Kehidupan manusia adalah bagaimana mereka memikirkannya, sebaris famous quote by Marcus Aurelius Antonius , seorang kaisar Romawi jaman dulu. Tergambar jelas bahwasanya pikiran turut andil dalam menentukan hidup kita sukses atau tidaknya, bahagia atau sebaliknya dan lain-lain. Memang gak salah pikiran mempunyai kekuatan tersembunyi yang sangat luar biasa, saking kuatnya tak jarang seorang pemikir berat rambutnya “murudul” alias rontok dan berujung pada kebotakan terutama bagian jidat. Ada juga yang sampai kurus kering loh akibat kekuatan pikiran semakin merajalela
Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sangat luar biasa kepada manusia. Bagaimanapun keberadaan pikiran itu sangat penting karena potensi terbesar dalam diri manusia adalah terletak pada pikiran. Sayangnya tidak semua orang menyempatkan waktu untuk mengoptimalkannya. Pada umumnya manusia lebih menikmati berada atau bahkan terjebak pada zona rutinitas terlebih berada dalam zona yang dianggap comfort. Bukan tanpa alasan, mungkin satu atau dua orang saja disekeliling kehidupan nyata telah mewakili pernyataan ini, termasuk didalamnya saya pribadi. Padahal tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita untuk mencapai berbagai impian. Dengan menyadari bahwa suatu keinginan yang terekam kuat dalam pikiran akan menjadi daya dorong terhadap gerak-gerik seluruh unsur diri untuk berbuat sesuatu.
Banyak nama-nama besar dibalik kisah kesuksesan hidupnya ternyata mereka adalah orang-orang yang telah memprogram otak mereka sedemikian rupa untuk mencapai kesuksesannya. Sebut saja salah-satunya Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, dan lain-lain. Nah, bagaimana dengan kita? Mungkin kita bisa belajar paling tidak memahami karakter dan cara berpikirnya dari orang-orang sukses yang ada. Jika saja saat ini kita menggunakan potensi dari kekuatan pikiran hanya sebesar prosentase tertentu untuk melakukan berbagai hal yang biasa kita gunakan, sudah barang tentu sisanya berupa unconscious mind yang masih dapat dimaksimalkan untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik. Apa iya? Rasanya patut kita coba.
Lalu, dapatkah mengubah isi pikiran kita? Bagi orang-orang yang memiliki sifat idealis yang kuat mungkin sedikit rumit, namun tidak sepenuhnya demikian. Seperti halnya mengganti padang ilalang menjadi kebun jagung, atau mengubah rawa-rawa menjadi empang, tentunya memerlukan suatu proses. Dengan keyakinan yang kuat, apapun yang ditangkap pikiran, itu dapat terjadi. Disinilah pentingnya total-mind learning, sebagai upaya pendayagunaan dan peningkatan seluruh potensi pikiran guna meningkatkan kualitas hidup.
Jadi, betapa dahsyatnya potensi pikiran manusia bila dibangkitkan dan dieksplorasi dengan baik dan benar. Dengan memaksimalkan dan mengontrol kekuatan pikiran, kita dapat memilih jalan kehidupan sesuai dengan yang dipikirkan, intinya berusaha menempatkan pikiran pada tempat yang layak dalam porsinya. Semoga kita dapat membuka kunci kekuatan pikiran kita yang tersembunyi sehingga segala yang dilakukan akan semakin efektif dan berujung pada realita yang sesuai dengan yang diharapkan, “bahagia”.
Wallahu a’lam bissawaab.
indra Reply:
February 23rd, 2010 at 00:41
Yap, tidak salah emosi manusia dikatakan labil, namun prosentase tingkat kelabilannya berbeda-beda, ya kita belajar saja selagi ada waktu
[Reply]