KIP's Bandung

Life's Articles

16
Nov

In The RainSebelum menghampiri, Kau titahkan sang angin untuk memberi kabar, Kau geraikan tirai penghadang cahaya hingga tidak terlalu terang jika bertandang dikala siang, dan sesekali terkirimkan iringan riuhnya gemuruh yang kadang menakutkan, dan sesekali pula menghantarkan bentangan-bentangan guratan pelangi yang sungguh mengagumkan.

Gemercik hujan kerap menjadi teman sejati dalam keheningan. Dengan setianya tetesan-tetesan beningnya terkadang mampu menghantarkan kedalam resapan kenangan. Dan, dalam derasnya hujan terselip pesan cinta yang merona. Saat terdiam sendirian, suara indahnya mampu melupakan rasa gundah dan mampu menumbuhkan kerinduan, memikirkan dan mengenang apa saja yang terlintas dibenak terdalam. Keluarga tercinta atau sahabat yang disuka! Yap, itu terserah saja maunya hati, tentang apa, siapa dan bagaimana, yang pasti tidak akan pernah lupa pada hujan yang mampu menghidupkan nuansa dan mampu membentangkan ketenangannya. Seperti halnya pernyataan Christine Panjaitan dalam sebait liriknya “Kalau tak mungkin lagi hujan, menyejukkan hati kita, untuk apa aku disini “.

Hujan! Hujan adalah inspirasi tak bertepi yang bisa digali dengan jernihnya pikiran dan tenangnya suasana hati. Hujan mengajarkan kita tentang kepatuhan. Meski tidak semua orang senang, hujan tetap curahkan setiap tetesan karena mengikuti hukum alam dan mematuhi kehendak Tuhan.

KersenSesaat duduk disebuah kursi warung pinggir jalan, sambil menunggu isi gelas berpindah kemulut yang terasa haus akan siraman air. Lalu, tepat dihadapan mata lewatlah dua orang wanita paruh baya. Lantas satu orang diantara mereka meloncat dengan maksud hendak memetik buah kecil mungil berwarna merah yang berada tepat diatas jalan yang dilewatinya, tiada lain buah kersen.

Melihat aksi mereka jadi teringat masa kecil dulu. Buah kersen biasanya memang disukai anak-anak termasuk saya disaat itu. Jika melihat buahnya yang matang meski hanya satu biji dan terletak jauh diujung dahan, selalu saja berupaya untuk meraihnya. “Mun can beunang rasa panasaran teu weleh nempel tur roronjatan bari ngahontal eta buah, sanggeus beunang mah asa kacida pisan bagjana hate”. (LOL)

Kersen 2 Bagi yang pernah tinggal dipedesaan pasti mengenal yang namanya Pohon Kersen. Tapi itu dulu, sekarang tidak saja adanya didaerah pedesaan melainkan disekitar pinggir-pinggir jalan beberapa komplek atau perumahan yang berada ditengah kota masih bisa dijumpai, biasanya dijadikan sebagai tanaman peneduh atau penghijauan. Tapi masih tetap saja berbeda dengan jaman dulu, anak-anak sekarang mungkin sudah banyak yang tidak mengenal secara fisik buah tersebut. Selain dari rasanya yang tidak terlalu istimewa (meskipun manis), buah tersebut memang hampir tidak pernah diperjual-belikan dipasar tradisional atau swalayan yang ada disekitar tempat tinggal. Entahlah kalau didaerah lainnya. Sebagai fakta, sempat memberikan buah tersebut kepada anak kecil untuk dimakan dan si anak menolaknya dengan alasan belum mengenal buah tersebut. Dilain waktu, dengan objek yang sama “anak kecil”, meskipun si anak sebelumnya tidak mengenal buah tersebut, ia sempat mencicipinya tapi langsung dibuang begitu saja dengan dalih rasanya tidak enak.

31
Jul

Siapa yang tidak bahagia jika akan menghadapi hari yang ditunggu, hari esok yang menyenangkan. Dalam menyambutnya selalu dengan penuh semangat, disertai hati senang, riang dan gembira. Bahagia dalam hidup dihiasi hangatnya cinta dan damai yang didambakan esok hari. Cinta yang dapat membuat terbang dengan penuh semangat meninggalkan banyak sekali beban, sakit, stress dan frustasi.

Jika esok hari tiba, bahagia itu tetaplah nyata. Bersyukur memiliki waktu untuk dapat mengaji dan mengkaji diri sejauh mana prilaku yang diperbuat hingga dapat membenahinya dikemudian hari. Dengan itikad meraih berkah-Nya, rasanya tepat untuk menuangkan harapan nyata dan mencoba mengungkap hingga dapat mempelajari rahasia-rahasia yang masih tersembunyi. Untuk itu semua, berharap dilekatkan pada upaya membebaskan diri dari kebencian dan kecemasan, menjalani hidup sederhana hingga mampu memberi lebih banyak dan berharap lebih sedikit, mensyukuri nikmat serta senantiasa tersenyum. Senyum hangat menanti esok hari “ramadhan” tiba :-D

  • Membebaskan diri dari kebencian. Meyakini tidak ada kesalahan-kesalahan dan juga tidak ada kebetulan-kebetulan dalam hidup karena seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan Tuhan agar belajar darinya. Dapat meyakini pula ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, niscaya Tuhan telah menyiapkan hal lainnya.

Siapa yang tak kenal sampah? Sampah selalu ada dimana saja, terlebih di metropolitan yang lebih beragam antara sampah organik dan yang bukan. Tidak jarang ditemukan berserakan akibat prilaku orang yang tidak sadar kebersihan lingkungan.  Lain di kota lain pula di desa, sampah yang ada mungkin tidak melulu berbahaya. Sebut saja tai gergaji, ampas atau serpihan halus sisa dari kayu yang digergaji. Meskipun demikian, sampah ya tetaplah sampah. Jika tidak mengenal cara memanfaatkannya ya tidak akan berarti apa-apa. Tai gergaji pun keberadaanya tidak melulu di desa, saat ini banyak usaha mikro yang mengelola dan menjual kayu sebagai bahan bangunan meskipun letaknya agak dipinggir kota. Lalu, apakah benar ada manfaatnya?

Sedikit cerita dimasa kecil, namun tempat kejadian dan kapan persisnya sudah lupa, maklum sudah pikun. (malu)

Waktu itu diajak keluarga pergi kesebuah undangan hajatan disebuah desa. Ketika ditempat hajatan tersebut saya (selaku anak-anak) sempat berkeliling melihat sekitar area hajatan. Dan dibelakang rumah si mpunya hajat melihat sebuah tenda biru, eh entahlah warna tendanya apa? Lupa juga :-D Didalam tenda tersebut melihat seseorang yang sedang mengusap-usap “mengelap” piring-piring kotor “bekas makan para undangan”. Namanya juga anak-anak, kalau melihat sesuatu yang baru dilihatnya pasti pengen tahu, lalu saya pun bertanya tentang apa yang dikerjakan. Akhirnya diketahuilah dari sang pekertja bawasannya hal tersebut lagi membersihkan piring dengan tai gergaji. Lantas saya pun lanjut bertanya lagi, apakah bisa bersih? Sekalipun kotoran yang berlemak, itu akan terangkat “bersih” kilahnya. Dan memang pada kenyataanya yang terlihat itu bersih. Kalau sekarang berpikir lagi, apakah benar-benar bersih dengan mencuci tersebut? Entahlah, saya sendiri tidak pernah mencobanya.

23
Apr

Pedih dalam Perih

Related entries: Life, Psychology   Tags:, , ,

Masih mengukir mimpi meski tak seindah angan-angan yang hadir dipelupuk mata. Seringkali bertemu resah dan penyesalan atau bahkan keputus-asaan jika menghadapi sebuah realitas yang bersebrangan dengan harapan. Dan sebaliknya, suka-cita tercipta manakala keinginan hati terjumpai, riang dan senang ketika menang dari pengharapan. Itulah hidup, cerminan semua segi tercakup.

Life is suffering!” Seorang filsuf pernah berkata demikian, hal tersebut maksudnya tentu saja bukanlah penderitaan itu selalu hadir dalam setiap detiknya melainkan pada kenyataan dikehidupan ini memang tidak pernah semulus seperti yang diangankan. Selalu ada saja tantangan dan ujian yang membuahkan penderitaan, kemudian membuat diri terbebani. Terlebih jika ujian datang bertubi-tubi yang memungkinkan hadirnya keterpurukan seperti tak punya kesempatan untuk bernafas lebih panjang dengan menghadapi berbagai terpaan. Lalu, terwujudlah seberapa besar tingkat kesabaran yang dimiliki diri dari berbagai kondisi tersebut.

Memang diakui, tak selamanya diri terkungkung kesabaran hati, terlebih sesekali hadirnya perih dalam pedih atau pun pedih dalam perih. Sadar dan sabar! Lagi-lagi kesabaran diwajibkan, diri dituntut hidup sadar dalam kesabaran. Sadar tentang hadirnya ujian menuntut diri menyadari betul bahwasannya ujian itu sesungguhnya adalah tempaan agar menjadi lebih tangguh. Sadar dari hal tersebutlah lahirnya sebuah pembelajaran melatih kesadaran dan juga kesabaran yang kerap kali dirasakan terlalu mudah dilisankan.

Page 3 of 13Back12345Next...End

Free Translation Widget

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Pedih dalam Perih
[spoilergroup][spoiler intro="A"]Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka ba...

Ngaguar Basa tur Budaya Sunda

Pedih dalam Perih
Lain pedah sugih ku elmu jembar ku pangabisa, lain pedah oge jegud pangaweruh tur jembar k...

Links

Subscribe Us