KIP's Bandung

Religion's Articles

Tadi malam terdengar ucapan nabi baru dalam sebuah pertemuan dengan beberapa ulama dalam berita televisi, bahwasannya ia telah menjalani sebuah kekeliruan. Didalam waktu yang sama ia mengakui bahwa ia hanyalah manusia biasa yang sama halnya seperti kita. Sebagai manusia tentunya kita pun harus maklum atas kekeliruan tersebut, tetapi alangkah lebih bijaknya jika semua diantara kita menjaga apa yang telah digariskan Al-qur’an dengan tidak melakukan atau mengambil tindakan-tindakan secara gegabah, karena bagaimanapun hal ini akan menjadi noda atau mencoreng keyakinan yang kita jalani selama ini. Sebagai orang awam tidak habis pikir, kenapa hal konyol seperti itu bisa dilakukan yang dirasakan tanpa dibarengi dengan rasio yang sehat dan tepat.

Konon, Sistem rekruitmen AI-Qiyadah Al-lslamiyah mengandal kekuatan dana. Siapa yang bisa merekrut 40 orang, ia diberi hadiah kendaraan roda dua. Kalau bisa merekrut 70 orang, diberi kendaraan roda empat. Sungguh fantastis.

Pola pikir labil mengakibatkan masyarakat cenderung mudah hanyut ajaran-ajaran menyesatkan. itulah yang menyebabkan aliran-aliran sesat ini dengan mudah mendapatkan pengikut.

Misalnya cerita tentang Shinta, sekilas tak ada yang aneh di keseharian keluarga Wahyu Hidayat. Layaknya keiuarga harmonis lain, sepulang kerja sebagai pedagang ayam potong keliling hari-hari Wahyu selalu dihabiskan bersama isteri dan keempat buah hatinya. Namun, kebahagiaan keluarga ini sempat terenggut beberapa waktu lalu karena si sulung Shinta mendadak hilang. Hanya melalui pesan pendek (SMS), Shinta menghubungi keiuarga. Shinta mengaku perkenalannya dengan seorang perempuan sebaya di sebuah toko buku mengawali kisah kelam dalam perjalanan hidupnya. Dia hanyut dalam doktrin kelompok sebuah aliran keagamaan yang menganggap zaman kini tak ubahnya zaman jahiliyah. Meski bertolak belakang dengan akal sehat, Shinta tak kuasa menolak dogma pengikut kelompok ini. Selain diwajibkan mengganti nama, Shinta dilarang mengakui anggota keluarganya.

08
Nov

Tiga Macam Iman

Related entries: Religion   Tags:, ,

Jika ada yang bertanya rukun iman ada berapa, maka jawabannya adalah enam.
Iman kepada Allah Swt.. Iman kepada malaikat-malaikat-Nya. Iman kepada Rasul-rasul-Nya. Iman kepada kitab-kitab-Nya. Iman kepada hari akhir. Dan iman kepada qadla dan qadar Allah.

Jika diminta menyebutkan bagaimana mengimani enam point tersebut, kita dapat mempelajarinya dari para guru yang berkeyakinan ahlussunnah Waljama’ah.
Jadi, berapa jumlah dan apa saja rukun iman itu cukup mudah untuk mengingat dan menyebutkannya. Namun satu pertanyaan penting adalah dari mana datangnya iman? Sebab, seperti syair lagu yang dilantunkan salah satu group Shalawat adalah “Iman itu tak dapat diwarisi.” Iman, sebagaimana ungkapan Syeikh Nawawi Al Bantani (1815-1897 M), berangkat dari hidayah Allah Swt.

Menurut Syeikh Muhammad Amin Al Kurdy, perintis Tarekat An-Naqsyabandiyah Mesir (w. 1914 M) adalah berikut. Iman dengan ucapan lisan terkait dengan prosedur di dunia, sementara iman dengan hati terkait dengan urusan akhirat.

12
Oct

Kegembiraan, ketenangan batin, perasaan qanaah (merasa cukup) adalah buah dari ibadah yang berkualitas. Di antara kegembiraan yang akan diperoleh adalah bertemu dan berkumpul keluarga dan sahabat karib di kampung halaman.

Puasa telah kita jalani. Saat ini memasuki babak akhir. Ibarat orang mengikuti sebuah permainan, ini adalah babak yang menentukan. Rasulullah SAW pada sepertiga akhir ini, menghabiskan banyak waktu dengan memperbanyak ibadah dan beriktikaf di masjid. Tetapi mungkin sebagian besar dari kita malah memikirkan bagaimana cara menyambut lebaran dengan mempersiapkan pakaian, perabotan rumah tangga, makanan, bahkan kendaraan yang sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya.

Hari raya, khususnya lebaran menjadi momen spesial bagi seluruh umat Islam. Tak salah, dalam menyambutnya pun penuh suka cita. Agar momen tersebut berbeda dengan hari-hari lain, maka banyak persiapan yang dilakukan.

Tiap kali dalam mempersiapkan hari kemenangan, setelah satu bulan berpuasa, menyambut hari raya idul fitri selalu ada perbedaan yang dirasakan. Tentunya, hari H ini selalu ditunggu-tunggu dengan perasaan penuh haru.

Tetapi kita selalu saja memiliki kesulitan untuk memahami bahwa bergembira di hari lebaran, sebenarnya bukanlah dengan sesuatu yang bersifat lahiriah. Kegembiraan sejati tidak bergantung pada banyaknya keuangan dan kebutuhan fisik lain yang serba baru, melainkan kegembiraan yang muncul secara alami. Kegembiraan, ketenangan batin, perasaan qanaah (merasa cukup) adalah buah dari ibadah yang berkualitas.

15
Sep

Kita Dan Kesombongan

Related entries: Religion   Tags:

Kekayaan, ketampanan dan kepandaian

Memiliki potensi meningkatkan keimanan

Pada waktu bersamaan dapat pula memunculkan kekufuran

Kesabaran, kejujuran dan ketakwaan

Sudah seharusnya berlandaskan keikhlasan

Namun terkadang dapat pula menimbulkan kesombongan

Bukankah satu-satunya yang berhak menyombongkan diri dijagad raya ini hanyalah Allah semata?

30
Aug

“Ya Rabbi… Ya Ilahi…”

Related entries: Religion   Tags:

Syahdan, maestro-maestro sufi yang memahami kesusastraan dan tradisi mistisisme Arab-Islam klasik sangat bisa merasakan getaran dan aksentuasi makna filosofis yang berbeda dari kedua kata tersebut.
“Ya Rabbi…!”. Mereka ucapkan dengan bayangan diri mereka sedang lumpuh, lelah dan tak berkemampuan apa-apa.

Seakan diri mereka sirna dari cahaya kemahaan-Nya. Tak ada yang bernilai di depan altar persembahan-Nya. Manusia, jin, hewan-hewan, tetumbuhan dan seluruh alam semesta hanya bisa berkata “ya” dalam dalam dekap kehendak-Nya. Lalu, mereka hanya mampu tertunduk dan bersimpuh menanti rahmat di balik oadha’-qadar(ketentuan dan takdir) Sang Pencipta.

Memang, demikianlah kandungan makna terdalam dari kata rabb (bentuk pluralnya: arbab, para pemilik) yang berarti Tuhan sebagai pencipta dan penguasa segala yang ada. Tuhan sebagai subyek “tunggal yang “bekerja” dan “berencana”. Selain diri-Nya, berarti tak lebih sekedar obyek tanpa daya. Dia adalah ?emilik segalanya. Dari-Nya, untuk-Nya, dengan-Nya dan kepada-Nya kita semua ini menjadi ada dan “bekerja”.

Dalam suasana batin yang sangat “mencekam” dan meremas kalbu itulah segera terucap kata “Ya Ilahi…!”. Mereka ucapkan kata itu dengan semburat warna jiwa yang Khas dan bening berseri. Gambaran cinta-kasih dan kelembutan-Nya segera membayang. Dari sanalah muncul harapan. Dan dari harapan itu muncul kehendak dan kemauan untuk terus “berdekatan” dengan-Nya.

Page 5 of 6« First...Back23456Next

Free Translation Widget
Personalcashadvance.com | get cash loans

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

“Ya Rabbi… Ya Ilahi…”
[spoilergroup][spoiler intro="A"]Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka ba...

Ngaguar Basa tur Budaya Sunda

“Ya Rabbi… Ya Ilahi…”
Lain pedah sugih ku elmu jembar ku pangabisa, lain pedah oge jegud pangaweruh tur jembar k...

Links

Subscribe Us