KIP's Bandung

Entertainment's Articles

Berawal Tari Ketuk Tilu Pergaulan yang ditolak oleh masyarakat tari dengandasar-dasar tari rakyat dan pencak silat merupakan inti geraknya, tarian tersebut dikembangkan lagi dan diberi nama Tari Jaipongan.  Seni tari yang dikreasi oleh maestro Tari Jaipong Gugum Gumbira Tirasondjaya adalah karya seni baru dalam dunia tari Sunda, yang dasar-dasarnya tidak hanya diambil dari pencak-silat, tetapi dari berbagai seni tari rakyat yang tumbuh di berbagai wilayah di Jawa Barat.

Puluhan tahun sudah seni tari jaipongan tumbuh dan mengakar di Tatar Sunda. Seni tersebut bahkan sudah merambah keluar negeri. Pada awal pertumbuhannya di akhir 1970-1980-an dianggap sebagai seni tari yang berkonotasi “teu puguh” alias gak jelas dan negatif karena mengeksplorasi bagian-bagian sensitif tubuh perempuan. Pada kenyataanya, tari jaipongan itu tidaklah demikian, sehingga tarian semacam itu tumbuh subur terutama pada rakyat pesisiran.

Tari Jaipong Daun Pulus Keser Bojong dengan tabuhan musik karawitan atau lagu Serat Salira dan Bulan Sapasi bagi masyarakat Jawa Barat mungkin tidak asing lagi atau paling tidak sempat mendengarnya seperti halnya saya. (LOL)

Satu lagi film adaptasi novel akan hadir dalam waktu dekat yang diprediksikan kepopulerannya tidak jauh berbeda dengan “Ayat-ayat Cinta” dengan alasan mungkin “Laskar Pelangi” adalah film adaptasi novel yang paling ditunggu saat ini.

Seperti halnya “Ayat-ayat Cinta”, para pembaca novelnya sangat penasaran bagaimana jadinya jika cerita favorit mereka diangkat ke layar lebar. Shooting yang berlangsung sejak tanggal 25 Mei 2008 ini telah selesai dan siap edar di liburan Lebaran mendatang.

“Laskar Pelangi” yang diproduksi oleh Miles Films bekerja sama dengan Mizan Cinema Productions “B” Edutainment merupakan kisah tentang perjuangan guru dan sepuluh siswa di Belitong (sebutan lain untuk Belitung, sesuai dengan cara penduduk setempat mengungkapkan) untuk sebuah pendidikan.

Teringat habis jum’atan tadi, langsung menikmati segelas kopi hangat, mana enak… mungkin kata kebanyakan orang begitu. Tapi, lain halnya dengan saya, kalau sehabis makan, entah itu makan siang atau malam bawaanya sebel jadi obatnya segelas kopi hangat mmhh… nikmatlah he…

Saat ini pun, sambil menyeruput segelas kopi dan ditemani sebatang rokok yang mengepul, saya mendengarkan lagu milik afgan. Jadi teringat dari kebiasan lain juga yaitu kalau belum tidur ya anteng didepan komputer dan kalau lagi ga ada siapa2, yang menjadi teman hanyalah sebuah televisi butut yang diandalkan suaranya saja karena sangat jarang melototi visualnya, jadi yang menemani hanyalah audionya saja biar terkesan tidak sepi alias rame (sekalian dengar berita). Sesekali sih nengok juga khususnya acara komedi dan musik.

Bicara soal Afgan lagi, setelah cerita tentang lagu dan hobinya, beberapa hari kebelakang pernah dengar sebuah infotainment (entah apa namanya gak begitu memperhatikan), cuma yang terdengar disitu seorang Afgan bercerita bahwa dirinya sangat benar-benar pemalu dalam kesehariannya tetapi jika sudah bernyanyi di atas stage, dia bisa total dan meledak-ledak tanpa diikuti kebiasaannya itu (sifat pemalunya). Saya rasa hal tersebut patut diacungi jempol, berarti dia seorang yang belajar profesional dalam menghadapi pekerjaanya. Salut yang pertama buat Afgan.

Akhirnya, setelah sekian lama tidak memperhatikan acara Super-superan tuh, kemarin melihat lagi. Seperti bunglon saja tuh, karena menurut saya acara tersebut merupakan acara yang hampir sama dengan super celeb yang telah berlalu, cuma berganti-ganti nama saja, dari Super Celeb menjadi Super Star dan berubah lagi menjadi Super Soulmate.

Acaranya masih dibawakan Eko Patrio dan Ruben Onsu, dengan komentator Ivan Gunawan, Pongky Barata dan Lusi Rahmawati yang telah memasuki 8 pasang peserta Super Soulmate yang akan memperebutkan hadiah satu buah mobil.

I’ve been waiting for my dreams
To turn into something
I could believe in
And looking for that
Magic rainbow
On the horizon
I couldn’t see it
Until I let go
Gave into love and watched all the bitterness burn
Now I’m coming alive
Body and soul
And feelin’ my world start to turn

And I’ll taste every moment
And live it out loud

Itulah sebagian dari singel milik pemenang American Idol Season 7 yang baru saja selesai dengan judul “The Time of My Life” by David Cook sebagai Sang jawara.

Ketenarannya yang bisa dirasakan suatu gebrakan mendadak yang sangat heboh, seorang Afgan banyak dinilai berpenampilan “Cupu” banget, kata orang2 sih begitu. Apa iya? Saya sendiri gak ngerti bahasa2 prokem atau bahasa gaul atau bahasa apalah kategorinya, jadi kategori akan Afgan seorang yang cupu sama sekali tidak tahu. Nah, kalau memang mau menggolongkan seorang Afgan cupu atau tidaknya, mungkin bisa diketahui sifat dan prilaku kesehariannya. Disini ada sekelumit cerita tentangnya, khususnya mengenai hobinya. Dibalik pendapat cupu tidaknya, jujur saja saya sendiri termasuk pengagumnya, Tetapi khusus pada masalah kualitas vokalnya saja. Lagu “Terima Kasih Cinta ” yang dinyanyikan Afgan itu benar-benar menjadi hits di mana-mana.

Karakter suara Afgan memang luar biasa sehingga bisa menjerat orang banyak. Penampilannya pun cukup enak dilihat kalau sedang bernyanyi. Itu karena ia belajar dari konser-konser musik yang ia tonton lewat DVD. Itulah hobinya. Kalau bukan konser musik, pasti film.

Afgan, demikian sapaan akrab lelaki berkacamata ini, termasuk orang yang ramah senyum. Ia bercerita tentang hobinya. Konon ada cerita menarik seputar namanya.

Page 1 of 41234

Advertisment

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Afgan Syah Reza dan Hobinya
Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka batur, tapi boga hate luhur, tungtungna...

Links

Subscribe Us