Perjalanan ini telah dimulai, semua yang ada hanyalah sisa. Sebuah kata “sisa” terkadang tidak enak didengar, tidak hanya itu saja, tidak sedikit dari kita terkadang mengasumsikan dengan sesuatu yang bernilai negatif atau tidak berguna. Sisa makanan, sisa kotoran dan sisa-sisa lainnya misalnya. Padahal dari sisa tersebut seharusnya kita mengakui mengandung makna yang sangat berarti buat sisa lainnya yakni waktu.
Dari sisa makanan misalnya, memberikan kita sebuah pemikiran harus adanya akan suatu ukuran untuk mengkonsumsi makanan tersebut dikemudian hari. Coba bayangkan diluar sana masih banyak yang membutuhkannya ketimbang dibuang, mungkin bisa menyisihkan kelebihan anggarannya untuk mereka yg membutuhkan. Sementara sisa kotoran atau noda memberikan sebuah pemikiran kepada kita untuk menghindari mendekatkan diri dengan kotoran tersebut kedepannya jika memang tidak menginginkan noda tersebut menempel selamanya, secara tidak langsung menyuruh kita lebih waspada.
Selain hal diatas, saya yakin masih banyak yang menghargai sisa sebagai anugrah sehingga mendapatkan kepuasan darinya. “Duh untung masih ada sisa” kalimat tersebut sering terlontar ketika kita memerlukan sesuatu dan ternyata masih tersedia walaupun dalam bentuk sisa (keberadaan/persediaan terakhir) karena saking senangnya.
Pasti tahu dong hehe… Melihat seorang penjual tahu Sumedang keliling jadi teringat pada bulan yang lalu menuntut saya untuk mengunjungi daerah Sumedang. Sedikit terlintas dipikiran kalau pergi ke suatu daerah adalah makanan khasnya, untuk daerah Sumedang adalah “Tahu Sumedang” dan “Ubi Cilembu”. Dalam perjalanan itu, saya mencoba untuk membelinya sebagai oleh-oleh buat teman, sayangnya tidak dapat membawa banyak karena perjalanan ditempuh dengan kendaraan umum (kebiasaan lama tidak dapat membawa sesuatu dalam perjalanan masih melekat) menjadikan hal tersebut tidak bisa memberikan kepada teman2 yang lainnya, ingat bukan karena pelit tapi malu bawanya
Sedikit cerita tentang asal-muasal adanya tahu Sumedang, Konon cerita tentang tahu tersebut bermula dari kreativitas yang dimiliki oleh istri Ongkino, sebagai orang yang pertama kali memiliki ide untuk memproduksi Tou Fu (bahasa Tionghoa) yang lambat laun berubah nama menjadi “Tahu”. Beserta istrinya, tahun demi tahun terus menggeluti usaha mereka. Sekitar tahun 1917 anak tunggal mereka (Ong Bung Keng) menyusul kedua orang tuanya ke tanah Sumedang dan meneruskan usaha kedua orang tuanya tersebut, dimana kedua orang tuanya sendiri memilih kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Cina.
Tulisan inilah yang sebenarnya asli mengawali coretan blog butut ini
Awal yang cukup menyenangkan menemui sebuah pengakuan akan diri ini sebagai salah seorang warga Indonesia yang memiliki blog, seneng banget rasanya kekekek.
Jika dilihat dari popularitas, duh rasanya sangat jauh dari kata itu. Jangankan kata popularitas, masuk kedalam kategori blog yang cukup baik saja rasanya belum tepat, ini hanyalah temapat menampung tumpahan-tumpahan pikiran yang terkadang muncul saat pikiran tak karuan, intinya blog butut lah
Tulisan inipun hanya sebagai ungkapan rasa cukup senang akan sebuah pengakuan, walaupun terkadang sedikit malu karena bukan blog yang baik dan populer
“This rank is by no means an indicator of a blog’s popularity in general, because it only measures visit from this site. Many blogs are widely popular without even being listed here”.
Bait diatas menegaskan dengan sangat jelas tentang “100 Indonesian Blogs 2008” yakni, bukan merupakan sebuah indikator popularitas secara general, karena hanya diukur dari kunjungan di lokasi blog-indonesia.com. Mudah-mudahan rekan-rekan tidak salah menilai atau menafsirkan tentang tulisan ini :-) Terima kasih buat teman yang telah meracuni saya untuk nge-blog, mudah-mudahan saya masih semangat dan masih bisa memarkirkan berbagai pikiran yang semakin menumpuk dalam sebuah tulisan meskipun itu mungkin tak ada maknanya samasekali. Amin.
Di penghujung tahun lalu saya kedatangan tetangga, ia meminta bantuan untuk membuatkan suatu desain yang ia perlukan, tepatnya memisahkan objek photo dengan background yang ada dengan maksud mengganti backgroundnya dengan yang baru. Loh… kok ke saya sih? Dengan entengnya ia menjawab, katanya karena saya sering banget menggunakan kompi dia menganggap saya bisa, ada-ada saja
Kalau dikatakan bisa menggambar dengan Corel ya bisa jg sih walaupun belum terampil, tetapi karena bukan bidang pekerjaan yg pernah digeluti sebelumnya ya tidak mahir cuma sebatas tahu dan pernah saja, intinya belum berlaku istilah kerja dengan cepat disini. Alhasil permintaan tolong dia yang seharusnya dapat dikerjakan dalam beberapa menit saja, saya kerjakan dengan berjam-jam, itu pun hasil mengingat-ngingat serta larak-lirik bacaan2 sana-sini dan jg bertanya tentunya tidak ketinggalan (doh). Karena diburu2 juga sih, jadinya gak sempet nanya paman “google”
Beberapa bulan terakhir ini memang ada ketertarikan mendalami pemahaman tentang desain Corel dan photoshop, oleh karena itu, pas dimintai tolong disanggupin saja dengan catatan saya bilang kepadanya bahwasannya belum punya keahlian. Itulah sekelumit cerita dipenghujung tahun 2008 sekaligus mengawali cerita di tahun 2009 mengenai perihal yang dikerjakan dimana saya tuangkan sedikit disini tentang hal tersebut.
Membuat suatu desain terkadang kita memerlukan gambar atau photo yang sudah tersedia sebagai bahan tambahan pelengkap alias hiasan. Dari gambar atau photo tersebut adakalanya yg kita perlukan hanya objek2 tertentu saja. Nah untuk memisahkan objek tersebut dari bagian lainnya, salah-satunya bisa dengan menggunakan photoshop. Misalnya untuk mengganti foto background dengan Photoshop.
Sebenarnya cara ini sudah banyak yang mengupasnya, saya tuangkan disini hanyalah sebagai pelengkap blog ini yang rasanya sudah agak jarang update, maklumlah
Dan, kembali ke permasalahan keinginan mengganti background adalah kita harus memisahkan lebih dulu antara objek yang kita inginkan (misalnya photo) dengan latar belakang (background) photo sebelumnya. Cara untuk memisahkannya tersebut yaitu dengan membuat seleksi. Langkah-langkahnya yaitu :
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, menghadapi awal tahun baru 2009 Masehi ini mencoba lebih memfokuskan pikiran guna mengkaji dan menela’ah kembali jejak-jejak yang telah ditempuh selama ini.
Detik-detik menyambut tahun baru Masehi 2009 ini pun tidak mengedepankan berbagai resolusi2 tertentu, pada dasarnya sama seperti beberapa hari yang lalu saat menghadapi tahun baru Hijriyah (1 Muharram 1430 H).
Sekali lagi, Selamat Tahun Baru Masehi 2009 (Happy New Year 2009) untuk semua rekan-rekan, semoga mendapatkan berbagai kelancaran dan keberkahan di berbagai bidang kehidupan, Amin.