-Impian.jpg" alt="" width="125" height="94" /></a>Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; &#8220;aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.&#8221; Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang luas, mengenyam sekolah setinggi mungkin sehingga berguna bagi sesama. Bayangan untuk menjadi seorang dokter selalu menghantui pikirannya. Karena itulah, meski belum cukup umur untuk bersekolah Nara pun memaksa kepada ibunya. Karena kondisi yang belum mendukung, orang-tua Nara tidak mengijinkan sekolah, selain belum cukup umur keadaan orang tuanya pun belum memungkinkan untuk membeli peralatan sekolahnya.</p>
<p>Berhari-hari Nara terus meminta ijin untuk bersekolah, akhirnya orang-tuanya pun mengabulkannya. Pagi itu, Nara bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dengan berbekal sebuah tas sekolah bekas saudaranya, yang sudah kumel dan lusuh. Sebelum berangkat sekolah, sudah tersedia sarapan yang telah disediakan ibunya. Menu yang sangat sederhana sekali yakni hanya sepiring nasi goreng yang hanya dibumbui garam, cabe rawit, bawang merah dan sedikit kecap tanpa penyedap rasa. Tetapi menu itu dapat dikatakan cukup untuk ukuran keberadaan di desa kecil yang masih dikatakan jauh dari kemewahan dan masih berada dalam keterbelakangan pengetahuan yang memadai. Selesai sarapan, Nara langsung pamitan kepada ibunya, sementara ayahnya telah lebih dulu berangkat ke ladang.</p>
<p><span id="more-1436"></span></p>
<p>Hari-hari pertama sekolah sungguh menyenangkan bagi Nara, selain mempelajari pelajaran-pelajaran yang diberikan guru yang sungguh diangan-angankan sebelumnya juga banyak teman bermain disekolah. Saat berangkat menuju sekolah ada suatu kebiasaan yang biasa Nara dan teman-temannya lakukan, yaitu berkumpul disebuah pos dimana dijadikan sebagai tempat saling menunggu teman-teman yang lainnya untuk berangkat sekolah rame-rame. Dengan suasana kebersamaan, sekolah yang jaraknya cukup jauh yaitu kurang lebih 3 km jadi tak terasa.</p>
<p>Setibanya disekolah satu-persatu pelajaran yang diberikan guru dipelajarinya dengan semangat hingga berakhir mendengar lonceng berbunyi yang menandakan mata pelajaran disekolah untuk hari itu telah cukup diberikan. Sungguh girang tentu terasa yang ada dibenak Nara dan kawan-kawan menghadapi perjalanan pulang sekolah. Menghadapi serunya bercanda dalam kebebasan dari memikirkan pelajaran disekolah dalam perjalanan pulang.</p>
<p>Singkat cerita Nara sudah menginjak kelas 6 SD. Suatu hari dalam perjalanan pulang sekolah bertemu dengan seorang bapak-bapak, lantas ia berkata kepada Nara; &#8220;<em>sebentar lagi kamu lulus sekolah, mau kerja ditempat bapak gak untuk Bantu-bantu jagain warung</em>?&#8221; Nara menjawab; &#8220;<em>maaf pak, rencananya saya akan melanjutkan sekolah</em>.&#8221; Lantas bapak itu bertanya lagi; &#8220;<em>buat apa kamu sekolah lagi? Yang pada sekolah pun banyak nganggur kan</em>&#8221; ujar si bapak. Nara pun menjawab lagi; &#8220;<em>saya sekolah bukan karena pekerjaan tetapi untuk menambah wawasan yang mungkin saja bisa membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan</em> &#8221; kilahnya. Lantas Nara pun berpikir tentang apa yang dikatakan seorang bapak tadi. Jika dikaitkan pada kondisi yang ada di kampung itu memang benar adanya. Kehidupan yang dijalani tanpa patokan terhadap pendidikan khusus atau formal tapi mereka bisa menjalani kehidupannya. Meski begitu, Nara tak sedikit pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan sekolah. Kondisi seadanya yang tidak mengenal pakaian bagus, uang jajan dan lain-lain baginya tidak menjadikannya malas untuk belajar. Bertahun-tahun Nara menjalani keriangan dan semangat bersekolah meski dengan kondisi seadanya, hingga manyandang kelulusan dengan nilai yang memuaskan.</p>
<p>*****</p>
<p>Cerita kecil diatas tergoreskan dari sekelebat mengingat suatu saat ketika masih senang-senangya berkelana mewujudkan mimpi-mimpi yang tersembunyi dilangit yang tinggi haha…. Ketika itu seringkali menorehkan cerita-cerita kecil meski hanya dibantu mesin tik biasa sehingga memunculkan irama &#8220;tik tok tik tok&#8221; seperti nuansa yang sering dijumpai dikelurahan <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> Mudah-mudahan mengandung makna sekecil apapun itu mengingat adanya fenomena saat ini setiap-kali musim kelulusan tiba terdengar adanya anak-anak sekolah yang nekad mengakhiri hidupnya karena tidak mendapatkan kelulusan. Tidak berniat sedikitpun mengajari (bagi adik-adik atau rekan-rekan yang mungkin tak sengaja mebaca tulisan ini), mungkin bisa kita renungkan dari cerita diatas, memang benar kehidupan ini tidaklah berpatokan terhadap pendidikan formal (seperti perkataan seorang bapak dalam cerita diatas) jadi tidak pantaslah untuk berputus asa menjelang hari esok. Tetapi betapa pentingnya pula pendidikan itu (senada pendirian Nara), jadi alangkah lebih baiknya belajar dengan sungguh-sungguh. Seandainya mendapatkan kegagalan dalam suatu masa berarti itu pertanda bahwa kita harus lebih rajin lagi belajarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/impian-kecil-nara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Famous Tales from &#8220;Tatar Pasundan&#8221;</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/famous-tales-from-tatar-pasundan.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/famous-tales-from-tatar-pasundan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 05:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>
		<category><![CDATA[Dayang Sumbi]]></category>
		<category><![CDATA[Sangkuriang]]></category>
		<category><![CDATA[Tangkuban Perahu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/famous-tales-from-tatar-pasundan.html</guid>
		<description><![CDATA[Sangkuriang, famous tales from West Java, Indonesia.
Hundreds of years ago, the Galuh kingdom in west java, was ruled by a king of great wisdom namely Prabu Sungging Perbangkara. Not only was he famous for his wisdom but also for his love of hunting. Once a month, along with some of his guards he explored the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sangkuriang, famous tales from West Java, Indonesia.</strong></p>
<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/06/Dayang-Sumbi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2727" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Dayang Sumbi" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/06/Dayang-Sumbi.jpg" alt="" width="237" height="245" /></a>Hundreds of years ago, the Galuh kingdom in west java, was ruled by a king of great wisdom namely Prabu Sungging Perbangkara. Not only was he famous for his wisdom but also for his love of hunting. Once a month, along with some of his guards he explored the hunting grounds all over the kingdom from prairies, forests, hills, mountains, valleys to steep slopes!</p>
<p>One day when the king was going hunting, suddenly nature called. A toilet was certainly unavailable in such a place. So he found himself bushes where a coconut laid under unnoticed and accidentally peed on the coconut. As a result, his urine got mixed with the coconut milk.</p>
<p>As soon as The king and his guards had left for the palace, a wild pig came to the bushes. It may have looked like most wild pigs, but it was actually Celeng Wayung Yang, a sow which was said to be the reincarnation of a goddess, she was so thirsty so her eyes soon laid on the coconut. What a coincidence! without thinking any further, she drank up all the coconut milk.</p>
<p><span id="more-667"></span></p>
<p>Months passed by and Celeng Wayung Yang found herself pregnant. A few months later she gave birth to a baby girl. Unlike her, the baby was amazingly human-like!</p>
<p>Not long after the baby was born, The King returned into the same forest. While he was hunting, he was in such a shock to find a tiny baby. The baby looked so sweet and adorable that he fell in love with her. So he took her for his daughter and named her Dayang Sumbi.</p>
<p>Dayang Sumbi grew up a radiantly beautiful princess. Her beauty was well-known all over the Galuh kingdom and the other kingdoms! So princes from the pour corners of the region came to propose to Dayang Sumbi.</p>
<p>But Dayang Sumbi was not interested in their proposal, for her mind was occupied with anxious about finding out her own origin. Who is her parents? Dayang Sumbi only knew that she was found in the forest by The King. Finally, she decided to venture out into the forest, hoping that she might get the answer. The king disagreed on this at first for he was worried about his daughter’s safety but in the end he let her go reluctantly.</p>
<p>The King’s guards built then a house in the forest for Dayang Sumbi to live in. The house was not big but quite comfortable. It was also furnished with domestic appliances for daily activities. What would she do there? Well, she would weave. Other times, she would meditate in the praying room. She always meditated for Enlightenment.</p>
<p>At one point, she felt really tired of doing anything for her prayer went unanswered. One day when she was weaving, a roll of yarn slipped off her hand and fell on the floor.</p>
<p>Dayang Sumbi was not in the mood to pick it uf so she said whoever picked it up for her, if a woman, would be taken for her sister and if a man, would be married to her. She did not think clearly apparently when she said it. The wise king of gods heard her sigh of laziness. He wanted to teach her a lesson so that she understood her responsibility and did not do things carelessly. Thus he sent….</p>
<p>While waiting for someone who would pick up the yarn, she heard someone coming her way. Wonder who it was? A woman? Or a man? She held her breath, full of hope, as it was getting nearer. And suddenly…. what?? She was dumb-founded. It was neither a man nor a woman. It was a dog! She passed out instantly when the dog picked up the yarn!</p>
<p>Promise is a promise. From the day on, the dog she named Tumang became her husband. No one knew this. Shortly after the wedding, she gave birth to a son whom she named Sangkuriang. Although his father was a dog, Sangkuriang was human-like. But Dayang Sumbi never told him his true father.</p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/1791292/Sangkuriang.pdf" target="_blank">Download to read continuance</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/famous-tales-from-tatar-pasundan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

