Sepenggal saja atau lebih, untaian kalimat yang dijabarkan atas support dalam bentuk respons sahabat-sahabat tentang postingan sebelumnya. Kejujuran hati para sahabat semua sangat menjadi pertanda nyata sebagai insan biasa, sama halnya dengan keberadaan diri ini. Memang tidak dapat dipungkiri, untuk melakukan itu semua nyatanya lebih susah ketimbang menyuarakannya, kita hanya bisa sebatas ikhtiar saja. Berkaitan dengan masukan para sahabat tentu saja menjadi sangatlah penting, karena secara tidak langsung memberi semangat untuk berusaha mewujudkan harapan yang ditorehkan dalam postingan sebelumnya tersebut meskipun secara jujur pula diakui, mungkin baru sebagian saja yang dapat direalisasikan dengan semestinya. Dan, postingan ini merupakan salah-satu wujud bahwa penulis masih jelas keberadaanya.
Dalam menjalani liku-liku hidup dengan berbagai ujian, berharap hati senantiasa cemerlang dalam hidup secara sadar. Semoga Allah merahmati bahwa setiap anggota badan kita ini diciptakan untuk melakukan pekerjaan tertentu. Kesempurnaannya tergantung pada pelaksanaan pekerjaan itu. Jika ada penyakit, maka akan menyebabkannya tidak dapat melakukan pekerjaan tersebut dengan semestinya. Sebagai contoh, penyakit mata menyebabkan mata tidak dapat melihat, penyakit lisan menyebabkan lisan tidak dapat berbicara dan lain-lain. Begitupun dengan penyakit hati menyebabkan hati tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang menjadi tujuan diciptakannya hati, seperti mengenal Allah, mencintai-Nya, tunduk kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, mencintai dan membenci karena-Nya, senantiasa mengingat-Nya, dan tentunya mengharapkan karunia-Nya.
Diantara sebab-sebab dari musibah yang terjadi adalah berpalingnya hati dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Barangsiapa yang lebih mencintai sesuatu yang lain diatas kecintaan kepada-Nya berarti hatinya sedang sakit dan tertawan, yaitu menjadi tawanan hawa nafsunya. Didalam hati yang berpenyakit terdapat bermacam-macam keburukan dan kerusakan yang tidak terkira banyaknya, tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali oleh Rabbnya para hamba.
Sesungguhnya hati itu jika dapat merasakan kenikmatan ibadah kepada Allah dan keikhlasan kepada-Nya, niscaya dia tidak akan memiliki sesuatu pun yang lebih manis darinya. Setiap orang yang mengenal Allah, niscaya akan mencintai dan mengikhlaskan peribadahan hanya untuk-Nya. Dia tidak akan lebih mengutamakan kecintaan kepada sesuatu yang lain diatas kecintaannya kepada-Nya. Seandainya tidak ada hukuman lain bagi hati yang sibuk mencintai sesuatu selain Allah dan berpaling dari mengingat-Nya selain berkaratnya hati, kerasnya hati dan tidak dapat mengerjakan tujuan diciptakannya hati, niscaya hukuman itu sudah cukup.
Semoga dari beragam torehan dengan bahasa dan gayanya yang berbeda tidak menjadi kita semua salah menafsirkannya, tidak terjebak dalam satu sudut pandang . Hal ini pun sama-sekali bukanlah perwujudan dari suatu pelajaran yang harus dilaksanakan dari penulis melainkan saling memberi dan sekaligus memohon penyemangat hidup dalam bentuk saling mengingatkan. Tergambar besar keyakinan dalam hati ini, cerminan hati para sahabat yang bersih dan ikhlas untuk saling mengingatkan dalam hal kebajikan. Bersyukur sekali memiliki kerabat dengan keikhlasan dan kebersihan hati seperti kalian, “menjadi hidup lebih hidup”
Saking senangnya!
Tweet
indra Reply:
December 25th, 2009 at 01:07
Sip
Bukan resolusi ini Wan
[Reply]