Dalam sesaknya dada seperti ini sang jiwa menghuni kesunyian dan penuh irama tak kuasa bertahan. Saat bersua dengan sahabat meski terkadang tidak dalam dekat, membiarkan batin menggerakan bibir dan mengalahkan lidah, berharap jiwa menerima pesan naluri tiada lain isyarat hati, bak nikmat anggur yang selalu terbayang ketika aroma dan rasanya telah hilang dan gucinya telah tiada.
Tak dapat dielak memang, semua itu menuntut pencarian kawan atau lawan bicara karena takut tertimpa akan kesunyian. Niscaya kesunyian hati nampak karena mata yang membuka kekurangan diri.
Disaat damai tak teraih dengan pikiran, saat itulah bicara dalam kata. Dan manakala tak bisa membenahkan kesendirian hati, menyadari hidup yang sesungguhnya dengan bibir dan suara ibarat hiburan atau penengah waktu. Memang sebagian yang terucap tanpa berpikir, tapi itu disebabkan kalimat dan kata pikiran lumpuh terkurung. Meski dapat merentangkan sayap, namun tak mungkin melayang ke angkasa raya.
Dan jika saja ada sebagian kata-kata terhempas tanpa pengetahuan atau pemikiran sebelumnya, niscaya akan menyingkapkan sebuah kebenaran yang sesungguhnya diri tidak memahaminya, kebenaran didalam diri itu tertuturkan bukanlah berwujud kata-kata, tapi yang terhempas pun disertai asa “bukan asal bicara”.
