<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Cultural</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/kategori/cultural/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Aug 2010 20:02:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Bobodoran Astrajingga alias Cepot</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/bobodoran-astrajingga-alias-cepot.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/bobodoran-astrajingga-alias-cepot.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 02:37:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[Astrajingga]]></category>
		<category><![CDATA[Cepot]]></category>
		<category><![CDATA[Dawala]]></category>
		<category><![CDATA[Gareng]]></category>
		<category><![CDATA[Golek]]></category>
		<category><![CDATA[Punakawan]]></category>
		<category><![CDATA[Semar]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=2951</guid>
		<description><![CDATA[Selain kesenian dan makanan daerah yang sempat dituangkan dalam tulisan yang lalu, ada lagi yang menarik perhatian dari budaya daerah untuk dituangkan disini. Ya, mengenal watak atau prilaku bodor Si Cepot alias Astrajingga. Tokoh fenomenal yang hidup sepanjang masa. Si Cepot sih gak bakal mati karena tidak bernyawa, yang hidup mati itu orang yang melestarikanya. [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/07/Astrajingga-alias-Cepot.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2959" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Astrajingga alias Cepot" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/07/Astrajingga-alias-Cepot.jpg" alt="" width="150" height="200" /></a>Selain <a href="http://kipsaint.com/isi/rumingkang-di-tatar-parahyangan.html" target="_self">kesenian</a> dan <a href="http://indrapermana.net/eusi/pencok-hiris.html" target="_blank">makanan</a> daerah yang sempat dituangkan dalam tulisan yang lalu, ada lagi yang menarik perhatian dari budaya daerah untuk dituangkan disini. Ya, mengenal watak atau prilaku bodor Si Cepot alias Astrajingga. Tokoh fenomenal yang hidup sepanjang masa. Si Cepot sih gak bakal mati karena tidak bernyawa, yang hidup mati itu orang yang melestarikanya. <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Siapa itu Si Cepot? Rasanya sudah tidak asing lagi nama tokoh tersebut. Apalagi sebagai orang sunda, ada istilah &#8220;<em>mun teu apal saha eta si cepot, ulah wara ngaku urang sunda</em>&#8221; kalau gak hapal siapa itu Si Cepot jangan mengaku orang sunda. Si Cepot alias Astrajingga yaitu salah satu tokoh yang terdapat dalam pewayangan &#8220;Wayang Golek&#8221;, berwajah merah dengan prilaku bodor atau suka bercanda.  Astrajingga adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen (sebetulnya Cepot lahir dari saung). Sastra artinya tulisan, sedangkan Jingga adalah gambaran tokoh wayang yang mempunyai kelakuan buruk ibarat seorang siswa yang memiliki lapor merah. Meski demikian kehadirannya selalu dinanti-nanti. Wataknya humoris, suka banyol ngabodor, tidak peduli kepada siapa pun baik ksatria, raja maupun para dewa. Kendati begitu lewat humornya dia tetap memberi nasehat petuah dan kritik.</p>
<p>Selain Astrajingga, terdapat tiga tokoh lagi yang selalu menjadi pusat perhatian yakni ayahnya (Semar) dan kedua adiknya (Dawala &amp; Gareng). Keempat tokoh ini disebut pula sebagai tokoh Punakawan, artinya  sebutan bagi empat orang abdi yang bertugas sebagai penasihat dan pemberi petuah bijak bagi para tokoh Pandawa. Salah satu tokoh yang menjadi ikon pewayangan adalah tokoh Astrajingga.<span id="more-2951"></span></p>
<p>Biasanya seorang dalang menampilkan si Cepot beserta tokoh kocak lainnya disela-sela cerita sedang tegang, atau di tengah-tengah cerita. Dengan pembawaan watak yang kocak dan lucu si Cepot selalu menemani para ksatria, terutama Arjuna dan Ksatria Madukara. Oleh dalang, si Cepot digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan bebas bagi para penonton baik itu nasihat, kritik maupun petuah dan sindiran yang dikemas dalam guyonan. Dalam berkelahi atau perang, Sastrajingga biasa ikut dengan bersenjata bedog alias golok. Dalam pengembangannya Cepot juga punya senjata panah. Para denawa (raksasa/buta) biasa jadi lawannya.</p>
<p>Kedua adik Astrajingga juga tidak kalah kocak dengan kakaknya. Dawala adalah tokoh pewayangan yang digambarkan memiliki hidung mancung, muka bersih serta memiliki sifat sabar, setia dan penurut. Kelemahan yang ditonjolkan pada tokoh ini adalah kurang cerdas dan tidak begitu terampil. Sementara adik kedua Astrajingga setelah si Dawala adalah  Gareng. Ia pun memiliki karakter lucu dan kocak. Dalam tokoh pewayangan Gareng adalah anak bungsu.</p>
<p>Personally, I love Cepot. How about you?</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/bobodoran-astrajingga-alias-cepot.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumingkang di Tatar Parahyangan</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/rumingkang-di-tatar-parahyangan.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/rumingkang-di-tatar-parahyangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 23:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Jaipongan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumingkang]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>
		<category><![CDATA[Tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=2927</guid>
		<description><![CDATA[Berawal Tari Ketuk Tilu Pergaulan yang ditolak oleh masyarakat tari dengandasar-dasar tari rakyat dan pencak silat merupakan inti geraknya, tarian tersebut dikembangkan lagi dan diberi nama Tari Jaipongan.  Seni tari yang dikreasi oleh maestro Tari Jaipong Gugum Gumbira Tirasondjaya adalah karya seni baru dalam dunia tari Sunda, yang dasar-dasarnya tidak hanya diambil dari pencak-silat, tetapi [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/06/Jaipongan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2934" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Jaipongan" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/06/Jaipongan-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Berawal Tari Ketuk Tilu Pergaulan yang ditolak oleh masyarakat tari dengandasar-dasar tari rakyat dan pencak silat merupakan inti geraknya, tarian tersebut dikembangkan lagi dan diberi nama Tari Jaipongan.  Seni tari yang dikreasi oleh maestro Tari Jaipong Gugum Gumbira  Tirasondjaya adalah karya seni baru dalam dunia tari Sunda, yang  dasar-dasarnya tidak hanya diambil dari pencak-silat, tetapi dari  berbagai seni tari rakyat yang tumbuh di berbagai wilayah di Jawa Barat.</p>
<p>Puluhan tahun sudah seni tari jaipongan tumbuh dan mengakar di Tatar Sunda. Seni tersebut bahkan sudah merambah keluar negeri. Pada awal pertumbuhannya di akhir 1970-1980-an dianggap sebagai seni tari yang berkonotasi &#8220;teu puguh&#8221; alias gak jelas dan negatif karena mengeksplorasi bagian-bagian sensitif tubuh perempuan. Pada kenyataanya, tari jaipongan itu tidaklah demikian, sehingga tarian semacam itu tumbuh subur terutama pada rakyat pesisiran.</p>
<p>Tari Jaipong <em>Daun Pulus Keser Bojong</em> dengan tabuhan musik karawitan atau lagu <em>Serat Salira</em> dan <em>Bulan Sapasi</em> bagi masyarakat Jawa Barat mungkin tidak asing lagi atau paling tidak sempat mendengarnya seperti halnya saya. <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-2927"></span>Kini, saatnya generasi muda menjunjung tinggi dan mengembangkan budaya sebagai sesuatu hal yang patut dibanggakan. Apalagi <em>rumingkang di tatar parahyangan</em>, sudah sepatutnya seperti “Grup Rumingkang” meski masih belia tidak malu berkompetisi dengan mengusung tarian daerah.</p>
<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/06/Rumingkang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-2936" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Rumingkang" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/06/Rumingkang-300x188.jpg" alt="" width="300" height="188" /></a>Rumingkang, salah-satu peserta “Indonesia Mencari Bakat” yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi swasta. Kelima mojang geulis yang masih belia asal Kota Bandung, masih kanak-kanak dan duduk di bangku sekolah dasar; Febi Laniarti Rizki (12), Nurul Fitri Anggraenie (12), Aulia Permatasari (11), Elsa Khoerunnisa (10) dan Shenie Indriani (9) bercita-cita yang begitu mulia, selain berharap menjadi penari professional juga menginginkan Tari Jaipongan lebih dikenal khlayak ramai. Karena sangat jarang di era globalisasi sekarang ini ada anak-anak dengan profesinya mengusung seni tradisi (daerah). Tergabung dalam sebuah grup tari “Rumingkang”, asuhan Buyung Rumingkang, mereka menampilkan Tari Jaipong gaya baru yang membutuhkan stamina prima, tarian dengan banyak unsur gerak, seperti pencak silat, ketuk tilu maupun tarian modern, dan terselip unsur komedi pula. Mereka memang layak diacungi jempol, angkat topi buat kelimanya dan juga pelatihnya.</p>
<p>Salut <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mereka sangat membutuhkan dukungan masyarakat Jawa Barat untuk mendorong keinginan mewujudkan cita-citanya menjadi penari profesional dan melestarikan tari Jaipongan. Semoga banyak hati tersentuh hingga merasa bangga terhadap budayanya sendiri.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/rumingkang-di-tatar-parahyangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Car Free Day, Menghirup Udara Segar dipagi Hari</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/car-free-day-menghirup-udara-segar-dipagi-hari.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/car-free-day-menghirup-udara-segar-dipagi-hari.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 18:03:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[Health]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Car Free Day]]></category>
		<category><![CDATA[Dago]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=2905</guid>
		<description><![CDATA[Memang bukan tema yang hangat karena cerita ini sudah berjalan dari beberapa waktu kebelakang. Kebetulan dalam dua pekan berturut-turut (setiap minggu pagi) menjambangi daerah yang mengais cap &#8220;Car free day&#8220;. Dalam hiruk-pikuk sebuah kota sudah barang tentu menjadi impian setiap penghuninya dapat menghirup udara segar dipagi hari, terlebih di Kota Bandung dimana sudah dikenal lama [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://kipsaint.com/isi/30-menit.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: 30 Menit'>30 Menit</a> <small>Kabar dari minggu pagi, tergopoh-gopoh dan &#8220;hus-hos bari jeung hah...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-022.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2907" style="margin: 0px 10px;" title="kips-022" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-022-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Memang bukan tema yang hangat karena cerita ini sudah berjalan dari beberapa waktu kebelakang. Kebetulan dalam dua pekan berturut-turut (setiap minggu pagi) menjambangi daerah yang mengais cap &#8220;<em>Car free day</em>&#8220;.</p>
<p>Dalam hiruk-pikuk sebuah kota sudah barang tentu menjadi impian setiap penghuninya dapat menghirup udara segar dipagi hari, terlebih di Kota Bandung dimana sudah dikenal lama memiliki udara yang sejuk, segar dan lingkungan yang nyaman. Dari itulah mendengar kabar adanya <em>event</em> tersebut merasa senang dan menjadi jawaban atas harapan yang ada, dapat berolah-raga dengan jalan kaki meskipun hanya <a href="http://kipsaint.com/isi/30-menit.html">30 menit</a> saja dan sekaligus menghirup udara segar yang selama ini rasanya kurang ternikmati. (doh)  Ini mah akibat ulah sendirinya saja yang hampir gak pernah olah-raga pagi dalam waktu yang cukup lama, tapi beberapa bulan terakhir rajin kok. <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Seperti nampak digambar, sejumlah warga memenuhi ruas jalan Dago saat &#8220;<em>Car Free Day</em>&#8220;. Saya pun gak mau ketinggalan numpang berlalu-lalang disana. Sungguh menarik sekali menikmati program hari bebas kendaraan bermotor tersebut walaupun hanya berlaku beberapa jam saja setiap minggunya. Dengan bebasnya, warga berolah raga di Jalan Dago, tepatnya mulai persimpangan Dago-Cikapayang hingga Dago-Dipati Ukur. Dipenggalan Jalan Dago itu, rasanya haram bagi kendaraan bermotor untuk melintas. Dan PKL pun dijadikan rasa enggan untuk berjualan meskipun masih ada satu dua yang nampak karena memang bukan tempatnya. Membuat Jalan Dago saat <em>event</em> berlaku ibarat taman firdaus warga yang haus akan udara segar dan kebebasan beraktifitas sehat. Sungguh senang sekali karena sudah lama ingin merasakan udara kawasan Bandung yang segar seperti dulu.</p>
<p><span id="more-2905"></span><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-002.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2906" title="kips-002" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-002-300x240.jpg" alt="" width="270" height="216" /></a> <a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-004.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2908" title="kips-004" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-004-300x240.jpg" alt="" width="270" height="216" /></a></p>
<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-007.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2913" title="kips-007" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-007-300x240.jpg" alt="" width="270" height="216" /></a> <a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-0091.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2912" title="kips-009" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-0091-300x240.jpg" alt="" width="270" height="216" /></a></p>
<p>Gambar diatas menunjukan suasana di Jalan Dago yang bersih dari asap kendaraan bermotor dan jalan pun serasa jadi milik kaum pejalan kaki saja. Selain jalan itu hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, dijadikan juga sebagai tempat pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan. Selain itu, kawasan tersebut juga dijadikan tempat rekreasi dan tempat berolahraga tentunya meskipun dengan sekedar bulutangkis dipinggir jalan atau sekedar berjalan kaki. Apapun kegiatan yang dilakukan, merupakan kegiatan yang bersih dari polusi, baik itu polusi udara, maupun sampah yang dibuang ke jalanan.</p>
<p>Sebagai salah seorang warga Bandung pasti merasakan senang dengan adanya  suasana tersebut, terlebih menjawab sedikit uneg-uneg yang sempet  ditorehkan dalam <a href="http://indrapermana.net/eusi/basa-teh-ciciran-bangsa.html" target="_blank">tulisan waktu lalu</a> dirumah sebelah, terlihat dalam beberapa (khususnya 3) gambar terakhir.</p>
<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-001.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-2910" title="kips-001" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-001-300x240.jpg" alt="" width="270" height="216" /></a><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-008.jpg"> <img class="alignnone size-medium wp-image-2911" title="kips-008" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/05/kips-008-300x240.jpg" alt="" width="270" height="216" /> </a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://kipsaint.com/isi/30-menit.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: 30 Menit'>30 Menit</a> <small>Kabar dari minggu pagi, tergopoh-gopoh dan &#8220;hus-hos bari jeung hah...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/car-free-day-menghirup-udara-segar-dipagi-hari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngamumule basa, Seratan Bakat Ku&#8230;.</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/ngamumule-basa-seratan-bakat-ku.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/ngamumule-basa-seratan-bakat-ku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jan 2008 17:11:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[basa]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/ngamumule-basa-seratan-bakat-ku.html</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#60;</p>



No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/Basa-Sunda.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2340" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Basa Sunda" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/Basa-Sunda.jpg" alt="" width="102" height="72" /></a>Saleresna mah sim abdi teh masih ngatog dina masalah ngadamel seratan. Ieu masih keneh lebeng, teu kaemutan upami bade ngawitan nyerat nu sae teh, ngawitanana kumaha sareng kedah kumaha oge supados hasilna sae. Tapi sigana upami teu ngawantunkeun diri mah salamina oge pasti moal tiasa-tiasa, janten ayeuna abdi ngawantun-wantun wae ngadamel seratan nu teu pararuguh panginten, sakedik ngacapruk oge ah teu sawios panginten da abdi mah nuju diajar keneh he&#8230;.</p>
<p>Ieu oge bakat ku&#8230; ; (kesel kumargi sadidinten mung bengong teu pararuguh, bakatning ku teu aya damelaneun), (butuh atanapi peryogi pisan hiburan kan tiasa sareng surfing diinternet he..), (teu aya kaisin alias teu aya ka era kumawantun ieu abdi nya, padahal mah panginten teu aya nu malire hm..), (hoyong pisan tiasa ngadamel seratan nganggo basa Sunda, etang-etang diajar sareng ngamumule basa daerah nu tos tangtos janten akar budaya nasional hmm&#8230;).</p>
<p><span id="more-285"></span></p>
<p>Kanggo nu pangakhirna eta aya kakaitan sareng nu katinggal dina lumampah abdi sadidinten, sanaos tos lami kalangkung tapi masih keneh kaemut, yaeta unsur nu ngenaan sareng ngamumule basa.</p>
<p>Caritana kieu:<br />
Kapungkur abdi kantos linggih di Ibu kota nyaeta Jakarta. Sadidinten atanapi sapopoe saur basa loma na mah, pan tos tangtos nganggo bahasa nasional (Bahasa Indonesia) nu mangrupakeun bahasa persatuan. Dina hal eta na mah teu aya lepatna, da tos sakedahna urang ngajungjung bahasa persatuan urang. Tapi nu di pikaheran ku abdi alias sim kuring nyaeta abdi sering papendak sareng wargi-wargi nu teu tiasa basa Sunda padahal kawitna ti Tatar Pasundan saurna mah. Tah eta nu janten heran teh. Dina hiji hal anjeunna bagja ngaku yen anjeunna teh urang sunda dumeh seueur tea hal-hal nu tiasa dibanggakeun salah sahijina cenah mah urang Sunda mah karasep sareng gareulis, tapi disisi lain panginten teu aya kahoyong ngalestarikeun budayana.</p>
<p>Galagat sabalikna aya di Bandung. Bandung nu tos ngawitan sesek ku nu nyicingan (ngalinggihan) teh tos teu benten tebih sareng Jakarta salaku pusat Ibu Kota. Di Bandung abdi kantos sababaraha kali mendakan rencang nu sadidinten teh nyariosna bahasa Indonesia wae, sakali deui hal eta teu aya lepatna sakedik oge, tapi anjeunna teh masihan gambaran yen anjeunna teu ngaraos genah ngangken janten urang Sunda na, kumargi alim pisan upami sakali-kali diajak nyarios ku basa Sunda teh. Memang sih aya sababaraha jalmi nu sepuhna kawitna teh sanes asli urang Sunda, tapi sakedahna mah teu kedah isin atanapi kaku da ajeunna teh lahirna ge di Sunda. Tah kitu kirang langkungna salah sahiji galagat nu aya dina waktos ayeuna kumargi ayana kamajuan teknologi nu kiranglangkungna teu disarengan ku kasiapanana.</p>
<p>Bilih tea mah aya nu kersa maos seratan ieu, teras aya basa nu teu merenah, nyentug kana hate atanapi kumaha, nyuhunkeun di hapunten wae, da abdi teu aya madsad nanaon mung sakadar hoyong diajar ngamumule basa karuhun urang tapi panginten teu acan terang carana. Sareng ieu seratan mung asal nulis wae janten teu terang nu sae na kedah kumaha. Da ieu mah mung sakadar kanggo ngemutkeun ka sim kuring (diri abdi), salangkungna mugi-mugi wae atuh aya faedah sareng mangfaatna kanggo sadayana nu kersa maos ieu seratan.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/ngamumule-basa-seratan-bakat-ku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seks Dan Karya Sastra</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/seks-dan-karya-sastra.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/seks-dan-karya-sastra.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 14:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Seks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/seks-dan-karya-sastra-2.html</guid>
		<description><![CDATA[Memperhatikan eksplorasi seks dalam dunia sastra. Apakah ini merupakan suatu bentuk kemunduran moral bangsa atau kemajuan moral bangsa? Jika diantara kita sudah berani terbuka mengungkapkan masalah yang selama ini dinggap tabu kepada khalayak ramai. Satu hal dari situasi ini dengan adanya memegang prinsip bahwa ini atau itu adalah sebuah bentuk karya seni (sastra). Jawabannya kita [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memperhatikan eksplorasi seks dalam dunia sastra. Apakah ini merupakan suatu bentuk kemunduran moral bangsa atau kemajuan moral bangsa? Jika diantara kita sudah berani terbuka mengungkapkan masalah yang selama ini dinggap tabu kepada khalayak ramai. Satu hal dari situasi ini dengan adanya memegang prinsip bahwa ini atau itu adalah sebuah bentuk karya seni (sastra). Jawabannya kita kembalikan lagi kepada setiap individu, tentunya akan berbeda-beda.</p>
<p>Meski dibatasi dengan adanya pembatasan atau peringatan seperti halnya tulisan &#8220;khusus bacaan diatas 18 th&#8221;, tetapi kenyataannya sangatlah sulit membendung atau memilah apakah orang yang berkeinginan untuk mengkonsumsi itu usianya dibawah atau diatas 18 tahun. Realistis aja budaya dikehidupan sehari-hari bangsa ini seperti apa, kita bisa melihat sanksi atau apalah yang berkaitan dengan hal ini sebagai efek dari orang yang belum berhak mengkonsumsi karya tersebut. Pastinya bisa kita sadari seperti apa.</p>
<p>Seorang penulis dengan keberaniannya untuk mengeksplorasi tema-tema seksualitas dalam karya novel maupun cerpennya mengundang kontroversi. Toh, ia tetap tak panik menanggapinya. Baginya, menyikapi masalah seksualitas haruslah disikapi secara dewasa.</p>
<p>Jenar Mahesa Ayu adalah salah seorang pengarang wanita Indonesia yang dianggap sebagai pendobrak tabu, lantaran keberaniannya mengeksplorasi tema-tema seksual dalam karya-karya novel maupun cerpennya. la juga berada dalam barisan pengarang wanita yang getol memperjuangkan persamaan gender dan feminisme.</p>
<p><span id="more-196"></span></p>
<p>Menurut sebuah tulisan salah satu media cetak, tak heran jika berbicara dengannya, akan gampang menangkap kesan jika ia adalah orang cuek yang bisa bicara blak-blakan. Apalagi saat bicara soal hal paling privat, seperti seks misalnya. Selain itu, putri sutradara kenamaan, Syumanjaya dan Tuti Kirana ini juga dikenal sebagai sosok pribadi yang hangat dan ramah.</p>
<p>Pendapatnya soal seksualitas yang disampaikannya dalam sebuah diskusi saat syukuran peluncuran film yang diadopsi dari salah satu novelnya &#8216;Mereka Bilang Saya Monyet&#8217;, &#8220;Bahwa klitoris yang menjadi sarana wanita mencapai orgasme berada di bagian luar menjadi pertanda kalau seks sebenarnya merupakan rekreasi.&#8221;</p>
<p>Karena itu, menurut Djenar, seks harus divariasikan. Seks harus dipandang sebagai aktifitas yang menyenangkan, bukan sebagai kewajiban. Pandangannya yang sangat terbuka tentang seksualitas, sempat membuat beberapa kritikus sastra menggolongkannya sebagai sastrawan bermahzhab kelamin. Toh demikian, Djenar tak pernah merasa risau dengan hal itu. la tetap nyantai dan tak pernah mengekang pola pikirnya yang ia yakini itu.</p>
<p>Salah satu novelnya yang cukup kontroversial, karena keberaniannya mengeksplorasi kata-kata juga tema yang selama ini ditabukan, diberinya judul Jangan Main-main dengan Kelaminmu. Di dalam karya ini, banyak sekali ditemukan kata-kata yang selama ini dianggap vulgar dan tabu oleh sebagian besar masyarakat. Padahal, menurut Djenar, editor sudah melakukan editing ketat dan pembuangan kata-kata yang dianggap terlampau berani.</p>
<p>Namun Djenar punya argumen lain soal ini. Menurutnya, semua itu terkait langsung dengan kedewasaan seseorang. &#8220;Orang yang usianya sudah dewasa belum tentu punya pikiran dewasa, demikian sebaliknya. Yang muda bisa saja lebih dewasa dalam berpikir. Maka di cover depan novel itu tertulis peringatan; Hanya untuk Pembaca Dewasa,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ada dua cerpen karya Djenar yang sempat membuat banyak orang geleng-geleng kepala lantaran keberaniannya mengeksplorasi persoalan seksualitas. Dua cerpen itu diberi judul, Waktu Nayla serta Menyusu Ayah.</p>
<p>Inilah salah satu petikan kalimat yang ada dalam cerpen berjudul Waktu Nayla; Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.</p>
<p>Hebatnya, ternyata cerpen ini terpilih sebagai pemenang dalam sayembara Cerpen Terbaik Pilihan Kompas. Lebih hebat lagi, sebab ibu dua anak ini berhasil menyisihkan 16 penulis cerpen dengan nama besar, seperti Hamsad Rangkuti (Saya Sedang Tidak Menunggu Tuan!), Seno Gumifa Ajidi (Legenda Wongasu), Kuntovvujoyo (Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api)) Mustofa Bisri (Gus Jakfar), Bre Redana (Kembalinya Pangeran Kelelawar) -zzi Danarto (Kacapiring).</p>
<p>Cerpen Djenar yang berjudul Ayah juga tak kalah dahsyatnya dalam mengeksplorasi hal-hal seputar seksualitas. Cerpen ini mengisahkan tokoh utama seorang gadis kecil yang karena suatu hal sangat gemar melakukan oral seks terhadap sahabat ayahnya. Gadis kecil itu begitu ketagihan dengan aktivitasnya ini dan melakukannya dengan ikhlas tanpa tekanan apa pun.</p>
<p>Kritikan terus bergulir ke arahnya karena keberaniannya itu. Namun, Djenar tak pernah panik atau risau berlebihan. la tetap tenang-tenang saja. la bertutur bahwa tugas seorang penulis adalah membuat tema-tema yang sudah mapan menjadi sesuatu yang segar. &#8220;Penulis-penulis muda sekarang ini lebih cenderung dekat dengan kondisi masyarakat sekarang. Karena muda rnareka cukup funky, mereka cukup hip hop, tahu cafe, tahu diskotek, tahu sms dan sebagainya. Maka yang muda bisa diterima oleh masyarakat luas khususnya anak-anak yang masih berkisar dari ABG sampai 28-an tahun,&#8221; paparnya.</p>
<p>Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa karya sastra itu sebetulnya sudah ada didalam masyarakat. Penulis mengambil satu tema tentunya dari apa yang dia lihat. Tapi seperti kondisi realitas juga, dalam sebuah dalam sebuah karya sastra seseorang bisa melakukan sebuah pembesaran. Jadi, kalau banyak sekali peristiwa-peristiwa tragis sampai berikutnya kita akan menjadi kebal.</p>
<p>Lalu proses kreatif seperti apa yang dilewatinya untuk menghasilkan karya-karyanya itu? &#8220;Kadang-kadang kita sebagai manusia, saya suka bingung, kok saya kesepian. Seperti ada yang kurang, padahal dalam hidup saya tidak ada yang kurang, tidak ada lagi yang saya mau. Nah , kadang-kadang pada saat itu proses kreatif keluar. Terus terang saya menulis tidak pernah punya plot. Kalau saya sama sekali tidak tahu, tiba-tiba saya mau menulis lalu menulislah. Dan itulah yang membuat saya senang di dunia tulis-menulis karena saya bisa belajar untuk mengetahui diri saya sendiri ketika tulisan jadi, paparnya.</p>
<p>Dari pengamatannya itu mulai ada kegairahan baru. Dia melihat orang-orang bisa berpikir bahwa sastra adalah sesuatu yang bisa dikonsumsi tanpa berjarak. &#8220;Dulu dengar sastra saja sepertinya, aduh ini bakalan puyeng, bakalan pusing. Ayu Utami bisa membalik keadaan itu. Lalu setelah itu Dewi Lestari. Saya pikir luar biasa karena bisa membuat anak-anak muda merasa jika saya belum punya buku Supernova, tidak gaul,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dari cerita diatas, paling tidak kita bisa mengetahui duduk permasalahannya sehingga bisa mengembalikannya lagi kepada kondisi yang seharusnya, lebih lanjut kita bisa menyimpulkan apakah ekplorasi sek dalam dunia sastra itu merupakan suatu kemajuan dalam pemkembangan sastra Indonesia ataukah sebaliknya? sekali lagi jawabannya sudah barang tentu ada pada masing-masing individu. Wallahualam.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/seks-dan-karya-sastra.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuda Lumping Dari Gunung Manglayang</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/kuda-lumping-dari-gunung-manglayang.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/kuda-lumping-dari-gunung-manglayang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2007 12:14:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[Kuda Lumping]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/kuda-lumping-dari-gunung-manglayang.html</guid>
		<description><![CDATA[Selain beberapa kesenian tradisonal sunda seperti Degung, Longser, benjang, kuda ronggeng atau tayuban lainnya, ada satu kesenian yang tidak kalah tersohor dikalangan masyarakat sunda yaitu &#8220;Kuda Lumping&#8221;. Dari pamor yang ada ini menembus ke berbagai kalangan tentunya seperti halnya di ceritakan dalam bait-bait lagu yang tidak melewatkan kesempatan dengan mengambil tema masalah kuda lumping ini [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2007/03/Kuda-Lumping.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2037" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Kuda Lumping" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2007/03/Kuda-Lumping-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Selain beberapa kesenian tradisonal sunda seperti Degung, Longser, benjang, kuda ronggeng atau tayuban lainnya, ada satu kesenian yang tidak kalah tersohor dikalangan masyarakat sunda yaitu &#8220;Kuda Lumping&#8221;.</p>
<p>Dari pamor yang ada ini menembus ke berbagai kalangan tentunya seperti halnya di ceritakan dalam bait-bait lagu yang tidak melewatkan kesempatan dengan mengambil tema masalah kuda lumping ini sebagai syair atau lirik lagu.</p>
<p>Sebagai contoh, Desa Ciwaru yang terletak di kaki Gunung Manglayang, Kabupaten Bandung, Jabar, masih terkenal dengan adanya kesenian kuda lumping yang memeriahkan berbagai hajatan/khitanan.</p>
<p><span id="more-295"></span></p>
<p>Kegemaran terhadap seni ini biasanya berlangsung secara turun-temurun. Tak mengherankan, bila segala kegiatan yang berhubungan dengan kuda lumping maupun kuda renggong berpusat di beberapa tempat yang sudah dikenal sebelumnya. Misalnya saja kuda renggong yang kita kenal itu banyak di daerah Sumedang. Kalau tepatnya saya juga tidak begitu hapal. Begitu pula dengan kuda lumping, masih sering muncul keberadaannya di sekitar Bandung Timur ini, konon katanya kesenian ini berlangsung secara turun-temurun dari leluhur mereka.</p>
<p>Kesenian ini biasanya ada pada warga yang melakukan hajatan (sunatan). Biasanya diramaikan dengan bunyi-bunyian terompet dan gendang. Dan bila bunyi-bunyian tersebut terdengar penduduk sekitar, hal ini menandakan ada suatu keramaian, lantas hampir seluruh penduduk desa di kaki gunung tersebut tumpah ruah di depan rumah milik seorang warga yang akan menggelar acara hajatan tersebut.</p>
<p>Sejak puluhan tahun silam atau mungkin lewat, khitanan di desa ini memang tak pernah lepas dari sebuah tradisi. Yakni, upacara memandikan dan mengarak pengantin sunat atau anak yang akan dikhitan. Tradisi ini diawali dengan pembacaan mantra penolak bala oleh salah seorang tetua desa. Agar prosesi khitanan berjalan lancar dan sang anak terhindar dari berbagai gangguan dari Batara Kala.</p>
<p>Sudah menjadi tradisi turun-menurun pula seorang bocah lelaki yang akan dikhitan diberi pendamping anak perempuan seusianya, layaknya sepasang calon mempelai. Kedua anak yang juga sering disebut pengantin sunat ini lantas dimandikan dengan air suci yang bersumber dari pegunungan di Parahyangan Timur. Upacara ini dilakukan agar fisik dan batin si anak menjadi bersih, seputih beras yang dijadikan simbol.</p>
<p>Usai dimandikan, pasangan pengantin sunat ini diarak dengan jampana, yaitu kursi tandu yang dipanggul empat orang dewasa. Mereka memutari desa dengan diiringi musik bamplang untuk mengabarkan ke seluruh desa bahwa esok hari si anak akan menjalani salah satu ritual yang dianjurkan agama Islam, yakni khitanan. Dan sepanjang jalan yang dilalui, musik tak henti-hentinya ditabuh.</p>
<p>Antusiasme penonton yang sebagian besar warga pun meningkat. Wajarlah, kesenian kuda lumping yang dipertontonkan sanggar kuda lumping ini pun kerapkali diwarnai berbagai atraksi magis. Unjuk kebolehan itu semuanya dalam pengawasan ahlinya atau disebut juga dengan pawang. Para penduduk biasanya mempercayai pawang tersebut memiliki kemampuan supranatural tinggi. Apalagi pemimpin sanggar kuda lumping itu biasanya cukup lama melatih anak-anak asuhnya untuk bermain kuda lumping dengan berbagai atraksi menakjubkan.</p>
<p>Keramaian kuda lumping mencapai puncak ketika para pemain tampak kesurupan. Dalam keadaan tanpa sadar, mereka melakukan hal-hal yang tak wajar. Semisal memakan ayam hidup-hidup atau beling (pecahan kaca). Cuma pawanglah yang nantinya dapat menghentikan segala atraksi tersebut, seperti hal memulainya. Para pemain kuda lumping dituntun untuk berbaring di atas tikar. Selanjutnya, pawang menyelimuti seluruh tubuh mereka dengan selembar kain. Setelah membacakan mantra, para pemain kuda lumping itu kembali sadar sediakala dan seolah tak pernah terjadi apa-apa.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/kuda-lumping-dari-gunung-manglayang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Beladiri Benjoungs</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/seni-beladiri-benjoungs.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/seni-beladiri-benjoungs.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Nov 2006 05:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cultural]]></category>
		<category><![CDATA[Beladiri]]></category>
		<category><![CDATA[Benjoungs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/seni-beladiri-benjoungs.html</guid>
		<description><![CDATA[Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2006/11/Benjang.jpg"><img class="size-full wp-image-2034 alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Benjang" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2006/11/Benjang.jpg" alt="" width="193" height="140" /></a>Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang  selalu melaksanakan  tatacara  dengan membaca do&#8217;a-do&#8217;a agar dalam pertunjukan benjang tersebut selamat tidak ada gangguan.</p>
<p>Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda.</p>
<p><span id="more-273"></span></p>
<p>Persamaannya baik dalam benjang maupun gulat dilarang atau tidak diperbolehkan, mencolok mata, mencekik, menggigit, dan lain sebagainya yang dianggap membahayakan salah seorang pemain benjang atau gulat. Seni beladiri tradisional Indonesia yang satu ini ternyata sampai sekarang masih ada dan tetap eksis, hanya gaungnya tidak seperti seni beladiri lain misalnya pencak silat atau beladiri asing yang saat ini semakin menjamur di mana-mana.</p>
<p>Walaupun seni beladiri benjang belum mempunyai induk organisasi yang menjadi wadah penampungan para tokoh-tokoh benjang, tetapi ternyata sampai saat ini benjang masih hidup dan disenangi oleh masyarakat terutama masyarakat yang mencintai jenis kesenian tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia ini di samping kesenian lain di Indonesia.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/seni-beladiri-benjoungs.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
