KIP's Bandung

indra's Articles

Tingkat kejenuhan blogging terkadang dimunculkan dari adanya theme blog atau website yang terasa monoton dalam kurun waktu lumayan lama. Lalu menggantinya dengan yang baru, hal tersebut mungkin ada yang mengalaminya, haha… itu mah saya :-D Meskipun theme baru yang dipilih telah mendukung SEO, tapi tidaklah jarang menambahkah sepuas hati aksesoris-aksesoris tambahan guna menambah keindahan tampilan,  menambahkan widget-widget atau link-link dengan tanpa memperhitungkan valid tidaknya kode widget atau kode links tersebut yang penting nyaman dan asyik dilihat.

Sebenarnya, website atau blog yang memiliki sintak atau kode yang valid tentunya akan mempunyai dampak yang baik, begitupun web atau blog yang memiliki tampilan yang menarik. Jadi keduanya tidak ada salahnya selama owner dan user menyukainya.  Tetapi alangkah baiknya jika kedua hal tersebut dapat dipadukan implentasinya.Terlepas dari semua itu, saya berharap dapat mempelajarinya, sayangnya batas kemampuan masih bertengger dengan kuatnya :-D

Saat gema takbir berkumandang jari-jari tangan ini baru sempat mengemban titah hati. Dengan segala kerendahannya memohon keikhlasan semua kerabat memaafkan segala klilaf dan salah yang telah diperbuat, baik itu disengaja maupun tidak, baik itu kecil atau pun besar. Semoga menjadi tonggak diri ini menjadi lebih baik jika seandainya saja masih diberi kesempatan oleh-Nya bernafas dan melangkah lebih jauh untuk menyambut lebaran diwaktu mendatang. Dan semoga di hari fitri ini jalinan silaturahmi dapat terus ditingkatkan tanpa lupa mensyukuri kemenangan ini dan senantiasa berharap hati kembali bersih.

Taqobalallahu minna wa minkum, Syiamana wa syiamakum,  Minal aidin wal faidzin.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.

Sungguh tak terasa waktu bergulir begitu cepat, mungkin karena saking betahnya menjalani hidup dengan segala kuasa-Nya meskipun baru saja beberapa hari yang lalu kita diberi peringatan untuk besikap dan bertindak lebih bijak. Kita mesti bersyukur masih tetap diberi kenikmatan yang tiada tara, hal ini tentunya bukan mensyukuri atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita melainkan mensyukuri atas kita semua yang diberi keselamatan dan segala nikmat-Nya. Diluar itu semua, bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah semoga diberi ketabahan atas apa yang telah menimpanya. Mudah-mudahan kita semua masih diberikan kesehatan pikiran sehingga dapat menempatkan segala sikap sabar atau mengeluh pada posisi yang semestinya.

Jika diperkenankan oleh-Nya, sebentar lagi kita akan menyambut lebaran. Dan sudah menjadi tradisi setiap tahun, bila lebaran datang menjelang, perubahan mobilitas ummat Islam terjadi. Dimana-mana sibuk dengan “urusan dunia”, yakni persiapan lebaran hingga masjid yang pada permulaan puasa penuh sesak jama’ah shalat tarawih, biasanya pada akhir Ramadhan itu mulai terasa mengendor kendatipun Allah telah menjanjikan pahala besar bagi yang memanfaatkan peluang Laylatul Qadar. Yaitu yang biasa ditandai pada sepertiga akhir puasa.

Biasanya tidak sedikit diantara kita (kaum muda) yang kurang memanfaatkannya, hal ini dapat terlihat dengan berkurangnya shaf-shaf shalat tarawih di babak sepuluh terakhir itu dengan berbagai dalih kesibukan; berbelanja atau mempersiapkan acara mudik ke kampung halaman, sehingga di rumah-rumah Allah tersisa kalangan sepuh yang tetap kelihatan aktif bermunajat. Dan tempat ibadah pun menyusut ibarat terjadi seleksi alamiah: hanya mereka yang tekun mendambakan rahmat Allah semata yang tetap kelihatan rajin di masjid untuk i’tikaf.

02
Sep

Diantara Malam dan Pagi

Related entries: Life, Poetry   Tags:, , ,

Memang bukan kali ini saja aku disini. Kemarin, sekarang atau mungkin esok hari nanti. Bersaksi atas asa dan asap tengah malam yang lebur teraduk dalam pekat kerumunan gelapnya corak warna suasana. Dimana, diantara malam dan pagi diamlah hati karena ruang tak lagi dapat mendengar, dan penglihatan pun terasa samar. Berkuasalah sunyi, seakan seruan hantu-hantu malam tak lagi memberi perhatian dengan bisikan rahasianya yang memang tak dapat menghentikan kegelapan dihadapan semua mimpi-mimpi. Tapi lain untuk kali ini, diamlah hati sampai fajar tiba dengan sopan menunggu pagi berharap pasti akan datang menemui, dan terus tak henti mencoba membaca diri seraya menunggu asa mencintai cahaya dan berharap kan dicintai oleh cahaya.

Sebuah asa bertangkupkan kesunyian, lengang dari hiruk-pikuk kekuasaan, kemilau harta ataupun pikatan kehormatan. Suasana itulah yang mungkin serentak dirayakan. Dan dengan gelisah yang kian mencekam, hati ini terus bertanya dan selalu berpengharapan atas gerangan kebanggaan itu. Dimana hati telah berjanji mendatangi kesucian jiwa yang diberkahi dengan keagungan. Hendak melangkahkan kembali dengan pikiran yang diselubungi berjuta tanda-tanya akan bayangan yang kan dijumpai.

Harus diakui dengan pasti, berjuta hati menggantungkan harapan disaat yang sama, menunjukan dimana tidak sedikit diantara suasana hati adalah penunjukan atas pilihan sendiri. Mencoba menguak diri yang silau dan masih menggenggam sebuah hati yang sendiri serta rindu akan berkah-Nya dengan segala rahasia-Nya. Merujuk hati bicara, semakin dalam rebahan diri semakin mampulah rasa jelmaan bahagia. Dan diluar jiwa yang meleleh lantaran cinta, nampaklah jiwa yang lain. Laksana kabut yang rindu untuk beralih rupa menjadi tetes-tetes air mata.

Untuk kesekian kalinya saya berujar bahwa bulan Agustus adalah bulan yang sangat bersejarah bagi saya pribadi. Diluar semua itu, hal tersebut pun terkait dengan peradaban sejarah bangsa kita, bangsa Indonesia. Dimana, setiap tanggal 17 Agustus, berbagai acara untuk memeriahkan hari ulang tahun kemerdekaan bangsa tercipta. Banyak cara untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita tersebut. Diantaranya terdapat kesibukan-kesibukan berbagai kalangan yang merayakannya dengan mengadakan berbagai perlombaan dan hiburan.

Seandainya saja terdapat diantara sebagian kalangan yang bisa dikatakan salah kaprah atau kurang tepat dalam mencari atau menafsirkan makna kemerdekaan, tentu hal tersebut tidak bisa disalahkan begitu saja. Karena hal yang lebih penting adalah memanfaatkan semaksimal mungkin perayaan kemerdekaan itu sendiri. Dan memang banyak cara yang bisa dilakukan untuk lebih mendukung perayaan kemerdekaan. Selebihnya, yang terpenting hanyalah bagaimana meneruskan perjuangan kemerdekaan itu sendiri secara general, termasuk didalamnya menuju kebebasan finansial, memperkecil jumlah pengangguran dengan memperluas lapangan dan kesempatan kerja, dan lain-sebagainya. Lantas, apakah hal tersebut sudah mencerminkan kesadaran orang-orang Indonesia untuk dapat mempertahankan kemerdekaan ini? Atau mungkin masih tersirat pertanyaan, sudahkah kita merdeka?

Sedikit teringat untaian kata-kata seorang musisi ditengah-tengah konsernya tadi malam (Iwan Fals), kurang-lebihnya; “Bangsa kita memang telah merdeka, sementara yang belum merdeka hanyalah diri kita dari godaan atau pengaruh syaiton”. Jika dicermati dengan seksama, hal tersebut merupakan sebuah tantangan bagi kita semua untuk dapat membenahi diri. Lalu, yang justru menjadi pertanyaan berikutnya, bagaimana kita menyikapi semua tantangan itu, ataukah kita justru terbuai dengan berbagai kamuflase saat ini? Jawaban semua itu kembali pada masing-masing hati nurani, tiada lain instrospeksi diri dalam hidup secara sadar.

Page 3 of 6412345...Last »

Advertisment

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Melacak Makna Sebuah Kemerdekaan
Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka batur, tapi boga hate luhur, tungtungna...

Links

Subscribe Us

Page: /isi/author/indra/page/3 : Test Link 1 - Test Link 2 - Test Link 3 - Test Link 4 - Test Link 5