Archive for the 'Psychology' Category
Sifat lupa atau tidak dapat mengingat dengan semestinya merupakan penomena yang sangat lumrah terjadi pada seseorang, gejala itu biasanya terjadi pada orang yang menginjak lanjut usia. Meskipun sifat lupa merupakan fenomena yang kerap dijumpai dalam kehidupan seseorang yang telah menginjak usia lanjut tersebut, tetapi tidak sedikit sifat lupa itu kita jumpai dalam diri seseorang dimana usianya belum terasuk kedalam golongan manula. Mungkin termasuk saya sendiri termasuk kedalamnya meskipun kadarnya sangat kecil, karena sejauh ini masih baik-baik saja (hanya sesekali doank kok he…). Nah, sampai seberapa jauh gejala lupa dapat ditoleransi?
Menurut Cynthia Green, ahli ilmu jiwa yang mengajar di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, memori akan menjadi bom krisis baru. Hal itu diperkuat oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium di Manchester, Inggris, produsen berbagai alat untuk mengatasi kegagalan memori. Hasil riset tersebut, kemunduran memori sudah dialami oleh orang-orang muda, usia akhir 20-an. Misal, terjadinya sifat sering lupa wajah dan nama seseorang selama beberapa saat, atau mau mengerjakan sesuatu tiba-tiba lupa sama sekali.
Nah, menurut para ahli juga, lupa itu terbagi menjadi dua macam, yaitu lupa normal dan lupa abnormal.
If we feel have not yet can thank goodness in heartfelt, let’s is learning from now.
This tip sharpens feel heartfelt and our liver sensitivity of kindliness or things which are positive around us.
- Everyday things that make us feel thanks, for example day by day we not hit stuck on the way to office or to campus, neighbour suddenly sends delicious food though day by day we no time cook, at that time we become race winner, etc.
- Conduct everything heartily, for example conveniently friend that ask help, rather than with on the warpath or give they hearting advise.
- Render thanks heartfelt to one who day by day has helped us (although we not recognize it). Our body motion or body attitude implies our feeling.
- Enjoy and our thanks if coincidence are residing in a beautiful place or in lovely community environment.
- Every situation that either or ugly, at ownself and realize, “What meaning for us?” Especially if we experience of ugly occurence, don’t blame Almighty, but, sure that occurence there is means its for us.
Selama nafas masih berhembus, permasalahan hidup tidak akan ada habis2nya. ya itulah kenyataan hidup atau kehidupan. Namun terkadang kita dihampiri suatu permasalahan yang terjadi akibat yang tidak kita lakukan, tidak disengaja atau tidak disadari letak kesalahannya, hal ini yang biasa terasa sangat berat sekali. Dari masalah tersebut sudah barang tentu banyak mempengaruhi akal dan pikiran yang tidak sehat, salah satunya memunculkan rasa bingung yang berkepanjangan, suntuk, emosi atau amarah dan lain sebagainya.
Bersyukurlah, bagi kita kalau seandainya masih ada orang yang mau menanggapi dengan pikiran sehat atas permasalahan kita. Bagaimanapun segala permasalahan tidak akan ada solusinya jika pikiran sedang pada kondisi tidak sehat. Dengan pikiran yang sehat pula biasanya orang mau memahami serta membantu mencari jalan terbaik sebagai solusi atas permasalahan tersebut, Insya Allah denga segala rasa tanggung jawab dan keinginan baik yang kuat segala permasalahan akan mendapat solusi terbaiknya.
Continue Reading »
Mengatasi Emosi Yang Dapat Merugikan Bersama
Mengenal akan kata “prasangka” tentunya kita semua memahaminya. Jangan kayak si adek nih, langsung nunjuk aja, he…. Prasangka atau praduga merupakan adanya suatu pikiran atau sikap mengira-ngira terhadap suatu kondisi dimana kita sendiri belum tahu persis kondisi yang sebenarnya. Suatu prasangka memang tidak melulu pada hal negatif, ada juga prasangka positif (kurang lebihnya tidak akan menimbulkan dampak negatif).
Namun, ketika prasangka buruk yang hadir pada diri kita, misalnya kita berpikiran buruk tentang orang lain, segenap sikap kita terhadap orang lain itu akan dituntun oleh prasangka itu. Dalam psikologi, ada yang disebut sebagai selective perception. Manusia pada dasarnya mempersepsi dunia secara selektif, dan itu sangat tergantung pada sikap yang kita bangun mengenai dunia. Sebagai contoh, kalau kita memang sudah percaya bahwa Si A itu jahat, maka setiap kali kita bertemu dengan Si A, kita akan cenderung memberi perhatian terhadap hal-hal dalam diri orang itu yang akan mengukuhkan ketidaksukaan kita. Kita mengabaikan hal-hal baik mengenai dirinya, bahkan ketika ada orang lain yang menyatakan pendapat lain tentangnya.













