Consequence or impact from handphone usage too old. Mans while passing the time for hours phones with handphone will have degradation risk about produce of sperm. Do not only that, usage of handphone simply also increases abnormal sperm rate. Conclusion result of the expert in health centers research, Cleveland Clinic, United States.
Research entangling 361 mans and done in range of time one years is indicates that produce of sperm to man affected by usage frequency handphone. Longer man uses ponsel, ever greater possibility that produce of sperm experiences trouble. “Man who is using ponsel within four hours or more every day, he will experience produce of a real low sperm,”Dr Ashok Agarwal said, leader of this research.
Benar gak ya, terdapat efek buruk dari penggunaan handphone berjam-jam untuk pria? Untung saja saya kurang begitu suka menelpon terlalu lama. Jelas saja ga suka, punya handhone atu doank juga sudah jadul banget dan kekurangan pulsa lagi he…
“Dalam lingkungan kerja”
Ujung dari suatu kebiasaan bertanggung jawab di lingkungan hidup sehari-hari ataupun sekolah yaitu berdampak pada saat memasuki dunia kerja. Terdapat beberapa hal yang harus kita pelajari sendiri tanpa ada manual book-nya ataupun menyontek dari teman sebangku seperti halnya waktu ujian sekolah. Learning by doing -lah kira-kira. Memang sih, lebih enak langsung menjalaninya, tetapi sebenarnya persiapan dan pengetahuan dasar bisa kita dapatkan semenjak bersekolah. Bisa jadi, sekarang, saat kita sudah bekerja, kita sudah mempraktikkan banyak hal yang tidak dapat diperoleh dari mata pelajaran, melainkan dari kehidupan sosial atau pengalaman berorganisasi.
Ada keterampilan yang tidak diajarkan secara khusus di sekolah atau kuliah tapi diperlukan saat kita memasuki dunia kerja, seperti: keterampilan beradaptasi dan berinteraksi sosial, tata cara bersikap dan berperilaku, cara berkomunikasi dengan rekan kerja atau atasan, keterampilan bekerja sama, kedewasaan emosi diri dalam bersikap dan bertindak serta dalam menghadapi permasalahan di lingkungan kerja, perencanaan dan pengorganisasian pekerjaan, keterampilan memimpin, dan lain sebagainya.
Dalam lingkungan tempat belajar atau sekolah”
Melanjutkan tulisan yang lalu, kalau tulisan yang lalu adanya dalam kehidupan sehari-hari, kali ini menghargai ilmu yang tak datang dari sebuah buku berkaitan dengan lingkungan dunia pendidikan alias tempat kita belajar atau lebih tepatnya lagi sekolah.
Mengingat-ingat cerita lalu, misalnya saja, waktu di sekolah ada seseorang yang rajin banget melakukan aktivitas menyontek dikala ujian. Hmm.. siapa ya? dah pada lupa nama2nya maklum dah lama bgt. Alasan kenapa ia begitu dan begitu terus? kurang begitu tahu, namun menurut asumsi saya pribadi selain termotivasi untuk meraih nilai yang bagus adalah semata-mata karena malas untuk belajar he… Mungkin hanya sebatas menyontek dikala kepepet sah-sah saja sih, itu kan hanya sesekali saja dan itu pun mungkin terjadi karena ada alasan lainnya. Tetapi kalau sudah mendarah daging itu mah bukan karena suatu alasan tertentu, sifat malas dan kecurangan sajalah yang kuat menempel.
“Dalam lingkungan hidup sehari-hari”
Banyak sekali terjadi dikehidupan sehari-hari kita, sering lupa akan hakikat diri sendiri. Kearifan dalam berpikir terkadang tidak mencerminkan tindakan membanggakan ilmu yang telah menempel di otak kita, padahal secara langsung ataupun tidak langsung otak kita dijejali dengan berbagai pengetahuan setiap harinya, termasuk yang datangnya bukan dari sebuah buku. Biasanya ilmu tersebut implementasinya punah kaitannya dengan lingkungan yang telah memunculkannya, manakala tak ada lagi rasa pengakuan bangga akan ilmu yang telah didapat (atau mungkin merasa gue ini pintar, bisa sendiri lho…).
Jadi teringat beberapa hari yang lalu, saya kedatangan teman lama. Dia mengingatkan saya akan beberapa tahun yang lalu, saya mengajak beberapa teman (tetangga) ke sebuah mall. Kejadian lucu pun terjadi ketika itu, mereka tidak berani masuk dan rasanya badan mereka semua jadi bergetar gak karuan (bilangnya sih karena belum pernah sama sekali masuk Swalayan). Padahal semua dari mereka itu bukan berasal dari kampung, gmn tuh… Yang jelas sekarang beberapa dari mereka sudah tidak takut lagi bahkan yang bekerja pun ada.
Cerahnya langit biru, dimana tanpa ada awan sedikitpun, terkadadang membuat segelintir orang hanyut untuk menikmatinya dengan menatap lagit sambil pikiran jauh menerawang. Memandang birunya langit yang cerah, menurut beberapa orang bisa dikatakan dapat menambah semangat. Apa iya? Mungkin memang benar, barangkali bisa diingat kita pernah mendengar beberapa orang dengan begitu semangatnya untuk menjalankan aktivitasnya dikala melihat langit cerah.
Hmm… jika diingat-ingat, rasanya pernah juga kayaknya he.. Wajar-wajar saja sih, soalnya warna biru yang terdapat pada langit yang cerah itu, konon memang memiliki kekuatan untuk menenangkan jiwa. Bahkan warna biru dalam pikiran dapat memperlambat detak jantung dan membuat kita mengambil nafas dalam-dalam (silakan coba sendiri).
Nah, Kira-kira apalagi ya, selain langit biru, pemandangan yang seperti apa lagi ya yang bisa bikin ngerasa rileks dan semangat? Apakah daratan yang penuh dengan salju putih? Lautan biru? Gunung yang hijau? Atau… Padang yang penuh dengan berwarna kuning?