“Berat sama di pikul, ringan sama dijinjing“, pepatah ini sangatlah erat hubungannya dengan saling keterkaitan dan saling ketergantungan. Mengapa demikian? Sangat jelas sekali kalimat tersebut berlaku terhadap manusia yang lebih dari satu orang dimana diisyaratkan pada kata “sama“.
Setiap manusia tentu tidak bisa berdiri tegak tanpa manusia yang lain, dan sebakliknya manusia yang lain pun tidak dapat menjalani kehidupannya tanpa manusia yang lainnya lagi. Jadi satu dengan yang lainnya saling terkait dan sangat menentukan hubungan diantaranya dalam menjalani kehidupan secara sadar .
Namun demikian, pepatah diatas mungkin bisa berjalan lancar jika diantara manusia yang saling berhubungan tersebut memiliki visi yang sama. Kalau saja tidak ada kesamaan visi yang sama, tidak sedikit orang-orang yang kehilangan arah akibat dari ketidak-pedulian sesamanya atau yang ada disekitarnya.
Sebagai contoh dari implementasi kalimat diatas harus memiliki visi yang sama yaitu salah satunya dalam berumah-tangga. Seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan suatu ikatan pernikahan karena adanya mimpi atau keinginan dan tujuan yang sama yaitu membangun sebuah rumah tangga yang diidamkannya. Jika diantara keduanya memiliki visi yang sama untuk membangun keluarga yang harmonis dengan memiliki anak, rumah dan kehidupan yang layak, maka sebagai realisasinya banyak sekali yang mereka wujudkan, paling tidak salah satu kebanggaan dan kebahagian hidup mereka dapatkan.
To get a successfulness is not easy, must hard struggle to reach it. And, though that successfulness level relative differs hung seen from the view of each, at least I anxious for become one of they that have successfulness. In consequence, try learn to comprehend any step that must gone through from others experience those and of course assessed has got successfulness at they scope. Below are some step guide to attain Success in Life. This principle is applicable to any aspect of Life. These are very simple steps, which we all know, yet we tend to forget.
Kata belajar memang tidak seharusnya menemui pernyataan berhenti. “diajar mah teu aya istilah eureun salila urang lumangkung di alam dunya” itu kalimat yang pernah saya dengar dari orang tua yang tiada lain artinya belajar itu tak ada kata berhenti selama kita masih hidup di dunia.
Yang dimaksudkan belajar disini tentunya secara universal, bukan belajar yang biasa kita asumsikan sehari-hari yaitu sekolah. Mengapa begitu? Jelas banget berbeda, dimana belajar yang di makasudkan (sekolah) ada batasnya, faktor kondisi ekonomi, usia dan keterbatasan lain-lainnya bisa menjadi salah-satu faktor penyebabnya. Sementara belajar secara universal dalam kehidupan tentunya tidak ada batasan yang mengikat, karena hal sekecil apapun dalam kehidupan sehari-hari bisa kita pelajari dengan tujuan mengambil hikmahnya.
Untuk kali ini, saya tertarik bercerita tentang prilaku seekor Kucing dan Cicak dalam mengatasi kehidupannya, syukur-syukur ada intisarinya yang dapat diambil. Tapi ingat, cerita seperti ini bukan berarti mengharuskan kita berprilaku seperti seekor burung dara, nyamuk , Kucing atau cicak he…
Sebait cerita sederhana yang terdapat dalam keseharian terkadang menyiratkan sarana pembelajaran bagi kita semua, seperti halnya prilaku seekor nyamuk, kucing, ataupun tumbuhan. Prilaku atau keadaan yang dikondisikan dengan alam bisa kita ambil sisi positifnya sebagai bahan wejangan terhadap prilaku diri.
Kali ini, sebuah kisah yang rasanya telah akrab kita dengar yakni kisah antara burung dara dan Tuannya. Burung dara tersebut sangat disayang oleh tuannya, sekiranya dari kisah ini cukuplah memberi gambaran kepada kita tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Memangnya seperti apa sih? Mari kita cermati bagaimana sang tuan memperlakukan burung dara kesayangannya tersebut.
Dari sekian banyak pencinta burung dara, beberapa diantara mereka mencoba kecerdasan dan ketaatan burungnya dengan memberi ujian pada burung itu. Apa ujiannya? Yap, betul sekali. Sang tuan mengajak burungnya pergi jauh dari rumah dan kandangnya. Setelah jaraknya cukup jauh, maka Sang tuan melepaskan burung daranya dan menerbangkannya ke angkasa. Lalu apa sih yang diinginkan si tuan burung itu?
Melakukan sebuah proses tentunya ada awal dan akhirnya. Seperti kehidupan ada kelahiran yang tentunya diakhiri dengan kematian, dsb.
Baru saja saya mengakhiri sebuah babak atau mungkin kalau dalam sebuah film dikatakan sebagai sebuah episode, dimana ada bagian dari kehidupan yang di jalani ternyata menemukan batas waktu yang menjadi titik akhir dari proses tersebut. Kalau saja dikaji dengan seksama, berhentinya sebuah proses tersebut disebabkan adanya kehadiaran sebuah niat, tentunya niat yang baru dengan suatu harapan dapat membawa kearah suatu perubahan.
Seandainya niat tersebut berkaitan dengan materi, mungkin sesuai dengan sebuah pepatah, “emas tidak senantiasa turun dari langit”. Pepatah ini sering didengar dalam filosofi menjemput rezeki. Filosofi tersebut mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melakukan usaha atau tindakan nyata. Melayakkan diri menyambut esok hari, tidak bisa hanya dengan berpangku tangan dan berdoa saja dengan harapan semoga perubahan akan terjadi.
Alam banyak sekali meyiratkan pertanda bagi kita semua yang merupakan bagian dari alam semesta ini. Hal-hal itulah yang bisa kita pahami tentang pertanda2 tersebut. Seyogyanya jadi bahan pembelajaran untuk kita melangkah lebih jauh lagi. Semoga kita semua lebih bisa mengerti dan mau belajar dari gelagat dan prilaku yang ada di alam ini. Entah itu tumbuhan, hewan dan tentunya dari prilaku manusia sebagai insan berakal. Belajar yang dimaksudkan bukanlah berarti harus meniru, tetapi kita mengambil makna yang terkandung didalamnya. Sebagai contoh saja, prilaku dari seekor nyamuk.
Nyamuk? mendengar kata nyamuk sangatlah kita tidak begitu peduli. Kalaupun ada nyamuk yang ada disekitar kita, lalu menghampiri kita, sebel saja pasti dibuatnya, apalagi kalau sampai menggigit kita. Jengkelnya minta ampun, sampai2 mungkin ada diantara kita yang tidak bisa tidur karena ulah dan suara sang nyamuk.