KIP's Bandung

Psychology's Articles

Kematangan sosial seseorang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kemampuan dirinya untuk beradaptasi dan menjalin hubungan yang sehat dan memuaskan dengan orang lain. Dan seseorang dikatakan matang secara sosialnya, apabila ia mampu memahami kondisi orang lain baik kekurangan maupun kelebihan yang dimilikinya. Selain itu dirinya juga harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Dan apabila seseorang memiliki kemampuan seperti itu, tentu akan memudahkan dirinya untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan pihak lain.

Dari sini nampak jelas bahwa kematangan sosial merupakan hal yang sangat penting apabila hendak membina hubungan persahabatan, kekerabatan dan tentu saja hubungan rumah tangga, karena sebelumnya satu dengan yang lainnya adalah orang asing yang berbeda karakter dan latar belakangnya serta masing-masing pihak pasti memiliki kekurangan maupun kelebihan.

Tulisan ini hanya sekedar menuangkan sebagian apa yang terlintas dipikiran untuk mengawali lagi coretan blog diawal bulan Oktober 2008 kali ini, tepatnya setelah merayakan lebaran 1429 H. Setelah melakukan berbagai revisi prilaku diri dengan sebelumnya melakukan perenungan atas semua hal yg terkait, rasanya cukup tepat sekali kita lebih menajamkan lagi pemikiran-pemikiran kita saat ini. Dari itulah tulisan ini terlintas, berkaitan dengan masalah citra diri.

Berbicara soal citra diri, memungkinkan terlintasnya dipikiran kita masalah kekerenan diri yang sudah umum adanya. Benarkah? Cobalah bertanya pada hati nurani sendiri :-D “Wow keren” Posisi pekerjaan yang bagus atau usahanya yang maju/sukses atau juga pintar disekolah dan lain sebagainya. Siapa coba yang gak mau nerima kata tersebut? Pastinya semua orang pun menginginkannya.

Berkaitan dengan kekerenan diri tentunya mengandung proses pembangunan citra pribadi terhadap berbagai aspek kehidupan bahkan sampai mengalihkan bentuk kekayaan yang berupa materi ke kualitas diri, mungkin kurang lebihnya seperti itu. Sehingga timbul satu hal yang patut kita telaah secara objektif dalam kaitannya dengan komunikasi antar individu, karena disinilah citra diri itu terlihat jelas.

29
May

Sifat lupa atau tidak dapat mengingat dengan semestinya merupakan penomena yang sangat lumrah terjadi pada seseorang, gejala itu biasanya terjadi pada orang yang menginjak lanjut usia. Meskipun sifat lupa merupakan fenomena yang kerap dijumpai dalam kehidupan seseorang yang telah menginjak usia lanjut tersebut, tetapi tidak sedikit sifat lupa itu kita jumpai dalam diri seseorang dimana usianya belum terasuk kedalam golongan manula. Mungkin termasuk saya sendiri termasuk kedalamnya meskipun kadarnya sangat kecil, karena sejauh ini masih baik-baik saja (hanya sesekali doank kok he…). Nah, sampai seberapa jauh gejala lupa dapat ditoleransi?

Menurut Cynthia Green, ahli ilmu jiwa yang mengajar di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, memori akan menjadi bom krisis baru. Hal itu diperkuat oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium di Manchester, Inggris, produsen berbagai alat untuk mengatasi kegagalan memori. Hasil riset tersebut, kemunduran memori sudah dialami oleh orang-orang muda, usia akhir 20-an. Misal, terjadinya sifat sering lupa wajah dan nama seseorang selama beberapa saat, atau mau mengerjakan sesuatu tiba-tiba lupa sama sekali.

Nah, menurut para ahli juga, lupa itu terbagi menjadi dua macam, yaitu lupa normal dan lupa abnormal.

17
May

ThankfulnessIf we feel have not yet can thank goodness in heartfelt, let’s is learning from now.

This tip sharpens feel heartfelt and our liver sensitivity of kindliness or things which are positive around us.

  • Everyday things that make us feel thanks, for example day by day we not hit stuck on the way to office or to campus, neighbour suddenly sends delicious food though day by day we no time cook, at that time we become race winner, etc.
  • Conduct everything heartily, for example conveniently friend that ask help, rather than with on the warpath or give they hearting advise.
  • Render thanks heartfelt to one who day by day has helped us (although we not recognize it). Our body motion or body attitude implies our feeling.
  • Enjoy and our thanks if coincidence are residing in a beautiful place or in lovely community environment.
  • Every situation that either or ugly, at ownself and realize, “What meaning for us?” Especially if we experience of ugly occurence, don’t blame Almighty, but, sure that occurence there is means its for us.

Selama nafas masih berhembus, permasalahan hidup tidak akan ada habis2nya. ya itulah kenyataan hidup atau kehidupan. Namun terkadang kita dihampiri suatu permasalahan yang terjadi akibat yang tidak kita lakukan, tidak disengaja atau tidak disadari letak kesalahannya, hal ini yang biasa terasa sangat berat sekali. Dari masalah tersebut sudah barang tentu banyak mempengaruhi akal dan pikiran yang tidak sehat, salah satunya memunculkan rasa bingung yang berkepanjangan, suntuk, emosi atau amarah dan lain sebagainya.

Bersyukurlah, bagi kita kalau seandainya masih ada orang yang mau menanggapi dengan pikiran sehat atas permasalahan kita. Bagaimanapun segala permasalahan tidak akan ada solusinya jika pikiran sedang pada kondisi tidak sehat. Dengan pikiran yang sehat pula biasanya orang mau memahami serta membantu mencari jalan terbaik sebagai solusi atas permasalahan tersebut, Insya Allah denga segala rasa tanggung jawab dan keinginan baik yang kuat segala permasalahan akan mendapat solusi terbaiknya.

23
Apr

Mengenal akan kata “prasangka” tentunya kita semua memahaminya. Jangan kayak si adek nih, langsung nunjuk aja, he…. Prasangka atau praduga merupakan adanya suatu pikiran atau sikap mengira-ngira terhadap suatu kondisi dimana kita sendiri belum tahu persis kondisi yang sebenarnya. Suatu prasangka memang tidak melulu pada hal negatif, ada juga prasangka positif (kurang lebihnya tidak akan menimbulkan dampak negatif).

Namun, ketika prasangka buruk yang hadir pada diri kita, misalnya kita berpikiran buruk tentang orang lain, segenap sikap kita terhadap orang lain itu akan dituntun oleh prasangka itu. Dalam psikologi, ada yang disebut sebagai selective perception. Manusia pada dasarnya mempersepsi dunia secara selektif, dan itu sangat tergantung pada sikap yang kita bangun mengenai dunia. Sebagai contoh, kalau kita memang sudah percaya bahwa Si A itu jahat, maka setiap kali kita bertemu dengan Si A, kita akan cenderung memberi perhatian terhadap hal-hal dalam diri orang itu yang akan mengukuhkan ketidaksukaan kita. Kita mengabaikan hal-hal baik mengenai dirinya, bahkan ketika ada orang lain yang menyatakan pendapat lain tentangnya.

Page 4 of 11« First...Back23456Next...End

Free Translation Widget

Cigarettespay day loan

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Sekitar Prasangka atau Praduga
[spoilergroup][spoiler intro="A"]Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka ba...

Ngaguar Basa tur Budaya Sunda

Sekitar Prasangka atau Praduga
Lain pedah sugih ku elmu jembar ku pangabisa, lain pedah oge jegud pangaweruh tur jembar k...

Links

Subscribe Us