KIP's Bandung

indra's Articles

Hari ini tanggal 14 Agustus 2009, diperingati sebagai Hari Pramuka ke 48. Dalam keheningan suasana pagi, tiba-tiba tersenyum kecil mengingat beberapa tahun silam semasa sekolah mengikuti kegiatan pramuka. Hari pramuka biasanya diperingati di berbagai daerah dengan upacara bendera. Upacara tersebut biasanya didahului dengan berbagai acara yang menarik salah-satunya jambore (“kemah” istilah bahasa sundanya) dalam kurun waktu beberapa hari. Kiara Payung atau Cibubur mungkin dua tempat berkemah di kawasan Jawa Barat itulah yang masih melekat dalam ingatan.

Mengacu pada pelajaran yang diberikan oleh Bapak Pandu se dunia Lord Baden Powell, kegiatan itu diarahkan pada kemah dengan segala acaranya di lapangan terbuka di pedesaan, atau tempat-tempat yang “anak kota” biasanya sehari-hari sudah tidak lagi mengalaminya. Bagi Lord Baden Powell, ajakan berkemah itu dilakukan karena pada jamannya terjadi revolusi industri maha dahsyat yang menarik anak muda untuk belajar giat sebagai bekal terjun dalam bidang industri dan manufacturing yang sangat marak. Tujuannya adalah menguasai tehnik-tehnik “survival” di alam terbuka yang tidak jauh dari kampung atau desa sekitarnya.

Keprihatinan Lord Baden Powell itu mempunyai alasan yang sangat kuat. Karena itu dengan tekad yang luar biasa diajaklah anak-anak muda Inggris, melalui sistem pendidikan kepanduan, dalam kelompok-kelompok kecil yang kompak, menjadi tenaga muda penuh percaya diri, solidaritas antar anggota yang kompak, agar sanggup menghadapi masa transisi sebagai tenaga muda yang berkepribadian tetapi juga lengkap dengan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan survival yang sangat tinggi. Dalam kelompok-kelompok kecil itu anak-anak muda dilatih dan diberi kesempatan mengembangkan kepemimpinan dengan memberi kesempatan setiap anggotanya menjadi pemimpin regu. Setiap anggota regu diberi kesempatan untuk belajar memimpin, mengembangkan prakarsa, dan gagasan-gagasan brilian serta mencobanya tanpa rasa malu atau kawatir dicemoohkan dalam regunya.

Agustus merupakan bulan yang banyak menyisakan kenangan selama perjalanan yang telah terlewati, beberapa diantaranya berkaitan dengan kegiatan pendidikan. Bukan hanya kenangan manis tetapi kenangan sebaliknya pun sering melintasi pikiran secara spontan. mungkin karena itu pula secara reflek beberapa postingan terakhir terkait dengan masalah pembelajaran meskipun jelas-jelas postingan tersebut hanyalah ceritra atau karangan belaka.

Dasarnya kehidupan memang menuntut sebuah pembelajaran dalam mengembangakan kehidupannya itu sendiri. Oleh karena itu, rasanya tidak ada salahnya mengenali teori pemrosesan informasi dalam pembelajaran.

Robert Gagne berpendapat bahwa tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yakni; motivasi, pemahaman, pemerolehan, penyimpanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan dan umpan balik.

Asumsi yang mendasari teori tersebut adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Dimana perkembangan itu sendiri merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan (input) informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi ini terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Dimana kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sementara kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Dari interaksi kedua kondisi tersebut pada akhirnya mewujudkan suatu bentuk implementasi nyata dari pembelajaran secara real sebagai realisasinya.

Segerombolan anak desa, dengan pakaian merah putih itu akhirnya pulang bersama-sama. Kesenangan yang digambarkannya sungguh tiada tandingannya, padahal kebanyakan dari mereka bersekolah hanya dengan memakai sandal jepit dengan memperlihatkan kondisi kaki yang penuh dengan bekas luka, buluk dengan debu jalanan. Tapi itu tak mengakibatkan kehilangan suka-citanya bersekolah.

Dalam perjalanan pulang ada saja yang membuat mereka bisa berbuat iseng. Melihat sebatang pohon huni, dimana buahnya berberntuk bulat kecil terangkai dalam gagangnya seperti buah anggur yang sedang berbuah lebat ditengah ladang. Warnanya yang sudah mulai matang yaitu merah hingga ada yang kehitaman membuat mereka tergiur untuk memetiknya. Buah huni yang berwarna merah itu, terlebih dengan terkenanya sorotan sinar matahari dapat menaklukan hati Nara dan kawan-kawan untuk meraihnya, berebutlah mereka memanjati pohon huni. Buah yang diambil tidaklah banyak, hanya sebatas untuk mengisi kedua saku celana mereka.

Dasarnya sifat anak-anak, kejadian seperti itu berulang di kemudian hari seakan yang dilakukannya sebuah permainan, padahal mereka tahu bahwa pohon huni tersebut ada yang punya. Orang yang punya adalah orang kampung sebelah. Akhirnya, suatu hari ketangkap basah juga anak-anak itu yang sedang memanjat pohon hendak mememtik buah huni tersebut. Dengan ditakuti sebuah parang spontan anak-anak berlarian. Berlari dengan tak perduli akan sendal jepitnya, hingga ada yang terjatuh dan luka. Tapi hal tersebut pun tidak menjadikan kehilangan tawa, seakan luka-luka kecil dikaki itu sudah tiada artinya saking merasa sudah tidak aneh, tetep saja saling tertawa dalam pelariannya.

Baru menyadari, setahun belakangan ini hampir gak pernah blogwalking dengan teratur kecuali pada satu-dua blog saja yang dihampiri. Semua itu terjadi bukan karena enggan berinteraksi, angkuh ataupun menyombongkan diri, namun ketidak-menenentuan kondisi terkadang membuat keseimbangan kendali goyah begitu saja tanpa terasa. Selama ini hampir setiap saatnya online tidak jauh dari meletakan diri dalam social networking khususnya plurk dan FaceBook , itu pun hanya dibuat sebagai sarana cuap-cuap yang terkadang tanpa keseriusan, hanya dijadikan tenpat menuangkan berbagai candaan meskipun candaan tersebut terkadang tak terarah, garing dan membosankan :-D

Jika titik kejenuhan itu datang, rasanya ingin sekali jalan-jalan, jalan-jalan kemana saja yang sekiranya bisa membuat diri kembali merasakan ketenangan dan kesegaran pikiran. Ya, mudah-mudahan mulai saat ini bisa kembali jalan-jalan dalam dunia nyata dan juga dunia maya :-D Bagaimana pun sangat disadari betul jalan-jalan memang bisa mendatangkan manfaat.

Mengingat menurunnya semangat blogging yang saya alami, dari apa yang terjadi rasanya ingin sedikit mengulas tentang manfaat blogwalking. Kesadaran akan arti pentingnya blogwalking itu sangat terasa sekali jika dicermatinya dengan seksama terlebih bagi saya yang masih pemula dan gaptek, ditambah menurun drastisnya pengunjung (hampir 90%) akibat server sering down dan koneksi yang super ehmm.., meskipun saya sadar blog ini tidaklah sebagus blog rekan-rekan semua. Kalau dilihat dari komentar atau masukan yang ada saja itu sangat minim sekali, tetapi paling tidak sempat merasakan adanya pengunjung dan tetap bertahan itu pun sudah menjadikan satu kepuasan tersendiri.

22
Jul

Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; “aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.” Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang luas, mengenyam sekolah setinggi mungkin sehingga berguna bagi sesama. Bayangan untuk menjadi seorang dokter selalu menghantui pikirannya. Karena itulah, meski belum cukup umur untuk bersekolah Nara pun memaksa kepada ibunya. Karena kondisi yang belum mendukung, orang-tua Nara tidak mengijinkan sekolah, selain belum cukup umur keadaan orang tuanya pun belum memungkinkan untuk membeli peralatan sekolahnya.

Berhari-hari Nara terus meminta ijin untuk bersekolah, akhirnya orang-tuanya pun mengabulkannya. Pagi itu, Nara bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dengan berbekal sebuah tas sekolah bekas saudaranya, yang sudah kumel dan lusuh. Sebelum berangkat sekolah, sudah tersedia sarapan yang telah disediakan ibunya. Menu yang sangat sederhana sekali yakni hanya sepiring nasi goreng yang hanya dibumbui garam, cabe rawit, bawang merah dan sedikit kecap tanpa penyedap rasa. Tetapi menu itu dapat dikatakan cukup untuk ukuran keberadaan di desa kecil yang masih dikatakan jauh dari kemewahan dan masih berada dalam keterbelakangan pengetahuan yang memadai. Selesai sarapan, Nara langsung pamitan kepada ibunya, sementara ayahnya telah lebih dulu berangkat ke ladang.

Page 4 of 64« First...23456...Last »

Advertisment

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Impian Kecil Nara
Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka batur, tapi boga hate luhur, tungtungna...

Links

Subscribe Us

Page: /isi/author/indra/page/4 : Test Link 1 - Test Link 2 - Test Link 3 - Test Link 4 - Test Link 5