Jika ada yang bertanya rukun iman ada berapa, maka jawabannya adalah enam.
Iman kepada Allah Swt.. Iman kepada malaikat-malaikat-Nya. Iman kepada Rasul-rasul-Nya. Iman kepada kitab-kitab-Nya. Iman kepada hari akhir. Dan iman kepada qadla dan qadar Allah.
Jika diminta menyebutkan bagaimana mengimani enam point tersebut, kita dapat mempelajarinya dari para guru yang berkeyakinan ahlussunnah Waljama’ah.
Jadi, berapa jumlah dan apa saja rukun iman itu cukup mudah untuk mengingat dan menyebutkannya. Namun satu pertanyaan penting adalah dari mana datangnya iman? Sebab, seperti syair lagu yang dilantunkan salah satu group Shalawat adalah “Iman itu tak dapat diwarisi.” Iman, sebagaimana ungkapan Syeikh Nawawi Al Bantani (1815-1897 M), berangkat dari hidayah Allah Swt.
Menurut Syeikh Muhammad Amin Al Kurdy, perintis Tarekat An-Naqsyabandiyah Mesir (w. 1914 M) adalah berikut. Iman dengan ucapan lisan terkait dengan prosedur di dunia, sementara iman dengan hati terkait dengan urusan akhirat.
Apabila seseorang mengucapkan iman dengan lisan tanpa diyakini dengan hati, maka ia telah beriman menurut kacamata manusia, tapi tidak menurut Allah. Dan ia termasuk penghuni neraka. Sementara apabila iman ia yakini dalam hati dan tidak diucapkan dengan lisan, meski tidak ada uzur, maka ia tampak mengingkari iman menurut kacamata manusia tapi sejatinya beriman menurut Allah. Dan ia termasuk penghuni surga. Lantas, apabiia iman tidak ia ucapkan dan yakini dalam hati, maka ia mengingkari iman menurut kacamata manusia dan menurut Allah.
Utamanya, apabila iman ia ucapkan dengan lisan dan yakini dalam hati, maka lengkaplah sudah. la beriman menurut kacamata manusia dan menurut Allah Swt.
Menurut Syeikh Nawawi Ai Bantani, Iman terbagi atas tiga macam. Pertama, iman yang bersifat taklid (Taqlidy). Yaitu seseorang yakin akan keesaan Allah, dst. karena mengikuti (taqlid) ungkapan atau bimbingan para ulama, tanpa harus dibuktikan. Mudahnya, ia akan mengikuti “apa kata ulama”. Biasanya orang seperti ini adalah orang awam (tidak ahli) dibidang ilmu agama.
Kedua, iman yang bersifat argumentasi atau yang membutuhkan dalil-dalil (Istidlaly). Yaitu mereka tidak hanya iman tapi perlu bukti dalam bentuk tanda-tanda atau argumentasi yang jelas. Misalkan adanya pencipta dapat diketahui dari adanya penciptaan. Atau dibalik, benarkah dari penciptaan yang ada membuktikan adanya Sang Pencipta. Biasanya iman seperti ini dimiliki oleh orang-orang awam (kurang ahli atau juga ahli dibidang ilmu agama) yang menalarkan pikirannya. Biasanya, iman taqlidy dan istidlaly tadi dalam prakteknya masih terpengaruh oleh keadaan dan kemampuan pembuktian dalil. Misalnya, ada orang yang baru mendapatkan kesenangan, imannya langsung naik. Tanda-tandanya terlihat dari sikap bersyukur, dll. Atau mungkin pula ada orang yang mendapatkan kesusahan, imannya langsung ngedrop. karena adanya kesusahan ia menjadi lupa dan mengatakan Tuhan tidak adil.
Tapi lain halnya dengan iman hakiki. Baik dalam keadaan senang atau pun susah, sebentar ataupun lama, sedikitpun tidak menggoyahkan kadar kualitasnya.
Oleh karena itu, bagi orang yang sedang dalam posisi taklidy atau istidlaly selayaknya melirik iman hakiki ini.
Tulisan lain yang mungkin terkait dengan tulisan di atas:
- Akal Bernafsu, Nafsu Berakal...
- Love, In Human Life Story...
- Cerminan Gejolak Hati...
- Hidup dan Mati...
- Dimensi Hidup, Saling Ketergantungan...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.















