Mencerca dan Mencela tidak jauh berbeda dengan unjuk rasa, mungkin merupakan bagian dari unjuk rasa juga, namun mencela atau mencerca biasanya ditunjukan atas rasa yang tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi pada orang atau golongan lain. Hal ini merupakan kebalikan dari unjuk rasa akibat dari adanya kondisi yang terjadi pada diri sendiri.
Pada dasarnya unjuk rasa karena berdasarkan pada kondisi yang dialami diri sendiri atau golongan pun patut dipertimbakan sebelumnya untuk melakukannya, apalagi mencela atau mencerca. Mencerca dan mencela merupakan perbuatan yang tidak layak dilakukan karena jelas perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang tidak terpuji, tapi mengapa orang masih suka ya?
Kebiasaan buruk tersebut agaknya meningkat belakangan ini baik di dalam pertemuan umum maupun melalui media massa, dan jadi semacam pekerjaan rutin insan yang tipis iman. Simaklah omongan sebagian orang bila lepas kesibukan, selalu mengumpat dan mencerca orang lain. Bak kata pepatah “kuman di sebrang lautan kelihatan, tapi gajah di pelupuk mata sendiri tak ketahuan”.
Tekadang pertanyaan seperti “kurang apa lagi?” terlintas dipikiran kita. Misalnya disaat mendapatkan ujian hidup yang bertubi-tubi sehingga kerap kali hati berbisik dan dalam pikiran bertanya-tanya menjadikan kita termenung. Lantas membayangkan apalagi?, bagaimana lagi? yang harus dilakukan sehingga tidak mendapatkan ujian hidup yang seakan selalu berdatangan. Dalam hal ini mungkin lebih tepat dikatakan sebagai ikhtiar dengan mawas dan introspeksi diri.
Mengatasi waktu luang saya terbiasa membuka arsip-arsip lama yang terdapat dalam komputer butut satu-satunya ini, dan tanpa sengaja membuka file yang lama tersimpan di komputer tentang perhitungan atau simulasi ketaatan diri dalam hidup. Sebagian dari kita mungkin tidak dapat jujur mengakui tentang hal-hal yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, dengan perhitungan sederhana ini mungkin kita bisa berkata jujur apa adanya sehingga bisa menelaah apa yang telah terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan di waktu mendatang.
Kalau mau mencoba, silahkan download disini .
“Ngunjukeun rasa nu teu merenah atawa kabagjaan ka nu lian, sakapeung asa berat ngedalkeunnana. Rasa bagja atawa kabungah mun dibeja-beja kanu sejen sieun disangka adigung-adiguna. Tapi lain hal na jeung hate nu teu merenah, boh akibat paningkah deungeun-deungeun atawa paripolah sorangan. Cag ah… tong nyarioskeun masalah hate ka nu lain, mendingan nyaritakeun hal nu aya pakuat-kait jeung kaayaan jaman ayeuna, hampura mun seueur nu teu ngartos ku ieu babasan jeung paribasa he…”
Unjuk rasa! Sempat beberapa waktu yang lalu melihat berita di televisi mengenai unjuk rasa, ada yang melemparkan batu dan benda lainnya untuk merusak bangunan dll. Rasanya jadi ingin mengulas juga walaupun hamya sebatas pendapat pribadi yang awam.
Ngomongin soal unjuk rasa yang tidak bisa dipungkiri terjadi secara rutin di setiap adanya suatu perubahan kondisi. Unjuk rasa itu sendiri sebenarnya di zaman para khalifah sudah pernah ada. Suara sahabat atas mengatasi di tengah forum, dalam mengemukakan pendapat mereka masing-masing. Salah satu contoh: lihatlah bagaimana kepada khalifah yang baru dipilih pun seorang anggota masyarakat berjanji akan ‘meluruskan’ sang pemimpin mereka dengan pedang, seraya ia menghunusnya. Ia melaksanakan unjuk rasa seperti itu tanpa disertai rasa takut dan kuatir. Oleh karena saran dan gagasan yang disampaikan memang tulus dan ikhlas. Pendapat yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam demi perbaikan bersama. Sebuah unjuk rasa yang konstruktif. Adalah Nabi SAW sendiri yang mendidik ummatnya soal kebebasan berpendapat dan bersuara namun dalam batas-batas etika Islam yang diajarkannya.
Seorang non muslim, suatu hari menyaksikan diluar pagar, sebuah pesta rohani MTQ di arena terbuka. Sebelumnya, ia tak percaya lantunan ayat-ayat yang dibawakan para vokalis (Qori’) itu tanpa dibantu instrumen musik. Barulah lelaki itu merasa pasti, setelah ia melihat sendiri, betapa Al-Qur’an itu dilantunkan pembacanya dengan suara merdu. Terasa lebih nikmat ketimbang sebuah lagu, katanya. Mungkin ia belum tahu bahwa Rasul sendiri pernah menganjurkan ummatnya agar “yataqhanna bil Qur’an” (melantunkan dengan tartil dan suara indah, tatkala membaca Al-Qur’an).
Inilah mu’jizat Al-Qur’an. Tidak ada kitab suci agama-agama yang begitu sering banyak disenandungkan seperti Bacaan Mulia ini. Sekaligus, tiada pula kitab suci yang begitu banyak dihafal seperti kitabullah tersebut. Oleh sebab itu jangan heran bila ada pengakuan jujur dari seorang cendekiawan Barat terhadap kitab suci ini. Bak dikatakan oleh Herry Gaylord Dorm, bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar firman yang didiktekan Gibrail alias Malaikat Jibril (atas Muhammad SAW), sempurna setiap hurufnya. Ia merupakan suatu mu’jizat yang tetap aktual, hingga kini untuk membuktikan kebenarannya dan kebenaran Nabi Muhammad SAW.
Inilah rasanya hidup, dan entah bagaimana jika kita telah tiada atau mati? Sebagai insan yang berkeinginan menjadi muslim yang baik tentu harus menyadari makna hidup dan mati itu semata untuk diuji Allah. Sebagaimana firman-Nya, bahwa Tuhan menciptakan mati dan hidup untuk menguji manusia, “Siapa-siapa di antara kalian yang baik amalnya!” Ayyukum ahsanu ‘amala (Q.S. 67:2).
Insan yang tidak punya orientasi dalam hidup menilai kehidupan ini hanya untuk hidup, oleh karena itu harus dinikmati sepuas-puasnya selama hayat di kandung badan. Mereka menganggap kematian itu tak lebih ibarat sebuah mesin yang rusak. Bagi Islam, hidup bukanlah sekadar bernafas. Ada segolongan insan yang meskipun jasadnya mati, tetapi Al-Qur’an menamakannya sebagai “orang-orang hidup dan memperoleh rizki” (QS. 3:169). Sebaliknya ada yang nyatanya hidup namun dianggap sebagai “orang yang mati” (QS. 35:22).
Makna hidup dalam perspektif Islam adalah mereka yang bisa menyeimbangkan antara kesenangan duniawinya dan menyiapkan bekal ukhrowinya berdasarkan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Bukankah do’a yang selalu kita mohon ke hadirat-Nya selalu “Rabbana aatina fi al-dunya hasanah, wa fi al-akhirah hasanah” (Tuhan! Karuniakanlah (kami) di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan … !).
Potensi merupakan sebuah nikmat. Dengan potensi yang kita miliki, berarti kita sudah diberikan alat untuk mencapai prestasi yang kita inginkan. Persoalannya, sebuah potensi tidak langsung berubah menjadi nikmat (hasil) dengan sendirinya. Oleh karena itu, diperlukannya aktualisasi untuk merubah sebuah potensi menjadi sebuah prestasi.
Aktualisasi itulah yang disebut syukur. Syukur adalah menggunakan sumber daya (potensi) yang sudah kita miliki atau yang sudah ada untuk mencapai prestasi dengan cara-cara yang tidak melanggar. Kalau melihat definisi kecerdasan milik Howard Gardner, syukur termasuk tanda-tanda kecerdasan. Kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk memproduksi solusi yang tidak melanggar nilai-nilai kebenaran.
Maka terdapat sejumlah penjelasan mengenai beberapa potensi yang perlu dijadikan alat untuk meraih prestasi, hal-hal tersebut diantaranya: