<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Economic</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/kategori/economic/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Jan 2012 16:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Harta dan Keangkuhan</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/harta-dan-keangkuhan.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/harta-dan-keangkuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 03:17:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economic]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Keangkuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesombongan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/harta-dan-keangkuhan.html</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#60;</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/03/Rich.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2460" title="Rich" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/03/Rich.jpg" alt="" width="150" height="139" /></a>Tertulis dalam &#8220;Sang Nabi&#8221; karya Kahlil Gibran, &#8220;Manusia-manusia yang tidak pernah miskin, sedikit kaitannya degan tingkatan material atau spiritual seseorang, melainkan lebih pada seberapa baik dan seberapa bisa ia menikmati dan mensyukuri hidupnya. Begitu kemampuan menikmati dan mensyukuri terakhir melekat dalam kehidupan seseorang, maka masuklah ia dalam kelompok manusia yang tidak akan pernah miskin.&#8221;</p>
<p>Kalau menyimak paragraf diatas mungkin sedikit menghibur, dimana kekayaan tidak melulu dipandang dari segi materi melainkan dari kemampuan menikmati dan mensyukurinya. Tetapi sangat mendasar sekali, bukan karena tidak dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan, pada kenyataannya sangatlah terdapat kesenjangan sosial yang cukup tinggi, yang mana &#8220;si miskin materi&#8221; kerap kali kesulitan untuk menyeimbangkan diri dengan &#8220;si kaya harta.&#8221;</p>
<p><span id="more-458"></span></p>
<p>Permasalahan finansial saat ini sudah sangat umum. Masalah ini tidak lain ujung-ujungnya menyangkut masalah keberadaan ekonomi seseorang. Yang pada kenyataannya di kehidupan kita, tolak ukur kekayaan terkadang didak jauh berbeda dengan tolak ukur kesuksesan, dimana bisa dilihat dari &#8216;sudah mampukah membeli mobil&#8217; dan &#8216;berapa mobilkah yang dipunyai&#8217;.</p>
<p>&#8216;Sudah memiliki&#8217; dan &#8216;belum memiliki&#8217;, keduanya berbeda dan berdampak pada stigma yang melekat pada masing-masing individu. Anggapan sederhananya, yang sudah punya mobil tentu lebih kaya dibanding yang tidak punya mobil, yang sudah punya dua biji tentu lebih berduit ketimbang yang baru punya satu.</p>
<p>Dalam konteks kita, saya rasa anggapan ini selalu benar adanya, atau minimal dapat dibenarkan. Naik BMW keluaran terbaru tentu lebih kece ketimbang angkutan umum atau mengendarai sebuah motor, padahal fungsi keduanya sama, tetapi nilai barang tersebut seolah mempengaruhi strata sosial dan ekonomi penumpangnya. Ini menegaskan bahwa mobil selain sebagai alat transportasi, sekaligus juga bisa merambah pada makna lainnya, seperti simbol kesuksesan dan prestise.</p>
<p>Sama halnya ketika pesawat televisi awal mulanya ketika dikenal, fungsinya tak cuma sebagai media hiburan dan informasi, tapi juga mendongkrak gengsi. Orang yang menyedot informasi dan hiburan dari televisi hitam putih seakan sangat berbeda dengan orang menyaksikan dari sebuah televisi berwarna.</p>
<p>Di tengah rasa sungkan untuk menyoal kesenjangan ekonomi dan kecemburuan sosial yang masih tinggi di negeri ini, mobil-mobil kelas premium justru makin banyak wira-wiri. Mobil sebagai alat transportasi, dan mobil sebagai pengangkat citra diri, keduanya selalu berada dalam posisi tawar-menawar.</p>
<p>Masalah tawar-menawar, bukan saja dalam hal seperti diatas, dalam kebersamaan untuk pemecahan suatu permasalahan lain pun terkadang sangat sulit diadakan. Tanggapan yang muncul hanyalah ego yang seantiasa bagi kaum lemah semakin merasa terpojokan. Tapi gambaran tersebut hanyalah berlaku bagi sebagian kaum saja, saya sangat meyakini masih ada orang2 yang perduli terhadap kebaikan dan kemajuan bersama. Amiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/harta-dan-keangkuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Financial Freedom, Makna Kaya Dan Makmur</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/financial-freedom-makna-kaya-dan-makmur.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/financial-freedom-makna-kaya-dan-makmur.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2008 12:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economic]]></category>
		<category><![CDATA[Financial]]></category>
		<category><![CDATA[Freedom]]></category>
		<category><![CDATA[Kaya]]></category>
		<category><![CDATA[Makmur]]></category>
		<category><![CDATA[Makna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/financial-freedom-makna-kaya-dan-makmur.html</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#60;</p>
<p>&#60;</p>
<p>&#60;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/Duit-ku.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2318" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Duit ku" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/Duit-ku-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Demi asa tersisa, mengacuhkan segala situasi yang ada, mencoba menunjukan bahwa betapa besar hasrat untuk dapat meraih kebebasan finansial. Dari gambar yang ada, kasihan banget ya, cuma serebu perak lebih dikit tuh, kalaupun ada yang sudi menambahkan, gak malu kok, dengan senang hati silahkan he&#8230;.</p>
<p>Mencoba mengupas masalah finansial rasanya cukup perlu, ini hanya sekedar mengingatkan pada diri sendiri saja, dengan harapan menjadi motivasi untuk dapat memahami dan me-<em>manage</em>masalah finacial dengan baik. Syukur-syukur dapat bermakna bagi yang sudi membacanya he&#8230;</p>
<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/money.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2319" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="money" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/money.jpg" alt="" width="135" height="135" /></a>Saya rasa dalam hidup ini bukanlah hal yang ganjil jika semua dari kita ingin kaya, apalagi jika di pandang dari sudut umum realitas kehidupan yang berjalan. Dengan cakupan global yang tidak memandang segi kelas pada masyarakat, baik yang memahami detail mengenai makna kaya yang sebenarnya ataupun bagi yang belum memahaminya dimana mengidentikan makna kaya itu hanya pada harta benda belaka. Bagi yang berwawasan luas pemahamannya mungkin sudah diluar kepala. Disini hanya mencoba menuangkan sedikit gambaran yang tersirat dalam benak (persepsi atau asumsi yang tidak pasti) mengenai apa bedanya kaya (<em>rich</em>) dan makmur (<em>wealthy</em> )?</p>
<p><span id="more-311"></span></p>
<p>Kaya biasanya didefinisikan memiliki aset atau harta yang relatif lebih banyak daripada orang kebanyakan. Misalnya orang yang mampu mempunyai rumah yang harganya ratusan juta rupiah, atau bahkan bernilai miliaran rupiah dapat disebut kaya. Seharusnya, yang lebih bijak mendefinisikan kaya itu sebagai gambaran dari aset bersih yang dimiliki seseorang. Maksudnya, harta yang dimiliki itu harus dikurangi dengan utangnya. Sementara saat ini, sebuah zaman yang marak dengan kartu kredit, banyak orang yang kelihatan kaya, sebenarnya mungkin tidak kaya, jika aset bersihnya relatif minim dan sebagian besar asetnya dibiayai dengan utang. Siapa ya?</p>
<p>Mengenai definisi makmur, menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya<em>Cashflow Quadrant</em> (1998), adalah lamanya seseorang dapat mempertahankan standar hidupnya tanpa dia atau anggota keluarga lain harus bekerja.</p>
<p>Kemakmuran merupakan kemampuan aliran kas dari aset produktif atau penghasilan pasif seseorang yang memenuhi standar kehidupan normalnya. Jika satuan kekayaan adalah rupiah, satuan kemakmuran adalah waktu (bulan).</p>
<p>Sebagai contoh, jika pengeluaran bulanan Anda 5 juta rupiah dan aset likuid lOO juta rupiah, kemampuan untuk bertahan hidup normal tanpa harus bekerja adalah 20 bulan. Jika aset itu produktif, akan mampu bertahan lebih lama yakni lebih dari 20 bulan.</p>
<p>Jika aset mampu menopang kehidupan selama beberapa dekade kedepan atau menghasilkan kas lebih dari 5 juta per bulan dalam contoh diatas, maka dikatakan telah mencapai kebebasan finansial (<em>financial freedom</em>). Kapan pun tidak akan tergantung pada siapapun dalam soal keuangan.</p>
<p>Menurut Kiyosaki pula, orang kaya belum tentu makmur, apalagi bebas finansial. Yang ingin kita raih adalah bukan kekayaan, tetapi kebebasan finansial.</p>
<p>Jika kebanyakan orang berpikir permasalahan utama hidup adalah uang, sehingga dianggapnya uang akan lebih banyak memecahkan masalah, mungkin tidak selalu benar. Karena yang terjadi, saat penghasilan naik, pengeluaran hidup pun meningkat, apalagi bagi yang memiliki kartu kredit, jika penggunaan kartu kredit itu aktif, akan mengakibatkan utang yang membengkak. Jadi dalam hal ini menunjukan bahwa uang tidak selalu menjadi alat pemecahan masalah, karena bertambahnya utang sehingga menjadikan semakin jauh dari kebebasan finansial.</p>
<p>Mungkin yang terpenting adalah bukan berapa banyak uang yang dapat dihasilkan, melainkan berapa banyak uang yang dapat disimpan dan berapa lama uang itu dapat membiayai kehidupan kita. Andai saja tidak memahami cara pengendaliannya, meskipun jumlahnya jutaan dolar AS (ekuivalen dengan miliaran rupiah), uang akan masuk dan keluar dengan begitu cepatnya. Tanpa memikirkan untuk membeli aset produktif seperti saham, obligasi, atau properti untuk disewakan, melainkan akan membeli rumah yang lebih besar dan mobil yang lebih mewah, yang ujung-ujungnya, uang akan segera habis dan utang kembali muncul.</p>
<p>Salah satu contoh yang mungkin masih diingat yaitu kisah Mike Tyson, juara dunia tinju yang jatuh miskin, hanya beberapa tahun setelah dia tidak lagi bertanding. Saat jayanya, Mike mampu menghasilkan jutaan dolar AS hanya dari sekali bertanding.<br />
Mungkin salah satu penyebabanya mungkin kurang memahami kecerdasan finansial. Masalahnya pemahaman mengenai uang ini tidak diajarkan di sekolah. Sekolah hanya menekankan kemampuan skolastik dan profesional, dan bukan kemampuan keuangan yang merupakan ilmu menghadapi kehidupan yang diperlukan semua orang, atau pembelajaran <em>personal finance</em> yaitu bidang ilmu yang sangat diperlukan untuk perencanaan dan pengelolaan keuangan pribadi dan keluarga.</p>
<p>Jika banyak sekali orang yang hidupnya sangat dikuasai uang. Sepatutnya yang bijak itu adalah kita yang menguasai uang, bukan dikuasai uang. Jika rumah yang harganya ratusan juta rupiah sudah nyaman, buat apa beli rumah baru yang lebih besar dengan harga miliaran rupiah? Jika mobil yang masih berumur dua tahun sudah memberikan banyak kemudahan, buat apa memaksakan diri membeli mobil baru yang lebih mahal dengan berutang?</p>
<p>Kalau saja kita telah mampu dalam hal keuangan, sudah seharusnyalah membeli aset produktif, bukan aset konsumtif. Karena aset produktif mendatangkan kas masuk sedangkan aset konsumtif menyebabkan kas keluar.</p>
<p>Rumah dan mobil lebih tepat dikelompokkan sebagai kewajiban dan bukan aset. Terkecuali rumah atau properti yang dapat disewakan dengan memberikan return tahunan adalah investasi, tetapi rumah yang ditinggali atau yang tidak disewakan adalah kewajiban. Membeli rumah yang lebih besar atau mobil baru dapat dilakukan setelah mencapai kebebasan finansial tentunya dengan menggunakan penghasilan pasif dari saham, obligasi, usaha, dan properti yang dimiliki.</p>
<p>Pada intinya, kunci menuju kebebasan finansial adalah mampu mengendalikan diri dan dapat memisahkan keinginan dari kebutuhan. Uang tidak akan pernah menyelesaikan masalah jika selalu terobsesi untuk memenuhi semua keinginan, sedangkan kebebasan finansial adalah hasil proses mental dalam memandang dan memahami uang. Membuat uang &#8216;bekerja&#8217; itulah yang harus dicapai sehingga mejadikan bebas finansial. Amiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/financial-freedom-makna-kaya-dan-makmur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Money Illusion</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/money-illusion.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/money-illusion.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 14:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economic]]></category>
		<category><![CDATA[Illusion]]></category>
		<category><![CDATA[Money]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/money-illusion.html</guid>
		<description><![CDATA[Jika saat ini menyimpan uang pada deposito perbankan, perlukah peduli tentang topik ini? he&#8230;
Money Illusion, Ilusi uang.
Cerita kurang lebihnya mungkin seperti ini. Uang Rp 300 juta didepositokan di bank dengan bunga 10% pertahun. Berarti bunga bersihnya 8% karena ada pajak 20% atas bunga.
Setelah lima tahun uang sudah beranak pinak menjadi sekitar Rp 440,8 juta. Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2007/10/money.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2200" title="money" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2007/10/money.jpg" alt="" width="135" height="135" /></a>Jika saat ini menyimpan uang pada deposito perbankan, perlukah peduli tentang topik ini? he&#8230;</p>
<p>Money Illusion, Ilusi uang.</p>
<p>Cerita kurang lebihnya mungkin seperti ini. Uang Rp 300 juta didepositokan di bank dengan bunga 10% pertahun. Berarti bunga bersihnya 8% karena ada pajak 20% atas bunga.</p>
<p>Setelah lima tahun uang sudah beranak pinak menjadi sekitar Rp 440,8 juta. Jika nominal uang dipakai sebagai ukuran, maka uang bertambah banyak hampir satu setengah kali lipat. Permasalahannya: apakah berarti pula telah beruntung satu setengah kali lipat dari lima tahun sebelumnya?</p>
<p><span id="more-115"></span></p>
<p>Mungkin bisa termasuk salah satu yang serta merta menjawab &#8216;ya&#8217;, karena Rp 440,8 juta memang hampir satu setengah kali Rp 300 juta. Seorang Ekonom tidak akan serta merta menjawab &#8216;ya&#8217;. Karena hal ini bisa jadi sedang merugi. Tengoklah dahulu seberapa besar peningkatan harga-harga barang selama lima tahun itu.</p>
<p>Jika tahun ini kita dapat membeli sepiring nasi goreng Rp 5 ribu. tetapi lima tahun ke depan harga sepiring nasi goreng yang sama menjadi Rp 10 ribu, maka seorang ekonom akan menjawab hal ini merugi. Jika harga barang-barang lain bergerak hampir sama sebagaimana nasi goreng tadi, berarti selama lima tahun itu harga telah meningkat dua kali lipat.</p>
<p>Berarti walaupun jumlah nominal uang naik satu setengah kali lipat menjadi Rp 440,8 juta, sejatinya nilai riil uang tersebut tinggal Rp 220,4 juta. Lebih rendah dari uang semula yaitu Rp 300 juta. Dalam hal ini berarti merugi. Ini gambaran sederhana ilusi uang. Seseorang mungkin merasa nyaman, berflkir kekayaannya tidak berkurang, bahkan merasa meningkat beberapa lipat, padahal sedang merugi, tanpa disadari. Fenomena ini dialami oleh banyak orang.</p>
<p>Skenario yang kita susun di atas memang terkesan ekstrim: selama lima tahun harga meningkat dua kali lipat, Ini memang untuk memudahkan kita segera menangkap fenomena tipuan nominal uang kekayaan kita. Walaupun begitu, ini mungkin hanya sebagai contoh saja. Dari catatan lama, situasi seperti ini pernah terjadi pada perekonomian Inggris sekitar 1975-1980. Inflasi sangat tinggi di atas 15%, sementara suku bunga simpanan maupun pinjaman sekitar 7% &#8211; 8%.</p>
<p>Dalam situasi inflasi tinggi sementara suku bunga bank rendah sebagaimana skenario kita tadi, alih-alih disimpan dalam deposito, akan lebih bijak jika uang Rp300 juta dibelikan rumah (apa iya? maklum kebelet pengen punya rumah nih). Bertahan dengan skenario yang sama, maka setelah lima tahun harga rumah menjadi Rp 600 juta. Harus diingat, dalam skenario kita, harga meningkat dua kali lipat selama lima tahun, sehingga kita anggap kenaikan harga rumah segaris dengan harga barang lain.</p>
<p>Secara nominal uang membengkak dua kali lipat dari Rp 300 juta menjadi Rp 600 juta selama lima tahun, tetapi sebenarnya hanya dalam kondisi impas. Pasalnya, nilai riil uang pada saat itu bukan Rp 600 juta tetapi Rp 300 juta. Walaupun tidak untung, situasi ini lebih balk dibanding menyimpan uang pada deposito, yang dalam contoh di atas nilai riil uang turun menjadi Rp 220,4 juta. Hitung-hitungan kita ini juga belum memasukkan tambahan keuntungan dari nilai sewa rumah selama lima tahun.</p>
<p>Kini kita tahu kenapa sering kita dengar orang mengatakan: salah satu keunggulan investasi di sektor properti adalah kemampuannya meredam infiasi. Cerita sederhana di atas itulah penjelasannya.</p>
<p>Semoga dari tulisan ini tidak disalahpahami bahwa investasi pada properti pasti lebih untung dibanding deposito. Bukan demikian, Dengan menggunakan kerangka pikir ilusi uang, tentu akan lebih bijak menentukan pada jenis investasi apa uang harus diparkir.</p>
<p>Pemahaman fenomena ilusi uang juga membantu kita menjelaskan kenapa makin hari uang gaji kita makin tidak cukup untuk kebutuhan sebulan. Tiga tahun lalu kita masih bisa menyisihkan sebagian untuk cadangan. Sekarang, untuk bisa tidak tombok saja perlu perjuangan ekstra.</p>
<p>Bagi yang telah terlanjur menganggap istri makin boros, ada baiknya berpikir ulang, Hati-hati. Boleh jadi terkena ilusi uang: merasa penghasilan tidak mengalami penurunan, padahal sebenarnya turun dari segi kemampuan daya belinya. Wallahualam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/money-illusion.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

