“By attitude we understand a process of individual consciousness which determines real or possible activity of the individual in the social world”. Melalui sikap, kita memahami proses kesadaran yang menentukan tindakan nyata dan tindakan yang mungkin dilakukan individu dalam kehidupan sosialnya. Hal tersebut menandakan bahwa sikap menjadi bagian penting dalam kehidupan secara sadar. Karena pentingnya, semenjak awal abad 20 para sosiolog banyak menelaah kehidupan dan perubahan sosial yang terkait dengan kondisi mental yang kompleks.
“Oxford Advanced Learner Dictionary” (Hornby, 1974) mencantumkan bahwa sikap (attitude), berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu ” Manner of placing or holding the body, Way of feeling, thinking or behaving” . Sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, cara merasakan, jalan pikiran dan perilaku. Sedangkan menurut Thomas & Znaniecki (1920), sikap adalah predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku tertentu, sehingga sikap bukan hanya kondisi internal psikologis yang murni dari individu, tetapi sikap lebih merupakan proses kesadaran yang sifatnya individual. Artinya proses ini terjadi secara subjektif dan unik pada diri setiap individu. Keunikan ini dapat terjadi oleh adanya perbedaan individual yang berasal dari nilai-nilai dan norma yang ingin dipertahankan dan dikelola oleh Individu.
Sikap merupakan hal yang berkaitan dengan emosi yang mendorong dilakukannya tindakan-tindakan tertentu dalam suatu situasi sosial, sebagai tendensi psikologis yang diekspresikan oleh evaluasi terhadap entitas tertentu dengan derajat suka atau tidak suka. Sedangkan objek sikap dapat berupa benda, situasi, dan orang.
Dari suatu sikap, seseorang akan memperoleh pengalaman belajar memahami sikap tersebut, disisi lain tidak menutup kemungkinan dapat memberikan kesempatan pada individu lain untuk belajar. Belajar memahami sikap dan sekaligus belajar menentukan pilihan. Misalnya, sebatas sudut pandang personal, saya lebih menomor-satukan menghormati atas dasar usia dalam berkomunikasi atau berinteraksi. Sebagai alasannya, tahapan usia keberadaanya tak bisa dirubah oleh manusia meskipun datangnya ajal tak diketahui kapan terjadi, sementara faktor-faktor penting lainnya (posisi jabatan/pekerjaan, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya) akan berubah derajat kepentingannya bila berada dalam area dan konteks yang berbeda.
Satu ilustrasi kecil, suatu ketika dalam salah-satu social networking si A menyapa seseorang yang namanya cukup terkenal dalam dunia maya (sebut saja B), A menyapa B langsung dengan menyebutkan namanya. Apa yang terjadi setelah itu, respon si B hanyalah terlihat memandang sebelah mata. Dalam hal ini menampakan bahwa adanya ketidak-sopan-santunan si A terhadap B yang usianya jauh lebih tua. Dari situ A mendapat pelajaran sehingga keesokan harinya bisa menyapa dengan semestinya. Jadi, dari hal tersebut secara tidak langsung mendapatkan pengalaman belajar.
Masih dalam sebuah social networking , misalnya suatu ketika ada seorang user (sebut saja C) mengajukan pertemanan dengan si A, dan dengan senang hati si A menerimanya. Namun setelahnya, banyak perkataan-perkataan C yang dianggap si A belum pada tempatnya. Menurut si A, si C dengan kapasitasnya belum pantas bertingkah seperti itu dimana usianya pun masih “bau kencur” kalau istilah kasarnya. Kesimpulan tersebut dinyatakan atas dasar penyusuran lebih jauh si A terhadap kebenaran ucapan-ucapan si C yang dikaitkan dengan keberadaan sesungguhnya tentang si C, alhasil 100% bertolak belakang. Dari hal tersebut tergerak hati si A untuk memberi masukan sesuai dengan kemampuannya, dan dilakukan dengan secara tidak langsung dengan maksud dapat diterima dengan baik dan nyaman oleh si C. Meskipun tidak terjadi perubahan yang berarti, si A telah memberikan peluang kepada si C untuk menyesuaikan diri berinteraksi dengan orang yang berbeda-beda sampai akhirnya si A memutuskan untuk tidak berinteraksi dengan si C. Dari hal tersebut mencerminkan bahwa sikap itu sediri bisa memberikan kesempatan pihak lain untuk belajar.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
saia jelaskan di sini:
A = Dhodie
B = Kang Indra
C = Addie
makasih
[Reply]
katakataku Reply:
November 12th, 2009 at 04:26
@Dhodie:
A = Addie
B = Blezynsky, Tamara (gaya tulisan orang luar)
C = Cinta Laura
D = maap cuma sampe C
#punten nembean ameung deui kadieu, koneksina asa lemot
ta ti server hostingana
[Reply]
RAIHLAH JATI DIRI MANUSIA untuk
MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuullllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll
[Reply]
ilustrasi terakhir itu seperti pernah dicobakan ke temen, dan ada perubahan walau belum maksimal.
sepertinya bersikap dan berlaku sesuai dengan siapa kita berhadapan sangat penting
[Reply]
kl menurut malcolm gladwell dalam tipping point, sikap dan perilaku manusia itu ga bisa diprediksi. semuanya tergantung konteks. intinya, semua manusia itu jujur dan pembohong, sabar dan pemarah. tergantung konteksnya..
salam kenal yah!
[Reply]
sikap …
mudah di pelajari sehingga seorang yang sering memperhatikan pola sikap orang disekitarnya maka akan mudah baginya menilai orang lain.
sikap menentukan kehendak dan kehendak akan menentukan keputusan dan keputusan akan menentukan masa depan. Berani menulis berarti berani membuat sejarah dan ini telah terukir hingga pada suatu waktu akan terlihat sikap kita apakah benar, salah tepat atau tidak.
senang berkunjung kesini
[Reply]
mmmm sedikit sulit memberikan komentar mengingat bahasanya yang lumayan tinggi bagi saya dan banyak pilihan gandannya, hahahhaha [peace]. Tapi saya kira sikap terbentuk dari banyak faktor, yang utama sich dari pendidikan dasar dari orang tua, baru kemudian menjalar ke faktor-fakto yang lain seiring perkembangannya. kadang-kadang juga faktor intercept [ala apa lagi ini] mempengaruhi pola sikap yang sudah biasa digunakan. Just My Opinion. Kurang dan lebihnya di Puntenkan aja Kang. heheheh
[Reply]
*nembe ayeuna tiasa ngajemprak didieu, kamari2 mental wae geuning kang?
*
coba ditambihan ‘A’na hiji deui, pasti B moal kasinggung manahna
[Reply]
kapan2 mah bikin perumpamaan teh pake V, W, X, Y, Z atuh kang kips (atau kang indra kitu ya?) biar saya bisa ikutan.
kalo pake ABC mah asa kedah maksakeun jadi… A = aihhhhhh… v ya?? ato B = beu..beu..beu… geuningan V
ato C kitu = cantiknya v ini…
eh.. palih mana atuh caket ka sabuga teh?
[Reply]
tadinya sayah bingung, ini lagi ngomongin apaan sih? oww.. ternyata gitu toh.
hm..seharusnya jangan diliat dari siapa yang menyampaikan, tapi diliat dari informasinya. siapa tau si anak kencur itu lebih tau daripada kita.
btw, bener si ABC menurut dhodie?
[Reply]
indra Reply:
November 26th, 2009 at 19:06
Masukan yang sangat berarti dan memang layaknya seperti itu, terima kasih banyak
Sedikit penekanan bisa dicermati dg seksama dalam cerita *fiksi* diatas, “kesimpulan tsb dinyatakan atas dasar penyusuran lebih jauh terhadap kebenarannya” ibaratnya sesumbar tentang kepalsuan.
Tentang ABC asumsi Dhodie 100% itu ngarang, sekali lg itu cuma umpamanya (kebetulan sy malas menggunakan nama takutnya ada yg sama trs tersinggung)
[Reply]
salam persahabatan 
semoga nanti bisa bersahabat
selamat hari raya idul adha 1430 hijriah
mohon maaf lahir dan juga batin
[Reply]
mm,, teoritis sekali, tapi secara praktek bisa menghasilkan macam-macam, jadi tinggal disikapi lebih baik lagi ajah. hehe…
[Reply]
kips Reply:
November 11th, 2009 at 22:17
*Nuju teu tiasa login nanaon yeuh, koneksina sakarat*
Itu mah perumpamaan alias dongeng, kl sy jadi pemeran yang paling cocok kayaknya jadi C, kan termuda dari yang muda *haachih*
[Reply]
KangBoed Reply:
November 19th, 2009 at 21:44
huuuueeeeeeexxxzzz
[Reply]
KangBoed Reply:
November 19th, 2009 at 21:45
hihihihi si aki aki meuni galak pisaaaang
[Reply]
indra Reply:
November 20th, 2009 at 12:45
KangBoed Reply:
November 19th, 2009 at 21:47
Hdoooh hari ini Nyepam kok susah yaaaaaaaa
[Reply]
indra Reply:
November 20th, 2009 at 12:48