Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah.
Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka bisa berbuat iseng. Melihat sebatang pohon huni, dimana buahnya berberntuk bulat kecil terangkai dalam gagangnya seperti buah anggur yang sedang berbuah lebat ditengah ladang. Warnanya yang sudah mulai matang yaitu merah hingga ada yang kehitaman membuat mereka tergiur untuk memetiknya. Buah huni yang berwarna merah itu, terlebih dengan terkenanya sorotan sinar matahari dapat menaklukan hati Nara dan kawan-kawan untuk meraihnya, berebutlah mereka memanjati pohon huni. Buah yang diambil tidaklah banyak, hanya sebatas untuk mengisi kedua saku celana mereka.
Dasarnya sifat anak-anak, kejadian seperti itu berulang di kemudian hari seakan yang dilakukannya sebuah permainan, padahal mereka tahu bahwa pohon huni tersebut ada yang punya. Orang yang punya adalah orang kampung sebelah. Akhirnya, suatu hari ketangkap basah juga anak-anak itu yang sedang memanjat pohon hendak mememtik buah huni tersebut. Dengan ditakuti sebuah parang spontan anak-anak berlarian. Berlari dengan tak perduli akan sendal jepitnya, hingga ada yang terjatuh dan luka. Tapi hal tersebut pun tidak menjadikan kehilangan tawa, seakan luka-luka kecil dikaki itu sudah tiada artinya saking merasa sudah tidak aneh, tetep saja saling tertawa dalam pelariannya.
Orang tua adalah guru yang nyata, jelas memberikan petuah bagi anak-anaknya. Begitupun dengan orang tua Nara, melihat anaknya terluka lalu menanyakan apa yang telah terjadi hingga membuat Nara terluka. Meski niat Nara tidak mengutarakan yang sebenarnya, akhirnya menjelaskannya kejadian yang telah menimpa tersebut pada orang tuanya karena tidak mau menyakiti hatinya. Lalu orang tuanya pun menyarankan untuk tidak berbuat seperti itu lagi dan menyuruh Nara minta maaf kepda yang memiliki pohon huni itu.
Esok harinya, saat yang sama yaitu pulang sekolah kebetulan bertemu dengan orang yang memiliki pohon itu ditempat yang sama pula (tempat pohon huni itu berada). Dan sang bapak mpunya pohon pun menjelaskan, “bukannya tidak boleh mengambil buah tersebut tetapi yang tidak boleh adalah mengambil barang orang lain tanpa ijin atau mencuri, kalau pun mau, memintalah terlebih dahulu karena buah huni pun tak seberapa harganya kalau pun dijual, pasti dikasih” tutur si bapak. Nara dan teman-temannya pun mengerti dan berjanji tidak mengulangi lagi. Mereka menyadari akibat perbuatan yang kurang baik mengakibatkan kerugian lain seperti luka akibat terjatuh pada saat berlari menghindari amarah yang punya pohon tersebut, sampai-sampai ada yang kehilangan sandal jepitnya sehingga esok harinya kesekolah tanpa memakai sandal jepit akibat belum mampu untuk membeli lagi.
NB:
Beberapa hal yang tercermin dalam cerita klasik ini; patuh terhadap orang-tua, menghargai milik orang lain, berani mengakui kesalahan dan bertanggung-jawab serta semangat yang tinggi (tetap sekolah meski tanpa sendal jepit). Mudah-mudahan hal-hal tersebut senantiasa tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bukan dengan atau tanpa sandal jepitnya tapi semangatnya