KIP's Bandung

Archive for " May, 2009 "

25
May

Saking semangatnya memicu langkah demi menuju suatu perubahan, menjadikan sesaat lupa akan keseimbangan hidup. Dalam kenyataanya sebagai manusia biasa terkadang melepaskan sedikit keluh kesah meskipun tidak seiring dengan janji hati dan pemahaman diri. Untung saja keluh kesah yang terlintas dapat terlindas dengan hasrat yang sesungguhnya, yakni bahagianya hati saat mencari rezeki demi mewujudkan keseimbangan tersebut.

Patut disadari betul memang, sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang tidak bisa luput dari khilaf dan salah. Bisa saja salah-satunya itu berkeluh-kesah dalam kejenuhan akibat dari memfokuskan diri dalam satu aktivitas sehingga melewatkan kesempatan untuk berbuat kebajikan lainnya. Kesalahan yang diperbuat oleh manusia ini bisa menumpuk menjadi dosa yang besar, jika dilakukan terus menerus.

Sesungguhnya ada dosa yang tidak dapat dibayar kifaratnya dengan shalat, shaum atau haji. Namun hanya dapat dibayar dengan duka cita mencari bekal hidup.” (HR Ath-Thabrani dan Abu Nu’aim, dari Abu Hurairah ra.)

Hal tersebutlah yang menjadi pemicu untuk mengambil seribu langkah kedepan. Mengingat untuk mencegah hal tersebut yakni harus menutupinya dengan kebaikan.

Dua hari terkapar sudah, alhamdulillah mendapat anugrah merasakan nikmatnya hidup sedari itu. Memang tidak dapat dipungkiri ketika itu terjadi, bingung, kikuk dan terasa tak menentu memikirkan apa gerangan yang jadi penyebabnya. Akal sehatlah yang mendukung kekuatan karunia-Nya itu sehingga menyadari semua itu apa adanya. It’s a strange emotion this but there’s still hope in this as long as there’s a breath.

Dari satu kejadian itu mengungkap sebuah hikmah tersendiri. Andai saja salah-satu hal yang harus dilakukan dalam hidup ini adalah senantiasa siap menghadapi semua yang terjadi sekaligus mampu mengapresiasikannya. Kata siap itu tentu saja bukan hanya siap untuk tertawa tetapi juga harus siap menangis. Nasihat bijak bilang, teruskanlah perjuangan hidup dengan mengemban setumpuk asa dan seakan-akan langit adalah batas menggantungkannya.

Teduh sapamu, tulus asamu serta bijak titahmu, bunda. Bibir seorang bunda menasihati sang ananda tercinta, sepahit apapun kenyataan itu, kita boleh saja menangisi apa yang terjadi, tapi itu tidak berarti harus terus menangis selamanya, tetap harus bisa mengontrol diri. Jangan pernah dikuasai oleh perasaan, tapi kuasailah perasaan itu. Belajarlah menghadapi kenyataan, teruskanlah.

Melihat seseorang hanya dari satu sudut pandang terkadang bukan hal yang baik. Selain bisa memojokkan orang yang dipandang juga bisa membiasakan diri menutup cara pandang terhadap sisi-sisi lainnya, bisa mengarahkan diri pada suatu keangkuhan karena merasa orang lain berbeda atau tak mampu. Gambaran nyata sering lahir dalam kekehidupan sehari-hari, misal adanya suatu hubungan yang dilandaskan pada satu sudut pandang; karena mereka kaya, karena mereka pintar, karena mereka punya jabatan dan lain-lain. Dan dibawah ini ada sebuah dongeng yang belum tentu kebenarannya tetapi mungkin mengandung salah-satu unsur-unsur (gambaran) dari melihat sesama hanya dari satu sudut pandang.

Dua orang pegawai (bisa jadi pejabat teras) dari salah satu perusahaan besar mendatangi sebuah showroom A dengan niat untuk melakukan sebuah transaksi. Tempat yang mereka tuju memang tepat, namun sayang keinginan dua orang pegawai tersebut masih dalam sebuah wacana tanpa membawa data-data yang siap untuk diproses, sementara ditempat yang dituju tidak dapat membantu merumuskan wacana para pegawai itu kedalam sebuah data yang benar-benar siap untuk menghadapi proses berikutnya (proses utama), disisi lain transaksi yang diinginkan telah dil dan disepakati bersama.

Karena transaksi diatas itu telah disepakati, akhirnya SDM dari showroom A beserta dua pegawai tersebut mendatangi showroom B guna meminta bantuan untuk merumuskan wacana mereka. Sebagai tetangga, SDM showroom B tentunya menyambut baik kedatangan mereka, dan secara kebetulan kondisi di showroom B tidak terlalu sibuk akhirnya dengan senang hati membantu merumuskan wacana dua pegawai itu (perlu diingat, hanya sekedar membantu).

01
May

Celoteh kali ini berkenaan dengan seberapa kuat bertahan dalam kesabaran dan seberapa sering menunjukan diri dengan mengeluh dalam kehidupan secara sadar . Satu nasihat bijak didapatkan dari seorang teman ketika saya menuliskan “Ingin tunjukan kepada dunia tak hanya ada karena masa lalu tapi masih ada harapan bagi yang baru.” Nasihatnya; “sabar ya.” Sungguh menarik kata bijak tersebut sehingga menjadi sumber inspiratif untuk ditorehkan :mrgreen:

Kata atau kalimat yang mengandung kata sabar biasanya kita temukan disaat menghadapi kondisi atau situasi yang kurang menggembirakan. Tapi itu pun tidaklah mutlak adanya, seperti halnya saya tadi sebenarnya hanya menuliskan sebait lirik lagu yang sedang didengarkan :-D Memang sih kalau ditelaah lebih dalam lagi seberapa sering frekuensi munculnya sebagai timbal balik dari kondisi yang kurang enak (sebagai contoh; hadirnya musibah sehingga mengakibatkan kehilangan anggota keluarga, materi dan sebagainya) yang tiada lain sebagai rasa simpati antar sesama.

Rasa sabar dan keluhan terkadang sering terjadi pasa saat bersamaan. Lantas adakah perbedaan yang cukup significant antara kesabaran dan keluhan? Dan bagaimanakah kesabaran itu adanya?

Advertisment

Kumpulan Pribahasa (Babasan-Paribasa) Sunda

Sabar atau Mengeluh
Adab lanyap Jiga nu handap asor, daek ngahprmat ka batur, tapi boga hate luhur, tungtungna...

Links

Subscribe Us

Page: /isi/2009/05 : Test Link 1 - Test Link 2 - Test Link 3 - Test Link 4 - Test Link 5