Selama nafas masih berhembus, permasalahan hidup tidak akan ada habis2nya. ya itulah kenyataan hidup atau kehidupan. Namun terkadang kita dihampiri suatu permasalahan yang terjadi akibat yang tidak kita lakukan, tidak disengaja atau tidak disadari letak kesalahannya, hal ini yang biasa terasa sangat berat sekali. Dari masalah tersebut sudah barang tentu banyak mempengaruhi akal dan pikiran yang tidak sehat, salah satunya memunculkan rasa bingung yang berkepanjangan, suntuk, emosi atau amarah dan lain sebagainya.
Bersyukurlah, bagi kita kalau seandainya masih ada orang yang mau menanggapi dengan pikiran sehat atas permasalahan kita. Bagaimanapun segala permasalahan tidak akan ada solusinya jika pikiran sedang pada kondisi tidak sehat. Dengan pikiran yang sehat pula biasanya orang mau memahami serta membantu mencari jalan terbaik sebagai solusi atas permasalahan tersebut, Insya Allah denga segala rasa tanggung jawab dan keinginan baik yang kuat segala permasalahan akan mendapat solusi terbaiknya.
Mengenal akan kata “prasangka” tentunya kita semua memahaminya. Jangan kayak si adek nih, langsung nunjuk aja, he…. Prasangka atau praduga merupakan adanya suatu pikiran atau sikap mengira-ngira terhadap suatu kondisi dimana kita sendiri belum tahu persis kondisi yang sebenarnya. Suatu prasangka memang tidak melulu pada hal negatif, ada juga prasangka positif (kurang lebihnya tidak akan menimbulkan dampak negatif).
Namun, ketika prasangka buruk yang hadir pada diri kita, misalnya kita berpikiran buruk tentang orang lain, segenap sikap kita terhadap orang lain itu akan dituntun oleh prasangka itu. Dalam psikologi, ada yang disebut sebagai selective perception. Manusia pada dasarnya mempersepsi dunia secara selektif, dan itu sangat tergantung pada sikap yang kita bangun mengenai dunia. Sebagai contoh, kalau kita memang sudah percaya bahwa Si A itu jahat, maka setiap kali kita bertemu dengan Si A, kita akan cenderung memberi perhatian terhadap hal-hal dalam diri orang itu yang akan mengukuhkan ketidaksukaan kita. Kita mengabaikan hal-hal baik mengenai dirinya, bahkan ketika ada orang lain yang menyatakan pendapat lain tentangnya.
Kekuatan pikiran seringkali kita lupakan. Bila kita berpikir bahwa kita telah dikalahkan, maka sebenamya kita telah kalah sebelum berperang, bila kita berpikir kita tidak mampu, maka sungguh kita menjadi lemah. Bila kita ingin menang tapi kita berpikir kita tidak bisa menang, maka kita tidak akan pernah menjadi seorang pemenang.
Pada dasarnya, Tuhan menciptakan manusia lengkap dengan kemampuan untuk berpikir. Dari pikiranlah dunia berkembang, dari peradaban primitif menjadi peradaban super modern. Jadi, segala sesuatu yang manusia ciptakan tiada lain adalah berasal dari kemampuan memberdayakan berbagai pikiran.
Komitmen pribadi untuk melakukan hal yang baik dengan sikap mental yang positif, nicaya akan mempunyai kepercayaan bahwa hal-hal baik akan terjadi seperti halnya punya keyakinan bahwa jika suatu saat muncul masalah, maka akan mempunyai kekuatan dan ketrampilan untuk menangani, mengambil alih dan kemudian menaklukkannya.
Perbedaan yang selalu ada, bukan berarti melemahkan kita untuk bisa maju bersaing dengan orang lain. Dalam hal ini hanyalah untuk menunjang terhadap diri sendiri pula, dimana diri sendiri tidak akan lupa diri serta dapat mengukur posisi keberadaan diri sendiri, apakah diri kita itu sebagai teman, sebagai saudara atau kerabat, tamukah dan lain sebagainya, tentunya memiliki porsi keberadaan yang berbeda-beda yang pada akhirnya dapat saling memberikan makna dan hikmah dari apa yang ada dari setiap masing-masing yang berinteraksi.
Mengabaikan siapa diri kita yang hakiki, dan mencoba melebur dalam kepribadian orang lain, maka akan menghancurkan karakter asli kita sendiri. Kita menjadi tidak kenal siapa diri kita, apa yang seharusnya menjadi pegangan sehingga mudah diombang-ambingkan arus dari luar.
Setiap manusia mempunyai bakat, potensi dan kelebihan masing-masing. Tidak ada manusia yang sama di dunia ini, bahkan saudara kembar pun ada perbedaannya. Tuhan menciptakan perbedaan sifat, karakter, bahasa dan bangsa tentu saja ada maksudnya. Perbedaan itu untuk membuat manusia saling belajar, saling mengenal dan menerima perbedaan itu agar dapat saling memberi manfaat.
Pada liburan ini, saya kedatangan kerabat dari luar kota. Suasana tentunya terasa hangat dimana perbincangan-perbincangan mengisi suasana yang sangat dinantikan.
Dibalik perbincangan yang ada, terdapat sedikit debatan yang sangat dirasakan maknanya, tiada lain berkaitan dengan pemikiran dan tindakan yang semestinya dilakukan. Mengingat sepenggal kisah yang telah berlalu, ada satu hal yang mampu dilakukan dimana sangat mengandung makna yang besar terhadap mereka, namun di sisi lain kondisi saat ini, apalah daya tidak bisa berbuat seperti yang telah dilakukan.
Menyangkut keberhasilan sesuatu hal, dari perbincangan tersebut dapat disimpulkan adanya hal penting yang harus dipertimbangkan dalam berkipir dan bertindak. Hal tersebut yakni, apapun yang kita pikirkan, dan apapun yang kita lakukan baik itu positif maupun negatif akan memberikan dampak untuk kehidupan kita sendiri.
Damai itu indah dan menyenangkan. Bisa dibayangkan kita ada di bawah teduhnya sebuah pohon ditepi pantai. Dengan pandangan menerawang jauh ke laut lepas dan tak ada seorang pun yang mengganggu. Hmm… ingin rasanya kembali kepantai untuk menikmati suasana seperti pada gambar yang ada.
Menikmati kebahagiaan yang bertahan lama dengan fokus pada lal-hal yang baik dalam hidup itulah sebuah kedamaian batin. Kedamaian batin ini terkadang sangat terjauh dari jangkauan kita. Bagaimana pun tidak semua orang berada pada kondisi dan situasi yang sama. Namun, pada dasarnya, sudah seharusnya kita mulai memahami dan mencari apa arti kebagagiaan itu? Porsi yang bagaimanakah kita membutuhkannya?
Andai saja telah memahami batasan-batasan sejauh mana kita harus meraih dan mengendalikannya, senantiasa sebuah kedamaian batin tersebut akan menyertai setiap langkah kita. Atau mungkin diperlukan cara-cara atau langkah-langkah yang seharusnya kita tempuh? Kayaknya sih begitu….