Tadi malam terdengar ucapan nabi baru dalam sebuah pertemuan dengan beberapa ulama dalam berita televisi, bahwasannya ia telah menjalani sebuah kekeliruan. Didalam waktu yang sama ia mengakui bahwa ia hanyalah manusia biasa yang sama halnya seperti kita. Sebagai manusia tentunya kita pun harus maklum atas kekeliruan tersebut, tetapi alangkah lebih bijaknya jika semua diantara kita menjaga apa yang telah digariskan Al-qur’an dengan tidak melakukan atau mengambil tindakan-tindakan secara gegabah, karena bagaimanapun hal ini akan menjadi noda atau mencoreng keyakinan yang kita jalani selama ini. Sebagai orang awam tidak habis pikir, kenapa hal konyol seperti itu bisa dilakukan yang dirasakan tanpa dibarengi dengan rasio yang sehat dan tepat.
Konon, Sistem rekruitmen AI-Qiyadah Al-lslamiyah mengandal kekuatan dana. Siapa yang bisa merekrut 40 orang, ia diberi hadiah kendaraan roda dua. Kalau bisa merekrut 70 orang, diberi kendaraan roda empat. Sungguh fantastis.
Mengingat dari goresan yang lalu, bahwa sebuah mimpi adalah visi, dimana mimpi-mimpi itu sendiri merupakan imajinasi-imajinasi yang ada. Patut diakui, jika kita tak memiliki mimpi-mimpi terkadang membuat kita kurang memiliki motivasi untuk meraih sesuatu. Maka jelaslah bahwa suatu mimpi atau angan-angan yang berupa imajinasi pun tetap tidak ada salahnya ada dibenak kita, bahkan mungkin saja dari adanya imajinasi-imajinasi ini bisa benar-benar menjadi motivasi untuk meraih dari apa yang kita kehendaki.
Mengaris-bawahi hal diatas, supaya tidak salah kaprah mengenai mimpi-mimpi itu, maka harus dalam batas kewajaran. Memang rasanya sangat sulit menggambarkan batasan-batasannya seperti apa? tetapi kita bisa melihat kembali kedalam diri kita pribadi. Potensi diri kita itu berada pada titik mana.
Sebuah cerita ringan tentang imajinasi-imajinasi yang berkaitan erat dengan ketamakan. Dalam hal ini saya rasa imajinasi-imajinasi tersebut memang berada diluar batas kewajaran atau pada porsi yang berlebihan.
“A Dream Is Vision. Dream enable us to stretch our imagination, But to transform it into a vision is totally a different matter. For this, our need more than just an imagination. Let’s discover the new possibilities that our never experienced before.”
Apakah berbagai cara layak dilakukan demi sebuah keinginan?
Beberapa waktu yang lalu saya kedatangan seorang karyawan di perusahaan yang dimiliki oleh teman akrab saya. Terus-terang, saya sangat menyukai karyawan itu baik karena kinerjanya mau pun karena karakternya yang saya rasa cocok dengan saya. Hal ini pun pernah saya katakan di depan dia dan di depan sahabat saya yang jadi bosnya. Saya katakan waktu itu, saya ingin sekali mempunyai karyawan seperti dia.
Pernahakah kita membayangkan kembali cita-cita yang pernah kita ucapkan dikala masih kecil? Ya, suara-suara polos dan cadel diri kita sering berucap; “Aku ingin jadi Doktel, Aku ingin jadi Pilot, Aku ingin jadi Plesiden…” Pertanyaannya: Apakah cita-cita itu kini sedang dalam proses untuk dicapai?
Seiring berjalannya kehidupan, bertumbuhnya diri kita dan semakin bertambahnya ilmu yang kita miliki kini setidaknya kita tahu diri kita yang sebenarnya, walaupun belum seluruhnya kita mengetahuinya. Sudahkah kita mengetahui diri kita yang sesungguhnya?
Dalam buku Piece of Mind disebutkan hanya 4% dari seluruh penduduk dunia yang memiliki tujuan hidup. Wow, artinya dari 100 orang hanya ada sekitar 4 orang yang tahu apa tujuan hidupnya. Ketika mengetahui, dari iseng-iseng menanyakan tujuan hidup dari beberapa orang disekitar. Hasilnya pun luar biasa, hampir setiap orang yang ditanyakan belum mengetahui tujuan dan visi hidupnya, Kebanyakan dari mereka menjawab “setelah ini mungkin kerja, setelah itu nikah, dan sebagainya.”
Kegembiraan, ketenangan batin, perasaan qanaah (merasa cukup) adalah buah dari ibadah yang berkualitas. Di antara kegembiraan yang akan diperoleh adalah bertemu dan berkumpul keluarga dan sahabat karib di kampung halaman.
Puasa telah kita jalani. Saat ini memasuki babak akhir. Ibarat orang mengikuti sebuah permainan, ini adalah babak yang menentukan. Rasulullah SAW pada sepertiga akhir ini, menghabiskan banyak waktu dengan memperbanyak ibadah dan beriktikaf di masjid. Tetapi mungkin sebagian besar dari kita malah memikirkan bagaimana cara menyambut lebaran dengan mempersiapkan pakaian, perabotan rumah tangga, makanan, bahkan kendaraan yang sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya.
Hari raya, khususnya lebaran menjadi momen spesial bagi seluruh umat Islam. Tak salah, dalam menyambutnya pun penuh suka cita. Agar momen tersebut berbeda dengan hari-hari lain, maka banyak persiapan yang dilakukan.
Tiap kali dalam mempersiapkan hari kemenangan, setelah satu bulan berpuasa, menyambut hari raya idul fitri selalu ada perbedaan yang dirasakan. Tentunya, hari H ini selalu ditunggu-tunggu dengan perasaan penuh haru.
Tetapi kita selalu saja memiliki kesulitan untuk memahami bahwa bergembira di hari lebaran, sebenarnya bukanlah dengan sesuatu yang bersifat lahiriah. Kegembiraan sejati tidak bergantung pada banyaknya keuangan dan kebutuhan fisik lain yang serba baru, melainkan kegembiraan yang muncul secara alami. Kegembiraan, ketenangan batin, perasaan qanaah (merasa cukup) adalah buah dari ibadah yang berkualitas.
Mudik, merupakan suatu kata yang sangat erat kaitannya dengan kampung halaman alias desa. Dimana desa merupakan asal mula dari peradaban Indonesia. Terbentuknya sebuah desa awalnya sebagai hunian sekelompok manusia yang mengerjakan sawah atau ladangnya setelah adanya pembukaan hutan, Yang konon kabarnya, 5000 tahun yang lampau kepulauan Indonesia pun masih berupa hutan rimba.