KIP's Bandung

Archive for " July, 2009 "

Baru menyadari, setahun belakangan ini hampir gak pernah blogwalking dengan teratur kecuali pada satu-dua blog saja yang dihampiri. Semua itu terjadi bukan karena enggan berinteraksi, angkuh ataupun menyombongkan diri, namun ketidak-menenentuan kondisi terkadang membuat keseimbangan kendali goyah begitu saja tanpa terasa. Selama ini hampir setiap saatnya online tidak jauh dari meletakan diri dalam social networking khususnya Plurk dan FaceBook , itu pun hanya dibuat sebagai sarana cuap-cuap yang terkadang tanpa keseriusan, hanya dijadikan tenpat menuangkan berbagai candaan meskipun candaan tersebut terkadang tak terarah, garing dan membosankan :-D

Jika titik kejenuhan itu datang, rasanya ingin sekali jalan-jalan, jalan-jalan kemana saja yang sekiranya bisa membuat diri kembali merasakan ketenangan dan kesegaran pikiran. Ya, mudah-mudahan mulai saat ini bisa kembali jalan-jalan dalam dunia nyata dan juga dunia maya :-D Bagaimana pun sangat disadari betul jalan-jalan memang bisa mendatangkan manfaat.

Mengingat menurunnya semangat blogging yang saya alami, dari apa yang terjadi rasanya ingin sedikit mengulas tentang manfaat blogwalking. Kesadaran akan arti pentingnya blogwalking itu sangat terasa sekali jika dicermatinya dengan seksama terlebih bagi saya yang masih pemula dan gaptek, ditambah menurun drastisnya pengunjung (hampir 90%) akibat server sering down dan koneksi yang super ehmm.., meskipun saya sadar blog ini tidaklah sebagus blog rekan-rekan semua. Kalau dilihat dari komentar atau masukan yang ada saja itu sangat minim sekali, tetapi paling tidak sempat merasakan adanya pengunjung dan tetap bertahan itu pun sudah menjadikan satu kepuasan tersendiri.

22
Jul

Impian Kecil Seorang Anak Desa. Meski seorang anak desa, Nara kecil menggenggam sebuah mimpi yang tidak jauh berbeda dari kebanyakan impian anak-anak kecil lainnya. Seorang anak kecil jika ditanya cita-citanya kelak dewasa pasti jawabannya yang terlontar; “aku ingin menjadi dokter, tentara, insinyur dan lain-lain.” Begitupun dengan Nara, ia berharap dewasa kelak dapat menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang luas, mengenyam sekolah setinggi mungkin sehingga berguna bagi sesama. Bayangan untuk menjadi seorang dokter selalu menghantui pikirannya. Karena itulah, meski belum cukup umur untuk bersekolah Nara pun memaksa kepada ibunya. Karena kondisi yang belum mendukung, orang-tua Nara tidak mengijinkan sekolah, selain belum cukup umur keadaan orang tuanya pun belum memungkinkan untuk membeli peralatan sekolahnya.

Berhari-hari Nara terus meminta ijin untuk bersekolah, akhirnya orang-tuanya pun mengabulkannya. Pagi itu, Nara bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dengan berbekal sebuah tas sekolah bekas saudaranya, yang sudah kumel dan lusuh. Sebelum berangkat sekolah, sudah tersedia sarapan yang telah disediakan ibunya. Menu yang sangat sederhana sekali yakni hanya sepiring nasi goreng yang hanya dibumbui garam, cabe rawit, bawang merah dan sedikit kecap tanpa penyedap rasa. Tetapi menu itu dapat dikatakan cukup untuk ukuran keberadaan di desa kecil yang masih dikatakan jauh dari kemewahan dan masih berada dalam keterbelakangan pengetahuan yang memadai. Selesai sarapan, Nara langsung pamitan kepada ibunya, sementara ayahnya telah lebih dulu berangkat ke ladang.

03
Jul

Naratas, Bicara pada Pena

Related entries: Life, Poetry   Tags:, , ,

Sebuah jejak kecil menapaki alur sempit yang seringkali terasa menghimpit. Sebelum jiwa ini mengajariku, menuntun dan menunjuk kearah rasa penasaran dan keingin-tahuan yang seakan memaksa menelusuri petunjuk hidup yang berliku. Berkata tentang ketulusan cinta, harus bangga pada dirinya, begitu pula kepada orang yang mencintainya. Meski cinta ini laksana benang tipis yang terikat pada dua pasak, tetapi kini telah menjadi sebuah lingkaran keramat yang awalnya adalah akhir dan akhirnya adalah awal, senantiasa mengellilingi setiap makhluk hidup dan perlahan berkelana kemana saja ia berkehendak lantas memeluk siapa saja yang dapat direngkuhnya.

Satu dari sekian saja, ketika diri mengadu kepada tetangga hati, akibat sulit karena duri lalu merintih, saat itulah terberikan sebagian isi hati. Sebelah jiwa besar darinya menuai pujian dan keibaan hati, tetapi sebelahnya teraih sebaliknya, sikap acuh dan semu yang seakan terpaksa terengkuh. Tapi itu bukanlah perihal yang harus dijegal karena cinta ini tak bisa ku jual.

Ketahuilah sang berjiwa besar, janganlah semata-mata kau lihat diri ini dari menjumlah materi dibalik jati diri, karena itu hanyalah sebatas posisi duniawi, dan diri ini pun tak ada arti. Jangan pula berpenglihatan tajam seperti melihat dibalik sela-sela jaring ayakan, aku sangat kepedihan sehingga senantiasa orang-orang memuji aib-aibku yang jelas terbentang lalu menikamnya kebaikan-kebaikan yang membisu itu. Meski begitu, tenang dan senanglah diri ini masih bisa makan nasi meskipun hanya sehari sekali. Jadi tak usah menghindari karena malu untuk berinteraksi. Harapku, tidaklah miskin dan terdakwa, miskin sebagai cadar yang menutupi muka orang-orang sombong dan terdakwa adalah sikap pasrah yang menutupi wajah kesalahan.


Free Translation Widget

Cigarettespay day loan

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Naratas, Bicara pada Pena
[spoilergroup][spoiler intro="A"]Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka ba...

Ngaguar Basa tur Budaya Sunda

Naratas, Bicara pada Pena
Lain pedah sugih ku elmu jembar ku pangabisa, lain pedah oge jegud pangaweruh tur jembar k...

Links

Subscribe Us