<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KIP&#039;s Bandung &#187; Business</title>
	<atom:link href="http://kipsaint.com/kategori/business/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kipsaint.com</link>
	<description>Blog abdi thea, just is seen, heard, felt and wanted, trying to learn to become better again.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 May 2012 01:20:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Be Yourself</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/be-yourself.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/be-yourself.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 16:36:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=3800</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat sebuah alkisah sederhana, ceritanya ada sebuah perusahaan kecil sedang merekrut SDM baru guna menunjang lancarnya serta kemajuan usaha yang sedang dijalankan. Lalu, sebut saja A mengajukan diri karena tertarik dengan pekerjaan tersebut. Dengan kemampuan yang mumpuni serta semangatnya, ia menyanggupi semua syarat dan aturan yang dijelaskan HRD perusahaan itu. Bahkan saking semangatnya dengan lantang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2012/01/Be-Yourself.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-3827" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Be Yourself" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2012/01/Be-Yourself.jpeg" alt="" width="150" height="177" /></a>Terdapat sebuah alkisah sederhana, ceritanya ada sebuah perusahaan kecil sedang merekrut SDM baru guna menunjang lancarnya serta kemajuan usaha yang sedang dijalankan. Lalu, sebut saja A mengajukan diri karena tertarik dengan pekerjaan tersebut. Dengan kemampuan yang mumpuni serta semangatnya, ia menyanggupi semua syarat dan aturan yang dijelaskan HRD perusahaan itu. Bahkan saking semangatnya dengan lantang A menyatakan bisa melakukan lebih dari apa yang diharapkan perusahaan. Dengan mengevaluasi pengalaman kerja dan semangatnya A, pihak perusahaan menganggap sebagai pertanda baik, maka A diterima sebagai pegawai baru.</p>
<p>Singkat cerita, sebulan sudah A bekerja diperusahaan tersebut. Dan apa yang dikerjakan A, dengan semangatnya yang tinggi hasilnya cukup memuaskan meski baru bisa dikatakan mampu memenuhi 75% dari yang ditargetkan perusahaan. Dari kondisi dan waktu yang cukup singkat tersebut perusahaan tidak mempermasalahkannya, dan dengan bijaknya dianggap A masih perlu adaptasi. Disisi lain, pihak perusahaan menilai bahwa kekurangan yang ada pada A bukan terletak dari kemampuan dirinya dalam bekerja melainkan prilaku yang kerap meremehkan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Selebihnya, dikemudian hari A mendapat bimbingan dan pengarahan dalam bekerja.</p>
<p><span id="more-3800"></span>Tiga bulan berlalu sudah, A dengan prilaku yang tentu saja mempengaruhi terhadap kinerjanya masih menunjujukkan tidak ada perubahan yang <em>significant</em>. Oleh karena itu, pihak perusahaan memanggilnya untuk membahas kondisi tersebut. Lalu apa hasilnya? Ternyata yang menjadi kendala pada prilaku A dalam bekerja adalah keegoisan prinsip dan tidak perduli orang lain atau lingkungan. Mau orang lain susah, perusahaan bangkrut, kalau menurut istilah bahasa sundanya itu &#8220;sabodo teuing&#8221; yang terpenting sudah memenuhi kewajian pokok yang sudah dianggapnya cukup. Hal tersebut disimpulkan dari pernyataan A bahwasannya; perusahaan mau memberi pengarahan X atau Y juga tidak akan ada gunanya karena pada tempat bekerja sebelumnya dia terbiasa dengan kebiasaan Z. Dan dengan pernyataan singkatnya A berkata &#8220;saya adalah saya&#8221;. Akhir cerita, pihak perusahaan bilang kepada A; elo, gw, <em>end</em> alias dipecat <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/laugh.gif' alt='(LOL)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dari cerita dan kasus sederhana diatas terdapat gambaran bahwasannya, <em>be yourself</em>  itu tidak cukup hanya menjadi diri sendiri, karena menjadi diri sendiri bisa positif dan juga bisa negatif. Seperti halnya A yang berprinsip &#8220;saya adalah saya, mau diterima ya begini, nggak mau ya sudah&#8221;. Akhirnya sisi negatiflah yang menonjol karena sudah tentu tidak akan mendukung terhadap kemajuan perusahaan jika hanya menganggap cukup kewajiban pokoknya saja yang ia sendiri tanpa menyadari bahwa kewajiban utamanya pun belum terpenuhi 100%. Bahkan A tidak sadar pula bahwasannya disetiap perusahaan manapun loyalitas dalam bekerja sangat diperlukan. Disisi lain menjadi diri sendiri memang penting karena tentu saja dari setiap individu tidak ingin pribadinya terpecah-pecah. Semua orang mengharapkan memiliki pribadi yang utuh yakni pribadi yang telah dikembangkan. Artinya, karakter bawaan yang positif ditonjolkan sementara yang negatif dapat terkontrol. Lalu, bagaimana seseorang dapat menjadi diri sendiri?<strong></strong></p>
<p><strong>Mengenali diri! </strong>Seseorang harus mengenal dirinya dengan jujur. Sisi negatif kepribadian kita memang tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikendalikan. Jika kita terus mengembangkan sisi positif, sisi negatif itu lama-lama akan terkikis. Namun jika kita stag, sisi negatif itu akan muncul kembali. Karena pada dasarnya itu sudah ada dan terekam dalam diri seseorang. Sebaliknya, sikap positif jika tidak dikembangkan akan mengempis.</p>
<p><strong>Mengontrol karakter! </strong>Karakter tidak bisa dirubah tetapi dapat dikontrol. Seseorang yang pembawaannya <em>introvert</em> tidak bisa berubah menjadi <em>ekstrovert</em>. Namun, sikap diam itu dapat dikelola menjadi diam yang tetap aktif. Artinya, jika memang perlu bicara, ya harus berbicara. Karakter positif bisa dimasukkan pada saat yang tepat dan tidak perlu dipaksakan. Sebenarnya kita dapat memilih saat yang paling tepat untuk mengambil sikap, membuka diri secara bertahap, memilih lebih selektif siapa yang dapat kita ajak bicara. Tidak perlu memberi masukkan pada orang yang tidak membutuhkan dan tidak perlu selalu membenahi orang lain bila tidak diminta. Kalau pun ada orang memberi masukkan tidak harus diserap 100 persen, akan lebih baik jika pertimbangkan dan disesuaikan dengan sifat yang dimiliki.</p>
<p><strong>Memberi argumen yang jelas! </strong>Jika kita bertamu lalu disuguhi sesuatu yang tidak disukai, bagaimana menolak dengan halus. Sebelum mengahdiri suatu acara, ada baiknya memiliki wawasan tentang siapa dan acara apa yang akan kita datangi. Secara etika kita juga harus memberi argumen yang memperjelas alasan menolak suguhan tersebut.</p>
<p>Dari kasus diatas, seharusnya A dapat menempatkan diri, sadar bahwasannya pemimpin berhak mengatur bahkan mneyuruh pegawai. Kalau sudah terjebak berada dilingkungan tersebut sudah menjadi kewajiban untuk mengikuti aturan yang berlaku, termasuk memenuhi kewajiban sebagai pegawai dalam beretika. Jika A sadar dengan kebiasaan lamanya, seharusnya diungkapkan diawal termasuk mengenai kemampuan dan kesanggupan yang sesuai dengan dirinya. Saat bekerja bukan lagi ajang untuk tawar-menawar melainkan waktunya mengambil sikap, berhenti atau melanjutkan bekerja. Bagaimanapun tidak akan ada perusahaan yang mengikuti aturan masing-masing pekerjanya, kecuali yang mungkin dalam beberapa hal saja misalnya ketika diminta pendapat, dan itu pun pastinya melalui tahap pertimbangan tertentu. Seharusnya A jangan mengambil resiko dalam menekankan pendiriannya, terlebih pada atasan kalau masih membutuhkan pekerjaan tersebut. Disitulah pentingnya mengontrol diri.</p>
<p>Disisi lain, tindakan yang diambil pihak perusahaan dirasa sudah tepat, sadar bahwa tidak selalu bisa mengharapkan seseorang untuk berubah, terlebih sudah diberikan waktu yang cukup untuk beradaptasi. Andai saja A dengan komitnya dalam bekerja dapat memenuhi kewajiban utama yang diharapkan perusahaan, pasti tidak menutup kemungkinan pihak perusahaan mempertahankannya. Pengarahan dapat disampaikan dengan cara lain yang mungkin lebih tepat hingga mengenai sasaran.</p>
<p>Jadilah diri sendiri yang positif, dengan demikian akan termotivasi untuk terus positif. Wallahu’alam bishawab. <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/be-yourself.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Becoming Ethical Preneur</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/becoming-ethical-preneur.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/becoming-ethical-preneur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 17:01:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Ethical-Preneur]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/becoming-ethical-preneur.html</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Make a decision to commit and becoming ethical preneur are essential factors to be success!&#8221; Menjadi seseorang yang sukses pastilah diangankan semua orang. Dimana kekusksesan itu sendiri terkadang mudah diraih, namun kerap dirasakan lebih berat dalam mempertahankannya. Oleh karena itu, bercermin dari sebuah kesuksesan atau pun kegagalan seseorang bisa dijadikan penambah motivasi sekaligus kendali dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2011/06/ethical-preneur.jpg" alt="Ethical-Preneur" hspace="10" width="150" height="100" align="left" />&#8220;<a href="http://kipsaint.com/isi/make-a-decision-to-commit.html">Make a decision to commit</a> and becoming ethical preneur are essential factors to be success!&#8221;</em> Menjadi seseorang yang sukses pastilah diangankan semua orang. Dimana kekusksesan itu sendiri terkadang mudah diraih, namun kerap dirasakan lebih berat dalam mempertahankannya. Oleh karena itu, bercermin dari sebuah kesuksesan atau pun kegagalan seseorang bisa dijadikan penambah motivasi sekaligus kendali dalam menuju sukses.</p>
<p>Bercermin dari kesuksesan! Salah-satunya mungkin bisa bercermin pada  <a href="http://www.google.com/">Google Inc</a>, perusahaan yang mengawali bisnisnya dengan mesin pencari dunia maya dengan prinsip pendirinya mengatakan &#8220;<em>Don’t be evil</em>&#8221; alias jangan menjadi jahat. Google mandapat penghargaan sebagai perusahaan yang memiliki etika tinggi berdasar survey dari Ethisphere, perusahaan <em>independent</em> yang mensurvey tentang etika dibanyak perusahaan dunia. Konon, Google menjadi incaran banyak pekerja untuk bergabung karena berbagai fasilitas dan penghargaan terhadap karyawan didalamnya. Kini mampu menjadi perusahaan terdepan dibidang teknologi informasi dengan nilai yang sangat tinggi. Nah, hal tersebut menjadi bukti bahwa menjaga etika perusahaan menjadi salah-satu hal yang bisa mengangkat nilai perusahaan itu sendiri.</p>
<p><a href="http://kipsaint.com/isi/bercermin-dari-kegagalan.html">Bercermin dari kegagalan</a>! Sedikit berkelakar saja karena tulisan ini pun tidak mewakili atas sebuah kekusksesan yang telah tercapai dengan berumur panjang melainkan pernahnya merasakan pahit getirnya menjalankan usaha yang berujung pada sebuah cap &#8220;gulung tikar.&#8221; Dan juga tidak mewakili atas kegagalan disaat ini karena tidak sedang menjalankan usaha yang cukup berarti. Diakui secara jujur, kegagalan yang pernah terjadi bukan semata atas faktor tidak mengindahkan keberadaan fungsi <em>ethical preneur</em> karena berbaur dengan dominasi atas sebuah nama &#8220;bencana&#8221;. Walaupun demikian, dalam prosentase yang minim sekali pun tetap saja terselip adanya keteledoran akan sikap mengabaikan fungsi keberadaan etika tersebut. Khususnya pada sikap kurangnya respek terhadap situasi tertentu terlebih ditambah kehendak hati disaat itu yang belum bisa menegaskan mana modal usaha dan mana uang pribadi. Akhirnya <a href="http://kipsaint.com/isi/sabar-dalam-kesadaran-dan-sadar-dalam-kesabaran.html">sadar betul</a>, sebaik-baiknya niat hati yang terkait dengan penggunaan modal usaha sudah barang tentu usaha tersebut akan terganggu hingga akhirnya benar-benar tinggal nama dan menyisakan kenangan semata hikz&#8230; <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<p><span id="more-3505"></span></p>
<p>Kedua contoh diatas dapat gambaran bahwasannya menjadi pebisnis yang mengandalkan etika akan mengankat derajat pebisnis itu sendiri dimata para pemangku kepentingan. Khususnya yang sangat utama yaitu pelanggan hingga membuat tingkat kepercayaan pada sebuah perusahaan akan meningkat, dan ujungnya profit pun terangkat. Jadi <a href="http://kipsaint.com/isi/kesempatan-kerja-perlukah-enterprenership.html">betapa pentingnya</a> menjaga dan mengembangkan berbagai sikap sebagai seorang <em>ethical-preneur</em>. The Josephson Institute of Ethic, menyebutkan <em>The six pillars of characters</em> yang diterjemahkan secara bebas dalam beberapa pengertian yang harus dipahami dan diterapkan, yakni:</p>
<ol>
<li>
<div>Kepercayaan; berupa kejujuran, integritas, kemampuan menjaga amanah hingga loyalitas. Bisa dikatakan inilah dasar dari semua etika yang ada. Sebab, dengan menjaga kepercayaan akan terbangun sikap-sikap positif yang akan menguntungkan semua pihak.</div>
</li>
<li>
<div>Respek; baik menjaga privasi, martabat, sopan-santun, toleransi. Ini merupakan sikap untuk memperlakukan orang lain seperti layaknya memperlakukan diri sendiri. Disini sakap keseimbangan akan melanggengkan jalanya usaha.</div>
</li>
<li>
<div>Tanggung-jawab; berupa sikap untuk menjaga akuntabilitas perusahaan demi mengejar keunggulan yang memuaskan semua pihak.</div>
</li>
<li>
<div>Kepedulian; kemampuan memberi atau berbagi, cinta pada sesama akan menciptakan nuansa damai dan sejuk bagi perusahaan dan lingkungan sekitar.</div>
</li>
<li>
<div>Keadilan; merupakan sikap menjadikan semua pada tempatnya. Yakni, di mana kita bisa membuat perlakuan yang independen dan konsisten dalam menjalani hubungan dengan berbagai pihak.</div>
</li>
<li>
<div>Kepatuhan; dalam hal ini prinsip dimana langit dijunjung, di sana bumi dipijak alias mengikuti berbagai peraturan setempat yang berlaku akan mengantarkan kita menjadi pengusaha yang baik. Prinsip ketaatan terhadap hukum disuatu tempat bisa mendorong terjadinya transaksi bisnis yang saling menguntungkan semua pihak yang terlibat.</div>
</li>
</ol>
<p>Tidak sedikit perusahaan di dunia ini yang maju atau pun hancur karena satu hal sederhana, etika! Masih ada pengusaha yang menghalalkan segala cara yang terkadang memang bisa menjadi senjata ampuh <a href="http://kipsaint.com/isi/step-guide-to-attain-success-in-life.html">untuk mencapai sukses</a>. Merekayasa laporan keuangan sampai melahirkan skandal tanpa memperhitungkan harga diri akan melayang. Pengusaha yang tidak mengindahkan etika tersebut pada dasarnya tidak sadar bahwa perusahaan yang terkenal sangat bonafide sekali pun bisa amburadul jika terbukti melanggar etik, yakni kejujuran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/becoming-ethical-preneur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpikir Bijak Upaya Bertindak Tepat</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/berpikir-bijak-upaya-bertindak-tepat.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/berpikir-bijak-upaya-bertindak-tepat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 19:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Berpikir]]></category>
		<category><![CDATA[Bertindak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=3175</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu sempat berbincang-bincang dengan seorang teman, dia mempertanyakan (maksudnya sharing) keberadaan orang yang berpikir pendek tanpa memperhitungkan untung-ruginya dikemudian hari. Orang yang berpikiran pendek tidak jauh berbeda dengan yang berpikiran sempit, senantiasa mengambil jalan pintas dengan mendekatkan penglihatan pada keuntungan dipelupuk mata sendiri tanpa memperhitungkan hakikatnya sebagai manusia itu lahir, tumbuh lalu tua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2011/02/kips.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3282" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="kips" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2011/02/kips.jpg" alt="" width="150" height="126" /></a>Beberapa waktu lalu sempat berbincang-bincang dengan seorang teman, dia mempertanyakan (maksudnya <em>sharing</em>) keberadaan orang yang berpikir pendek tanpa memperhitungkan untung-ruginya dikemudian hari. Orang yang berpikiran pendek tidak jauh berbeda dengan yang berpikiran sempit, senantiasa mengambil jalan pintas dengan mendekatkan penglihatan pada keuntungan dipelupuk mata sendiri tanpa memperhitungkan hakikatnya sebagai manusia itu lahir, tumbuh lalu tua dan mati. Setelah tumbuh semuanya hanya berujung pada kematian. Sadar akan hal tersebut, tentu saja respek terhadap apa yang diperbincangkan. Meskipun tidak sepenuhnya menampik perihal tersebut kadang-kadang terjadi meskipun kasus dan skalanya berbeda.</p>
<p>Berpikir bijak upaya bertindak tepat, berpikir besar dan bertindak kecil cerminan prilaku diri orang-orang sukses. Harus diakui, bahwasannya sangat wajar jika orang-orang sukses itu sebenarnya orang-orang yang dikenal selalu berpikir besar dan berjiwa besar. Dari sebuah pemikiran tentunya akan berujung pada persoalan tindakan. Maka, berpikir besar itu bak kewajiban meniupkan seluruh energi yang dimiliki untuk membesarkan sebuah bejana, sambil menyadari batas-batasnya. Meskipun batas itu sendiri tidak pernah jelas adanya dimana, begitu pula batas energi kita, tetap meniupkannya tanpa pernah merisaukan soal batasnya, toh batas itu akan membatas dengan sendirinya. Yang harus disadari, hanyalah keyakinan bahwa batas ini tetap ada. Soal lokasinya dimana, terserah sang batas itu saja.<span id="more-3175"></span></p>
<p>Berpikir besar dan bertindak kecil! Hampir selalu orang-orang yang sukses dan besar itu juga adalah orang-orang yang sekaligus gemar mengerjakan soal-soal kecil. Semakin besar mereka, kadang semakin kecil tindakan mereka. Karenanya, makin besar kedudukan seseorang, makin punya waktu baginya untuk menghirup udara segar dan mendengar kicauan burung serta melihat kupu-kupu beterbangan. Jika dikaitkan dengan kesuksesan sebuah usaha, hal tersebut dicontohkan dalam sebuah bisnis keluarga yang konon katanya sanggup bertahan hingga tujuh turunan, &#8220;bisnis media John Wiley and Sons&#8221;. Pertahanan yang ada salah satunya dari tradisi perusahaan itu dalam merawat soal-soal sederhana, terus mempertahankan mental bisa dipercaya. Hal tersebut bukanlah tindakan besar karena yang dibutuhkan cukup dengan menegakkan moral yang sudah baku saja. Mengindahkan kejujuran, disiplin memisahkan mana duit perusahaan dan mana duit keluarga. Dengan menyadari bahwa yang disebut keluarga itu secara kultural cuma lingkaran inti pemilik, tetapi secara struktural ia harus mengikat siapa saja. Berat, tetapi karena kesanggupan mengatasi soal berat itulah sebuah usaha akan panjang umurnya.</p>
<p>Wajib disadari, apa pun kehebatan disuatu lingkungan, belum tentu kehebatan tersebut mengagumkan ditempat lain. Kehebatan disatu tempat ternyata juga diukur dengan sesuatu yang ada ditempat lainnya. Oleh karenanya, kemampuan membesar yang tidak sekaligus diiringi kemampuan mengecil cuma akan menghasilkan kebesaran dengan ancaman ruang hampa belaka. Maka, jika ada orang yang merasa besar tapi belum sanggup mengecil,  curiga ada yang keliru dari pertumbuhannya. Jangan-jangan ada sesat  permanen yang layak diwaspadai. Masalah tindakan inilah yang menjadi  dasar perbincangan sebenarnya, sang teman tanpa sengaja kurang tepat bertindak akibat tak berpikir bijak hingga terkena tipu  daya orang yang tidak bertanggung-jawab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/berpikir-bijak-upaya-bertindak-tepat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Motivasi Diri dengan Afirmasi</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/motivasi-diri-dengan-afirmasi.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/motivasi-diri-dengan-afirmasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 17:55:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Afirmasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/?p=3012</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari pikiran kita dipenuhi dengan beragam hal, mungkin itu merupakan pikiran positif dan mendorong kita pada sesuatu yang sifatnya konstruktif  tapi bisa juga sebaliknya. Karena itu jika yang muncul kemudian hal-hal yang negatif, segeralah hapus dengan pikiran-pikiran positif lalu fokuskan pada apa yang kita inginkan saja. Tegaskan hanya apa yang diinginkan! Bagaimana pun, seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/08/Affirm.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-3027" style="margin-left: 0px; margin-right: 10px;" title="Affirm" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2010/08/Affirm.jpg" alt="" width="150" height="190" /></a>Setiap hari pikiran kita dipenuhi dengan beragam hal, mungkin itu merupakan pikiran positif dan mendorong kita pada sesuatu yang sifatnya konstruktif  tapi bisa juga sebaliknya. Karena itu jika yang muncul kemudian hal-hal yang negatif, segeralah hapus dengan pikiran-pikiran positif lalu fokuskan pada apa yang kita inginkan saja. Tegaskan hanya apa yang diinginkan! Bagaimana pun, seseorang termotivasi untuk melakukan kerja terbaiknya dapat terdorong oleh berbagai hal. Diantaranya, karena memiliki ambisi untuk mencapai target tertentu demi masa depan yang lebih baik sehingga memunculkan motivasi dengan sendirinya secara langsung, selain itu ada juga yang terdorong oleh rasa takut karena terancam sehingga secara tidak langsung memacu diri melakukan kinerja terbaiknya demi mengatasi rasa takut atas ancaman yang ada.</p>
<p>Motivasi-motivasi tersebut, selain dalam ruang lingkup personal juga banyak dijumpai dalam dunia kerja maupun atau dunia bisnis. Motivasi yang datang dari diri sendiri itu sangat penting, dimana dapat muncul karena ambisi atas keinginanya yang lebih baik. Sebagai contoh, seorang staf mengetahui bahwa jika ia melebihi target yang dibebankan padanya, gajinya atau posisinya akan segera naik. Atau jika seorang <em>supplier </em>merasa bahwa seandainya ia bisa memenuhi targetnya dengan tepat waktu dan kualitasnya terjaga maka mitranya akan menambah pesanan. Bahkan bukan mustahil akan mendapatkan proyek baru. Lalu ia terpacu bekerja sebaik-baiknya. Motivasi ini menurut motivator Steve Brunkhorst, merupakan motivasi yang lebih baik dan lebih kuat. Motivasi karena terdorong oleh ambisi diri sendiri cenderung memiliki energi lebih besar dan jauh lebih mendorong kreativitas dibanding motivasi karena terdorong rasa takut. Kehadiran motivasi karena ambisi biasanya terjadi  karena ingin mengejar penghargaan, imbalan besar, atau sukses tertentu. Motivasi tersebut dapat ditandakan dengan perasaan “Saya bisa …” atau “Saya mau …”.<br />
<span id="more-3012"></span></p>
<p>Sementara motivasi yang hadir karena rasa takut, misalnya seorang staf ditakut-takuti akan dipindahkan atau dipecat jika target yang dibebankan kepadanya tak tercapai, akhirnya karena takut tersebut ia bisa mencapai target itu. Atau juga seorang pebisnis kerap mengancam <em>supplier</em>-nya, jika gagal memenuhi target kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu maka ia akan diganti (akan mencari <em>supplier </em>baru). Ketakutan itu membuat <em>supplier </em>tersebut berusaha mati-matian memenuhi targetnya. Kehadiran motivasi karena rasa takut biasanya terjadi karena ingin menghindari denda, hukuman, atau kegagalan. Motivasi tersebut biasanya ditandakan dengan perasaan “Saya harus …”.</p>
<p>Menurut Brunkhorst, sebaiknya kita fokuskan diri pada ambisi kita setiap hari agar kesuksesan bisa diraih. Ia mengambil contoh Seorang kliennya mengeluhkan kalau ia mulai tak menyukai pekerjaannya setelah kurang mendapat apresiasi. Namun klien itu tak bisa berontak karena takut tak bisa mendapatkan pekerjaan baru. Akhirnya hidup berkecamuk anatara tak suka dengan pekerjaan itu dan desakan rasa takut yang mencoba meyakinkan bahwa sebenarnya dia bisa tahan dengan pekerjaan itu. Lalu si klien diminta menegaskan (afirmasi) apa sebenarnya yang menjadi keinginannya. Setelah itu ia diminta fokus pada keinginannya tersebut serta menelaah apa saja kemampuannya. Dalam jangka waktu beberapa bulan setelah itu, klien tersebut sudah pindah pada satu pekerjaan yang lebih baik di perusahaan lain yang lebih mengapresiasinya. Karena itu, kata Brunkhorst, jangan khawatir pada hasil yang akan didapat. Sepanjang kita fokus pada keinginan kita dan berpikiran positif terhadap bakat dan potensi yang dimiliki, maka keinginan itu akan tercapai. Akan selalu ada jalan menuju sukses bagi orang yang berpikiran positif. Nah, menurut dia, afirmasi itulah kuncinya.</p>
<p>Afirmasi atau “<em>affirmation</em>” berasal dari kata  “<em>affirm</em>” yang menurut kamus Merriam-Webster berarti “<em>to make firm</em>”, atau  membuat sesuatu menjadi kokoh atau kuat. Afirmasi adalah pernyataan yang diulang-ulang baik secara verbal atau  dalam hati, merupakan pernyataan emosional yang akan membawa seseorang  untuk berpikir dan beraksi. Afirmasi merupakan suatu teknik yang bisa memperkuat pikiran bawah sadar  kita. Jika kita terus melakukan afirmasi positif (menyampaikan  hal-hal positif) pada diri kita, maka pikiran bawah sadar kita akan  terbiasa oleh afirmasi positif tersebut. Setelah kita benar-benar  percaya dan yakin akan hal-hal positif tersebut, maka kemudian pikiran  sadar kita akan mengubahnya menjadi tindakan positif yang nyata. Dengan  melakukan afirmasi positif, maka kita dapat menjadi seseorang yang  percaya diri, dan kita juga akan dapat melakukan sesuatu dengan lebih  baik. Jadi afirmasi itu sangat efektif untuk mengembangkan dan memperkuat cara pikir dan bertindak efektif untuk mencapai tujuan atau kebutuhan.</p>
<p>Afirmasi akan efektif ketika dikombinasikan dengan emosi yang kuat dan bayangan yang menyenangkan mengenai penglihatan, suara, bau, rasa, atau sentuhan. Afirmasi yang efektif adalah yang menyebutkan apa yang kita inginkan. Lalu pada saat yang sama kita membayangkan bagaimana rasanya dan bagaimana puasnya jika itu didapat. Keyakinan akan sesuatu yang bisa dicapai, bayangan sesuatu yang menyenangkan, dan emosi yang menyertainya merupakan elemen penting afirmasi yang efektif. Dengan banyak latihan kita akan mudah menghadirkan ketiga elemen itu dengan cepat. Contoh latihannya, misalnya, bayangkan bagaimana rasanya saat kita berhasil melakukan sesuatu. Perasaan ini bisa terus dihidupkan dengan mengingat kesuksesan-kesuksesan lainnya. Bayangkan bagaimana rasanya saat kita merasa bebas, penuh percaya diri, dan kreatif dan sebagainya.</p>
<p>Wallahu a’lam bissawaab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/motivasi-diri-dengan-afirmasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menguasai Mood dan Konsentrasi</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/menguasai-mood-dan-konsentrasi.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/menguasai-mood-dan-konsentrasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 00:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[konsentrasi]]></category>
		<category><![CDATA[konsistensi]]></category>
		<category><![CDATA[mood]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/menguasai-mood-dan-konsentrasi-2.html</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mood.. ayo konsentrasi dan tetap semangat, kenapa si Momod teh ya?&#8221; Apa mungkin perlu dikenali si mood itu (thinking). Dalam mengerjakan sesuatu, tentunya seseorang dituntut untuk memusatkan segenap perhatiannya pada apa yang sedang dilakukan. Jika tidak, ada kemungkinan akan tersendat-sendat dalam menunaikan tugasnya. Namun, situasi dan kondisi tertentu akan mempengaruhi seseorang sehingga ia bisa senang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/06/Mood.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1942" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Mood" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/06/Mood.jpg" alt="" width="125" height="180" /></a>&#8220;Mood.. ayo konsentrasi dan tetap semangat, kenapa si Momod teh ya?&#8221;</em> Apa mungkin perlu dikenali si mood itu (thinking).</p>
<p>Dalam mengerjakan sesuatu, tentunya seseorang dituntut untuk memusatkan segenap perhatiannya pada apa yang sedang dilakukan. Jika tidak, ada kemungkinan akan tersendat-sendat dalam menunaikan tugasnya. Namun, situasi dan kondisi tertentu akan mempengaruhi seseorang sehingga ia bisa senang, sedih. gembira, marah, dan sebagainya, sehingga dari perasaan yang ada tersebut akan mempengaruhi terhadap mood dan konsentrasi. Di sinilah kita dituntut <a href="http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-profesionalisme.html" target="_blank">menumbuhkan profesionalisme</a>. <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Secara harafiah, <em>mood</em> bisa diartikan sebagai keadaan jiwa, kecenderungan, tendensi, suasana hati yang akan mempengaruhi sikap seseorang. <em>Mood</em> adalah keadaan atau suasana hati yang terbentuk karena suatu situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi yang menyenangkan akan menyebabkan <em>mood</em> yang bahagia, gembira dan senang tentunya. Begitu pula untuk situasi dan kondisi yang lainnya. Karena <em>mood</em> adalah keadaan jiwa, maka harus bisa menguasai kondisi dan situasi dengan cermat, dimana <em>mood</em> berfungsi menjiwai sikon yang ada. Disinilah pentingnya kita untuk dapat mengendalikan dan menguasai <em>mood</em> serta berkonsentrasi.</p>
<p>Konsentrasi dan konsistensi apakah penting?</p>
<p><span id="more-1421"></span></p>
<p>Rasanya kita semua menyadarinya sangat diperlukan. Konsentrasi menggambarkan pemusatan pikiran kita terhadap sesuatu yang sedang dihadapi, diemban atau disandang guna memperoleh timbal-balik yang diinginkan. Sementara itu, konsistensi tidak patut untuk diabaikan, konsistensi berarti kita menangani tugas atau mengangkat peran secara tuntas. Selama suatu tugas masih ditangani kita harus tetap melaksanakannya. Tindakannya harus berkesinambungan dalam arti harus menuntaskan tugas yang telah menjadi tanggung jawab. Hal ini tentu berkaitan erat dengan <a href="http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-profesionalisme.html" target="_blank">profesionalisme</a> yang dimiliki, kita harus berusaha melakukan sesuatu dengan konsisten karena apa yang dilakukan sudah menjadi beban dan tanggung jawab. Intinya, dalam menjalakan tugas atau pekerjaan, kita harus mampu membaca dan menangkap situasi dan kondisi yang ada, guna berusaha menghindari <em>mood</em> yang kurang mendukung terhadap tugas yang sedang dijalankan yang nantinya akan terungkap melalui prilaku diri sebagai implementasinya. Wallahu&#8217;alam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/menguasai-mood-dan-konsentrasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhkan Profesionalisme</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-profesionalisme.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-profesionalisme.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 00:58:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Menumbuhkan]]></category>
		<category><![CDATA[Profesi]]></category>
		<category><![CDATA[Profesional]]></category>
		<category><![CDATA[Profesionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-profesionalisme.html</guid>
		<description><![CDATA[Melihat munculnya beberapa kasus perjuangan seorang ibu, anak terhadap salah-satu pihak yang berkaitan dengan perlunya profesionalisme selama ini, rasanya ingin menuangkan coretan ini, mudah-mudahan tidak dianggap curahan yang dapat mencemarkan nama baik orang atau pihak lain sehingga memperburuk keadaan yang ada Kalau ada yang kurang tepat atau salah menuliskan mohon dimaklumi Coretan ini hanyalah sebatas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/06/kips.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1955" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="kips" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/06/kips.jpg" alt="" width="125" height="125" /></a>Melihat munculnya beberapa kasus perjuangan seorang ibu, anak terhadap salah-satu pihak yang berkaitan dengan perlunya profesionalisme selama ini, rasanya ingin menuangkan coretan ini, mudah-mudahan tidak dianggap curahan yang dapat mencemarkan nama baik orang atau pihak lain sehingga memperburuk keadaan yang ada <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> Kalau ada yang kurang tepat atau salah menuliskan mohon dimaklumi <a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/06/maapdech.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-1956" title="maapdech" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2009/06/maapdech.gif" alt="" width="24" height="27" /></a> Coretan ini hanyalah sebatas pembelajaran diri pribadi, semoga bagi yang terkena musibah dapat lebih tawakal dan sabar atas kejadian yang menimpanya, dan bagi rekan-rekan lainnya bisa lebih hati-hati dalam bertindak serta berusaha menunjukan sikap profesional yang layak, amin.</p>
<p>Kata &#8220;profesionalisme&#8221; menjadi sumber inspiratif untuk postingan kali ini. Profesionalisme sangat berkaitan erat dengan ruang lingkup kehidupan profesional seseorang. Apa yang dikerjakan harus benar-benar menunjukkan keahlian dan keterampilannya berdasarkan pada kejuruan atau spesialisasinya. Dengan demikian, profesi apapun berkaitan dengan kemampuan, keahlian yang dimiliki dan keterampilan yang digeluti.</p>
<p>Tiap profesi mempunyai spesifikasi tersendiri, mempunyai keahlian dalam bidangnya yang menunjang usaha untuk menunjukkan perannya. Maka, sikap profesional itu perlu ditumbuhkan dengan mengenal bagaimana cara menjunjung tinggi sikap tanggung-jawab yang ada sehingga mempunyai standar, baik secara teknis maupun sesuai tuntutan peran profesinya. Dapat menguasai permasalahan dalam ruang-lingkupnya, selalu berusaha meningkatkan kemampuan diri dan bersedia memperbaiki apa yang masih kurang. Dalam hal ini, mau belajar terus, tidak berhenti atau menyerah tetapi selalu aktif mengembangkan kemampuan setiap ada kesempatan.</p>
<p><span id="more-1375"></span></p>
<p>Setiap profesi menuntut interaksi sosial profesional yang perlu dicermati dengan baik. Dalam kehidupan nyata, selain tanggung jawab profesional dituntut pula untuk mengimbangi diri dengan pengetahuan etiket. Bagaimana pun etiket adalah hal yang ada hubungannya dengan hukum atau adat, yang dianggap baik, benar, layak, dan sopan. Dimana, etiket akan membentuk sikap dan mempengaruhi aktivitas dalam hidup bermasyarakat. Dengan menjunjung etiket, akan bersikap arif dan bijak, hormat dan sopan, tahu disiplin dan ketertiban, serta bisa bertanggung jawab dalam membawa diri. Intinya tidak menipu, asal-asalan atau cuek tetapi berusaha memenuhi dan membayar janji.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan pekerjaan, bisnis atau usaha, seorang profesional yang cerdas akan menunjang produksi. Karena biasanya seorang profesional yang cerdas tidak &#8220;telmi&#8221; alias telat mikir. Misalnya, demi mementingkan egoisme sehingga melupakan dampak yang akan muncul dikemudian hari. Selain dituntut untuk memegang janji, baik dalam hal waktu maupun dalam hal kedisiplinan lainnya, seorang profesional perlu menghormati ketentuan jadwal, kehadiran dan penyelesaian tugas, maka dituntut untuk pandai-pandai membuat janji dan menyelesaikan tugas secara baik serta harus tahu membawa diri secara terhormat di mana pun berada.</p>
<p>Disinilah pentingnya profesionalisme seseorang dalam menunaikan tugas dan kewajibannya. Tidak hanya dituntut untuk bertanggung-jawab secara profesional yang sifatnya intern atau pribadi, tetapi juga dituntut untuk bertanggung jawab secara ekstern atau bertanggung jawab atas ruang lingkup tempat berpijak. Wallahu’alam bishowab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/menumbuhkan-profesionalisme.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terjebak dalam Satu Sudut Pandang</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/terjebak-dalam-satu-sudut-pandang.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/terjebak-dalam-satu-sudut-pandang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 01:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[Psychology]]></category>
		<category><![CDATA[Sudut Pandang]]></category>
		<category><![CDATA[Terjebak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/terjebak-dalam-satu-sudut-pandang.html</guid>
		<description><![CDATA[Melihat seseorang hanya dari satu sudut pandang terkadang bukan hal yang baik. Selain bisa memojokkan orang yang dipandang juga bisa membiasakan diri menutup cara pandang terhadap sisi-sisi lainnya, bisa mengarahkan diri pada suatu keangkuhan karena merasa orang lain berbeda atau tak mampu. Gambaran nyata sering lahir dalam kekehidupan sehari-hari, misal adanya suatu hubungan yang dilandaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melihat seseorang hanya dari satu sudut pandang terkadang bukan hal yang baik. Selain bisa memojokkan orang yang dipandang juga bisa membiasakan diri menutup cara pandang terhadap sisi-sisi lainnya, bisa mengarahkan diri pada suatu <a href="http://kipsaint.com/isi/harta-dan-keangkuhan.html" target="_blank">keangkuhan</a> karena merasa orang lain berbeda atau tak mampu. <a href="http://kipsaint.com/isi/gambaran-nyata.html" target="_blank">Gambaran nyata</a> sering lahir dalam kekehidupan sehari-hari, misal adanya suatu hubungan yang dilandaskan pada satu sudut pandang; karena mereka kaya, karena mereka pintar, karena mereka punya jabatan dan lain-lain. Dan dibawah ini ada sebuah dongeng yang belum tentu kebenarannya tetapi mungkin mengandung salah-satu unsur-unsur (gambaran) dari melihat sesama hanya dari satu sudut pandang.</p>
<p>Dua orang pegawai (bisa jadi pejabat teras) dari salah satu perusahaan besar mendatangi sebuah <em>showroom</em> A dengan niat untuk melakukan sebuah transaksi. Tempat yang mereka tuju memang tepat, namun sayang keinginan dua orang pegawai tersebut masih dalam sebuah wacana tanpa membawa data-data yang siap untuk diproses, sementara ditempat yang dituju tidak dapat membantu merumuskan wacana para pegawai itu kedalam sebuah data yang benar-benar siap untuk menghadapi proses berikutnya (proses utama), disisi lain transaksi yang diinginkan telah dil dan disepakati bersama.</p>
<p>Karena transaksi diatas itu telah disepakati, akhirnya SDM dari <em>showroom</em> A beserta dua pegawai tersebut mendatangi <em>showroom</em> B guna meminta bantuan untuk merumuskan wacana mereka. Sebagai tetangga, SDM <em>showroom</em> B tentunya menyambut baik kedatangan mereka, dan secara kebetulan kondisi di <em>showroom</em> B tidak terlalu sibuk akhirnya dengan senang hati membantu merumuskan wacana dua pegawai itu (perlu diingat, hanya sekedar membantu).</p>
<p><span id="more-1355"></span></p>
<p>ketika SDM dari <em>showroom</em> B mulai menangkap keinginan dua pegawai tersebut, lalu merumuskannya kedalam data-data yang siap untuk menuju proses utama, dari dua orang pegawai tersebut kerap-kali memberikan hal-hal yang tidak mendukung jalannya proses perumusan tersebut, mungkin tidak dapat menerima cara yang dilakukan SDM <em>showroom</em> B dengan baik karena yang keluar cuma kata-kata &#8220;<em>bukan begitu, maunya seperti ini</em>&#8221; yang disertai dengan bentuk ejekan-ejekan kecil serta senyum sinis sering bertandang. Lalu SDM <em>showroom</em> B itu bertanya; &#8220;<em>maunya bagaimana?&#8221;</em> dan jawab dua pegawai itu; &#8220;<em>yang seperti ini, tapi saya gak bisa membuatnya</em>.&#8221;</p>
<p>Dengan cukup tersenyum dalam hati saja, SDM <em>showroom</em> B menerima senyum-senyum sinis itu, &#8220;<em>jelas-jelas yang sedang dilakukannya persis bahkan 100% merupakan proses untuk membuatkan keinginan mereka</em>&#8221; gumamnya. Ketika mau menjelaskannya tiba-tiba mereka pergi begitu saja tanpa terima kasih, padahal prosesnya sudah 75% yang dilakukannya, yang terlontar hanyalah &#8220;<em>saya telah ada data-data itu dan saya membuatnya berjam-jam, kalau dibuat ulang bisa makan waktu lama</em>.&#8221;</p>
<p>SDM dari <em>showroom</em> B itu bertanya-tanya (dalam hati pula) karena secara kebetulan pas kedatangan mereka diawal pernah menanyakan apakah sudah ada data-data yang siap untuk menuju proses utama, salah satu dari mereka menjawab &#8220;<em>belum ada.&#8221;</em> Sementara SDM dari <em>showroom</em> A hanya bisa berdiam diri karena memang jujur dan merasa tidak bisa membantu para tamunya sehingga meminta bantuan kw SDM <em>showroom</em> B.</p>
<p>Dalam hitungan jam, akhirnya dua pegawai tersebut datang lagi ke <em>showroom</em> B, lalu SDM <em>showroom</em> B bilang; &#8220;<em>langsung aja berikan ke showroom A kan transaksinya disana, ini bukan dalam satu naungan yang sama, tadi itu hanya membantu saja.&#8221;</em> Lalu mereka menuju <em>showroom</em> A, dan dalam hitungan kurang dari 5 menit, entah kenapa mereka pulang lagi.</p>
<p>Kurang lebih setengah jam berikunya, dia datang lagi dan langsung menuju showroom A. Nah, berhubung SDM di <em>showroom</em> A itu betul-betul <em>blank</em> tidak memahaminya, ujung-ujungnya tetap saja berkunjung untuk meminta bantuan ke <em>showroom</em> B. Dengan tidak banyak bicara SDM dari <em>showroom</em> B menerima mereka dan memeriksa apakah data-data yang mereka benar-benar siap untuk menuju proses utama. Dan ketika <em>file-file</em>-nya dibuka jreng&#8230; jreng&#8230; jreng ternyata belum jadi apapun (masih dalam bentuk gambaran mentah). Terpaksalah SDM <em>showroom</em> B itu menjelaskannya dengan seksama dan dimulai lagi proses perumusannya. Proses perumusan kali kedua yang dilakukan SDM <em>showroom</em> B itu berjalan dengan lancar. Yang terlontar dari pegawai itu malah bentuk pertanyaan atas keingin-tahuannya, &#8220;<em>bagaimana merumuskan ini? bagaimana membuat itu?&#8221;</em> dan dengan senang hari SDM <em>showroom</em> B menjelaskannya tentang apa yang ia ketahui. Akhirnya proses untuk menuju proses utama pun kelar juga, dan berujung dengan kata-kata manis, &#8220;<em>terima kasih ya</em>&#8221; kata para pegawai itu kepada SDM <em>showroom</em> B. Tentu saja SDM <em>showroom</em> B merasa lega karena dapat membantu mereka, dan terucap juga kata-kata &#8220;<em>sama-sama</em>.&#8221;</p>
<p>Itulah sekelumit dongeng (bukan dongeng nini anteh ya <img src='http://kipsaint.com/wp-content/plugins/smilies-themer/kips/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> tapi dongeng abah) yang menyiratkan bahwa seorang pejabat meremehkan pegawai biasa yang berujung pada sikap malu sendiri (sikap seharusnya, karena terjebak dalam egonya), tanpa disadari telah terjebak dalam <a href="http://kipsaint.com/isi/ketika-imajinasi-lahirkan-ketamakan.html" target="_blank">imajinasi</a> yang membeberkan keangkuhan dalam hidup secara tidak sadar. Mudah-mudahan menjadi <a href="http://kipsaint.com/isi/cermin-khusus.html" target="_blank">cermin</a> bagi kita semua untuk dapat <a href="http://kipsaint.com/isi/hidup-secara-sadar.html" target="_blank">hidup secara sadar</a> dan senantiasa tak terlepas bertanya, <a href="http://kipsaint.com/isi/bertanyalah-siapa-diri-kita.html" target="_blank">siapakah diri kita?</a> Meskipun seorang pejabat, hartawan, ilmuwan dan lain sebagainya harus bisa menempatkan diri dengan seksama, karena berapa pun banyaknya harta seseorang, pintarnya seseorang, atau tingginya posisi jabatan dari pejabat tersebut, belum tentu ada pengaruhnya secara langsung bagi yang lain, seperti contoh dongeng diatas. Wallahualam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/terjebak-dalam-satu-sudut-pandang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awareness to Action</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/awareness-to-action.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/awareness-to-action.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 18:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Action]]></category>
		<category><![CDATA[Awareness]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/awareness-to-action.html</guid>
		<description><![CDATA[Most would agree that the task of leading people from lack of awareness to action is a huge undertaking. Implementing a communications system, based on the principles of the communications continuum, can be an enormous assist. Using this system, a communications office can advance the work of the school in achieving a desired action &#8211; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Most would agree that the task of leading people from lack of awareness to action is a huge undertaking. Implementing a communications system, based on the principles of the communications continuum, can be an enormous assist. Using this system, a communications office can advance the work of the school in achieving a desired action &#8211; from an increase in enrollment applications to breaking into a new market to changing how the school is perceived in the community.</p>
<p>The system rests on the foundational truth that attitudes and beliefs cause action. Success in achieving an action the school desires is inextricably tied to how successfully beliefs and attitudes have been formed to predispose a constituent or constituency to act. Actions caused by beliefs and attitudes occur based on information that people<br />
1. Receive<br />
2. Understand, and<br />
3. Become convinced of</p>
<p>This process of moving people from awareness to action is called the communications continuum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/awareness-to-action.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Make A Decision To Commit</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/make-a-decision-to-commit.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/make-a-decision-to-commit.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 04:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Commit]]></category>
		<category><![CDATA[Decision]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/make-a-decision-to-commit.html</guid>
		<description><![CDATA[Last times I was made disappointed by someone that offer compromy. We made an agreement that agreed on together but he impinge it to the neglect of agreement content agreed on. Finally I am rescript which has been made that. Therefore, indirectly he becomes one of the parties accounting hit. Where he standing as marketing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/06/Make-A-Decision-To-Commit.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2597" title="Make A Decision To Commit" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/06/Make-A-Decision-To-Commit.jpg" alt="" width="111" height="123" /></a>Last times I was made disappointed by someone that offer compromy. We made an agreement that agreed on together but he impinge it to the neglect of agreement content agreed on. Finally I am rescript which has been made that. Therefore, indirectly he becomes one of the parties accounting hit. Where he standing as marketing fail to sell the product, that effect of doesn&#8217;t hold firmly commitment which has been agreed on.</p>
<p>We should knows, what makes a successful in marketing? People who want financial freedom spend their time endlessly researching various opportunities, companies, products and the compensation plans. If you want to guarantee your success with any other marketing company, there are only three essential factors to consider, each in its correct order. One of factor between some other factors that is make a decision to commit.</p>
<p>Whether or not you have drive and desire will primarily decide your success. You need to commit for the long term in building a marketing business. Understanding that marketing is a <a href="http://kipsaint.com/isi/bisnis-dengan-memanfaatkan-hp.html" target="_blank">business</a> to accrue value and net worth over time is important.</p>
<p><span id="more-704"></span></p>
<p>Most influential and successful people of our time <a href="http://kipsaint.com/isi/belajar-membuka-usaha-sendiri.html" target="_blank">teaching</a> you how to get rich. Believe me, all of them have invested in themselves and made sacrifices to get to where they are today. They don&#8217;t mention it because either they forgot all about it for it has happened some time ago or they think that it is just common knowledge. If you&#8217;ve studied any successful <a href="http://kipsaint.com/isi/kesempatan-kerja-perlukah-enterprenership.html" target="_blank">entrepreneur</a> , you&#8217;ll see that they worked harder than anyone. Regardless of what anyone tells you or what you believe, you&#8217;ll have to do the same. There are no hand-outs.</p>
<p>Do you know that most of us were conditioned to believe if we went to school and got an education, we would get a job in our chosen field, work for 40 years, climb the ladder of success, and then retire in comfort? How nice?</p>
<p>Unfortunately, that is not how it usually works out nowadays. So, you better be the first to start in your generation so that you can either share or leave this legacy to your kids. You can <a href="http://kipsaint.com/isi/membangun-jiwa-kepemimpinan.html" target="_blank">lead</a> them to a better position to look after themselves and their future families.</p>
<p>On the other hand, there is no such thing as a &#8216;get rich quick&#8217; scheme or rewards without effort. If you come across one, it is most likely a scam. At the minimum, you still need to play a part in bringing your customers to the pool and they must purchase something in order for you to earn the money. This is just a fact of life. Revenue is generated when a sale is made and you get commission based on sales.</p>
<p>Are you looking for a hand out in your marketing business? Deep down inside, are you hoping someone will do all the work for you? If you are, then let me save you loads of time, don&#8217;t let anyone fool you into thinking is a get money quickly. It is not. It takes time to get all of you want.</p>
<p>More than any other business, relationship in a business is very important. Therefore, we are working with people all the time. People are unpredictable. We don&#8217;t know who will put in effort and duplicate and who will not. This is why most companies talk about relationship in a business is very important.</p>
<p>Thus, building a stable residual income stream takes time, consistence, persistence and patience to enjoy the time and financial freedom you are seeking. You are in for long haul. That is why your &#8216;Why&#8217; is so important. How bad do you want this? Why do you want it?</p>
<p>Do yourself a favor. If you&#8217;re planning to just try marketing, you may as well not start. Also,in this business it takes the tenacity and professionalism to earn the best income. You have already decided the outcome by having little faith in yourself and unwilling to put all the time you got left to learn the business. Mind you most people lack of self-confidence when they start but because of their &#8216;Why&#8217; which gives them the determination to learn to move forward.</p>
<p>Do you know your &#8216;Why&#8217;? You must expect success. Make a decision that financial freedom is something you deserve and you will do whatever it takes to get it. Whatever skills you lack, you&#8217;re going to learn and each time you <a href="http://kipsaint.com/isi/bercermin-dari-kegagalan.html" target="_blank">fall</a> you&#8217;ll try again.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/make-a-decision-to-commit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Membuka Usaha Sendiri</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/belajar-membuka-usaha-sendiri.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/belajar-membuka-usaha-sendiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 03:46:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Tips - Trik]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/belajar-membuka-usaha-sendiri.html</guid>
		<description><![CDATA[Sangatlah tidak mudah untuk merintis sebuah usaha, selain lebih kompleks dengan berbagai kompetitor, juga memiliki risiko yang besar meskipun peluangnya itu sendiri masih besar. Diluar itu pun biasanya modal menjadi kendala utama. Nah, belajar mengenal kemungkinan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran usaha tentunya tidak melulu harus dari yang sukses saja. Saya yakin, karena saya sendiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sangatlah tidak mudah untuk merintis sebuah usaha, selain lebih kompleks dengan berbagai kompetitor, juga memiliki risiko yang besar meskipun peluangnya itu sendiri masih besar. Diluar itu pun biasanya modal menjadi kendala utama.</p>
<p>Nah, belajar mengenal kemungkinan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran usaha tentunya tidak melulu harus dari yang sukses saja. Saya yakin, karena saya sendiri telah mengalami kegagalan di waktu lalu, ada sedikit pengalaman yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan jika ingin belajar mendirikan sebuah usaha. Tentunya disini saya tidak bermaksud menggurui, karena saya sendiri pun tidak termasuk kedalam orang yang berhasil, paling tidak sebagai gambaran mengenai yang pernah dialami saja.</p>
<p>Bagi rekan-rekan yang tertarik membuka usaha sendiri, sebaiknya perlu memperhatikan beberapa langkah awal untuk membuka usaha tersebut, diantaranya:</p>
<ul>
<li>Bulatkan atau yakinkan tekad. Hal ini penting karena kalau hati setengah2 kemungkinan yang terjadi menjalankan usahanya tidak sepenuh hati juga.</li>
</ul>
<p><span id="more-692"></span></p>
<ul>
<li>Pastikan tujuan utamanya. Hal ini juga penting, karena jika jelas tujuannya apa? akan menjadi motivasi untuk melakukan usaha dengan lebih fokus dan lebih serius.</li>
<li>Tentukan lokasi yang tepat. Untuk lokasi ini salah satunya dengan membidik tempat yang ramai atau berada di jalur padat sehingga sering dilintasi orang.</li>
<li>Perhitungkan biaya. Anggaran yang dimiliki harus benar2 diperhitungkan dengan melakukan estimasi2 sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya hal-hal diluar dugaan atau setidaknya mempunyai gambaran yang jelas terhadap berlangsungnya usaha yang dijalankan.</li>
<li>Keamanan. Merupakan salah satu unsur yang paling penting juga karena harus memperhatikan masalah keamanan terutama premanisme atau yang lebih parah lagi serangan orang-orang yang panjang tangan. Jadi jangan sampai <em>lost product</em> atau adanya bulan-bulanan premanisme menjadi suatu rutinitas yang terjadi.</li>
<li>Siapkan SDM. SDM ini sangat penting, karena menuntut suatu kinerja dan kejujuran dari setiap pekerja maka harus dipersiapkan dengan matang.</li>
<li>Lakukan evaluasi dalam skala waktu tertentu, sehingga dapat mengantisipasi gejala kemungkinan2 yang tidak diharapkan.</li>
<li>Jaga kualitas produk. Yang dijual dan membuat orang tertarik untuk datang lagi adalah produk yang kita berikan.</li>
<li>Jaga pelanggan. Ini sangat penting agar orang mau datang lagi.</li>
<li>Customer care. Pelayanan harus ramah dengan mengusahakan menciptakan interaksi langsung misalnya menyapa, begitu juga dengan karyawan.</li>
<li>Usahakan suasana kondusif. Misalnya karyawan tidak telat dibayarkan gajinya.</li>
<li>Usahakan pelayanan harus tetap berwajah segar dan tidak kuyu, meski ia harus melayani konsumen di tengah kondisi yang kelelahan.</li>
<li>Ciptakan suasana yang ramai. Misalnya saja dengan mengundang relasi/teman, selain itu jangan langsung memberikan diskon yang tinggi tetapi sedikit-sedikit saja. Misalnya bulan pertama berikan diskon 20 persen kemudian tiga bulan kemudian berikan diskon 10 persen hingga 6 bulan berikutnya. Setelah itu, diskon dapat distop. Sebab jangan sampai kita terjebak diskon artinya. orang hanya mau datang kalau ada diskon saja.</li>
<li>Melakukan promosi. Mungkin yang paling sederhana promosi kepada kerabat atau teman dekat serta relasi-relasi yang ada. Selebihnya dapat melalu brosur, plakat dll.</li>
</ul>
<p>Sekali lagi, ini hanya sebagian kecil saja mengenai hal-hal yang harus diperhatikan jika ingin belajar mendirikan usaha. Dan tentunya tidak berlaku bagi pengusaha2 yang sudah matang alias sukses karena jelas mereka lebih memahaminya ketimbang dari tulisan ini.  Semoga masih ada manfaatnya. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/belajar-membuka-usaha-sendiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercermin Dari Kegagalan</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/bercermin-dari-kegagalan.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/bercermin-dari-kegagalan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 03:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Tips - Trik]]></category>
		<category><![CDATA[Bercermin]]></category>
		<category><![CDATA[Kegagalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/bercermin-dari-kegagalan.html</guid>
		<description><![CDATA[Kegagalan usaha tentunya bukan suatu hal yang memalukan, tetapi justru merupakan tonggak untuk memperhatikan usaha apa yang sekiranya cocok dan akan berjalan lancar. Oleh karena itu saya tak segan-segan mengungkapkan kergagalan yang pernah dialami. Setidaknya jadi bahan pertimbangan bagi langkah yang mau diambil berikutnya, mudah-mudahan tidak menjadikan munculnya rasa takut dengan istilah kegagalan dalam memulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegagalan usaha tentunya bukan suatu hal yang memalukan, tetapi justru merupakan tonggak untuk memperhatikan usaha apa yang sekiranya cocok dan akan berjalan lancar. Oleh karena itu saya tak segan-segan mengungkapkan kergagalan yang pernah dialami. Setidaknya jadi bahan pertimbangan bagi langkah yang mau diambil berikutnya, mudah-mudahan tidak menjadikan munculnya rasa takut dengan istilah kegagalan dalam memulai usaha, dan menjadikan cambuk untuk memulai usaha yang akan dijalankan.</p>
<p><span id="more-396"></span></p>
<p>Semua usaha yang terbentuk tentunya berasal dari pikiran. karena sadar-tidak sadar pikiranlah yang selama ini menuntun mengambil tindakan-tindakan tertentu. Daya pikir memberikan ide-ide. Pikiran yang pertama menentukan pilihan tindakan yang akan diambil. Dan pikiran pula yang memerintahkan anggota tubuh kita untuk mengambil tindakan tertentu.</p>
<p>Lihatlah sekeliling tempat tinggal. Perhatikan usaha-usaha apa saja yang cukup berkembang dalam satu tahun ke belakang. Bisa jadi akan menemukan usaha yang paling cocok untuk kita. Pada intinya, prospek usaha ditentukan bukan hanya pada jenis usahanya, tetapi juga pada bagaimana sang pengusaha mengelolanya. Hal inilah yang menjadi pokok permasalahan yang sangat ungent.</p>
<p>Melakukan analisis atau mengamati usaha orang lain, dan diskusikan dengan keluarga juga perlu dilakukan.</p>
<p>Selain itu berani mengambil langkah untuk memulai usaha sendiri harus dengan pemikiran yang matang, karena hal ini akan menentukan sukses tidaknya kita rnemulai bisnis, mengembangkannya dan membesarkannya.</p>
<p>Memilih salah satu jenis usaha yang benar-benar di sukai harus diperhitungkan pula. Setelah itu, mencoba untuk menguasai alur usaha tersebut, mulai dari bahan baku sampai pasca penjualan. Sebenarnya tidak perlu belajar secara teknis, Yang harus dipelajari adalah alur usaha.</p>
<p>Mempertimbangkan cara apa untuk memulai usaha tentunya merupakan faktor penting. ApaKah membeli bisnis yang sudah ada, menjadi partner dalam sebuah franchise, atau dengan memulai bisnis yang benar-benar baru.</p>
<p>Jika akan memulai usaha baru, sudah seharusnya memperhatikan beberapa hal, diantaranya :</p>
<ul>
<li>Produk atau layanan apakah yang akan di buat, dan itu untuk siapa?</li>
<li>Mengapa harus usaha itu?</li>
<li>Mengapa calon customer harus membeli dari kita?</li>
<li>Apa yang akan kita berikan jika ternyata produk itu belum ada?</li>
<li>Bagaimana kompetisinya?</li>
<li>Apa keuntungan yang akan kita peroleh dari kompetisi itu?</li>
<li>Apakah kita mempunyai sumbernya? Apakah kita akan mendapat order? Apakah order itu datang segera?</li>
<li>Siapa pasar kita?</li>
<li>Lantas dari rnanakah ide untuk mulai bisnis baru itu berasal?</li>
</ul>
<p>Semoga bisa menjadi suatu motivasi bagi yang berniat untuk membuka usaha, dan harus tetap mengingat pada suatu kenyataan bahwasannya suatu kegagalan usaha, baik itu yang dialami sendiri atau orang lain jadikanlan suatu bahan kajian bukan dijadikan suatu hal atau penyebab yang mengurungkan niat untuk memulai usaha.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/bercermin-dari-kegagalan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan kerja, Perlukah Enterprenership?</title>
		<link>http://kipsaint.com/isi/kesempatan-kerja-perlukah-enterprenership.html</link>
		<comments>http://kipsaint.com/isi/kesempatan-kerja-perlukah-enterprenership.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jan 2008 01:38:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kips</dc:creator>
				<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Enterprenership]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Kesempatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kipsaint.com/isi/kesempatan-kerja-perlukah-enterprenership-itu.html</guid>
		<description><![CDATA[<p>&#60;</p>
<p>&#60;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/Ruang-gerak.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2328" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="Ruang gerak" src="http://kipsaint.com/wp-content/uploads/2008/01/Ruang-gerak.jpg" alt="" width="144" height="150" /></a>Langkah demi langkah di awal tahun ini telah kita lalui, semoga kita semua mempunyai semangat baru, sehingga dapat memperbaiki ketinggalan-ketinggalan kita sebelumnya. Hal-hal yang belum tercapai di tahun sebelumnya selayaknyalah kita perjuangan di tahun yang mulai berjalan ini.</p>
<p>Sungguh tak terasa hidup ini telah ditempuh bertahun-tahun, hal ini berarti menandakan kita masih dapat menikmatinya. Meskipun terjalnya jalan yang harus dilalui, pastinya tidak dijadikan penyebab hidup ini harus berhenti. Misalnya saja dalam dunia pekerjaan atau usaha, pernah merasakan puasnya hasil yang diinginkan dan tentunya pernah pula menemukan batu-batu sandungan.</p>
<p>Khusus berkaitan pada dunia usaha, mengingat semakin banyaknya berbagai hal yang dapat mempengaruhinya, lantas perlukah arti pentingnya <em>enterprenership</em> itu ada pada diri kita?</p>
<p><span id="more-299"></span></p>
<p>Eratnya kaitan terhadap cara mengatasi masalah pengangguran yang semakin besar di Indonesia, mungkin menjadi bahan pertimbangan dan masukan agar perlu ada upaya pengembangan kewirausahaan di Indonesia, baik melalui pendidikan formal maupun upaya fasilitasi lain dari pemerintah dengan berbagai alasan tentunya, misalnya saja:</p>
<ul>
<li>Kesempatan kerja semakin terbatas, sementara di sisi lain, jumlah pencari kerja setiap tahun selalu bertambah. Lalu kemanakah para pelamar yang tak diterima pada suatu instansi atau perusahaan yang membuka lokernya?</li>
<li>Indonesia sudah terlalu lama tertinggal dari negara lain. Ketertinggalan itu antara lain berwujud kemiskinan dan kemelaratan.</li>
<li>Sebagian rakyat Indonesia berpendidikan rendah. Sebagian diantaranya bekerja di luar negeri sebagai pekerja bangunan, pembantu rumah tangga, perawat, atau pekerja kebersihan. Ini menyebabkan citra Indonesia kurang baik, bahkan dipandang sebagai bangsa dengan tenaga kerja kurang bermutu.</li>
<li>Kemiskinan dan ketertinggalan itu, jika dibiarkan berlarut, akan mengarah ke tindakan negatif.</li>
</ul>
<p>Jiwa entrepreneurship akan memunculkan motivasi untuk maju dan berjiwa inovator. Kewirausahaan akan memindahkan rakyat ke wilayah yang jauh lebih subur dan menyenangkan. Kalau ini terjadi, berarti penganggur dikurangi dan kegelisahan atas meningkatnya angka pengangguran menjadi berkurang.</p>
<p>Pendidikan kewirausahaan penting dilakukan karena akan membuat para wirausaha mempunyai landasan moral, pengetahuan, motivasi dan keterampilan. Wallahualam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kipsaint.com/isi/kesempatan-kerja-perlukah-enterprenership.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

