Ada banyak cara atau trik untuk menilai kualitas pribadi seseorang, apalagi orang tersebut benar-benar berkaitan dengan aktivitas atau kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan secara langsung menerka kualitas seseorang dari bobot prilaku yang terlihat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Orang-orang dengan kualitas tertentu niscaya hanya akan berbuat seenaknya sendiri tanpa memperhatikan sekitarnya atau akibatnya, yang biasanya membuat kita seolah-olah tidak ada disekitarnya.
Karier mentok? Sudahkah Berinvestasi pada Diri Sendiri?
Seorang salesman sukses datang pada saya: “Perusahaan ini maunya apa, sih? Saya sudah bekerja selama 5 tahun, selalu mencapai target, tidak pernah dinaikkan pangkat. Malahan, target saya setiap semester dinaikkan. Apa perusahaan mau menyaksikan kegagalan saya? Karier saya mentok di perusahaan ini….”
Secara logis tidak ada perusahaan yang ingin ‘menggencet’ karier seseorang, namun ada beberapa hal yang menyebabkan individu merasakan keterhambatan karier. Bisa saja kompetensinya bagus di bidang penjualan, tetapi di bidang penyeliaan dan manajerial dia lupa mengembangkan diri. Terkadang kita terlena pada rutinitas dan penghasilan tetap, sehingga merasa bahwa tidak ada jalan untuk membuat nilai tambah pada diri sendiri secara sadar dan terencana. Tepat pada saat kita merasa ‘helpless’ itulah karier kita memang betul mentok. Padahal sebagal profesional, kita harus berkembang bagaikan mesin yang selalu ter-’tune up’ dan siap menanggung beban tantangan terkini.
Seseorang yang suka berpikiran positif akan memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik perbuatan buruk orang lain. Jika kita mengambarkan dampak pola berpikir yang positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya mungkin betul-betul menjadi positif.
Misalnya :